
Fredy menatap semua orang, “Ini artinya aku memiliki Rank terendah diantara kita? Aku masih bodoh...”
Tentu saja rendahnya Rank bisa menyebabkan orang itu diejek ataupun dihina. Tetapi reaksi berbeda akan diterima oleh Fredy.
“Tunggu, Ryan. Kau... Adalah Top Global Hero Gaburon?!”
Leo menatap akun milik Ryan dan memperhatikannya dengan seksama. Biasanya, kalau seorang pemain menjadi Top Global, ia akan mendapat sebuah Title tertentu.
Leon memeriksa akun milik Ryan dan menemukan kalau Ryan menjadi Top Global nomor 2 Hero Gaburon serta Top Global nomor satu Hero PanMan.
Selain itu, Ryan juga sebenarnya masuk daftar pemain dengan Rank tertinggi season ini. Maklumlah, season baru dimulai sekitar lima hari lalu dan sebelumnya Ryan mendapat posisi nomor dua puluh.
“Dua-dua puluh?!” Rio tetap tak mengira hal itu.
“Ya... Itu seingatku sih...” Ryan mengelus dagunya, “Sekitar lebih dari enam hari lalu aku melihatnya, ada namaku disana...”
“Oh ya, karena kita sudah mengeluarkan ponsel kita, bagaimana kalau kita langsung membuat squadnya?” usul Justin. Semuanya mengangguk.
“Oke, Leadernya?” tanya Rio. Disini, Rio berencana menjadi Leadernya.
“Terserah...” Hendra menaikkan bahunya.
“Bel?” sebuah suara terdengar dan terdengar seperti bel masuk. Agus mendengarnya pertama.
“Aku dan Rio duduk belakang, jadi aku bisa membuatnya...” Rio menunjuk dirinya sendiri lalu merangkul Ryan cepat.
“Apa-apaan?” Ryan tak ingin terkena masalah lagi.
“Aku memilih Ryan!” Agus menaikan tangannya.
“Aku juga!” Hendra, Justin, Leo, dan Fredy ikut mengangkat tangan mereka.
“Tak ada yang mendukungku?” Rio menatap teman-temannya.
“Tidak akan ada anggota yang mau kalau Leadernya adalah orang sepertimu.” Leo tahu kalau Rio agak malas, dia jadi ragu untuk menjadikan Rio Leader Squad ini.
“Oi, aku hanya punya Diamond sebanyak 20 saja, takkan bisa untuk membuat squadnya.” Ryan menunjukkan menu gamenya yang terlihat miskin.
“Eh?!”
***
“Hari itu menjadi hari lahirnya Squad N5S yang akan maju ke turnamen dunia sekitar empat bulan lagi...” ujar Ryan sambil mengeluarkan ponselnya.
“Apa ada yang kalian kenal?” tanya Ryan sambil menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.
Terlihatlah tujuh anak muda yang terlihat bahagia di foto itu. Latarnya sendiri berupa sebuah panggung yang sedikit ramai.
__ADS_1
Di tengah-tengah tujuh anak muda itu, terlihatlah seorang anak muda yang membawa sebuah piala besar dan anak muda itu memakai sebuah Headphone.
“Anak ini mirip seperti ayah...” Ria menunjuk ke tengah-tengah para anak muda itu, “Jangan-jangan...”
“Casing HP anak ini mirip dengan yang dimiliki oleh ayah saat ini...” Rayhan membalikkan ponsel milik ayahnya, “Sepertinya ini ayah...”
“Memang, itu adalah ayah. Dan ini adalah kedua orang tua ayah...” Ryan menggeser foto itu lalu memperlihatkan tiga orang dimana salah satunya memiliki wajah seperti Ryan.
“Apa kalian penasaran dengan permainan ayah?” tanya Ryan sambil menatap Rayhan.
“Sudahlah, kau itu terlalu ganas kalau bermain, aku ragu Rayhan bisa mengikutinya...” Raisya mengibaskan tangannya, ia tahu karena ia menonton semua permainan Ryan dan squadnya.
“Tidak, kau akan tahu kalau aku yang dulu tidak terlalu ganas, sampai sebuah kejadian mengubah seluruh permainanku...” Ryan menatap jalanan, “Beberapa hari setelah kami membentuk Squad itu...”
***
Beberapa hari telah berlalu sejak Ryan dan Rio membodohi gurunya dengan membuat sebuah Squad di tempat duduk mereka. Dengan kata lain, bermain ponsel di kelas.
“Untung saja aku mengambil tempat duduk di belakang dan kau dengan bodohnya ikut duduk denganku...” ujar Ryan ketika mereka bertujuh pulang dari sekolah.
“Ya... Aku hanya mengikuti instingku yang tak seberapa ini...” Rio tersenyum lebar, “Kata hatiku berkata kalau kau ini bisa diandalkan...”
“Setidaknya aku tidak ingin dipimpin oleh Rio...” Hendra memegangi kepalanya.
“Kenapa memangnya?” tanya Ryan. Sebagai Leader Squad, ia harus tahu masalah yang terjadi dalam squadnya.
“Rio mencoba membodohiku!” Hendra menunjuk Rio, “Dia memintaku maju dan sebagai Tank, aku akan maju untuk membuka war. Lalu dia!”
“Untung classic...” Hendra memalingkan wajahnya.
“Baiklah, aku pulang duluan, ya...” Agus, Fredy, dan Leo memisahkan diri dan berjalan menuju kiri sekolah.
“Aku akan pergi bersama Rio bodoh ini!” Ryan mengacak-acak rambut Rio tmyang dasarnya sudah berantakan lalu berjalan meninggalkan Hendra dan Justin yang masih berdiri di depan sekolah.
“Aku akan mampir sebentar ke minimarket, apa kau mau ikut?” tanya Ryan. Rio menggeleng.
“Tidak...” Rio melambaikan tangannya, “Sampai jumpa...” lampu merah menyala dan Rio langsung menyeberangi jalan menuju rumahnya.
Ryan menghela napas panjang lalu masuk ke minimarket itu dan mencari apapun itu yang bisa dimakan.
Ryan duduk sebentar sebelum ia kembali berjalan menuju rumahnya dengan santai.
Saat ia sampai di rumah, ayahnya sudah duduk di lantai teras sambil meminum sesuatu. Ayahnya melihat Ryan pulang langsung memanggilnya untuk mendekat.
Ryan mendekat dan duduk di sebelahnya. Ayahnya merangkul Ryan lalu berkata, “Kau sudah besar, kau akan mencari masa depan dua tahun lagi...”
“Apa maksud ayah?” tanya Ryan.
__ADS_1
“Ayah sudah tua, ayah tidak tahu kapan ayah akan pergi dari dunia ini.” Ayahnya menatap Ryan yang dirangkulnya, “Kau harus mencari seseorang yang bisa menemanimu sampai akhir usiamu...”
“Ayah sudah tahu tentang masalah dirimu dan teman perempuanmu di SMP dan ayah pernah melihat pesan terakhir yang dikirim olehnya...” ayahnya terdengar seperti penyadap tingkat dunia.
“Ayah sarankan agar kau memakai nomormu yang sebelumnya. Ayah kasihan pada perempuan itu yang terus menghubungimu setelah kau lulus...” ujar ayahnya lagi.
“Ryan ingin melupakan orang itu...” Ryan akhirnya bicara setelah terus menyimak kata-kata ayahnya.
“Kenapa kau ingin melupakannya?” ayahnya mengusap kepala Ryan lembut, “Apa karena ia meninggalkan dirimu saat kau membutuhkannya?”
Ryan terdiam. Ayahnya berkata lagi, “Apa kau tahu kalau ayah pernah menyukai seseorang selam enam tahun dan terus selama itu sampai akhirnya ayah terpaksa melupakannya karena ia ternyata menyukai yang lain. Setelah itu, ayah menyendiri sampai akhirnya seorang perempuan datang ke kehidupan ayah. Ya, perempuan itu adalah ibumu...”
“Kau masih tidak terlambat, baru berlalu lima bulan, mungkin, sejak kau tidak bertemu dengannya?” ayahnya melepas rangkulannya pada pundak Ryan, “Hubungi dia dan katakan kalau kau menyukainya...”
Ryan menatap ayahnya tak percaya. Ayahnya ternyata memiliki pengalaman yang lebih menyedihkan dari dirinya dan ayahnya berkata kalau dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
“Tak peduli apapun yang terjadi di depanmu, kau harus tetap tersenyum dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.” Ujar ayahnya, “Masih belum terlambat, ingat itu...”
Ryan berdiri lalu berlari masuk ke rumahnya, “Terima kasih, ayah!”
Ryan berlari masuk ke kamarnya setelah melepas sepatunya di dekat teras. Ryan melempar tasnya ke tempat tidurnya setelah mengeluarkan ponselnya dari tasnya.
Ryan memeriksa laci meja belajarnya dan mencari kartu yang dulu ia sempat lepas dari ponselnya dan memakainya setelah ia melepas kartu yang baru.
Ryan menunggu cukup lama dan setelah ponselnya selesai memeriksa isi kartu itu, Ryan langsung membuka chat dirinya dengan Raisya, nama yang telah ia lupakan selama lebih dari empat bulan.
Ada sebuah video dari Raisya dan Ryan melihatnya. Isi video itu adalah ucapan perpisahan dari Raisya.
“Hei, Ryan. Saat kau melihat video ini, mungkin aku sudah berada di dalam perjalanan menuju kota sebelah. Ya, aku mengikuti orang tuaku yang pindah ke kota sebelah. Maaf jika aku tak memberitahumu sebelumnya...
Kau tahu, aku sebenarnya ingin mengatakan ini sejak lama, tetapi karena kita memiliki sebuah jurang perbedaan, aku tak bisa mengatakannya.
Aku tahu kau marah, wajar saja karena aku pergi tanpa meninggalkan sebuah pesan pun. Aku tak bisa mengerti, kenapa aku bisa seperti itu ke dirimu.
Aku tahu kalau kau tak pernah lagi membalas chat dariku setelah hari kelulusan. Ya, karena kami pindah saat kelulusan. Karena kau seperti itu, mungkin aku takkan mengirim apapun padamu. Video ini adalah yang terakhirnya.
Aku bisa saja meminta dirimu untuk merekam hari kelulusan itu, tetapi karena paketan internet milikku tersisa sedikit membuatku tak bisa memintanya padamu.
Aku membuat video ini saja di toilet umum di depan wastafel. Itupun setelah ayahku memberiku sedikit internet untuk membuat video ini.
Dan, satu lagi... Eh, baiklah, aku akan kesana. Nah, sampai jumpa...”
Akhir video itu menunjukkan Raisya yang mencium layar ponselnya lalu mematikannya. Video selesai.
Pipi Ryan memerah, “Tadi, apakah Raisya benar mencium layar ponselnya?”
Ryan memeluk ponselnya erat, “Aku... Terlambat...”
__ADS_1
Ryan tanpa sengaja menitikkan air matanya. Ia lalu memejamkan matanya. Air matanya bertambah.
“Aku telah kehilangan satu sahabatku karena satu tindakanku yang ceroboh...” Ryan lalu menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidurnya sambil memeluk ponselnya.