
Malam, Benua Midvast...
Whu, Riana, dan LoghSeveria sebagai petinggi Guild Sevens yang tersisa di Midvast sedang duduk di ujung Tebing Keabadian ketika sebuah jendela informasi muncul secara mengejutkan.
[Selamat, Slitherio telah menyelesaikan seluruh syarat menjadi dewa!
Ia telah diangkat menjadi Flame Sword God oleh Sky Man sang makhluk hidup tercerdas di dunia!]
Whu yang melihat itu melebarkan matanya, “Apa aku tidak salah lihat?”
“Sepertinya tidak...” LoghSeveria mengelus dagunya.
Tak lama, jendela informasi yang mirip seperti itu muncul dan menampilkan nama Sean, Atra, Li, FastStone, Naze, Geisha, dan Clarey beserta dengan gelar mereka.
“Gold Dragon God, Silver Wolf God, Musician God, War God, Wind Bow God, Ice Goddess, dan Courage Goddess? Itulah gelar mereka?” LoghSeveria membaca semua gelar itu.
“LoghSeveria! Apa kau sudah melihat ini?” tiba-tiba, Clover berlari dari arah perumahan anggota Guild Sevens dan menghampiri mereka.
“Benar, dan aku tidak percaya akan hal ini...” LoghSeveria menggaruk kepalanya.
“Ini artinya, keseimbangan permainan akan menghilang karena kemunculan delapan orang dewa ini?” tanya Riana. Ia pernah memikirkan hal ini sebelumnya, tetapi tak ia sangka kalau hari ini akan muncul secepat itu.
“Aku akan membicarakan hal ini dengan Ketua Guild Profesional lainnya...” ujar Whu lalu melesat menuju pusat kota.
***
Berita terhangat siang ini adalah tentang Slitherio, Sean, Atra, Li, FastStone, Naze, Geisha, dan Clarey yang berhasil menjadi dewa.
Tak ada yang mempercayai berita itu karena memang belum ada waktu dua bulan sejak hilangnya mereka dari Midvast, mereka sudah jadi dewa.
Banyak yang berpikir kalau ujian menjadi dewa itu mudah, sama seperti saat mencoba melompati jurang dengan lompatan biasa.
Banyak yang berpikir juga kalau tamatnya permainan Remaist Online akan tiba tak lama lagi.
Pihak Guild Sevens yang ditanyai hal ini saja bahkan mengaku terkejutnya luar biasa. Mereka mengaku kalau mereka juga tidak menyangka kalau hilangnya Slitherio dan teman-temannya ternyata bertujuan untuk pergi ke Gods Island.
Kelompok 11 Ketua Guild Profesional yang ditanyai juga bungkam akan hal itu, tetapi sebenarnya mereka tahu kalau Sean dan Slitherio akan menjalani perjalanan panjang ke Gods Island. Guild Sevens juga sebenarnya begitu karena diminta oleh Whu.
Alasannya, agar latihan Slitherio dan teman-temannya tidak terganggu karena hal semacam ini. Karena itulah kepergian Slitherio dan teman-temannya ke Gods Island merupakan rahasia antara 11 Guild Profesional.
Whu meminta agar tidak ada yang mendekati Kota Hostix selama sebulan setelah jendela informasi itu muncul agar saat kedatangan Slitherio ke Midvast, tidak ada kehebohan yang tidak diinginkan.
Yang diminta datang hanya anggota dari 11 Ketua Guild Profesional untuk membicarakan hal yang penting dengan Slitherio dan Sean.
__ADS_1
Itu adalah keputusan yang diambil oleh Luvian dan Whu setelah mereka berdiskusi dalam waktu lama di markas utama Guild Reister.
***
Malam, Gods Island...
Siang tadi, Slitherio sudah meningkatkan tingkat Flame Phoenix Sword dari tingkat Legendary menjadi tingkat Myhtic.
Di Gods Island, ada seorang penempa yang memiliki kemampuan membuat senjata apapun yang bertingkat Myhtic. Ia adalah Tany sang Metal God.
Tany dipuja oleh semua penempa di dunia berkat kemampuan menempanya yang amat hebat. Ia memiliki seorang murid yang kini diangkat menjadi dewa penguasa arah timur, yaitu East God Chung.
Slitherio meminta Chung untuk membuat Flame Phoenix Sword memiliki tingkat Myhtic. Saat Slitherio mendapatkan Heaven Flame Sword, Slitherio sudah diperingati kalau senjata tingkat Myhtic memiliki kekuatan yang jauh diatas Legendary meskipun dua tingkat ini memiliki gelarnya sendiri di dunia peringkat, yaitu tingkatan dengan kekuatan mahadahsyat, yang konon bisa menghancurkan satu benua.
Sebab itulah Slitherio ingin membuat Flame Phoenix Sword memiliki tingkat Legendary karena Slitherio ingin tetap memakai dua pedang sebagai senjatanya meskipun ia lebih kuat jika memakai dua pedang.
Karena alsan lumayan aneh itulah Chung membuat pedang Slitherio itu menjadi tingkat Myhtic.
Selain Slitherio, Atra mencari Chung untuk membuat Mechanic Clawsnya kembali seperti semula. Sepertinya Atra ingin mengembalikan cakar itu kepada BloodThirsty Kingdom, pikir Slitherio.
Geisha dan Clarey mendapat pelajaran tambahan dari Luna dan Gaburon karena keduanya adalah dua orang yang jarang dianggap keberadaannya selama di Gods Island.
Mereka juga mendapat salinan dari beberapa God Skill karena mereka kini sudah menjadi dewa. Tak mungkin mereka menjadi dewa tanpa Teknik Kedewaan.
Sean yang mendengarnya menelan ludahnya, begitu juga yang lainnya. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menyalin satu Teknik Kedewaan. Kecepatan menulis Vin benar-benar cepat, hanya terlihat bayangannya saja ketika Vin menulis.
Karena Vin adalah Book God, ia dipuja oleh para murid pecinta buku di seluruh dunia sebagai dewanya ilmu pengetahuan. Vin juga disebut-sebut menguasai segala keahlian serta mengetahui segala hal yang ada di dunia. Tak ada yang tidak ia ketahui, kecuali sebuah pelajaran yang amat mengerikan di matanya. Ia bahkan benci untuk mempelajarinya.
Pelajaran itu bukan lain adalah pelajaran menghitung. Ia sungguh-sungguh benci menghitung. Menurutnya, ia lebih baik berenang ke dalam Triangle Sea daripada diminta menghitung.
Urusan menghitung, diberikan pada South God yang disebut-sebut suka berhitung. Ia bahkan mampu menghitung sekitar puluhan digit hanya dalam waktu lima detik.
“Baiklah, kalian boleh memeriksa salinan Teknik Kedewaan ini...” Vin memberikan semua salinan itu pada Slitherio dan teman-temannya.
Dahi Sean dan Slitherio mengerut saat membaca God Skill yang mereka dapatkan.
“Ring of Fire?!”
“One Thousand Heaven Dragon?!”
“Kenaoa kalian terkejut seperti itu?” tanya Vin keheranan, “Apa kalian tidak suka teknik itu?”
“Bukan itu masalahnya, God Vin. Mereka sudah punya teknik itu sejak mereka sudah memiliki kekuatan Spirit sebesar 5 kekuatan Spirit.” Geisha tersenyum tipis.
__ADS_1
“Eh?!” Vin tentunya terkejut bukan main. Teknik Kedewaan hanya bisa dipakai saat seseorang sudah menjadi dewa serta memiliki kira-kira 50 kekuatan Spirit.
Vin berdeham sejenak lalu berkata, “Tentunya kekuatan Teknik Kedewaan yang dulu kalian keluarkan pasti tidak terlalu kuat, bukan?” Slitherio dan Sean mengangguk.
“Sejak pertempuran Sahara Desert, kami berdua tak pernah lagi memakainya...” Slitherio memegang dagunya.
“Tetapi setiap kami memakainya, kami akan mengalami suatu tekanan yang besar setelah memakainya. Seolah kami mendapat aura kuat dari God Jay...” Sean mengerutkan alisnya dengan sangat. Ia memang sulit melupakan tekanan besar itu.
“Tapi karena kalian sudah menjadi dewa, maka kalian bisa memakai Teknik Kedewaan kapanpun kalian mau...”ujar Vin. Ia lalu mendorong Slitherio dan teman-temannya, “Pulanglah, teman-teman kalian pasti menunggu kepulangan kalian...”
“Eh, bukan teman-teman... Tetapi benua kalian menunggu kepulangan para dewa mereka...” ujar Vin lalu berbalik.
Slitherio dan teman-temannya memberi hormat mereka yang terakhir lalu berkemas dan berjalan menuju pinggir pantai.
Disana, sudah ada satu orang yang memakai jubah berwarna merah sambil menatap lautan yang memantulkan sinar bulan.
“Malamnya indah, bukan?” pria itu bukan lain adalah Zein, sang Flame God. Ia lalu berbalik dan menatap Slitherio.
“Waktu yang kita habiskan memanglah singkat, tetapi kuharap waktu yang singkat itu bisa membuat kalian menjadi lebih kuat dan menciptakan kenangan yang membekas di ingatan kalian...” lanjut Zein.
“Waktu kita memanglah singkat, tetapi banyak yang bisa kupelajari di tempat ini...” Slitherio menatap bulan, “Bahwa kekuatan itu sebenarnya berasal dari kepungan yang kuat untuk melindungi segalanya...”
“Kata-katamu itu seolah mengingatkanku pada sesuatu...” Atra menyikut Slitherio.
“Apakah kita bisa kembali lagi kesini?” tanya Sean sambil menatap Zein.
“Benar, ini mungkin tidaklah sedamai di Kota Hostix kalian, tetapi setidaknya inilah rumah kedua kalian setelah kalian menjadi dewa...” Zein mendekat dengan perlahan.
“Bagaimana anda bisa tahu nama kota tempat tinggal kami?” tanya Li dengan terkejut.
“Bagaimana ya, aku adalah dewa. Aku selalu memakai Heaven’s Vision untuk mengawasi dunia. Tanpa sengaja, aku mendengar nama kota kalian dari perbincangan kalian itu...” Zein menggaruk kepalanya, “Maaf, ya...”
“Kapanpun kalian boleh datang lagi, pinggir pantai ini akan menjadi tempat bertemu kita jika kalian kembali nanti...” Zein menepuk pundak Slitherio, “Ingatlah untuk selalu mengingat pelajaran yang telah kalian pelajari disini...”
Zein lalu berubah menjadi api merah dan menghilang setelah mengatakan itu. Slitherio menatap semuanya dan bertanya, “Siap?” semua orang mengangguk.
“Tunggu sebentar, aku akan mengirim pesan pada kera itu sebelum kembali ke Midvast...” ujar FastStone lalu melakukan sesuatu. Ia berani mengatakan itu karena kini ia lebih kuat dari Whu.
“Sudah?” tanya Naze. FastStone mengangguk, “Ayo...”
“Teleport! Go to Hostix City!” Slitherio dan Sean mengangkat tangannya lalu mereka pun menghilang.
Arghh, telat!
__ADS_1