Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
45. Naze


__ADS_3

Slitherio dan Geisha mengangguk bersamaan. Atra yang melihat itu mengangguk sambil mengelus dagunya. Ia tidak menyangka temannya yang terlihat tidak peka itu dapat memiliki hubungan dengan seorang perempuan, apa lagi perempuan secantik Geisha.


Tentu Atra tidak menyadari Slitherio dan Geisha telah berteman sejak mereka masih berseragam putih biru.


Suasana kembali hening. Slitherio yang melihat itu segera berkata agar situasi canggung menghilang, “Jadi, kita akan pergi kemana lagi?”


Geisha yang pertama bereaksi, “Midvast Utara. Aku dengar kalau pemandangan disana sangatlah indah. Bagaimana kalau kita kesana saja?” usul Geisha sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya.


Atra mengusulkan agar mereka pergi ke Land Empire dan menuju Kerajaan Haus Darah, tetapi ia langsung mengurungkan permintaannya saat melihat raut wajah Slitherio yang memburuk saat mendengar nama itu.


“Saranku, bagaimana jika kita mengurus urusan kita masing-masing?” tanya Slitherio.


Usulan itu langsung disambut gembira oleh Atra, tetapi tidak dengan Geisha. Slitherio yang menyadari ada sesuatu langsung bertanya padanya.


“Ada masalah?” tanya Slitherio hati-hati.


“Kita baru bertemu beberapa menit yang lalu dan kita berpisah lagi...” jawab Geisha sambil menundukkan kepalanya.


Slitherio yang mendengar hal itu menggaruk kepalanya, ia kemudian mendapat ide, “Bagaimana kalau aku ikut kau saja? Lagipula aku tidak memiliki ide untuk pergi kemana...”


Wajah Geisha menjadi cerah lagi setelah mendengar hal itu, “Baiklah.”


“Kita akan pergi ke tempat yang kita inginkan masing-masing.” Slitherio berkata, “Atra, jika kau butuh bantuan kami, hubungi kami segera.”


Atra memberi hormatnya pada Slitherio sebelum melesat kembali menuju medan perang. Geisha yang melihat hal itu bertanya pada Slitherio,


“Kenapa ia menuju tenggara? Bukankah BloodThirsty Kingdom ada di Land Empire?” tanya Geisha sambil mengikuti Slitherio yang berjalan menuju pintu keluar Syatch.


“Karena jalur tenggara adalah jalur singkat untuk menuju BloodThirsty Kingdom.” Jawab Slitherio.


Geisha yang mendengar itu mengangguk tanda mengerti. Ia terus mengikuti Slitherio hingga keluar Syatch.


Slitherio berhenti kemudian menoleh pada Geisha, “Kita akan kemana? Aku tidak ada referensi akan pergi kemana...” 


“Aku tadi hanya mengikuti keinginanmu untuk menuju Midvast Utara...” lanjut Slitherio.


“Sejujurnya aku hanya asal bicara saja tadi...” Geisha berkata sambil menggaruk kepalanya.


Slitherio yang mendengar itu menepuk dahinya, “Apa kita hanya akan diam disini saja?”


Geisha terlihat berpikir keras sebelum berkata, “Bagaimana jika kita menuju kerajaan asal Soul Remaistmu?”


Slitherio yang mendengar usul itu segera setuju. Tetapi perkataan Geisha menyadarkan Slitherio apakah ia tahu letaknya dimana.

__ADS_1


“Tapi apa kau tahu letaknya dimana?” tanya Geisha.


Slitherio berpikir keras sebelum sebuah jendela informasi muncul dihadapannya.


[Kau mendapat pencerahan dari Zon!


Letak Phoenix Gold Kingdom ada di Blanc Mountain di Land Empire Utara.


Zon mengharapkan dirimu untuk mempelajari keseluruhan dari Skill Series Flame Warmage Technique dan Flame Sword Technique disana]


Slitherio kebingungan saat membaca jendela informasi dihadapannya. Tak lama ia mengumpat dalam hatinya saat membaca letak Blanc Mountain di jendela informasi itu.


“Dimana letaknya?” tanya Geisha.


“Blanc Mountain...” jawab Slitherio pelan. Ia kemudian mendapat ide.


“Geisha, naik ke punggungku.” Pinta Slitherio.


Geisha yang mendengar hal itu wajahnya langsung memerah, “Apa yang mau kau lakukan?”


“Apa kau mau kutinggal disini?” tanya Slitherio yang dibalas dengan gelengan kepala Geisha.


“Jadi naik saja. Aku tidak akan melakukan hal yang buruk padamu.” Slitherio berjongkok di depan Geisha.


“Siap?” tanya Slitherio yang dibalas dengan genggaman erat di pundak Slitherio. Slitherio menopang tubuh Geisha agar tidak jatuh sebelum ia menggunakan nama skill.


“Wind Step...” Slitherio melompat tinggi, melewati rimbunnya pohonnya.


Ia melepas topangannya pada Geisha dan menyebabkan Geisha terjatuh dari punggungnya. Slitherio mengembangkan sayapnya dan menggenggam tangan Geisha.


Ia melempar Geisha naik ke atas sebelum ia melesat menangkap tubuh Geisha dan melesat pergi dengan terbang.


Geisha yang masih terkejut dengan kejadian tadi langsung pingsan saat sudah berada di gendongan Slitherio.


Slitherio yang melihat itu meniup wajah Geisha dan tatapan mereka bertemu. Dengan cepat, wajah Geisha berubah menjadi merah.


“Turunkan aku!” seru Geisha sambil meronta meminta turun. Slitherio yang kesulitan membawa Geisha memilih turun perlahan dan mereka mendarat di tengah hutan.


Geisha turun dari gendongan Slitherio dan wajahnya memerah. Slitherio yang melihat itu menahan tawanya.


“Siapa itu?” seseorang muncul tiba-tiba dari hutan dan mengacungkan pedangnya. Pedangnya berwarna hitam segelap langit malam.


“Pedang hitam... Black Sword Naze...” gumam Geisha saat melihat pedang itu. 

__ADS_1


Slitherio menatap pedang orang itu sebelum mengalihkan pandangannya pada wajah orang itu. Wajah orang itu mirip dengan orang yang dikenalnya. Ia kemudian tersenyum.


“Tak kusangka kita akan bertemu juga di Midvast, bukan begitu, Rio?”


***


Naze adalah nama karakter Rio, teman Ryan. Ia membuat nama Naze ini yang merupakan kebalikan dari usernamenya yang dulu di Physical And Magic. Ia memilih job Archer dan mengambil Second Job sebagai Hunter. Ia berniat mengambil Grand Job Dark Arrow.


Naze memilih masuk ke Guild Archero karena saat itu salah satu temannya merekomendasikan Guild ini.


Naze masuk guild itu dan menjadi anggota biasa. Berkat kemampuannya, teman yang tadi merekomendasikan Guild Archero mengajukan Naze untuk menjadi wakil ketua.


Kebetulan teman yang merekomendasikan Naze memiliki posisi sebagai wakil ketua Guild Archero.


Sayangnya kemampuan Naze kurang diakui sehingga hanya satu orang saja sehingga Naze gagal sebagai wakil ketua.


Agar kemampuan Naze tidak sia-sia, WhiteFang membentuk pasukan elit Guild Archero dan menjadikannya sebagai kapten pasukan itu.


Jumlah pasukan itu berjumlah sekitar seratus orang dan keseluruhan orang itu dipilih langsung oleh WhiteFang sendiri karena kemampuan mereka sudah diakui oleh para anggota yang lainnya.


Suatu hari, WhiteFang memanggilnya dan memintanya untuk mengelilingi Midvast bersama empat orang pilihan Naze.


Naze mengangguk dan pergi memilih rekan seperjalanannya. Kemampuan Naze mulai diakui sejak dirinya berhasil menyelamatkan beberapa anggota Guildnya dari serangan keroyokan sekawanan Leaf Wolf.


Dengan tambahan status STR+20 setiap melawan monster membuatnya memiliki kemampuan tinggi saat melawan monster berjumlah banyak. Dalam waktu yang tidak singkat, Naze berhasil menyelamatkan beberapa anggota guildnya dengan membiarkan hanya dirinya sendiri yang melawan Leaf Wolf yang berjumlah puluhan ekor.


Ia berhasil selamat dan kembali dengan HP yang tidak tersisa banyak. Sejak itu kemampuan Naze diakui oleh anggota guild yang lain.


Saat selesai memilih rekan seperjalanannya, Naze dan rekannya pergi menuju hutan. Disaat berada di hutan, Naze meminta mereka kembali karena kemampuan mereka akan diperlukan oleh WhiteFang untuk menjaga markas Guild Archero.


Seluruh rekan yang dipilihnya kembali dengan wajah murung, tidak berhasil melihat langsung kemampuan Naze.


Naze melihat seluruh rekannya pergi barulah ia berjalan menapaki dunia seorang diri. Belum sampai sehari ia berjalan, ada dua orang yang mendarat tepat di hadapannya.


Ada dua orang, orang yang berjubah merah tersenyum padanya, “Tak kusangka kita akan bertemu juga di Midvast, bukan begitu, Rio?”


Bonus Chapter: **7/10


Kuota penulis sudah habis, ini saja saya ketik pakai Hotspot orang tua saya.


Lagi tiga akan menyusul setelah kuota penulis kembali normal.


Salam,

__ADS_1


Rio**.


__ADS_2