
Perlu waktu selama hampir seminggu dengan yambahan pet, yaitu Night sang Night Cloud Dragon yang baru saja Li dapatkan.
Dengan bantuan Night, mereka bisa melihat pulau para dewa hanya dalam waktu kurang dari seminggu.
Selama itu, jika ada kesempatan maka mereka akan beristirahat pada siang hari dan melanjutkan saat malam hari.
Kekuatan Night saat malam hari amatlah mengerikan. Ia bisa terbang dengan kecepatan tinggi dan memaksa Gold untuk mengejarnya dengan lebih cepat.
Biar begitu, Slitherio dan Sean tidak kehabisan akal. Mereka mengaitkan tubuh Gold dengan Night dan dengan begitu, Gold akan terbang mengikuti Night. Night juga akan terbang dengan lebih pelan meskipun terbangnya sulit dikatakan pelan lagi.
Siang itu, mereka bisa melihat pulau itu, tetapi mereka mendapatkan masalah lagi. Terlihat beberapa pusaran air bergerak mengelilingi pulau dengan kecepatan yang sulit digambarkan.
“Akhirnya aku paham kenapa Veny tidak bisa mencapai pulau ini dulu...” Slitherio bergumam, tetapi gumamannya terdengar oleh semua orang.
“Bukankah Veny pernah mengatakannya sebelumnya, kalau ia gagal karena sebuah pusaran air?” tanya Geisha, “Mungkin pusaran air ini yang menyebabkannya...”
“Bisa jadi, mari kita terbang lebih tinggi...” ujar Slitherio membenarkan ucapan Geisha lalu mengajak Gold dan Night terbang lebih tinggi.
Mereka lalu melihat sebuah pulau yang tertutup kabut. Karena menasaran, Slitherio mengajak mereka turun perlahan ke pulau itu.
Keduanya mendarat di pulau itu yang terus memancarkan aura hangat yang amat tebal. Slitherio turun duluan dan menatap pulau itu.
Pulau itu terlihat luas dan dihadapan mereka kini ada hutan yang amat lebat. Sean yang melihatnya segera menatap Slitherio kebingungan, “Apa kau yakin ini Gods Island? Hampir tidak ada bedanya dengan Purple Pearl Island...”
“Benar, tidak ada bedanya...” Li turun dan melihat pulau itu. Yang lainnya ikut turun.
“Sepi dan terlihat menyeramkan...” Naze menatap hutan itu dengan senyuman tipis, ia sungguh merasa ketakutan saat melihat hutan itu.
“Siapa tahu ada kehidupan di dalamnya, ayo...” Slitherio berjalan duluan lalu diikuti oleh yang lainnya barulah Gold dan Night.
Keduanya mengecil sampai seukuran tangan orang dewasa, dengan begitu Geisha dan Li bisa membawa mereka lebih mudah.
Slitherio, Sean, dan FastStone maju duluan untuk membuka jalan bagi yang lainnya. Atra, Clarey, Geisha, Naze, dan Li berjalan di belakang.
Langkah Slitherio, Sean, dan FastStone terhenti saat melihat seseorang di hadapan mereka. Seorang pria dengan tombak di punggungnya.
Pria itu menyipitkan matanya kemudian ia bertanya, “Siapa kalian?”
“Kami dari Midvast dan ingin menapaki jalan dewa...” Slitherio membungkuk memberi hormatnya pada pria itu dan mewakili yang lainnya menjawab pertanyaan pria itu.
“Ikut ujian, ya?” pria itu mengelus dagunya, “Mana tanda kalian?”
__ADS_1
“Tanda?” Sean kebingungan, sepertinya ia tidak memilikinya.
“Apa itu?” tanya Slitherio. Pria itu menaikkan alisnya.
“Kalian tidak tahu tanda?” pria itu menatap Slitherio dan yang lainnya keheranan, “Bagaimana bisa kalian ingin menapaki jalan dewa jika tidak mengetahui apa itu tanda?”
“Emm, kami hanya mengikuti keinginan dua orang dan satu makhluk yang mengaku pernah kesini...” Slitherio menarik napasnya, “Dua orang itu adalah Art Goddess Reiy dan Sword God Gaburon...”
“Masa?” pria itu menaikkan alisnya, “Apa Gaburon pikun itu mengundang kalian kemari? Kapan?”
“Dulu, sekitar lebih dari enam bulan lalu...” Slitherio mengelus dagunya.
“Satu makhluk lagi siapa?”
“Hmm, kalau tidak salah ia dipanggil Naga Surga di Benua Northev dan ia bernama FolkChase...” tepat setelah Slitherio berkata begitu, sebuah suara terdengar di sebelah telinga Slitherio.
“Masuk saja, jangan ragu...” entah apa yang terjadi, seorang pria dengan dua pedang di punggungnya berbisik di sebelah telinga Slitherio. Ia adalah Sword God Gaburon.
“Ah, senior...” FastStone memberi hormatnya. Gaburon mengangguk.
“Apa sebelumnya kau mengatakan kalau aku pikun?” Gaburon menatap pria itu, “Sid?”
“Aku tidak pikun, hanya pelupa saja...” Gaburon memukul kepala Sid pelan, “Perkenalkan, dia adalah Jade God Sid...”
“Salah, bodoh!” Sid memukul kepala Gaburon, “Yang ada aku ini adalah Serpent Spear God Sid!” Sid menarik rambut Gaburon yang lumayan panjang.
“Lupakan itu, lagipula manusia itu adalah tempat salah dan lupa, bukan?” Gaburon menaikkan bahunya.
“Kita sudah bukan manusia lagi! Kita adalah dewa!” Sid menarik tangan Gaburon, terlihat kalau ia tidak ingin berdebat lagi dengan Gaburon.
Sid menarik tangan Gaburon sampai ia menghadap ke belakang. Gaburon menaikkan dua jarinya sambil berkata, “Ikut kami...”
Slitherio menatap Sean dan FastStone lalu berjalan mengikuti Sid yang jalannya lumayan cepat.
“Bisakah kau melepaskan tanganku? Aku tidak bisa berjalan dengan benar...” Gaburon berusaha menyeimbangkan dirinya yang tidak seimbang karena berjalan menghadap belakang dan ditarik.
Clarey yang melihat itu menyikut Geisha, “Apa kau yakin kalau dua orang itu adalah dewa? Aku tidak mempercayainya karena tingkah keduanya...”
Naze yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, memang hobinya para perempuan adalah membicarakan orang.
Mereka terus berjalan sampai pada akhirnya mereka sampai di dekat sebuah tangga rendah. Sid melepaskan Gaburon dan menatao Slitherio dengan yang lainnya, “Selamat datang di Kota Fana!”
__ADS_1
Sid mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menunjuk kota, “Kalian akan tinggal di dalam Kota Abadi selama dua ujian pertama, lalu di Kota Dewa selama ujian terakhir yang akan diberikan langsung oleh Ice Goddess Luna...”
Slitherio melebarkan matanya, ia sungguh terpukau dengan penjelasan Sid, “Susunan yang rapi...”
“Benar, dan katanya Gods Island dirancang sendiri oleh Tuhan untuk para kaumnya yang ingin menapaki jalan dewa dengan damai...” Gaburon ikut berbicara. Sid menatap Gaburon kesal.
“Baiklah, kalian ikut aku...” Gaburon melambaikan tangannya dan berjalan memisahkan diri.
“Ikuti dia, si pikun itu akan memberi kalian tanda...” Sid menunjuk Gaburon.
Slitherio dan Sean membungkuk dan berlari mengikuti Gaburon yang berjalan amat cepat. Yang lainnya membungkuk memberi hormat mereka lalu berlari mengikuti Slitherio dan Sean yang sudah bergerak lebih cepat.
“Tak kusangka bisa bertemu dengan kalian secepat ini...” ujar Gaburon santai ketika Slitherio dan yang lainnya berhasil menyusul.
“Itu semua berkat petunjuk anda...” FastStone berkata, ia jelas mengagumi Gaburon.
“Benar juga...” Gaburon mengelus dagunya, “Kita akan pergi menemui Flame God Zein dan meminta petunjuk darinya...”
Slitherio yang paling bersemangat. Memang, sejak mendengar nama Flame God dari mulut Exeter, Slitherio selalu memikirkan tentang wujud Flame God itu.
Apa lagi setelah mendengar namanya dari Gaburon, Slitherio semakin bersemangat.
“Namanya adalah Zein?” gumam Slitherio senang.
“Ia dianggap sebagai dewa terkuat ketiga di antara jajaran Twelve First Gods. Diatasnya ada Thunder God Jay dan nomor pertama adalah Dragon God Chao...” Gaburon menjelaskan, “Kekuatan Twelve First Gods amatlah mengerikan, mereka memiliki 100 kekuatan Spirit dan tidak akan pernah kehabisan...”
Sean dan FastStone yang mendengarnya jadi merinding. Entah bagaimana kekuatan mereka itu, yang sulit mereka bayangkan sekarang.
“Baiklah, kau jubah merah, berapa kekuatan Spirit yang berhasil kau kumpulkan?” tanya Gaburon mengalihkan pembicaraan.
“Hanya 12 kekuatan Spirit, tidak banyak...” jawab Slitherio.
“Pedang biru dan pedang emas putih, kalian berapa?” Gaburon menatap Sean dan FastStone bergantian.
“11 kekuatan Spirit, dia memiliki 8 kekuatan Spirit...” jawab Sean mewakili dirinya dan FastStone.
“Baiklah, sisanya segera beritahukan jumlah kekuatan Spirit yang kalian sudah kumpulkan...” Gaburon menunjuk Geisha, Clarey, Li, Naze, dan Atra.
“Sedikit, hanya 8 kekuatan Spirit, Clarey dan Naze memiliki 9 kekuatan Spirit, Li memiliki 10 kekuatan Spirit, Atra juga memiliki 10 kekuatan Spirit...” Geisha mewakili yang lainnya menjawab pertanyaan Gaburon.
“Hmm, kalian sudah amat kuat setelah melalui situasi yang sulit dua bulan lalu...” Gaburon menunjuk sebuah rumah sederhana di hadapannya, “Nah, kita sudah sampai...”
__ADS_1