
Slitherio merasa sekitarnya menjadi gelap. Ia mendapat sebuah jendela informasi setelah sepuluh detik kematiannya.
[Skill pasif rasmu aktif!
Skill pasif Immortal Beast menyelamatkanmu dari kematian!
Kau akan dihidupkan kembali di tempat kau tadi mati!]
Slitherio terdiam. Ia menatap lama jendela informasi tersebut sebelum ia merasa dirinya sedang berada di dalam ruangan yang sama.
Ia kini berbaring dan ketika ia menoleh, ketiga temannya sedang mengelilingi sebuah peti. Slitherio bangkit dengan perlahan dan mendekati ketiganya. Nampaknya ketiganya tidak menyadari keberadaannya.
Slitherio ikut mengelilingi peti itu, “Benda apa yang ada didalamnya?”
Sontak saja Atra, Whu, dan Geisha terkejut melihat Slitherio yang menatap tajam peti didepannya.
“Kau masih hidup?” tanya Atra. Ia kemudian menyentuhkan tangannya ke tubuh Slitherio.
“Aku hidup lagi karena Skill pasifku.” ujar Slitherio. Ia kemudian membuka peti itu dan peti itu tidak mau terbuka.
“Eh?”
“Kita buka bersamaan.” Ujar Slitherio yang dibalas dengan anggukan. Ketiga temannya mencoba membuka peti itu bersama Slitherio dan peti itu terbuka perlahan.
Ketika peti itu dibuka, jendela informasi muncul di hadapan keempatnya.
[Selamat, kalian telah menyelesaikan Dungeon ini!
Reward telah diberikan!
Artefact of Hell Empire menjadi milik kalian semua!]
Di dalam peti itu terdapat dua buku yang berbeda tebalnya. Ada yang tebal dan ada yang tipis. Di sampul buku yang tebal tertulis 'Book of Secret Midvast'. Di sampul buku yang tipis tertulis 'Book of Hell Empire'.
Slitherio mengambil kedua buku itu dan menyimpannya. Kemudian, Slitherio mendapat jendela informasi.
[Selamat, Sword Masterymu telah mencapai tingkat Advance!
Setiap serangan pedang akan memberikan bonus +50 Physical Damage. Cooldown seluruh Skill berkurang 1 detik.
Jalan menjadi Dewa terbuka untukmu!]
“Dewa?” gumam Slitherio, “Ada dewa di dunia ini?”
“Apa kalian mendapat informasi tentang terbukanya jalan dewa kalian?” tanya Atra.
Semuanya mengangguk. Slitherio memejamkan matanya, ia tidak paham tentang jalan dewa yang tadi muncul di jendela informasi tersebut.
Kini, Skill mereka sudah mencapai puncak tingkat Intermediate. Hanya selangkah lagi mencapai tingkat Advance.
__ADS_1
Mastery memiliki tingkatannya sendiri. Beginner, Intermediate, Advance, dan Master. Itu umum pasti akan dicapai oleh semua orang.
Ada tingkatan Mastery yang lebih tinggi dari Master, yaitu God. God hanya dapat dicapai dengan beberapa syarat, sayangnya syarat ini tidak diberitahukan kepada pemain.
Tetapi kemungkinannya, tingkatan God hanya dapat dicapai dengan menjadikan Weapon Mastery, Skill Mastery, dan Status Mastery menjadi tingkat Advance.
Dikatakan bahwa masih ada satu syarat lagi. Syarat ini hanya diketahui oleh makhluk yang telah hidup lama di Midvast, yaitu para Beast Remaist World Ruler. Mereka dirumorkan memiliki kemampuan yang mendekati dewa. Bisa dibilang setengah dewa.
Setelah seluruh urusan disana selesai, Slitherio bersama ketiga temannya keluar dari ruangan itu.
Saat keempatnya akan keluar dari kastil itu, sebuah pedang meluncur dari atas kepala Slitherio. Untung saja suara desingan pedang itu terdengar di telinga Slitherio sehingga dirinya tidak akan mati lagi untuk kedua kalinya.
[Kau menemukan salah satu pusaka Hell Empire!
Pastikan pusaka tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah!]
Jendela informasi tersebut muncul di depan Slitherio saat pedang itu menancap di lantai kastil tersebut.
Slitherio menariknya dan menyimpannya. Menurutnya pedang itu bagus dan ia akan menyimpannya.
Mereka keluar dari kastil itu. Saat sudah di luar, Slitherio menoleh ke belakang. Kastil itu sudah hancur sebagian akibat skill terkuat Slitherio menghancurkannya.
Slitherio menoleh ke depan dan berkata, “Kita akan kembali ke lapangan tadi.”
Malam sudah mencapai puncaknya, pagi akan menjelang. Sinar cahaya pagi terlihat dari timur dengan perlahan.
Atra dan Whu mengeluarkan cincinnya. Cincin yang berwarna hijau mengkilat dengan batu berwarna hijau menghiasi dua jari Atra dan Whu.
“Bangkitlah, Dee dan Zeo!”
“Bangkitlah, Adhie dan Bhiosa!”
Asap tebal berwarna hijau memenuhi lapangan luas itu. Tak lama kemudian, empat makhluk yang memiliki rangka berwarna perak muncul menggantikan asap berwarna hijau yang perlahan memudar.
[Selamat, kalian berhasil membangkitkan Enam Pendekar Naga Hijau!
Kalian mendapat title 'Hero Reborn'
Mendapat tambahan All Stat+10 setiap bertarung bersama Enam Pendekar Naga Hijau]
Jendela informasi yang sama muncul di depan Atra, Whu, dan Geisha. Keempatnya tersenyum lebar.
“Bangkitlah, Asheuin dan Sen!”
Dua sosok makhluk rangka berjubah muncul di depan keempatnya. Memang diantara ketiganya hanya Slitherio yang sempat menaikkan level dua rekan barunya.
“Ah, aku baru ingat. Sen ini bersenjatakan sarung tangan besi kembar, apa ada yang punya?” Slitherio berkata begitu, ia ingin tau apakah perlengkapan yang dulu mereka ambil di Altar of King masih disimpannya atau tidak.
“Kalau kau berpikir aku menjualnya maka kau salah besar.” Ucap Whu kemudian mengeluarkan dua jubah yang berwarna hijau dengan motif naga melingkar.
__ADS_1
“Aku juga.” Atra mengeluarkan jubah yang sama dengan yang dikeluarkan Whu.
Keduanya kemudian memasangkan jubah itu ke dua rekan barunya itu.
Ketiganya sudah mendapat kisah hidup dari masing-masing anggota Enam Pendekar Naga Hijau, tentunya mereka sudah tau senjata mereka saat masih hidup.
Sayangnya, senjata yang dulu mereka pakai ternyata terlalu kuat di hadapan keenamnya yang masih sangat lemah.
“Sebaiknya kita naikkan sampai level 30 barulah kita berikan senjatanya mereka masing-masing.” Ucap Slitherio.
Atra dan Whu mengajak dua rekan barunya pergi berburu, tentunya senjata yang dipakai dua rekan barunya diberikan oleh Geisha yang kebetulan memiliki banyak senjata di Inventorynya.
Setelah keduanya menghilang di hutan, Slitherio duduk di tengah lapangan luas itu bersama Geisha.
Suasana canggung tercipta diantara mereka berdua.
“Sungguh hari yang indah...” Slitherio membuka pembicaraan.
Geisha menoleh, ia tau slitherio mencoba mengajaknya bicara. Ia kemudian berkata, “Hari yang indah sebelum memulai hari yang mengerikan...”
Slitherio mengangkat alisnya, “Mengerikan?”
“Perang.” Jawab Geisha singkat.
“Kita masih ada waktu yang panjang untuk bersantai sebelum kita memasuki saat-saat perang.” Lanjut Geisha.
“Benar...” hanya itu yang keluar di mulut Slitherio.
Slitherio merasakan seseorang mendekat. Saat ia menoleh, seorang pria dengan jubah bertudung yang dinaikkan mendekati keduanya sambil mengendap-endap.
Pria itu melepas tudungnya dan terlihatlah wajah yang sehari lalu ditemuinya berdiri di depannya. Dia adalah Naze.
“Tak kusangka kita akan bertemu lagi disini...” Naze menatap Geisha, “Bahkan bersama temanmu juga.”
Slitherio tau yang dimaksud teman itu bukanlah teman pada umumnya, melainkan hal lain.
“Kita memang berteman dan kita sedang menunggu dua teman kita yang sedang berburu.” Jelas Geisha.
“Oh...”
Sepi kembali mengisi lapangan itu. Naze mengeluarkan sebotol minuman kemudian berkata, “Apa kalian mau?”
“Tidak.” Jawab Slitherio dan Geisha bersamaan.
“Sialan kalian...” Naze memasukkan kembali minuman itu. Ia awalnya berniat mengajak keduanya minum minuman yang tadinya ia beli di kota, tapi malah mendapat jawaban seperti itu.
Tiba-tiba, sekelompok orang datang dengan Jirah yang tidak asing di mata Slitherio.
“Soul Knight?!”
__ADS_1