
Atra merasa dirinya meneteskan air mata memilih menghapusnya sebelum kembali melanjutkan kegiatan berburunya.
Dirinya terus berburu hingga ia sampai di sebuah hutan yang bisa dibilang hampir hancur. Sebagian alasan hancurnya hutan itu disebabkan oleh sebuah tebasan yang berkekuatan api yang sangat kuat.
Atra berpikir mungkin Slitherio yang melakukannya karena selain dirinya tidak ada pemain yang memiliki kekuatan api di dalam tubuhnya.
Jumlah jiwa yang perlu dikumpulkannya tersisa seratus jiwa, ia memilih pergi mencari kota terdekat untuk mengisi persediannya.
Saat ia sudah hampir sampai di kota, ia melihat seseorang yang memakai jubah yang tidak asing berada di depan pintu masuk.
Atra mendekatinya dan menatapnya lebih jauh, “Mungkin dia Slitherio, kenapa ia berada di tempat ini?”
Atra menampar pipinya sendiri, menyadari pertanyaan bodohnya yang mungkin dijawab dengan pukulan oleh Slitherio sambil berkata, “Bagaimana bisa kau bertanya pertanyaan bodoh itu? Tentu aku sedang melakukan perjalananku sendiri!”
Atra maju kemudian menepuk pundak orang itu, “Bertemu lagi kita, Slitherio?”
Slitherio menoleh dan mendapati wajah temannya yang terlihat sedikit kelelahan.
“Bertemu lagi. Bagaimana kau bisa ada disini?”
Atra mengumpat dalam hatinya, pertanyaan yang menurutnya bodoh malah sekarang diucapkan oleh orang yang tidak ingin ia tanyakan.
“Ehm, aku sedang berjalan-jalan dan kebetulan bertemu dirimu disini.” Ujar Atra sambil menggaruk kepalanya.
“Oh... Apa kau sudah menerima pesanku?” tanya Slitherio.
“Tentu, aku sudah melepaskan segel cincin roh Bhiosa dan tidak sempat melatihnya.” Jawab Atra.
“Nanti kita akan melakukannya bersama dua rekan baruku...” ujar Slitherio sambil menunjuk dua orang yang tertutup jubah berwarna hitam.
Atra hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Perjalanannya kali ini kembali bersama Slitherio.
***
Whu sedang bersantai di atas pohon saat ada sebuah pesan yang ditujukan padanya. Whu hampir saja terjatuh saat menerima pesan itu, untunglah kakinya masih sempat mencengkeram ranting pohon yang ia duduki.
Ia kemudian mendarat dengan aman sebelum membaca pesan yang dikirimkan oleh Slitherio itu.
“Hai, aku sudah membangkitkan Asheuin dan Sen bersama dengan Geisha. Kalian harus membangkitkan Adhie, Dee, Zeo, dan Bhiosa agar kita bisa mengumpulkan kembali Enam Pendekar Naga Hijau. Sekian saja. Kuharap perjalanan kalian lancar.” Begitulah isi pesan dari Slitherio.
Whu melompat naik ke atas pohon sebelum melesat menggunakan Skill Wind Step menuju tengah hutan. Ia kini berada di tepi hutan dan monster disana bisa dikatakan bukanlah lawannya.
Ia terus mencari monster berlevel sedang karena monster seperti itu sering memberikan jiwa dalam jumlah besar.
Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Hari sudah mulai malam. Whu memanjat pohon dan menemukan seekor rubah berukuran kecil sedang memakan sesuatu. Whu menghabisi rubah itu dan memanjat lebih tinggi.
__ADS_1
Sekelompok burung menabrak Whu yang sedang berdiri di pucuk pohon sambil menatap sekelilingnya. Whu tidak ada pilihan selain menghabisi sekelompok burung itu.
Disebabkan Skill Wind Stepnya sudah mencapai tingkat Intermediate, Whu dapat berdiri di atas kayu yang sudah rapuh sekalipun.
Belum terhitung seribu monster yang dibunuhnya, sebuah jendela informasi muncul di hadapannya.
[Green Dragon Dee kembali berjalan di dunia!
Kau berhasil melepas segel cincin roh yang menyegel separuh jiwa Dee dan membangkitkannya.
Mulai sekarang, kau adalah tuan Dee]
Whu kemudian menerima sebuah kisah hidup yang menurut Whu sendiri sangat seru.
Dimulai dari kelahirannya, tumbuh besar di sebuah desa kecil, desanya yang dihancurkan, perjalanan tongkat hijau Dee, dan akhir hidupnya.
Kisah hidup Dee bisa dibilang yang paling seru, karena menurut Whu sendiri Dee melalui hari-hari pelatihannya dengan bertarung dan meneteskan keringat yang tidak sedikit.
Whu melompat dari atas pucuk pohon dan mendarat dengan aman. Ia kemudian membersihkan jubahnya.
Saat Whu menoleh, sebuah bayangan berkelebat lewat di depannya. Bayangan itu sekilas membentuk siluet manusia dengan cakar di tangannya.
Whu tersenyum saat melihat arah perginya bayangan itu. Ke sebuah hutan yang terlihat sedikit hancur.
Whu mendekati sebuah pohon yang terlihat hangus terbakar sesuatu. Sesuatu seperti api yang sangat kuat.
Whu melesat mengikuti arah hancurnya hutan itu yang mengarahkan Whu ke sebuah lapangan yang sangat luas. Di tengah lapangan itu sedang duduk tiga orang yang masing-masing memakai jubah bertudung. Salah satunya memakai jubah berwarna merah api.
Orang berjubah merah api tersenyum pada Whu kemudian melambaikan tangannya, “Whu, kemari! Atra sudah berhasil melepas segel cincin roh Adhie dan Bhiosa!”
Whu mendekat kemudian duduk diantara mereka.
“Slitherio, aku sudah membaca pesan yang barusan kau kirim dan aku sudah melepas segel cincin roh Dee. Yang tersisa hanyalah cincin roh Zeo yang belum kulepas karena aku sendiri malah bertemu dengan kalian semua.” Ujar Whu sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum.
Slitherio bangun kemudian menatap langit, “Hari ini kita harus membangkitkan keenam teman baru kita, harus...” Slitherio sedikit menekankan pada kata 'harus'.
“Kenapa kita harus membangkitkan enam orang ini?” tanya Geisha.
“Karena kekuatan mereka nantinya dapat membantu kita dalam menyelesaikan Chapter terakhir Plot of Hell Empire.” Jawab Slitherio.
Atra dan Whu mengangguk tanda paham. Kini mereka memahami alasan Slitherio begitu ingin membangkitkan enam orang yang menurut mereka sudah mati.
Slitherio mencari kayu di hutan sementara temannya yang lain menunggu di lapangan luas itu. Saat Slitherio sudah terlihat, Atra mengeluarkan dua makhluk yang Geisha sebut Undead.
Terlihat dua makhluk yang memiliki rangka yang berwarna perak keluar dari asap berwarna hijau saat Atra memanggil keduanya.
__ADS_1
Atra mengenalkan keduanya sebagai Adhie dan Bhiosa. Dua makhluk itu menerima kondisinya saat ini, membuat Geisha kebingungan saat melihat keduanya.
“Bagaimana kedua orang ini mampu menerima kondisinya saat ini sedangkan dua orang yang tadi dibangkitkan oleh Slitherio malah sulit menerima kondisinya saat ini?” tanya Geisha.
Atra yang mendengar itu malah balik bertanya, “Benarkah? Mungkin Slitherio mengejek dua orang yang dibangkitkannya?”
“Aku mendengarnya...” suara yang tidak asing terdengar. Terlihatlah Slitherio yang keluar dari hutan sambil membawa kayu yang terbakar ujungnya.
Atra, Whu, dan Geisha langsung bangun kemudian menghampiri Slitherio, “Ehehe, tidak ada...” ujar Atra membela dirinya.
“Ya sudah, kita lanjutkan perburuan kita. Whu, kau harus berburu sendiri.” Slitherio berkata sambil sedikit menekankan kata 'sendiri'.
Whu menganggukkan kepalanya dengan cepat, memang hanya pertarungan sajalah yang dapat me.buatnya puas di dunia ini.
Keempatnya melesat masuk hutan lagi. Geisha yang kemampuannya memang tertinggal dari ketiganya sering ketinggalan di belakang. Jadi juga Slitherio harus kembali untuk menjemput Geisha sebelum melanjutkan perjalanannya.
Geisha yang merasa dirinya sering menjadi beban merasa dirinya terlalu lemah, bahkan dihadapan tiga dari sepuluh teratas peringkat Top Global. Ia semakin bersemangat untuk menjadi kuat.
Hari sudah semakin malam saat keempatnya sampai di sebuah danau kecil. Disana mereka beristirahat sejenak.
“Aku dengar kalau di sekitar sini ada sebuah Dungeon tingkat Easy. Kita bisa mencobanya, bukan?” ujar Whu kemudian mengatakan usulnya.
“Boleh juga. Tetapi kau saja yang masuk.” Sahut Atra sambil mengangkat bahunya.
“Bo-... Eh, apa? Aku saja?” tanya Whu yang terkejut.
“Tentu. Hanya kau saja yang memiliki kemampuan sedikit di bawah Slitherio.” Sahut Atra.
Memang, diantara keempatnya hanya Slitherio yang paling kuat, disusul Whu, Atra dan terakhir Geisha.
Slitherio mengeluarkan apinya kemudian melemparkannya ke sela-sela pepohonan di hutan itu. Api itu terus bergerak lurus dan terus maju, hingga akhirnya menabrak sebuah pintu.
Slitherio melesat setelah melemparkan satu api lagi ke arah yang sama. Yang lainnya mengikuti.
Beberapa detik berlalu dan mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan yang menyerupai kastil kuno.
Sebuah jendela informasi muncul dihadapan mereka berempat saat Slitherio mencoba menyentuh pintu kastil itu.
[Kalian sampai di Dungeon tingkat Insane!
Level dan Status kalian saat ini tidak mencukupi untuk memasuki Dungeon ini.
Untuk memasuki Dungeon ini, kalian harus membuat party.
Apa kalian yakin ingin memasuki Dungeon ini?]
__ADS_1
Keempatnya terdiam saat melihat tingkatan Dungeon itu.
“Insane?! Kau pasti bercanda!” teriak Whu sambil menjambak rambutnya yang berwarna hitam kemerahan.