Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
80. Meninggalkan Phoenix Gold Kingdom


__ADS_3

11 menit kemudian...


“Defeat!” Suara yang sama keluar dari ponsel Ryan, Hendra, dan Leo. Suara itu menandakan mereka kalah dalam permainan ini.


“Hah, baru pertama kali aku melihat Rio bermain dengan serius...” Komentar Agus setelah melihat akhir dari permainan itu.


“Hal ini disebabkan karena aturan itu...” Keluh Ryan, “Jadinya aku tidak bisa bermain dengan serius...”


“Ya itu sebenarnya salahmu sendiri. Kenapa hanya bermain seorang saja di Mid Lane sementara kita tidak diberikan kesempatan menghancurkan Tower.” Hendra ikut mengeluarkan kekesalannya.


Aturan yang ditetapkan mereka itu sederhana, yaitu mereka dibiarkan untuk bermain di Lane mana saja, asalkan tidak membantu Minion menghancurkan Tower. 


Sialnya adalah Rio, Justin, dan Fredy sudah memiliki persiapan sehingga mereka menghancurkan gelombang Minion secara diam-diam.


Secara pilihan Hero, sebenarnya Hero yang dipilih timnya Rio dan timnya Ryan berbeda. Tim Rio lebih memilih memakai Hero yang mampu menghancurkan gelombang Minion dengan cepat, sedangkan Hero yang dipilih tim Ryan lebih kepada kekuatan team fight.


“Eh, aku diminta segera pulang oleh ibuku...” Rio mendapat pesan di ponselnya dari ibunya.


“Hmm, sudah hampir dua jam kita bertamu ke rumah Ryan. Ada baiknya juga kita kembali...” ujar Agus. Mereka kemudian berkemas dan berjalan keluar rumah Ryan.


“Baiklah, aku tunggu kalian di Guild...” ujar Ryan sambil mengantar keenamnya keluar dari rumahnya.


“Sampai jumpa...” Rio dan lima temannya saling melambaikan tangannya kemudian berpisah. Rio pergi ke arah kiri rumah Ryan, Hendra berjalan mengikuti Rio, Justin berjalan menuju kanan rumah Ryan bersama Agus, dan Leo menyeberangi jalan kemudian berjalan menyusuri jalan di seberang bersama Fredy.


Ryan melambaikan tangannya kemudian berlari masuk ke rumahnya. 


“Aku akan menanyai Whu dan Atra, apakah mereka ingin ikut masuk Guild atau tidak...” Ryan mengambil laptopnya kemudian menghubungi Whu dan Atra melalui laptopnya.


Whu berada di dunia nyata dan tidak melihat forum, itu menurut Ryan yang melihat status Whu yang tidak aktif. Atra tersambung di Midvast dan sepertinya sedang menunggu perintah Slitherio selanjutnya.


Ryan mengetikkan pesan untuk Atra kemudian mengirimnya. Ia kemudian menyimpan laptopnya kemudian pergi ke rumahnya Raisya.


Ryan mengunci pintunya kemudian berlari menuju apartemennya Raisya. 


Disana sedikit sepi dan hanya ada beberapa orang yang lewat di depannya. Ryan berlari menuju apartemennya Raisya kemudian mengetuk pintunya.


“Ya?” Raisya membuka pintunya. Ia kemudian menemukan Ryan yang berdiri di depan pintu apartemennya.


“Ya?” tanya Raisya.


“Segera tersambung dan aku akan memberitahukan rencana selanjutnya.” Ujar Ryan sebelum kembali turun dan berlari menuju rumahnya sendiri.


“Hmm, sepertinya hal yang penting...” Raisya menyelesaikan kegiatannya sebelum tersambung ke dalam permainan.


***

__ADS_1


“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanya Atra langsung ke intinya setelah Slitherio tersambung kembali. Naze, Whu, dan Geisha sudah ikut bergabung dengan mereka.


“Kita akan meninggalkan Phoenix Gold Kingdom dan melanjutkan perjalanan.” Jelas Slitherio.


“Melanjutkan?” tanya Whu, “Bukankah kita akan menunggu si bangsawan itu?”


“Menunggu bisa dilakukan saat perjalanan, bukan?” tanya Slitherio.


“Baiklah, tetapi apa kita akan memberitahu Yang Mulia Chizu?” tanya Atra.


“Tidak.”


Whu dan Naze mengerutkan dahinya, “Kenapa?”


“Tidak apa...” Slitherio menjawab sambil tersenyum lebar.


“Setelah kita pergi, kita akan melakukan apa?” tanya Geisha.


“Berdiam...” jawab Slitherio.


“Ini sama saja dengan keputusan sebelumnya...” Naze melepaskan napas berat.


“Tetapi kita akan melakukan satu hal selain berdiam...” Slitherio kemudian membisikkan rencananya.


***


Baru saja mereka membicarakan rencana Slitherio, yaitu membiarkan enam rekan baru mereka berburu sedangkan mereka akan mencari goa di sekitar sana untuk dijadikan tempat berdiam sejenak.


Atra memeriksa goa yang baru mereka temukan dengan melepaskan Murderous Auranya yang kurang lebih berkekuatan setara dengan Slitherio.


“Tidak ada apapun disini!” Seru Atra dari dalam goa. Whu menghela napasnya lega, sedangkan Naze, Geisha, dan Slitherio tetap bersikap tenang.


Mereka memasuki goa itu kemudian membuat api unggun dari apinya Slitherio. 


Disebabkan karena sudah hampir tengah malam saat mereka menemukan goa ini, maka Slitherio dan Geisha mempersiapkan makanan untuk mereka semua.


Skill Cooking milik Slitherio tidak pernah melewati Beginner level 20. Slitherio tidak pernah berpikir untuk menaikkan tingkatan skill ini, karena sepertinya tidak semua Dewa bisa memasak.


Meskipun begitu, masakan Slitherio selalu terasa enak saat dimakan. Mereka memakan makanan itu sampai akhirnya beberapa orang mendekat ke goa tempat mereka beristirahat.


Untung saja makanan mereka sudah habis, sehingga mereka langsung mempersiapkan diri ketika Naze memberitahu mereka tentang kedatangan beberapa orang tak dikenal.


Karena insting Naze yang bisa dibilang lebih baik diantara mereka itulah Naze dapat merasakan keberadaan beberapa orang baru.


“Oh, tak kusangka dapat bertemu dengan 'Si Pedang Api' dari Phoenix Gold Kingdom.” Salah satu dari orang-orang itu berkata sambil melongok masuk.

__ADS_1


“Mau apa kau kemari?” tanya Whu dengan ketus.


“Kepala keluarga Lavenia mengundang anda untuk membantunya mendapatkan sebuah benda yang diinginkannya.” Ujar orang yang tadi melongok ke dalam goa.


“Dimana kepala keluarga Lavenia sekarang berada?” tanya Atra.


“Di Void Hill.”


Void Hill berada di Sky Empire, jauh di pedalaman Sky Empire dan jauh dari keramaian. Itulah sebabnya kenapa bukit itu dinamai Void Hill, Bukit Kekosongan.


Bukit itu dikatakan sebagai tempat pertama kalinya manusia langit bertemu dengan Dewa Cahaya dan Dewa Kegelapan. Tentu saja kedua dewa itu ditemukan saat masih menjadi manusia biasa, belum menjadi dewa. Begitu yang dibaca Slitherio di buku 'Kisah para Dewa'.


Slitherio terlihat berpikir sejenak sebelum berkata, “Bawa aku kesana...”


Atra, Whu, dan Naze terkejut saat mendengar jawaban Slitherio, sementara Geisha mengira kalau itu adalah cara Slitherio menemukan bangsawan yang menyebarkan ajaran sesat.


Orang-orang itu terlihat terkejut, tidak pernah mereka sangka akan semudah ini mengajak 'Manusia Api' pergi ke kediaman bangsawan pengkhianat.


“Tetapi tunggu sebentar...” Slitherio mengangkat tangannya, setelahnya muncul Asheuin dan Sen yang langsung menghilang setelah ia berkata, "Beristirahatlah..."


"Kalian juga..." ujar Slitherio sebelum Atra dan Whu mengangguk. Mereka melakukan hal yang sama dengan Slitherio dan keempat rekan baru mereka muncul kemudian kembali ke Cincin Roh dan beristirahat.


"Nah, sekarang kita bisa pergi?" tanya orang itu.


"Sudah." Slitherio membiarkan api unggun menyala dan mengajak teman-temannya mengikutinya.


Whu merasa ada yang tidak beres sehingga ia pun bertanya, "Kenapa kita mengikutinya?"


"Tunggu rencana selanjutnya..." ujar Slitherio.


Mereka akhirnya meninggalkan


***


Sudah berlalu sekitar sepuluh hari setelah Slitherio dan teman-temannya dijemput oleh utusan dari Lavenia.


Sepuluh hari juga mereka lalui dengan diskusi diam-diam jauh dari orang-orang itu. 


Menurut Slitherio, ia menerima permintaan itu karena ia mempercayai kalau orang-orang itu adalah yang dimaksudnya akan mencarinya.


Tentu banyak yang tidak percaya, tetapi Slitherio meminta yang lainnya untuk tetap bersikap normal agar orang-orang itu tidak mencurigai mereka.


Mereka terus melakukan diskusi diam-diam selama sepuluh hari hingga akhirnya mereka melewati perbatasan Utara Sky Empire dan terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bukit yang terlihat sepi.


“Disanalah letak Lavenia Mansion, kediaman dari salah satu keluarga bangsawan terbesar di Midvast, Lavenia...” ujar orang-orang yang mengajak Slitherio dan teman-temannya sambil menunjuk ke sebuah kediaman yang terbilang besar di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2