
Pria itu tertawa kecil melihat pasukan penakluk yang kesulitan untuk mengalahkannya. Pria itu mengangkat tangannya lalu mengayunkannya pelan.
Entah apa yang terjadi, yang selanjutnya terlihat adalah para Defender, pemain posisi tengah, para Archer, dan para Support terpental dan mendarat di hadapan sebelas Ketua Guild Profesional.
Beberapa pemain posisi tengah dan para Archer ada yang tewas, ada juga yang mengalami serangan fatal di leher mereka.
“Apa yang terjadi?” Alex yang memiliki insting yang tinggi menyadari ada yang tidak beres pada serangan pria itu tadi.
“Sepertinya tidak ada pilihan...” Zero menarik pedang besarnya dan melesat ke depan sambil mengacungkan pedangnya.
Pria itu tersenyum kecil lalu mengangkat tangannya, menahan pedang besar Zero yang mendarat di tangan kirinya.
“Hei, kau sepertinya hebat...” pria itu mengangkat tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya kuning.
Adhie melesat maju dan menahan tangan kanan pria itu yang sepertinya berniat mencekik Zero.
Vue sejak tadi menyimak apa yang terjadi dan sepertinya ia takut pada kekuatan Slitherio, Sean, dan Luvian. Bahkan ia merasa seperti bertemu dengan penguasa Hell Empire saat melihat Slitherio.
Harus Vue akui, cekikan Slitherio cukup untuk mematahkan lehernya tadi jika saja Vue tidak pingsan dan Slitherio menamparnya.
Karena tidak ingin dicekik lagi oleh Slitherio, Vue berkata pada yang lainnya, “Jika dilihat dari bentuk dan teknik yang dipakai pria itu, kemungkinan besarnya pria itu adalah Mide, sang King Cobra yang menjabat sebagai jendral Hell Empire yang posisinya lebih tinggi dariku.”
“Apa kami harus mempercayaimu?” Qiun menatap Vue dingin.
“Tentu saja, kau harus mempercayaiku...” Vue menundukkan kepalanya, ia ragu akan bisa bertahan melawan sebelas orang dihadapannya yang terus memancarkan kekuatan yang besar.
Meski bisa lolos, kemungkinan dirinya tidak akan terluka parah terbilang nol persen.
“Kenapa kami harus mempercayaimu?” Kurei menatap Zero dan Adhie yang terlihat kesulitan melawan pria di hadapan mereka itu.
“Sepertinya ia berkata yang sebenarnya...” Asheuin menarik pedangnya lalu melesat maju sambil menghunuskan pedangnya.
Pedang Asheuin bernama Green Dragon Sword. Pedangnya berwarna hijau seperti namanya dan memiliki ukiran naga di sekujur bilahnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa perlengkapan yang dimiliki oleh jendral dari suatu kerajaan akan memiliki simbol kerajaan itu.
Pedang Asheuin berwarna hijau dan memiliki ukiran naga di sekujur bilahnya, menunjukkan bahwa ia berasal dari Jade Dragon Kingdom, sebuah kerajaan yang hilang di masa lalu karena serangan aliansi tiga kerajaan.
Asheuin menggunakan skill dari kehidupan sebelumnya untuk melawan pria itu yang menurut Vue bernama Mide.
Slitherio menarik kedua pedangnya lalu melesat membantu menyerang Mide yang tidak sekalipun terlihat kesulitan menghadapi keroyokan tiga orang.
Mide menggunakan tangannya yang diselimuti cahaya berwarna kuning. Meski tangannya bercahaya, sebenarnya tangan Mide diselimuti oleh cairan berwarna kuning yang baunya seperti racun.
Karena hal itu, mereka ragu untuk membiarkan Mide mendaratkan satu serangannya ke tubuh mereka masing-masing.
“Heh, hadapi aku dengan seluruh kekuatan kalian...” Mide tertawa lepas lalu menggunakan tangannya untuk menyerang Zero.
__ADS_1
Zero menahannya menggunakan pedang besarnya dan mundur dua langkah ke belakang.
Adhie langsung mengayunkan pedang besarnya dan berniat menyerang leher Mide. Mide memundurkan kepalanya beberapa centi dari ujung pedang Adhie yang hampir saja mengenai lehernya.
Mide melompat mundur lalu tubuh bagian belakangnya mengeluarkan ekor berwarna hitam. Ia lalu menggunakannya untuk menyerang Kurei yang mendekat dan Kurei langsung menghindar sambil menebaskan kapaknya ke ekor Mide.
“Apa-apaan ekor itu?” Luvian mendekat dan menggunakan sabitnya untuk memotong ekor itu, tetapi ekor itu tidak terpotong.
“Kalian harus tahu kalau ekorku itu dilapisi oleh kulit sekeras besi dan selentur karet agar mampu menyerang lawan dengan leluasa sedangkan aku menyerang yang lainnya.” Mide menjelaskan tentang ekornya itu.
“Hei, kau ular, bukan?” Zero lalu bertanya di sela-sela pertarungan mereka.
“Aku ular, kenapa?” tanya Mide kebingungan. Ia jelas bingung dengan pertanyaan aneh Zero itu.
Slitherio memahami maksud Zero lalu membuat api kecil dan melemparkannya pada tubuh Mide yang terlihat celahnya saat Mide bertanya balik pada Zero.
Api itu berkecepatan tinggi dan langsung membakar bagian tubuh Mide yang tidak ditutupi apapun.
Slitherio mengalirkan Mananya ke pedangnya dan melesat menuju Mide yang berusaha memadamkan api dari Slitherio itu.
Kedua pedang Slitherio menyerang leher Mide dengan cepat dan langsung memberikan bekas tebasan yang lebar. HP Mide langsung turun ke angka 66% saat pedang Slitherio hampir menerbangkan kepala Mide.
Hal itu terjadi karena Slitherio menyerang titik vital lawan, yaitu leher. Jika leher lawan diserang, maka HP lawan akan turun ke angka 50% karena terkena serangan yang bisa dibilang fatal. Istilahnya adalah Crittical.
Slitherio kembali mengayunkan kedua pedangnya dengan cepat dan Mide menahannya dengan kedua tangannya.
Kepala Mide terlepas dari tubuhnya dan Mide tewas sebelum sebuah jendela informasi muncul di hadapan semua orang.
[Gate of Beast Hell telah diselesaikan sebanyak tiga perempat bagian dan memerlukan seperempat lagi untuk menaklukan Gate of Beast Hell!
Semangat terus bagi para pasukan penakluk Gate of Beast Hell!]
Sean tersenyum lebar lalu berseru, “Semuanya, kerahkan seluruh kekuatan kalian dan kita bisa menaklukan Gate of Beast Hell ini!”
Semua orang yang awalnya hanya menatap ke depan kembali bersemangat setelah mendengar perkataan Sean.
Dari jumlah awal sebesar 200 pemain, yang masih hidup sampai saat ini hanya tersisa kurang dari separuhnya karena Mide membunuh mereka, yaitu sebesar 84 pemain.
Angka ini juga muncul karena beberapa pemain posisi tengah yang juga tewas saat Boss Behemoth mengeluarkan hujan batu yang nyaris saja menewaskan para Archer dan para Support.
Scout disini hanya tersisa lima orang saja dari jumlah awal delapan orang. Tiga orang lagi mati saat terkena hujan batu dari Boss Behemoth. Saat ini, fungsi Scout sudah tidak diperlukan lagi karena sudah lebih dari tiga jam mereka sudah tidak menemukan Trap lagi..
Karena dianggap beban jika mereka tidak melakukan apapun, maka mereka disuruh menggunakan skill serangan biasanya untuk membantu yang lainnya.
Guild Thiefer menyetujui hal itu mengingat mereka yang membawa para Scout itu kemari.
Mereka akhirnya melanjutkan perburuan dengan sisa anggota 84 pemain, termasuk sebelas Ketua Guild Profesional dan para anggota Guild Sevens yang masih tidak berkurang.
__ADS_1
***
“Mide juga gagal? Seberapa besar kekuatan para pasukan penakluk Gate of Beast Hell ini?” Leone bergumam sambil menatap bola yang menampilkan para pasukan penakluk Gate of Beast Hell yang sekarang sudah tersisa kurang dari separuhnya.
“Bagaimana kalau saya yang turun tangan?” seorang pria yang memiliki alis panjang berwarna hijau dengan tangan yang berbentuk cakar memberi hormatnya sebelum bertanya pada Leone.
“Hmm, aku ragu kau bisa melakukannya...” Bagune menatap pria itu dengan tatapan merendahkan.
“Kalian jangan meremehkan kekuatan para makhluk awal dunia...” Visidha menatap Bagune dengan tajam.
“Jujur saja, para jendral Hell Empire kebanyakan berada di posisi dibawah nomor sepuluh. Hal ini membuat diriku ragu untuk mengirim kalian.” Leone menatap Visidha dan empat jendral lainnya yang tersisa, “Aku tidak bisa membiarkan kekuatan Hell Empire berkurang lagi...”
“Lalu bagaimana? Sebuah Dungeon tidak akan selesai jika tidak ada raja terakhir...” Sueta yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara.
“Kita bangkitkan saja Mide dengan Boss Behemoth, bagaimana? Lalu kita letakkan mereka di ruangan terakhir Gate of Beast Hell?” usul Vet yang sejak tadi terus berpikir. Baru kali ini salah satu dari Seven Deadly Sins berpikir.
“Ide yang bagus, tapi siapa yang akan kesana?” Demino bertanya sambil mengangkat kedua tangannya dan bahunya bersamaan. Semua orang lalu menatap Demino bersamaan.
“Eh? Jangan bilang kalau...” Demino lalu berhenti saat memikirkan satu kemungkinan terburuk.
“Kau saja kesana. Daripada tidak ada pekerjaan selain duduk dan menonton kami berdiskusi, bagaimana?” Deviasy menjawab mewakilkan semua orang yang mendukung Demino pergi ke Gate of Beast Hell.
“Rasanya aku ingin... Hiiihhh!” Demino memasang wajah kesal sambil membentuk tangannya menjadi seperti ingin mencekik Deviasy.
“Sudahlah, kau ambil saja secuil roh dari Mide dan Boss Behemoth lalu kembali lagi kesini.” Vet berkata sambil memberikan sebuah tas.
“Hei, bukankah disana ada Yang Mulia Death God dengan para dewa Kegelapan lainnya?” Demino bertanya sambil tersenyum canggung.
“Jangan membantah!” Louse memukul kepala Demino keras lalu melemparnya ke portal yang baru saja diaktifkan oleh Dragon Tailed Ape.
Setelah demino menghilang, Louse memandang Leone, “Ucapan Demino tadi itu benar, bukan?”
“Sebenarnya iya...” Leone memejamkan matanya kemudian membukanya kembali, “Pasti ada alasan kenapa Yang Mulia Death God dan dewa Kegelapan lainnya tidak turun tangan menyelamatkan dua jendral kita...”
“Bahkan satu dari lima petinggi kita yang posisinya di bawah tujuh jendral saja menyerah, seberapa besar sebenarnya kekuatan pasukan penakluk Gate of Beast Hell?” Sueta tak habis pikir, kenapa mereka bisa menghabisi dua jendral Hell Empire.
“Ada Pedang Api Slitherio disana...” Leone menunjuk ke arah seorang pemuda yang selalu memasang wajah waspada.
“Jika hanya dia, maka dua jendral cukup untuk membunuhnya...” Vet memandang pemuda berjirah merah yang bukan lain adalah Slitherio.
“Tentu tidak hanya dia saja yang masuk ke Gate of Beast Hell, ada sekitar lebih dari sepuluh manusia yang menyetarai Slitherio yang ikut masuk kesana dan jika ditotal jumlah mereka masuk kesana sebelum melawan Boss Behemoth, jumlah mereka sebesar 200 orang.” Deviasy menyimpulkan hasil pengamatannya selama mengamati pertarungan di Gate of Beast Hell.
“Jika dengan jumlah begitu tidak seharusnya dua jendral kita terbunuh...” Bagune kembali menggaruk kepalanya.
“Ada yang tidak beres dengan kekuatan sepuluh orang ini...” Sueta menunjuk ke arah sepuluh orang yang terlihat lebih tua dari Slitherio, tiga perempuan dan tujuh laki-laki.
Semua orang lalu memandang Sueta, memandangnya dengan tatapan bertanya.
__ADS_1