Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
154. Melawan Visidha lagi...


__ADS_3

Slitherio mengangkat Flame Phoenix Sword dan bertanya, “Apa yang kau cari disini?”


Yang ditanyai hanya tertawa kecil, “Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Hell Empire...”


Visidha menyeringai lebar, ia melakukan itu dengan harapan dapat menakuti Slitherio. Tetapi muatannya, Slitherio tak terlihat ketakutan, malah terlihat ingin membunuhnya secepatnya.


“Apa?!” Slitherio bertanya dengan nada keras, ia menyadari kalau bukan ini yang diinginkan Visidha.


“Bagaimana kalau kita bertarung saja...” Visidha menunjuk orang-orang yang ada di belakang Slitherio, “Kalian melawanku, bagaimana?”


Tawaran Visidha memang terlihat meringankan pihak Guild Sevens, tetapi mereka masih mengingat dengan jelas kekuatan yang ditunjukkan oleh Visidha lebih dari setengah bulan lalu.


Sebab itulah alasan kenapa mereka terus berburu tanpa henti karena mengetahui kalau kekuatan mereka masihlah kurang untuk menghadapi bahaya di depan.


“Baik, akan kuterima...” Slitherio memasang wajah serius, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan melihat kemampuan penuh Visidha.


Visidha tertawa kecil, “Tapi aku akan memberikan keringanan untuk kalian semua...” Visidha melipat lengan jubahnya, “Biar kalian saja yang memakai teknik, aku akan menahan serangan kalian...”


“Tidak adil...” Whu mengangkat tangannya, ia yang paling ingin membunuh Visidha dengan tangannya sendiri karena Visidha pernah membunuhnya saat di Syacht Stadium, “Kau akan menggunakan teknik juga...”


Di Midvast, skill disebut teknik, Mastery disebut penguasaan, dan petarung disebut pendekar.


Slitherio di Midvast dijuluki Pedang Api, Whu dipanggil Tongkat Emas, Atra dipanggil Serigala Cepat, Riana dipanggil Penyihir Hitam Putih, FastStone dipanggil Pengendali Tujuh Pedang, Sean dipanggil Naga Putih, Luvian dipanggil Sabit Hitam, Gorzsha dipanggil Perisai Kebenaran, dan lain-lain. Setidaknya, hampir seluruh pemain bergelar memiliki julukannya masing-masing di Midvast.


“Terserah kalian, aku juga akan memberikan keringanan lagi...” Visidha memiringkan kepalanya sampai mengeluarkan bunyi, “Jika aku tidak bergerak, maka kalian yang menang. Jika kalian mampu membuatku bergerak, maka aku yang menang, itulah keringanan yang kuberikan..."


“Bukannya terbalik?” Riana menggaruk pipinya.


“Menurutmu saja terbalik...” Visidha meregangkan kedua tangannya sampai mengeluarkan bunyi.


Slitherio dan para pengikutnya memasang posisi, sedangkan Visidha hanya berdiri tegak dengan banyaknya celah yang ditunjukkannya.


Slitherio maju dan mulai mengayunkan pedangnya dengan cepat. Tsuyoshi menarik kedua katananya dan melesat maju membantu Slitherio.


FastStone sendiri memakai pedang dengan perisai saja karena ia menilai kalau ia memakai ketujuh pedangnya maka situasi tidak memungkinkan bagi rekannya untuk membantu.


Riana membuka kipasnya lalu melepaskan banyak sekali gelombang hitam putih menuju Visidha.


Visidha sendiri tersenyum lebar lalu bergumam, “Mana Shield...” 


Perisai berwarna hitam mengelilingi tubuh Visidha dan menahan seluruh serangan yang diberikan oleh Slitherio dengan rekan-rekannya. 


Visidha melepas senyumnya lalu melepaskan Dragon Aura yang terbilang amat kuat, sampai mampu menghentikan gerakan Slitherio dan yang lainnya.


“Masih belum!” Slitherio melepaskan Murderous Aura ditambah Phoenix Aura dan membebaskan rekan-rekannya dari pengaruh Dragon Auranya Visidha.


Naze dan June mengangkat busurnya masing-masing lalu melepaskan dua anak panah berwarna biru dan hijau. Kedua panah itu kemudian menghilang saat hampir mengenai tubuh Visidha.

__ADS_1


Slitherio, Tsuyoshi, Atra, Whu, dan LoghSeveria yang awalnya ingin menyerang Visidha menjadi mematung saat melihat Visidha yang tersenyum lebar sambil berkata, “Teknik ini bernama Mana Shield dan memiliki kemampuan melindungi penggunanya dari berbagai macam serangan.”


“Kenapa kalian berhenti?” Visidha mengangkat alisnya, ia lalu menatap semua orang dengan tatapan penasaran. Ia kemudian teringat sesuatu.


“Kita menang...” LoghSeveria yang mengingat keringanan yang diberikan oleh Visidha segera mengangkat tangannya pelan, tangannya masih terasa lemas karena tekanan Dragon Aura milik Visidha yang terbilang amat kuat.


“Tidak!” Visidha menangkupkan kedua tangannya, “Hell Dragon Mode!”


Tubuh Visidha bercahaya terang, cahayanya amat menyilaukan, bahkan sampai menerangi hati yang masih siang itu.


Saat cahaya itu memudar, Visidha sudah tidak ada lagi dihadapan, melainkan berada ratusan meter di atas tanah, berwujud naga berwarna ungu kehitaman. Itulah wujud asli Hell Dragon Visidha.


Visidha turun ke bawah dan berniat menghancurkan Kota Hostix. Slitherio dan Riana bergerak cepat, keduanya menangkupkan kedua tangannya kemudian menyerukan Original Skill Soul Remaist masing-masing.


“Original Skill Soul Remaist: Great Holy Phoenix Mode!”


“Original Skill Soul Remaist: Nightmare Peacock Mode!”


Tubuh keduanya bercahaya sejenak sebelum berubah menjadi seekor burung berwarna merah dengan api di sekitar tubuhnya dan seekor burung yang terlihat seperti burung merak yang memiliki bulu berwarna putih dengan ekornya yang berwarna hitam pekat.


Keduanya melesat terbang ke atas dan menahan kepala Hell Dragon yang sudah mengarah ke bawah. 


Kekuatan Slitherio dan Riana pada Mode Serius ini mampu menahan kekuatan Hell Dragon yang amat kuat itu.


Tetapi mereka berdua hanya menahan kepala Hell Dragon, tidak dengan ekornya.


Ekor Hell Dragon segera mengarah ke bawah, berniat menghancurkan Kota Hostix, tetapi ia melupakan keberadaan para anggota Guild Sevens yang lainnya.


“Original Skill Soul Remaist: Crazy Monkey King Mode!”


Whu menyerukan skillnya dan berubah menjadi seekor monyet dengan bulu berwarna coklat tua. Untung saja hari itu Blood Moon Curse tidak terjadi, jika terjadi maka Whu akan mengamuk disana.


Naze dan June mengambil keputusan untuk menyerang Hell Dragon yang berada di udara, sedang ditahan oleh Slitherio, Whu, dan Riana.


“Slow Arrow!”


“Stun Arrow!”


Dua anak panah berwarna merah dan hitam melesat menuju Hell Dragon yang sedang berusaha melepaskan diri dari tiga Remaister itu.


“One Thousand Heaven Dragon!” Asheuin muncul dan mengeluarkan skill andalannya.


Seketika posisi Hell Dragon yang awalnya menguntungkan kini berubah menjadi tidak diuntungkan karena dikeroyok dari segala arah.


Secara tiba-tiba, tekanan di tempat itu bertambah kuat. Tetapi teknik itu sudah tak bekerja lagi karena pada Mode Serius ini, Slitherio, Whu, dan Riana terus melepaskan aura masing-masing.


Hell Dragon mendengus, ia lalu melepaskan Murderous Auranya yang sudah melebihi batas normal dan membuat tiga aura dari tiga Remaister tidak bekerja lagi.

__ADS_1


“Dragon Aura!” Asheuin dan Enam Pilar Naga lainnya melepaskan aura masing-masing. Aura mereka meringankan Murderous Aura yang dilepaskan oleh Hell Dragon.


“Gold Winged Lion, muncul!” Geisha mengangkat tangannya ke atas, dalam sekejap seekor singa bersayap emas muncul dan mendarat di sebelah Geisha.


Geisha membisikkan sesuatu dan setelah dibisikkan sesuatu oleh Geisha, Gold Winged Lion meraung keras dan terbang ke atas.


“Siapapun yang mampu mencapai Gold Winged Lion, segera kesana dan bantu tiga petinggi kita!” Geisha berseru dengan kencang. Ia tahu kalau skill Wind Stepnya takkan mampu mencapai tempat Gold Winged Lion terbang.


Yang pertama melompat adalah Atra, ia memakai skill Wind Step ditambah dengan DEX miliknya yang sudah meningkat pesat serta kecepatan dasarnya. Ia lalu memakai cakar mekaniknya dan menyerang Hell Dragon.


Selanjutnya adalah FastStone, LoghSeveria, Asvi, Lynx, Zynga, Ovyx, Clarey, Geisha, dan terakhir Tsuyoshi. Mereka semua melompat tinggi dan mendarat di tubuh Hell Dragon.


Keseimbangan mereka terganggu karena tubuh Hell Dragon terus bergetar, menyebabkan beberapa dari mereka terjatuh ke bawah.


Tetapi Gold Winged Lion sudah diberi perintah untuk membuat mereka yang terjatuh melompat lagi ke atas. 


Kaki Hell Dragon sudah tak mampu lagi bergerak leluasa, ia ingin menghabisi Gold Winged Lion terlebih dahulu karena keberadaannya yang mengganggu pertarungannya.


Tetapi keempat kakinya sudah dipanah oleh Naze dan June dengan Stun Arrow, menyebabkan keempat kakinya tidak mampu bergerak lagi.


Renne yang merupakan seorang Magic Caster melepaskan banyak sekali skill magic, membuat HP Hell Dragon terus menurun sampai pada akhirnya berhenti di angka 70%.


“Argghh, sialan!” Hell Dragon terus mengumpat dalam hatinya dan berusaha melepaskan diri dari keroyokan.


Li muncul dan memainkan Heaven Flute. Alunan musik sederhana terdengar dan mengacaukan seluruh indera Hell Dragon, membuat pertarungan menjadi sedikit lebih mudah.


Tetapi Guild Sevens kembali melupakan satu anggota tubuh lagi dari Hell Dragon, yaitu mulutnya.


Mulut Hell Dragon terbuka lebar dan melepaskan gelombang berwarna hitam pekat, mengincar Li, Naze, June, Renne, dan Enam Pilar Naga.


Tetapi Asheuin tidak membiarkan hal itu. Asheuin, Adhie, dan Bhiosa maju kemudian menahan gelombang hitam itu.


HP ketiganya langsung turun ke angka 30% ketika menerima seluruh serangan itu. 


Pada dasarnya, makhluk apapun itu jika berada pada Mode Serius maka kekuatannya akan meningkat pesat. Hal itu terjadi pada Visidha juga.


Renne mengonsumsi Potion kemudian menyembuhkan Asheuin, Adhie, dan Bhiosa. Dee, Zeo, dan Sen menatap ketiga temannya kemudian melompat naik melalui Gold Winged Lion.


Ketiganya segera membantu FastStone dan yang lainnya mengeroyok Hell Dragon.


Efek dari Stun Arrow sudah berakhir dan Hell Dragon melepaskan gabungan Murderous Aura dengan Dragon Aura yang tersisa kemudian menggerakkan tubuhnya, membuat siapapun yang ada di atas tubuhnya turun ke bawah, termasuk Slitherio, Whu, dan Riana.


Setelah tubuhnya bersih dari seluruh anggota Guild Sevens, Hell Dragon langsung melesat menuju selatan, menjauhi tempat yang hampir saja menghilangkan nyawanya itu.


Visidha meninggalkan tempat itu dengan kerusakan yang amat serius, danau yang dibuat oleh Whu bahkan sampai hancur sebagian.


"Setidaknya kita berhasil mengusirnya dari sini..." Slitherio berubah lagi menjadi manusia dan mengelap dahinya yang tidak berkeringat.

__ADS_1


Semuanya mengangguk, mereka kemudian menatap Whu yang sedang berdiri di sebelah danau buatannya yang hancur sebagian.


"Hell Dragon, akan kubunuh kau!" Whu berteriak sekencang-kencangnya sambil menunjuk ke arah selatan.


__ADS_2