
Slitherio melihat ke sekelilingnya, hari sudah pagi di Midvast dan sekarang di rumahnya masih ada beberapa orang yang merupakan anggota Guild Sevens. Kertas yang kemarin ia tinggalkan sudah tidak ada di tempatnya.
Mungkin diambil Asheuin, batin Slitherio. Ia lalu menatap semua orang yang langsung menatapnya balik.
“Itu... Kalian akan melakukan apa setelah ini?” Tanya Slitherio.
“Apapun itu yang paling penting kita melakukan suatu kegiatan...” Jawab LoghSeveria. Whu, Atra, Asvi, Zynga, dan Lynx mengangguk.
“Terserah kalian ingin melakukan apa, aku akan duduk diluar...” Slitherio berkata lalu berjalan keluar dan duduk di ujung tebing yang bawahnya adalah laut.
Geisha yang melihat Slitherio berjalan keluar memilih mengikutinya dan meninggalkan teman-temannya di dalam rumah Slitherio.
“Hei, kita akan melakukan apa sekarang?” tanya Whu.
“Berburu?” usul Asvi.
“Melihat pembangunan desa?” usul Clarey.
“Duduk disini melihat siang?” usul Naze.
“Kita akan melakukan apa yang kita inginkan.” Ujar Riana lalu berjalan keluar dari sana, “Slitherio berkata begitu karena dia ingin kita menyejukkan pikiran.”
“Aku yakin akan hal itu...” Lynx mengangguk lalu melipat tangannya dan berjalan keluar.
Di ruangan itu tersisa Whu, Atra, Naze, Clarey, Renne, June, Li, LoghSeveria, Asvi, Ovyx, LoghSeveria, dan Clover.
“Aku akan melihat pembangunan desa saja...” kata Naze lalu keluar dan diikuti oleh Li.
“Aku akan berburu saja...” Whu berkata lalu keluar diikuti oleh Atra dan Lynx.
Mereka semua sudah akrab sejak mereka melakukan perburuan bersama saat Slitherio dan Atra pergi mencari bantuan. Mereka juga mulai membicarakan tentang kerjasama yang akan mereka lakukan saat War Guild nanti.
“Bukankah kita akan membuat air mancurnya dulu?” tanya Asvi setelah Whu, Atra, dan Lynx pergi.
“Atra akan meminta bantuan pada bantuan dari BloodThirsty Kingdom, semoga saja mereka mau membuatkannya.” Jawab LoghSeveria.
“Hey, bagaimana kalau kita keluar dan ikut dengan Whu?” tanya Clover setelah berpikir.
“Kau saja...” Clarey dan Renne berkata bersamaan.
“Eh?!”
***
Slitherio duduk di ujung tebing dan menatap laut luas. Ia penasaran deng levelnya sekarang dan melihatnya.
“Status.”
__ADS_1
[Slitherio/Phoenix/Flame Knight/level 212
STR (545) INT (487) VIT (244) DEX (479)
HP: 53.000
Murderous Point: 1.451
Mana: 1 Spirit/15.500Mana
Sword Mastery: Advance level 18
Dapat memberikan tambahan Physical Damage+200 setelah memakai skill.
Skill Mastery: Advance level 5 (Secara keseluruhan Mastery skill dihitung)
Skill pasif: Immortal Beast
Pemilik skill ini dapat bangkit dari kematian, mati berkali-kali dapat memperpanjang Cooldown skill ini. Cooldown: 1 hari]
“Hanya naik dua level...” Slitherio menghembuskan napasnya. Ia hanya berburu saat dirinya melesat menuju kerajaannya untuk meminta bantuan.
Disaat ada monster menghadang, ia atau Atra akan turun untuk bertarung dan mengalahkannya.
Slitherio lalu memeriksa status desa dan merasa terkejut saat melihat jumlah penduduknya.
[Havesta/Village Ruins
Pertahanan: 500 prajurit Ilith dan 10 prajurit Moon Elf
Keuntungan/bulan: tidak ada
Jumlah penduduk: 4.930
Ciri khas: tidak ada
Latar belakang: tidak diketahui]
“4.930?! Apa tidak terlalu banyak?” gumam Slitherio kemudian melihat ke sampingnya. Geisha duduk di sebelahnya saat ini.
“Apa kau tidak ikut dengan yang lain?” tanya Slitherio.
“Tidak, aku akan disini denganmu...” Geisha masih menatap laut, “Lautnya luas, bukan?”
“Eh, i-iya...” Slitherio menggaruk kepalanya. Pada akhirnya ia pun membiarkan Geisha duduk di sebelahnya.
Hari terus berjalan. Matahari akhirnya mulai bergerak ke arah barat. Slitherio dan Geisha masih duduk di tempat yang sama.
__ADS_1
“Hei, apa kau ingat dengan masa kita dulu?” tanya Geisha memecah sepi diantara mereka.
“Masa saat kita berkenalan dulu? Tentu saja aku ingat...” jawab Slitherio lalu menatap Geisha.
Pertemuan mereka itu bisa dibilang unik dan juga terlihat seperti kebetulan.
Saat itu, Ryan dan Raisya yang masih duduk di kelas 8 SMP mendapat tugas yang sama karena ketidak hadiran mereka di pelajaran sebelumnya.
Sebagai tugas, mereka diperharuskan untuk membuat sebuah ulasan yang mengulas sebuah buku, baik itu buku pelajaran ataupun buku yang lain.
Mereka diminta membuatnya di perpustakaan dan disana mereka hanya berdua saja. Saat sedang membuatnya, Ryan yang mendapat sebuah inspirasi memilih membuat tugasnya sambil bernyanyi keras.
Untung saja saat itu perpustakaan sepi, tidak ada yang mendengar nyanyian Ryan selain Raisya seorang.
Raisya yang sedang fokus membuat tugasnya merasa kesal saat mendengar nyanyian Ryan dan memilih melemparkan bolpoinnya ke arah Ryan lalu mengenainya.
Raisya yang saat itu masih tidak mengetahui nama Ryan menanyai namanya dan Ryan pun menanyai nama Raisya.
Sejak saat itulah, mereka saling mengenal satu sama lain. Selama dua tahun mereka berteman dan di saat kelulusan SMP, mereka akhirnya berpisah dan Ryan tidak mengetahui kabar Raisya selanjutnya.
“Terasa aneh bukan saat kita berkenalan dulu? Dengan nyanyianmu itu, aku bisa kenal langsung denganmu...” Geisha menatap laut sambil tersenyum tipis.
Slitherio kembali menatap lautan luas yang terhampar di depannya. Sinar matahari yang memantul saat mengenai air laut menambah indah pemandangan di depannya.
Slitherio berdiri kemudian bertanya, “Apa kau mau ikut aku melihat desa?”
Geisha mengangguk dan berdiri lalu mengikuti Slitherio yang berjalan di depannya sambil menunduk.
Slitherio berjalan menyusuri jalur yang menghubungkan rumah dan markas utama Guild Sevens dengan pusat desa.
Di sepanjang jalur, ada beberapa anggota guildnya yang sedang membantu para pembangun membangun rumahnya sambil menambahkan beberapa tambahan di rumahnya masing-masing.
Tentu yang menarik perhatian Slitherio adalah rumah milik Riana yang ia buat memiliki warna hitam dan putih. Terlihat aneh karena jika kembali saat malam, mungkin rumahnyalah yang paling mencolok warnanya.
Rumah Atra dibuat dari kayu dan memiliki warna abu-abu. Dari lima belas rumah yang ada di sepanjang jalur itu, hanya rumah Atralah yang memiliki warna yang terlihat kusam.
Membicarakan tentang warna pada rumah-rumah anggota Guild, Atra mengatakan kalau Naze dan Li membelinya dari kota terdekat yang jaraknya sekitar dua jam menurut perkiraan Naze.
Slitherio tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya melihat-lihat desa. Desa yang selesai masih kurang dari seperempat rancangan Slitherio.
Yang dibuat baru rumah-rumah anggota Guild Sevens yang lain, air mancur, dan beberapa cafe sederhana. Slitherio berencana akan memasang batu di sepanjang jalan desa agar terlihat sedikit rapi.
Air mancur yang kemarin mereka diskusikan ternyata dibuat dengan rapi oleh pembangun dari BloodThirsty Kingdom.
Slitherio mengalihkan pandangannya pada enam manusia yang memakai jirah berwarna hijau yang membawa beberapa orang tambahan bersama mereka.
“Tuan, mereka adalah Dark Elf. Mereka ingin menjadi penduduk tuan.” Asheuin menceritakan kegiatannya selama Slitherio duduk di tepi tebing.
__ADS_1
Menurut Asheuin, mereka menemukan Dark Elf ini saat sedang berburu dan Dark Elf ini menyerang Asheuin bersama teman-temannya.
Menurut Slitherio, jumlah Dark Elf di belakang Asheuin sekitar lima puluh Dark Elf dan mereka semua sepertinya memiliki kekuatan yang besar.