
Tujuh hari berlalu sejak kegiatan memancing yang berujung pada penemuan seorang wanita dari Benua Eastest...
Hari ini adalah hari dimana ujian keempat akan dilaksanakan. Seperti yang dikatakan oleh Zein sebelumnya, ujian kali ini akan dilaksanakan di pantai tempat Slitherio dan yang lainnya bersama dengan Hook God Wissie memancing.
“Aku akan memberi kalian keringanan...” Sebelum Zein menyelesaikan ucapannya, Sean sudah memotongnya dengan amat sopan.
“Maaf sebelumnya, God Zein. Tetapi kami sepakat tidak akan menerima keringanan lagi...” ujar Sean sambil memberi hormatnya.
Zein menaikkan alisnya, “Kalian yakin? Ujiannya kali ini diawasi oleh dewi paling aneh diantara kita bersembilan...” Zein menunjuk wanita disebelahnya yang memakai jubah biru dengan motif gelombang air.
“Hai...” wanita itu bukan lain adalah Eny, sang Ocean Goddess. Ia melambaikan tangannya pada semua orang, “Aku tidak akan segan pada kalian, lho...”
Geisha menelan ludahnya, ia baru kemarin mendapatkan Soul Remaist dari Quinn dan memiliki Holy Ice Phoenix serta menjadi Remaister keenam.
Berita ini cukup menghebohkan karena Bru pertama kalinya ada seorang pemain yang mendapat Soul Remaist di level 500 keatas. Biarpun begitu, hanya pemain berlevel itu saja yang bisa menghabisi Beast Remaist dan memakai kekuatannya.
Quinn hanya menghela napasnya panjang saat ia terpaksa memberikan kekuatannya pada Geisha, tetapi Slitherio sempat mengatakan sesuatu padanya.
“Meski kau mati, hatimu akan menjadi milik Geisha seutuhnya...” ujar Slitherio menenangkan Quinn saat itu. Kata-kata itulah yang membuat Quinn bisa tenang saat menyerahkan seluruh kekuatannya pada Geisha.
Harus Slitherio akui, kekuatan es Geisha saat ini mungkin menduduki posisi pertama pemain dengan elemen Es di Midvast. Tetapi tidak dengan di dunia.
Setelah Quinn bertemu dengan mereka, ia memutuskan untuk berlatih bersama dan tak tanggung-tanggung, ia berhasil membuka 5 kunci setelah tiga hari. Hal itu juga yang membuat kekuatan es milik Geisha bisa sebesar ini.
Selama seminggu ini, mereka memutuskan untuk mencoba berlatih di atas laut dan akhirnya berhasil tanpa skill Wind Step. Wissie yang sempat mengintip mereka latihan bahkan sampai lupa bernapas saat melihat itu semua.
Setelah melihat itu, Wissie langsung melaporkan hal itu pada Tany, sang Metal God sekaligus gurunya.
Karena mendengar hal itu, sembilan elemen akhirnya memutuskan untuk menjadikan ujian ini serta ujian menaiki 999 anak tangga akan menjadi ujian terakhir mereka dan mereka berhak mendapat gelar mereka masing-masing.
Mereka saja sulit percaya akan hal itu, apalagi setelah mengetahui dari Gaburon, Vin, dan Sid bahwa Slitherio dan teman-temannya kini memiliki 30 lebih kekuatan Spirit. Dan mereka mendapatkan angka itu setelah lebih dari sebulan tinggal di Gods Island!
Hal itulah yang menjadi pertimbangan Slitherio dan teman-temannya akan menjalani dua ujian lagi setelah mendaki gunung tanpa batas.
“Kalian sudah kuberitahu aturannya atau tidak?” tanya Zein. Semuanya menggeleng.
__ADS_1
“Cukup berdiri selama dua belas jam di sana, maka ujian akan dianggap selesai. Kalian harus melakukannya setidaknya selama seminggu agar bisa melanjutkan lagi ke ujian terakhir.” Jelas Zein.
“Oke...” Slitherio membentuk lingkaran dengan jempolnya dan telunjuknya lalu berjalan santai menuju laut. Yang lainnya mengikuti dengan sama santainya.
Disaat Slitherio dan teman-temannya berjalan dengan santainya, Zein dan Eny bahkan tidak bisa menutup mulut mereka saat melihat mereka yang terus berjalan dengan santai diatas laut.
“Tidak!” Eny memegangi pipinya dengan kuat lalu jatuh berlutut, “Kekuatan mereka sungguh tidak masuk akal...”
“Wajar saja, mereka saja bisa membuat White Shark yang perkasa itu terpojok hanya dengan kekuatan pria jubah merah itu...” Zein menunjuk Slitherio, “Sebagai tambahan, dia muridku sekarang...”
Eny membuka mulutnya lebar-lebar, ia sendiri sulit mempercayai kata-kata Zein. Ia akhirnya berdiri dan berdeham, “Aku takkan membiarkan mereka lolos begitu saja...” Eny lalu mengangkat tangannya.
Gelombang besar lalu datang dan terlihat mendekati Slitherio dengan teman-temannya dalam kecepatan tinggi.
Slitherio yang melihat itu segera berbalik dan bertanya dengan nada keras, “Guru, jika gelombang itu kuhancurkan, bagaimana?”
Eny dan Zein saling tatap sebelum Zein menatap Slitherio dan membalasnya, “Boleh saja, tetapi hati-hati...”
Slitherio tersenyum lebar lalu melesat dengan kecepatan tinggi menghampiri gelombang itu. Setelah keduanya sudah saling berhadapan, Slitherio mengepalkan tangannya dan memukul gelombang itu dengan keras.
Slitherio menyeringai lebar lalu memukul gelombang itu satu persatu. Saat Slitherio memukul gelombang kelima, Sean muncul dan berkata dengan pelan pada Slitherio, “Kalau duel seperti ini, jangan lupa ajak aku juga...”
Sean mengepalkan tangannya dan ikut memukul gelombang itu dengan cepat, melebihi kekuatan Slitherio saat memukul gelombang itu.
Eny akhirnya menyerah dan membiarkan Slitherio dan yang lainnya melakukan ujiannya dengan tenang.
“Sudah kubilang, kekuatan mereka itu tidak ada yang masuk akal...” Zein memijat keningnya sendiri.
Slitherio dan Sean kembali berkumpul dengan teman-temannya kemudian Slitherio berkata, “Kita boleh mengumpulkan kekuatan Spirit, bukan?”
“Mungkin...” FastStone menatap Zein di tepi pantai, “God Zein, bolehkah kami mengumpulkan kekuatan Spirit disini?”
“Terserah, yang penting tidak sampai menghentikan ujian...” jawab Zein dengan santai. Ia lalu melirik Eny.
“Kenapa kau membiarkan mereka mengumpulkan kekuatan Spirit disana?” tanya Eny.
__ADS_1
“Biarkan saja, lagipula Jay dan Monte juga dulu seperti itu...” Zein tersenyum tipis sambil menaikkan bahunya.
***
Seminggu kemudian...
Ujian akhirnya selesai dengan rasa santai dan tenang. Slitherio dan yang lainnya akhirnya berhasil meningkatkan kapasitas Mana sampai sebesar 35 kekuatan Spirit.
Jika saja mereka langsung kembali ke Midvast saat itu juga, mungkin saja akan menciptakan kehebohan karena belum sampai dua bulan menghilang, mereka sudah mendapatkan tambahan sekitar 20 lebih kekuatan Spirit.
Sean dan Slitherio sempat berkomunikasi sebelumnya dengan para Ketua Guild Profesional. Dan hasilnya, mereka terkejut dengan perubahan Slitherio dan Sean.
“Andai saja aku mengajukan diri dengan lebih keras, mungkin saja aku sudah menjadi Schyte God di Midvast...” ujar Luvian saat Sean menghubunginya.
Kekuatan Spirit milik pemain Profesional di Midvast kira-kira sebesar 15 sampai 20 kekuatan Spirit. Slitherio dan Sean yang mendengarnya saja sampai memasang wajah heran saking terkejutnya.
“Kok bisa?!” Slitherio dan Sean yang mendengarnya memukul meja yang mereka pakai.
“Mau bagaimana lagi, monster kuat sudah langka. Mau berburu pun sulit karena banyak pemain hebat yang memburu monster-monster ini...” ujar Luvian sambil menepuk dahinya.
Lain halnya dengan LoghSeveria yang memegang posisi ketua Guild Sevens untuk sementara. Menurutnya, berburu di sekitar Hostix tidaklah sulit karena monster-monster kuat disana bisa dibilang muncul tanpa batas. Sebab itulah level para pemain yang tinggal di Kota Hostix bisa memiliki level 600 tanpa kesulitan berarti.
“Ini artinya, semua monster sudah berpindah ke berbagai tempat dan meninggalkan Midvast tengah yang dulu dikenal sebagai wilayah yang memerlukan level tinggi barulah bisa kesana...” FastStone yang ikut menyimak menyimpulkan laporan Luvian dan LoghSeveria.
“Oh, ada FastStone juga. Bagaimana kelanjutan ilmu pedangmu?” tanya Luvian yang melihat FastStone.
“Lumayan banyak, aku berguru langsung pada dewa pedang dan berhasil meningkatkan kemampuan pedangku yang pada dasarnya sudah tinggi...” ujar FastStone senang.
“Oh, baiklah. Kuharap ujian disana segera selesai karena muncul lagi masalah di Midvast...” ujar Luvian sebelum mematikan pesan video itu.
“Masalah?” tanya FastStone. Ia yakin mendengarkan dengan benar.
“Oi, Slitherio. Kau dipanggil oleh God Zein dan disana sudah ada Geisha dengan Luna...” seseorang di luar ruangan yang bukan lain adalah Atra memanggil Slitherio.
“Baiklah, aku akan memenuhi panggilan guruku...” ujar Slitherio lalu berdiri dan mengikuti Atra.
__ADS_1