
Ryan masuk SD saat berumur 6 tahun, saat itu ia sudah mampu berhitung pertambahan pengurangan.
Tetapi karena suatu alasan tertentu, ia benci dengan apapun yang berbau hitung-hitungan.
Ayahnya sampai kebingungan dengan sikap Ryan terhadap hitungan sehingga ia pun membiarkan Ryan berkembang seperti yang ia inginkan. Benar-benar sebuah keputusan yang berhasil mengubah hidup Ryan seluruhnya di masa depan.
Pagi ini, adalah hari dimana ulangan harian matematika akan dilakukan. Ryan yang tak menyukai matematika berniat untuk asal-asalan, tetapi niat itu ia urungkan saat mendengar penawaran ayahnya.
“Kalau kau mendapat nilai yang tinggi dalam pelajaran ini, ayah akan mengajakmu untuk pergi ke pantai...” begitulah penawaran dari ayahnya.
Pantai adalah nama tempat yang sejak dulu selalu Ryan ingin kunjungi. Sebab itulah ia langsung belajar giat untuk mendapat nilai bagus.
“Hmm, tak biasanya kau bersemangat seperti ini...” seorang teman Ryan yang bernama Budi mengomentari Ryan yang sejak datang ke sekolah selalu bersemangat.
“Diam kau!”
Budi hanya menghela napasnya, Ryan dikenal oleh seluruh teman sekelasnya dan guru di sekolah dengan sebutan Anak Tersantai.
Bagaimana tidak Tersantai kalau nilainya selalu rata-rata dan itu cukup mengejutkan. Fakta kalau Ryan dulunya adalah anak yang pintar tetap tak bisa mengubah kenyataan ini.
Saat ulangan, Ryan tak henti-hentinya tersenyum penuh kemenangan. Semua soal yang muncul semua sudah ia pelajari.
“Pantai, pantai, pantai...” itulah kata-kata yang muncul di pikiran Ryan saat sedang mengerjakan ulangan.
Soal-soal yang muncul seolah bacaan yang bisa diselesaikan dengan mudahnya bagi Ryan. Dan ulangan itulah yang menjadi motivasi bagi Ryan untuk pergi ke pantai.
“Ryan, bagaimana dengan soalnya?” tanya Ray setelah selesai ulanga. Ray adalah teman dekat Ryan dan bisa dibilang kalau tingkat kepintaran Ryan dan Ray sebenarnya setara, tetapi karena Ryan malas mengembangkannya membuat Ray berada selangkah di depan.
“Apa kau tahu rasanya membaca cerita di halaman kedua bab pertama Bahasa Indonesia? Seperti itulah rasanya saat aku mengerjakan ulangan itu, mudah...” jawab Ryan santai.
Budi yang mendengarnya menaikkan alisnya, “Mudah, katamu? Aku saja sampai menghitung jumlah langkah kaki guru hanya untuk menemukan jawaban soal nomor sembilan tadi...”
“Aku sudah belajar kemarin...” Ryan tersenyum lebar, sampai menampilkan gigi-giginya yang kecil.
“Kau yang dulu jarang belajar, apa sebabnya? Apa rumahmu kemarin sempat mati lampu dan hantu muncul di hadapanmu lalu menyuruhmu belajar giat?” tanya Dudi. Dudi adalah teman Ryan yang sering diajak Ryan bermain yang aneh-aneh.
“Heh, kau sendiri takut dengan hantu, bukan?” tanya Ray sambil tersenyum jahil. Wajah Dudi terlihat ketakutan sambil mengangguk tanda menyetujui pertanyaan Ray.
“Lupakan itu, bagaimana kalau kita bermain?” usul Budi. Semuanya mengangguk.
“Teman-teman, guru sudah datang!” seorang anak perempuan datang sambil berlari ke depan kelas, “Bel sudah berbunyi!” anak itu bernama Vania, ia biasa memantau ruang guru dan ia adalah ketua kelas 1.
“Eh?!”
__ADS_1
***
Hari itu berakhir dengan gembira. Ryan berhasil menyelesaikan ulangan harian matematika dengan mudah dan itu membuat ayahnya terkejut bukan main.
“Tak biasanya kau seperti ini, apa sebabnya?” tanya ayahnya sambil berjalan pulang. Mereka melewati sebuah kedai makan.
“Ayah, aku ingin makan mie ayam itu!” pinta Ryan. Berpikir bisa membuat dirinya lapar.
“Hei, bukankah kau sudah diberi bekal oleh ibumu? Kenapa meminta lagi?” tanya ayahnya kebingungan. Kalaupun lapar, biasanya Ryan akan menahannya sampai di rumah lalu mereka akan makan bersama.
“Apa ayah tidak tahu arti lapar?” tanya Ryan sambil tersenyum lebar sampai giginya terlihat.
“Tahu, hanya saja tak biasanya kau seperti ini...” ayahnya menggaruk kepalanya.
“Aku cemberut ini...” Ryan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya lalu cemberut.
Ayahnya menggaruk kepalanya, “Baiklah, ayah akan menemanimu makan mie ayam...”
Mereka lalu memesan dua mangkok mie ayam. Satu mangkok porsi kecil dan satunya lagi porsi normal.
Mie ayam itu pada dasarnya porsinya lumayan besar, bisa membuat siapapun yang memakannya akan kenyang dalam waktu lama.
Karena perut Ryan masihlah kecil, ayahnya memesankan porsi kecil bagi Ryan dan Ryan menerimanya.
“Ayah, kalau Ryan mendapat nilai tinggi dalam ulangan harian matematika, apa ayah akan mengajakku ke pantai?” tanya Ryan sambil menatap ayahnya yang masih makan.
“Hmm?” ayahnya menghabiskan mie yang ada di dalam mulutnya, “Itu kan kalau kau benar-benar mendapat nilai tinggi, kalau tidak ya ayah batalkan...” ayahnya menaikkan dua jarinya.
Ryan memanyunkan bibirnya, “Kalau betulan?”
“Kalaupun kau benar-benar mendapat nilai tinggi, ayah tetap tak bisa membawamu...” ayahnya terdiam, “Ayah hanya memiliki satu motor dan tak mungkin kalau ayah membawa ibumu dan kau dalam satu motor. Bisa-bisa ayah ditilang polisi lho...”
Ryan segera menunduk, “Kalau begitu Ryan berjalan kaki saja dengan ayah...”
Ayahnya menatap Ryan tak percaya, kata-kata seperti itu keluar dari mulut anak kecil berusia 7 tahun.
Biasanya, anak kecil seusia Ryan pasti akan merengek minta agar keinginannya dikabulkan, tetapi Ryan berbeda. Ini benar-benar sesuatu yang langka.
“Baiklah kalau kau maunya seperti itu...” ayahnya menghembuskan napasnya panjang, “Hari Minggu kita akan pergi ke pantai bersama ibumu...”
***
“Aku tidak tahu kalau kakek bisa dipojokkan seperti itu oleh ayah...” Rayhan mengelus dagunya. Sore semakin berlalu dan tepi sungai itu semakin gelap.
__ADS_1
“Kakekmu itu unik, ia takkan bisa menolak permintaan orang-orang yang ia sayangi. Seperti saat kakekmu mendengar kalau ayah ingin menjadi Player terkenal sedunia...” Ryan menatap sungai yang ada di depannya, “Tapi cerita itu masih jauh, kau hanya perlu mendengar kisah masa kecil ayah yang menyenangkan itu...”
***
Ryan akhirnya naik kelas dua dan berhasil meraih juara ketiga di kelas satu. Juara pertama diraih oleh Ray dan juara kedua diraih oleh Vania.
Karena hal itu, ayahnya memberikan sebuah buku untuk dibaca oleh Ryan. Ryan sendiri mulai menunjukkan ketertarikan pada sesuatu yang berbau strategi, entah apa sebabnya.
Buku yang diberikan oleh ayahnya sendiri adalah buku cerita tentang misteri ringan untuk anak-anak. Ibunya sendiri keheranan karena Yudha membelikan Ryan buku yang lumayan unik.
“Biar Ryan jadi anak yang suka misteri...” itulah alasan Yudha membelikan Ryan buku itu.
Selain itu, Ryan juga suka dengan beberapa hal sederhana yang ada di bumi. Ibunya membelikan Ryan buku tentang isi bumi yang sederhana saja.
Karena kedua orangtuanya memberikannya banyak buku tentang pengetahuan, pikiran Ryan menjadi jernih dan bisa berpikir di luar pikiran anak seusianya.
Karena sering membaca buku juga, Ryan mendapat sebuah pengetahuan baru yang bernama strategi.
Satu strategi yang pernah ia buat adalah saat ia bermain petak umpet dengan teman sekelasnya.
“Ayo kita main petak umpet!” panggil Rizky. Beberapa teman laki-laki Ryan mendekat, termasuk Ryan sendiri. Kalau dihitung ada tujuh orang yang ikut bermain.
“Kita undian dulu ya, yang kalah akan menghitung dan sisanya bersembunyi...” ujar Rizky. Semuanya mengangguk.
Mereka lalu melakukan undian dan didapatlah satu orang yang akan menghitung. Namanya Langit.
“Kenapa harus aku lagi?” Langit menggaruk kepalanya.
“Ya sudah, kau akan menghitung sampai dua puluh saja. Itu sudah ringan ya...” ujar Ray. Langit hanya mendengus lalu mulai berhitung.
“Ikuti aku...” Ryan memanggil temannya. Ray, Budi, Dudi, Liem, dan Toni mendekati Ryan.
“Apa?” tanya Ray.
“Aku ada rencana...” ujar Ryan lalu ia berlari menuju parkiran sepeda di belakang kelas mereka.
“Kita akan berpencar. Aku dan Ray akan pergi ke taman dekat kelas 4, Budi akan pergi ke dekat kelas dan kau harus menunggu Langit mulai mencari. Dudi dan Toni pergi ke perpustakaan, dan Liem akan menjadi umpan...” ujar Ryan cepat, “Saat kalian akan bergerak menuju pohon tempat langit tadi menghitung, perhatikan gerak-gerik Langit...”
“Sekarang...” mereka membicarakan tentang strategi itu dan tak terasa kalau sepuluh hitungan telah berlalu, “Cepat...”
Mereka berbisik agar tidak didengar oleh kakak kelas mereka yang memperhatikan mereka seperti melihat orang aneh.
“Laksanakan saja. Ray, ayo.” Ryan meraih tangan Ray dan mengajaknya pergi. Budi, Dudi, Liem, dan Toni terdiam setelah mendengar rencana Ryan itu.
__ADS_1
“Apa-apaan Ryan itu?”