
Ryan melanjutkan kegiatannya diikuti oleh perempuan itu. Perempuan itu terus mengikuti Ryan kemanapun Ryan pergi.
Setelah kegiatan berbelanja Ryan selesai, ia bertanya pada perempuan itu, “Nah, sekarang maumu apa?”
Perempuan itu menarik tangan Ryan kemudian mengajaknya ke cafe yang yang berada di seberang jalan.
Saat sampai disana pun perempuan itu masih menggenggam tangan Ryan. Perempuan itu melepaskan genggamannya pada Ryan saat mereka telah menemukan meja yang kosong.
Perempuan itu memanggil pelayan dan memesan minuman, “Kau apa?”
Ryan membaca daftar menu dan berkata, “Aku memesan Ginger Tea yang hangat.”
Alis perempuan itu naik, “Sejak kapan kau menyukai Ginger Tea? Hangat pula itu?”
Ryan tersenyum kemudian menjawab, “Aku sudah bermain selama hampir sebulan dan diriku ingin meminum sesuatu yang hangat.”
Setelah pelayan itu selesai mencatat pesanan mereka, Ryan meletakkan kedua tangannya di atas meja, “Jadi, kenapa kau mengajakku kemari?”
Perempuan itu menundukkan kepalanya kemudian berbisik, “Maafkan aku, Ryan...”
Ryan mengangkat alisnya, bingung dengan sikap perempuan dihadapannya. Sebenarnya ada satu nama yang melintas di pikirannya ketika melihat wajah perempuan itu, tetapi tidak mengaitkannya pada perempuan di depannya saat ini karena wajah mereka hampir sama dan juga perempuan ini memakai kacamata yang membuatnya tidak dikenali oleh Ryan.
“Aku Raisya, bagaimana mungkin kau bisa lupa?” tanya perempuan itu sebelum ia melepas kacamatanya.
Mata Ryan melebar saat melihat wajah tanpa kacamata itu. Nama yang tadi terlintas di pikirannya menjadi nyata.
“Kau... Raisya? Bagaimana mungkin?” Ryan menggaruk kepalanya, bingung dengan situasi di depannya saat ini. “Kau sudah menghilang selama hampir sepuluh tahun dan kau masih mengingat detail wajahku? Sulit kupercaya...”
Raisya tersenyum tipis, ia sudah tidak bisa mengharapkan apa yang ia harapkan pada pria di depannya.
Ryan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya, “Bagaimana bisa aku lupa dia tapi dia malah ingat aku?” pikirnya.
Pesanan mereka berdua akhirnya sampai. Mereka meminum minuman masing-masing dalam diam.
__ADS_1
Saat minuman mereka sudah berkurang separuhnya barulah mereka berhenti meminumnya. Raisya menarik napasnya.
Ryan menunggu apa yang ingin Raisya bicarakan dengannya. Waktu terus berlalu.
Raisya masih diam, terlihat berpikir apa yang ingin ia katakan. Waktu telah berlalu sepuluh menit.
Ryan berniat beranjak dari tempat duduknya saat Raisya menarik tangannya lagi, “Setidaknya dengarkan alasanku saat itu meninggalkanmu...” Raisya mulai bercerita.
Umur Raisya saat ini kurang lebih berselisih satu bulan dengan Ryan, yaitu dua puluh empat tahun umurnya tahun ini.
Ia lulus SMP bersamaan dengan Ryan saat ia berusia empat belas tahun hampir berumur lima belas tahun.
Ia saat itu diajak oleh kedua orang tuanya keluar kota dan pindah ke kota tersebut. Bisa dikatakan kota tersebut berjarak sangat jauh dari kota tempat Ryan tinggal.
Saat itu Raisya berniat mengabari Ryan tentang kepindahannya, tetapi ponsel Ryan selalu tidak aktif. Raisya memahami, kebiasaan tidur lama Ryan masih menempel padanya, bahkan hingga saat ini.
Ryan menggaruk kepalanya saat mengingat hal itu, memang saat ini dirinya masih terpaku pada alarm ponselnya untuk bangun pagi.
Kemudian beberapa bulan berlalu, Raisya berniat menghubungi Ryan lagi tetapi nomor Ryan sudah tidak aktif lagi.
Ia memilih tidak pernah menghubunginya dan menyimpan foto mereka saat bersama teman sekelas mereka dulu, foto terakhir mereka bersama teman-teman mereka.
Beberapa bulan berlalu, Raisya mendengar dari Club Gaming sekolahnya bahwa ada seorang pemain yang memiliki username SLITHERIO menjadi Top Global Physical And Magic dan diperintahkan oleh Menteri Olahraga untuk berpartisipasi dalam World Tournament Physical And Magic S3 di Jepang.
Saat ia menanyai salah satu temannya yang kebetulan juga ikut bergabung dalam Club memberinya sebuah link MeTube dan menyuruhnya ikut menonton turnamen itu.
Saat ia melihat pembukaan ia melihat wajah yang tidak asing berdiri di antara para pemain terkenal dari negara lain. Ia bukan lain adalah Ryan.
Raisya saat itu langsung senang karena ia bisa melihat wajah orang yang disukainya terlihat dunia.
Raisya hampir setiap hari menantikan pertandingan yang diadakan, bahkan sampai dimarahi oleh ayahnya sendiri karena ia keasyikan menonton turnamen itu hingga paket internetnya habis.
Untungnya Raisya memiliki ide tersendiri. Ia memakai tabungannya yang ia simpan sejak SD untuk membeli paket internet khusus MeTube untuk sekedar melihat wajah Ryan.
__ADS_1
Selama sebulan ia menjalankan ide tersebut. Di saat ada waktu senggang Raisya juga belajar sambil menunggu waktu pertandingan dilanjutkan.
Tentu aksi yang paling ditunggunya adalah aksi dari Ryan sendiri. Saat ia melihat nama Squad N5S melaju ke babak final, ia memilih tidak belajar hanya untuk menonton wajah yang ia rindukan.
Saat melihat nama SLITHERIO dan Squadnya tercatat sebagai pemenang World Tournament Physical And Magic S3, ia langsung melompat kegirangan. Nama SLITHERIO juga menjadi MVP Player dengan total MVP yang didapatkannya sebanyak 13 kali, mengalahkan Top Global kedua yang hanya berjumlah 10 MVP.
Ryan yang mendengar hal itu terus tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya saat melihat salah satu fansnya dulu adalah Raisya sendiri.
Saat Raisya berusia dua puluh tiga tahun, setahun yang lalu, orang tua mereka melakukan perjalanan menuju Jepang.
Ryan yang mendengar itu langsung bertanya, “Apa? Jepang?” Ryan mengira pasti hanya pada tahun yang sama saja mereka melakukan perjalanan itu.
“Aku masih ingat tanggalnya, bulan kedua belas tanggal empat belas mereka pergi ke Jepang...” Raisya berusaha tersenyum.
Ryan berusaha mengingat tanggal itu yang hanya sehari setelah tanggal keberangkatan orang tuanya ke Jepang.
“Itu lewat sehari setelah orang tuaku ke Jepang...” gumam Ryan yang didengar oleh Raisya.
“Bukankah ini tidak disengaja?” tanya Raisya sambil tersenyum, “Dan mereka kembali tanggal dua puluh bulan kedua belas.”
Ryan serasa disambar petir. Kedua orang tuanya ternyata satu pesawat dengan orang tua Raisya.
“Bukan ketidak sengajaan lagi ini namanya, kebetulan saja aku katakan tentang hal ini...”Ryan juga bercerita tentang perjalanan kedua orang tuanya di Jepang. Ia juga menunjukkan beberapa foto mereka saat mereka berkunjung ke beberapa tempat wisata.
“Ah, ini kedua orang tuaku...” Raisya menunjuk ke dua orang yang tepat berada di belakang kedua orang tua Ryan. Bahkan di foto itu terlihat ada seorang perempuan yang sedang melakukan panggilan video dengan mereka.
Ryan serasa ingin bertanya pada Tuhan, kenapa hal ini bisa terjadi pada waktu yang bersamaan.
“Dan juga kedua orang tuaku dikuburkan tepat tanggal dua puluh satu bulan kedua belas, tepat sehari setelah kecelakaan pesawat itu...” Raisya berusaha tersenyum, tetapi bibirnya tidak mau menurutinya.
Ryan menunduk mendengar hal itu, “Bukan kebetulan lagi, ini seperti rencana Tuhan...” Ryan mengangkat wajahnya dan mendapati Raisya menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya, “Oh Tuhan, apa yang kau rencanakan pada hambamu yang ini dengan temanku ini?”
“Sudahlah, lagipula menangis tidak akan mengembalikan kedua orang tuamu lagi...” Ryan menarik tangan Raisya, berusaha membuat kedua tangannya tidak menutupi wajahnya lagi.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita berkunjung ke makam kedua orang tuamu?”
Bonus Chapter: 4/10