
“Li, apa kau... Manusia?”
Li tidak bergeming. Ia masih terus memainkan serulingnya dengan perlahan dan indah.
Satu persatu monster tewas ditangan Atra, Whu, Naze, dan Geisha. Dengan bantuan Li, masalah kedua dapat diselesaikan.
Sesekali Li juga mendapatkan EXP yang lumayan untuk menaikkan levelnya hanya dengan gelombang suara yang dihasilkannya dari seruling miliknya.
Li menurunkan seruling dan menatap Slitherio sambil tersenyum hangat. Slitherio yang melihat itu membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan keterkejutan yang amat besar.
“Kenapa? Kenapa kau membuka mulutmu lebar-lebar?” tanya Li sambil menggantungkan serulingnya di pinggang kirinya.
“Apa kau manusia?” tanya Slitherio sambil menunjuk Li dengan tangan yang sedikit gemetaran.
“Tentu saja aku manusia.” Jawab Li santai.
“Ajari aku teknikmu yang hebat itu!” Slitherio menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menunduk.
“Tidak bisa. Aku hanya bisa melakukan, tetapi tidak bisa mengajari.” Jawab Li sambil tersenyum lembut.
Situasi di luar tembok kota berangsur membaik. Naze yang dibantu oleh Geisha dan Atra semakin bersemangat melawan para monster itu dengan dua pedangnya.
Whu dengan satu tongkatnya melawan para monster itu dengan ganasnya. Baru pertama kali ini Slitherio melihat Whu yang bertarung tanpa clonnya.
Secara umum, para pemain yang mampu membuat clon takkan mampu terpisah dari clonnya, bahkan sedetik dalam pertarungan pun ia tidak bisa dipisahkan.
Tetapi Whu berbeda. Ia mampu bertarung dengan sendirinya tanpa bantuan clon yang biasa membantunya. Sepertinya Whu ingin membuat namanya dikenal sebagai Staffmaster biasa yang bermain tanpa menggunakan clon.
Makin lama, pertarungan di luar tembok kota semakin didominasi oleh teman-teman Slitherio.
Para monster yang melihat empat orang yang melawan mereka merasa seperti melihat dewa kematian. Sepertinya, Murderous Aura mereka mulai terasah dan membuat para lawannya ketakutan seperti melihat dewa kematian.
Hingga pada akhirnya, para monster itu mundur dengan cepat dan meninggalkan teman-teman mereka yang tertinggal di belakang.
Atra dan Geisha tidak membiarkan para monster itu lari, tetapi insting Naze yang tajam merasakan adanya bahaya yang lebih besar dari dalam hutan.
“Seingatku, saat kita keluar dari hutan nyaris tidak ada perasaan seperti ini.” Gumam Slitherio. Ia juga merasakan bahaya dari dalam hutan.
Slitherio menarik pedangnya kemudian mengembangkan sayapnya sebelum melesat masuk ke dalam hutan.
Tindakannya membuat yang lainnya kebingungan, tetapi kejadian selanjutnya membuat mereka terkejut saat melihatnya.
Slitherio dengan pedangnya melawan seekor belalang sembah yang sangat besar. Tarian pedang apinya Slitherio saja tidak mampu mencabik-cabik tubuh belalang itu.
“Tidak! Itu adalah Jade Crane Lord! Ia adalah monster yang setara dengan pemain level 150!” seru Naze kemudian menyarungkan satu pedangnya kemudian melesat membantu Slitherio dengan satu pedangnya.
Slitherio yang melihat Naze mendekat segera melompat mundur. Ia terlihat mencari sesuatu di Inventorynya sebelum mengeluarkan sebuah pedang, “Naze! Tangkap ini!”
Naze menoleh sesaat sebelum menangkap pedang yang masih tersarung rapi yang dilemparkan Slitherio, “Ini? Darkness Fire Sword?!”
“Gunakan saja!” seru Slitherio sebelum melompat kembali dan menyerang belalang sembah itu.
Slitherio memainkan pedangnya dengan baik dan teratur, tetapi tetap tidak mampu melukai kulit keras belalang itu.
__ADS_1
“Tidak ada pilihan...” Slitherio menyarungkan pedangnya sebelum bergumam, “Flame Warmage Technique: Twin Phoenix Claw...”
Teknik yang sudah hampir tidak pernah ia pakai, sekarang ia pakai untuk melawan monster yang levelnya lebih jauh lima puluh level dibawahnya.
Belum sempat Naze membantu menyerang, Slitherio sudah menyerang belalang itu dengan cakar ditangannya.
Dengan cepat, Slitherio mencabik-cabik tubuh belalang sembah itu yang gagal ia lakukan dengan pedangnya. Tubuh belalang itu tercabik-cabik dengan sadis sebelum jatuh ke tanah dan berubah menjadi butiran cahaya.
Saat belalang sembah itu menghilang, sebuah kristal kecil dijatuhkan oleh belalang itu bersamaan dengan kulitnya yang berwarna hijau gelap.
Slitherio mengambilnya kemudian memeriksanya.
[Jade Crane Lord Core (No Rank)
Sebuah inti kehidupan dari raja para monster Jade Crane.
Fungsi: memulihkan Mana yang hilang sebanyak 50 Mana, meningkatkan kapasitas Mana sebanyak 500 Mana]
“Life Core?” gumam Slitherio bingung.
Life Core banyak dijual oleh para pemain yang kesehariannya berburu menaikkan levelnya. Tetapi, Core yang biasa dijual tidaklah memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas Mana seperti ini.
Core yang ada di tangan Slitherio saat ini adalah yang pertama.
“Untuk apa kau memberikan Darkness Fire Sword jika kau menghancurkan tubuh lawanmu sendirian?” tanya Naze sambil membawa Darkness Fire Sword yang masih tersarung.
“Ambil saja.” Kata Slitherio.
“Tidak mau ya sudah. Kembalikan...” Slitherio menyimpan Life Core itu kemudian meminta kembali pedangnya pada Naze.
“Tidak-tidak...” Naze menarik kembali pedangnya kemudian menyimpannya.
“Tadi yang ada di tanganmu itu apa?” tanya Naze. Atra dan yang lainnya berjalan mendekati mereka.
“Life Core.” Jawab Slitherio.
“Life Core?” tanya Naze, Atra, Whu, dan Geisha bersamaan.
“Berguna untuk meningkatkan kapasitas Mana.” Jawab Slitherio lagi.
Li datang mendekat dengan napas terengah-engah. Terlihat dirinya yang tidak biasa berlari mengikuti para petarung di hadapannya.
“Slitherio, kau dipanggil oleh walikota Merchania dan ada yang ingin dibicarakan.” Kata Li dengan napas tidak teratur.
“Baiklah...” Slitherio mengangguk kemudian berjalan mengikuti Li. Yang lainnya saling tatap sebelum berjalan mengikuti Slitherio dan Li.
***
“Sambutlah, sang pahlawan kita!” seru sang walikota yang menyambut Slitherio dan kawan-kawan yang datang ke pusat kota.
Slitherio merasa tidak biasa menghadapi situasi seperti ini, jadi ia memilih tersenyum selebar yang ia bisa.
“Berkat anda, kota Merchania berhasil selamat dari para monster penyerang kota ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih langsung pada anda.” Ujar sang walikota sambil menunduk sedikit.
__ADS_1
[Selamat, kau telah menyelamatkan kota Merchania dari serangan para monster!
Kau mendapat title 'The City Savior'
Mendapat STR+30 permanen, INT+10, VIT+10, DEX+20, dan Charisma+300]
Title yang sama didapatkan oleh Atra, Naze, Whu, dan Geisha setelah sang walikota menunduk.
Slitherio tersenyum tipis kemudian berkata, “Terima kasih.”
Sang walikota hanya tertawa kecil saat melihat Slitherio, “Ini masihlah tidak ada apa-apanya. Seandainya anda tidak ada disini, mungkin Merchania akan tersisa nama saja di masa depan.”
“Kata-kata terima kasih masih kurang untuk membalas kebaikan anda, jadi saya akan memberikan satu hadiah lagi.” Sang walikota kemudian memanggil pelayannya dan meminta dibawakan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali dan membawa sebuah kotak berukuran sedang. Sang walikota menerimanya kemudian mengeluarkan isi dari kota itu, sebuah topeng.
“Terimalah.” Ujar sang walikota sambil memberikan topeng itu pada Slitherio.
Topeng itu hanya terlihat menutupi sebagian dari wajah dan hanya menampilkan mata serta hidung dan mulut saja. Slitherio menerimanya kemudian memeriksanya.
[Lucky Mask (Ancient)
Topeng ini adalah sebuah topeng buatan seorang penyanyi kesepian yang selalu merasa sial dalam hidupnya. Topeng ini ia ciptakan untuk membuat dirinya selalu beruntung dalam setiap saat.
INT+10, HP+100 saat digunakan.
Skill pasif: Lucky: Menggandakan EXP dan uang saat sedang berburu maupun bekerja saat digunakan]
“Ah, terima kasih.” Slitherio menyimpan topeng itu.
“Tujuan anda ingin kemana?” tanya sang walikota.
“Aku ingin menuju kota ini untuk membeli sesuatu.” Jawab Slitherio. Ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena ditakutkan akan menimbulkan keributan.
Nama Oxyvian Labyrinth memang terkenal sebagai tempat paling mengerikan di seantero Midvast. Hal seperti ini bahkan sampai diketahui oleh para NPC sekalipun.
“Begitu ya...” sang walikota mengangguk, “Apa perlu saya bantu?”
“Tidak.” Jawab Slitherio, “Baiklah, terima kasih atas seluruh hadiah yang telah anda berikan pada saya yang telah saya terima semuanya.”
Slitherio berjalan meninggalkan pusat kota yang ramai oleh para warga kota. Yang lainnya mengikuti. Li juga mengikuti mereka.
Setelah jauh dari pusat kota, Slitherio kemudian berkata, “Li, kemari...”
Li mendekati Slitherio kemudian bertanya, “Kenapa?”
Slitherio mengeluarkan topeng dan memberikannya pada Li. Li yang menerimanya merasa kebingungan, sehingga ia pun bertanya, “Kenapa kau memberikan topeng ini padaku?”
Slitherio memalingkan wajahnya sejenak sebelum menatap Li lagi dan berkata, “Aku sudah memikirkan tentang jobmu yang kurang lebih sedikit sial...” ia kemudian mengatakan pemikirannya tentang job Musician milik Li.
Job Musician memang sangat berguna dalam pertarungan, tetapi untuk menaikkan levelnya memang sedikit sulit. Tak terhitung bulan yang harus si pemilik job Musician lewati agar berhasil melewati level 200.
“Itu... Darimana kau tau?” tanya Li. Ia tidak menyangka masalahnya selama ini diketahui oleh Slitherio.
__ADS_1