Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
250. Santai saja...


__ADS_3

Semifinal berakhir dengan kemenangan tim Indonesia dan dengan begitu, tim Indonesia melaju ke babak final yang akan dipangsung setelah babak penyisihan dan babak semifinal grup B selesai.


Dengan kata lain, tim Indonesia sudah tak punya kegiatan lain atau mereka bosan. Seperti saat ini.


Tujuh anggota Squad N5S rebahan di kamar mereka yang luas, entah itu memainkan ponsel mereka atau rebahan saja sambil memainkan jari-jarinya.


“Ah, apa tidak ada kegiatan?” Tanya Rio. Ia memainkan ponselnya sebentar lalu memeluknya.


“Mau ke pusat para Otaku berkumpul?” tanya Ryan. Ia sendiri juga sedang bingung dan ia sedang memainkan Headphonenya.


“Dimana?” tanya Hendra. Ia sendiri akan menyetujui apapun yang dikatakan Ryan selama tak hanya rebahan saja.


“Tak tahu...” ujar Agus.


“Tanya Kaku-san?” tanya Rio lagi. Kaku adalah nama pemandu yang lebih dari dua minggu lalu itu menjemput mereka di bandara.


“Boleh saja...” ujar Fredy.


Ryan lalu menghubungi Kaku dan memintanya untuk mengajaknya berkeliling. Tak lama, Kaku datang dan mengajak mereka keluar.


Karena waktu istirahat ada sebanyak lebih dari seminggu, mereka bisa saja bersantai ke banyak tempat.


Tetapi untuk mengetahui pemberitahuan selanjutnya, tentu saja mereka harus bersiaga di kamar mereka.


“Nah, kita akan kemana?” tanya Kaku-san.


Semuanya segera terdiam. Mereka tak memiliki referensi untuk pergi kemana, itu alasan pertama.


Alasan kedua, mereka tak tau daerah di Jepang. Kaku berpikir sebentar lalu bertanya, “Apa kalian mau ke Akihabara?”


Ryan mengangguk, “Boleh saja, asal-...” ia lalu teringat sesuatu.


“Akihabara itu surganya para Otaku, bukan? Ayo kita kesana!” Agus mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan. Ia sendiri duduk di tengah-tengah.


“Sudah diputuskan, tujuan kita adalah Akihabara!”


***


“Akihabara?!” Rayhan tak bisa tenang mendengar nama wilayah itu.


“Yah, kami pergi kesana, dan sebuah kejadian unik terjadi...” ujar Ryan sambil tersenyum kecil.


“Paling tersesat...” Raisya menghela napasnya.


“Eh, betulan? Kalau begitu ayah sudah tersesat di Jepang sebanyak 3 kali!” Ria mengangkat tiga jarinya.


“Tapi sebelum ayah lanjutkan, kami akan mandi dulu. Sudah malam...” ujar Rayhan lalu berdiri dan meninggalkan Ryan dan Raisya yang duduk di teras. Ria juga mengikuti Rayhan.


“Memang sudah jam berapa?” tanya Ryan. 


Raisya mengambil ponsel Ryan dari kantongnya dan melihatnya, “Baru jam tujuh nih...”


“Eh?!”


***


“Ayah lanjutkan saat ayah dan teman-teman ayah terjebak di Akihabara...” ujar Ryan memulai ceritanya lagi saat malamnya.


“Berarti tidak terjebak, ya?” tanya Rayhan Ryan mengangguk.


Mereka kembali mendengar cerita Ryan saat mereka selesai makan. Tentu saja mereka harus mengisi perut untuk mendengar cerita Ryan yang betul-betul panjang.


“Ayah, bagaimana kalau ceritanya dipercepat lagi? Rayhan mulai bingung dengan ceritanya...”


“Apanya yang bingung? Jelas-jelas ceritanya sudah ayah buat sesederhana mungkin.” Ujar Ryan.

__ADS_1


“Ya sudah, ayo lanjutkan...”


“Saat kami pergi ke Akihabara...” Ryan melanjutkan ceritanya.


***


“Kalian bersenang-senanglah dulu disini, kalau mau kembali hubungi saja aku...” ujar Kaku lalu pergi dengan mobilnya.


Ryan melambaikan tangannya dan berbalik menghadap teman-temannya, “Nah, kita akan berkeliling sebentar disini...”


“Ya...” Agus terlihat antusias.


Mereka lalu berjalan menuju sebuah toko yang luarnya berhiaskan beberapa buku manga. Mereka masuk dan berkeliling di dalamnya.


“Kalaupun kita membelinya, kita tak bisa membacanya, bukan?” tanya Ryan. Ia akan memilih membaca versi yang sudah diterjemahkan.


“Kalau begitu kita cari figurenya saja...” ujar Rio. Semuanya mengangguk.


Mereka lalu berjalan keluar toko itu setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik toko.


Mereka lalu masuk ke sebuah toko yang luarnya dihiasi oleh beberapa figure kecil. Hendra mendekati sebuah figure kecil yang berbentuk seorang pemuda yang membawa dua pedang di punggungnya dan memakai jubah berwarna hitam.


“Bagus, ya?” Hendra mengagumi figure kecil itu.


“Baguslah, karena sudah jadi. Coba kita yang buat, pasti akan mengatakan bagaimana begitu...” ujar Ryan sambil berjalan masuk.


Mata Agus, Ryan, dan Justin berbinar-binar. Di tempat ini, berbagai figure dari karakter terkenal dipajang disini.


“Kalau aku membelinya satu, bagaimana?” tanya Agus sambil melirik semuanya. Ia menunjuk sebuah figure yang memiliki ukuran setelapak tangan orang dewasa.


“Lihat harganyalah...” Ryan menunjuk ke kertas harga dibawah figure itu. Bertuliskan 50.000 Yen.


“Astaga...” Agus menarik rambutnya, “Murah, hanya saja nanti aku kehabisan uang...”


“Oke sip, kita cari yang jauh lebih murah dari yang ini...” ujar Justin sambil menarik semuanya ke bagian yang berisi figure yang lebih kecil lagi.


“Kenapa?” tanya Rio saat Justin menarik tangannya.


“Harga figure tadi itu setara 7 juta dalam rupiah...” ujar Justin. Mata Rio melebar.


“Benar, kita harus cari yang lebih murah lagi...” ujar Rio dengan senyuman palsunya.


“Hah, kau tak pintar berbohong...” ujar Ryan lalu ia berjalan menuju sebuah figure yang terlihat seukuran jari telunjuk dan jari tengah kalau digabungkan.


“Yang ini harganya hanya 100 Yen, lumayanlah...” ujar Ryan.


“Kenapa tidak yang bentuknya pedang ini saja?” tanya Hendra, “Bentuknya sedikit detail...” Hendra segera terdiam, “Tidak jadi deh...”


“Ah, aku akan membeli figure tiga pedang tertancap ini!” Justin meraih figure yang ada di depan Leo lalu mengamankannya.


“Aku akan mengambil bentuk pria dengan pedang besar ini...” ujar Fredy sambil meraih sebuah figure kecil.


“Kita belinya satu-satu saja, ya? Kita kemari untuk bertanding, bukan?” Ryan mengingatkan. Semuanya mengangguk.


Bagi mereka, ucapan Ryan seperti perintah di telinga mereka. Dan juga, entah kenapa mereka semua terasa seperti ingin terus mematuhi Ryan.


“Kalau sudah kita bayar...” ujar Ryan santai. Ia sendiri membeli sebuah figure berbentuk tongkat berwarna emas. Terbilang unik bagi teman-temannya.


“Figure apaan itu?” tanya Rio. Ia sendiri membeli figure berbentuk tiga pedang tertancap.


“Selera kapten memang lain...” ujar Hendra yang membeli sebuah figure berbentuk seorang samurai yang tertusuk lima pedang.


“Namanya juga Anak Tersantai di masa kecilnya, pastilah ia mencari yang aneh-aneh...” ujar Fredy. Ia membeli figure yang tadi ia lihat.


“Darimana kau tahu julukanku dulu?” tanya Ryan sambil melirik Fredy.

__ADS_1


“Yah, aku kebetulan kenal dengan temanmu dulu, kalau tidak salah namanya Ray, mungkin?” Fredy menyelesaikan pembayarannya dan berbicara pada Ryan.


“Ray, ya? Bagaimana kabarnya?” tanya Ryan.


“Dia bertambah pintar sejak di sekolah barunya...” ujar Fredy sambil tersenyum, “Ia sempat mengatakan sesuatu, yaitu tetaplah semangat...”


“Ray memang aneh...” gumam Ryan, “Sudah semua?”


Semuanya mengangguk. Mereka lalu berpamitan pada pemilik toko dan merek keluar dari toko itu.


Saat diluar, ternyata siang sudah semakin terik. Mereka lalu berjalan dengan cepat menuju sebuah tempat yang disebut-sebut merupakan tempat yang asyik bagi para Otaku, yaitu Manga Center.


Mereka masuk dan keluar dua jam kemudian. Karena didalamnya adalah museum manga sejak dulu, mereka membaca manga disana.


Rata-rata, mereka membaca manga selama hampir dua puluh menit untuk satu volumenya. Itu sudah terhitung cepat.


Mereka keluar saat hari sudah sore dan mereka lalu berjalan pulang, “Ada baiknya kita berjalan, bukan?” usul Rio. Semuanya setuju.


Mereka lalu berjalan keluar dan saat mereka menyadari sesuatu, mereka telah tersesat di sebuah gang kecil.


“Kenapa bisa kesini?” tanya Leo. 


“Aku melihat peta sebentar dan melihat kalau gang kecil ini bisa mengantar kita ke hotel langsung...” ujar Rio sambil menunjukkan peta.


“Sepertinya petanya tidak akurat...” komentar Fredy. Ryan dan Hendra mengangguk.


“Masalah ini...” Justin membuka ponselnya, “Tidak ada sinyal?”


Mereka lalu melihat ke atas dan gerimis datang. Mereka segera berlari ke sebuah toko kecil dan berteduh disana.


“Nak, apa kalian ingin makan mie?” toko itu ternyata rumah makan sederhana dan menyediakan mie.


“Boleh, satu porsinya berapa?” tanya Ryan. Sesaat ia lalu tersadar sesuatu.


“Apa yang kau katakan?” tanya kakek pemilik toko itu.


“Dia tidak memakai Auto Translator. Kitalah yang harus berbicara Jepang...” ujar Hendra. Ia lalu melirik Agus.


“Serahkan padaku...” Agus mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu.


“Satu porsinya berapa?” tanya Agus sambil membaca ponselnya. Tentu saja ia bertanya dengan bahasa Jepang.


“Oh, hanya 10 Yen untuk satu porsinya...” kakek itu lalu menatap semuanya, “Apa kalian mau makan?”


“Boleh...” jawab Agus. Ia lalu duduk. Yang lainnya ikut duduk.


Untung saja tempat itu sedikit luas, jadi ketujuh anggota Squad N5S bisa duduk makan.


Kakek itu menyajikan satu persatu porsi mie untuk pembelinya. Ia lalu menatap semuanya, “Apakah kalian dari Indonesia?”


“Eh, benar. Darimana kakek tau?” tanya Agus. Ia sebelumnya membuka ponselnya dan menerjemahkan yang ingin ia katakan.


“Dari bahasa kalian dan bendera yang ada di dada kiri jaket kalian...” ujar kakek itu sambil tersenyum lebar.


“Oh, apakah kakek juga pernah bertemu dengan orang Indonesia sebelumnya?” tanya Ryan. Kali ini ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan hal yang sama dengan Agus.


“Tidak, aku hanya melihat bendera kalian, itu saja...” ujar kakek itu lalu berkata, “Hujannya sudah berhenti.


Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka tengah berteduh karena hujan dan mereka memutuskan untuk berteduh di tempat makan sederhana ini.


“Terima kasih atas makanannya...” ujar Rio sambil membungkuk sedikit. Yang lainnya ikut membungkuk dan memberi hormat mereka pada kakek itu.


“Yah, sampai jumpa...” ujar kakek itu.


Mereka lalu berjalan keluar gang itu dan mereka menghubungi Kaku. Tak lama, Kaku datang dan mengajak mereka kembali ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2