Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
222. Heaven Empire III


__ADS_3

“Ibu, ayah dimana?” Tanya Rayhan pagi ini. 


Raisya sebelumnya sudah diberitahu oleh Ryan kalau ia ingin pergi ke Heaven Empire untuk mencari bantuan. Tetapi tak Raisya sangka kalau Ryan bisa selama ini pergi ke Heaven Empire.


“Ibu?” Rayhan mengayunkan tangannya di depan muka Raisya, membuat Raisya yang awalnya termenung sebentar segera tersadar.


“Ah, ayahmu ada keperluan penting dan ia tidak ingin diganggu. Sebaiknya kau tidak mengganggunya dulu...” Raisya mengusap kepala Rayhan lembut sambil tersenyum.


“Rayhan tidak percaya...” Rayhan cemberut, “Rayhan masih ingat kalau ibu pernah mengatakan hal yang sama sekitar seminggu yang lalu...”


Raisya menepuk dahinya, daya ingat Rayhan ternyata diluar dugaannya. Raisya berdeham lalu bertanya, “Apa itu benar?”


“Masa ayah setiap hari Sabtu dan Minggu selalu ada keperluan penting? Ibu saja tidak seperti ayah...” Rayhan masih cemberut.


Raisya menggaruk kepalanya, “Sebenarnya ibu ingin merahasiakan hal ini sampai kau cukup umur untuk bisa mendengarnya...” Raisya akhirnya menyerah karena ia tidak bisa menjaga rahasia sebaik Ryan.


Raisya akhirnya menceritakan segala hal dari Ryan masih duduk di bangku SMP sampai saat ini. Rayhan yang mendengarnya melebarkan matanya.


“... Bisa dibilang kalau ayahmu itu adalah orang yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di mata dunia berkat kemampuannya memainkan permainan yang bisa dibilang seru...” Raisya mengakhiri ceritanya.


“Kalau Rayhan ingin seperti ayah, bagaimana?” tanya Rayhan yang membuatnya mendapat cubitan keras di pipinya.


“Kalau kau ingin seperti ayah, belajar dulu agar bisa mengingat berbagai pelajaran penting yang akan kau pelajari saat belajar dengan ayahmu....” ujar Raisya.


***


Slitherio menatap meja besar di hadapannya. Ia dan seluruh pemain yang ikut pergi ke Heaven Empire diajak untuk makan malam bersama.


“Bukankah ini terlalu lebar?” tanya Vius sambil melihat meja besar di hadapannya.


Meja itu amatlah besar, sampai membuat jarak diantara mereka yang bisa dibilang cukup jauh. Daishi hanya tertawa kecil sambil berkata, “Maaf, hanya inilah meja terkecil yang kami miliki sekarang...”

__ADS_1


Luvian dan Zero menepuk dahi mereka. Terkecil? Ini saja bahkan bisa membuat seluruh anggota Guild Reister berkumpul di satu tempat atau bisa menampung sekitar lebih dari 20 pemain tingkat God.


“Mari...” seorang pria dengan jubah berwarna biru langit tersenyum lebar sambil mempersilakan para dewa untuk duduk. Dia adalah jendral Heaven Empire yang mendapat gelar Sky Dragon, yaitu Semipa.


Mereka semua lalu duduk di tempat yang mereka inginkan dalam diam. Mereka diam karena tak tau apa yang harus dibicarakan.


Tentang kerjasama mereka, sudah tadi Slitherio, Sean, Daishi, Xue, Chao, dan Ware membicarakannya. Hasilnya, Heaven Empire akan bekerjasama dengan seluruh pemain yang tersisa di benua lain. Chao sendiri hanya meminta Ware untuk mewakilinya.


Meskipun banyak yang tidak setuju akan hal itu, sebut saja Lore, Wilhelm, Rifa, dan Vius, keputusan dewa terkuat di dunia tak bisa diubah.


Sebab itulah, nanti malam setelah makan malam selesai, Chao akan meninggalkan Heaven Empire dan membiarkan Ware yang akan mewakilinya untuk melindungi Heaven Empire.


Dengan adanya hal semacam ini, bisa dipastikan kalau dewa yang berlaku netral diantara Twelve First Gods akhirnya memilih cahaya daripada kegelapan.


Segel ilusi yang melindungi Heaven Empire dilepas dan Daishi meminta pada Slitherio, Sean, Luvian, Zero, dan Carey untuk menghubungi semua teman-teman mereka untuk datang ke Heaven Empire.


FastStone sedikit menentang keputusan itu, karena jika seandainya mereka memanggil seluruh kekuatan pemain ke Heaven Empire, ditakutkan kalau ancaman ke Heaven Empire hanyalah pengalihan dan beberapa pasukan Hell Empire akan menyerang benua yang paling minim penjagaannya.


Dengan skill Teleport yang mereka miliki, jika seandainya ada hal yang tidak diinginkan maka mereka bisa Teleport ke tempat yang dituju dengan cepat.


“Hal sebelumnya, bagaimana yang lainnya?” tanya Daishi meskipun ia tahu kemungkinan kalau Slitherio dan Sean tidak memberitahu yang lainnya adalah 0%.


“Aku setuju saja...” ujar Whu. Ia sendiri akan menerima berbagai perang yang datang ke arahnya, sama seperti FastStone sang War God. FastStone sendiri juga mengangguk.


Semua orang setuju, dan semua Ketua Guild Profesional dan ke bawah juga sudah diberitahu oleh Luvian dan yang diberitahu setuju. 


Makanan sudah datang dan kebanyakan berpenampilan unik. Slitherio yang melihatnya menaikkan alisnya, “Apa ini?”


“Oh, ini adalah daging panggang. Kalian tidak tahu?” jawab Ware sambil menangkupkan kedua tangannya, “Selamat makan...”


Daishi mengangguk lalu berkata, “Ini adalah daging panggang yang diolesi dengan saus yang dibuat dengan campuran Black Apple dan White Pepper. Rasanya enak...”

__ADS_1


Slitherio menaikkan alisnya, Black Apple itu terkenal karena rasa pedasnya dan White Pepper terkenal karena rasa pedas yang terasa selama dua hari. Apa Daishi bercanda akan menghidangkan makanan semacam itu?


Mereka lalu makan dengan tenang setelah Daishi berdoa sebentar. Dalam diam, suara napas bahkan bisa terdengar saat makan malam itu berlangsung.


Tanpa mereka ketahui, bahwa makan malam itu akan menjadi akhir dari kedamaian yang terjadi hari itu serta menjadi akhir dari Era Kekacauan yang sudah berlalu sejak ratusan tahun lalu.


***


Benua South...


Seperti biasa, Benario akan berkunjung ke Benua South untuk membicarakan tentang rencana kebangkitan para petinggi Hell Empire yang gugur di Sahara Desert enam tahun lalu.


Ada beberapa benda yang harus didapatkan untuk bisa membangkitkan para petinggi serta untuk membuat tubuh bagi Benario.


Benda-benda itu adalah Crystal Magic Stone, Dark Orb, Black Eye, Hell Cat Blood, dan Skull Bone. Benda-benda ini saja bahkan Louse dapatkan dengan susah payah di benua lain bersama dengan penguasa Hell Empire Benua South dan Benua Westerie.


Menurut Benario sendiri, beberapa dari benda ini adalah bagian dari tubuhnya dulu yang terpecah ke seluruh dunia. Sebab itulah banyak sekali pembunuhan yang Louse dan sekutunya lakukan hanya untuk mendapatkan benda-benda ini.


Wujud Benario saat ini hanya berwujud roh transparan yang hanya memiliki sekitar 20% dari seluruh kekuatannya. Tubuh aslinya sendiri sudah dihancurkan oleh Xue saat pertarungan yang membuat nama Benario menghilang dari daftar Twelve First Gods. Saat ini, Louse bahkan berani membunuh Benario kalau ia mau karena Benario tak memiliki alat untuk bertarung.


Tetapi ada satu hal yang membuatnya tak berani melakukannya, yaitu jumlah kekuatan Spirit yang dimiliki Benario. Disaat kekuatan yang ia miliki hanya 20% saja, jumlah kekuatan Spirit yang Benario miliki benar-benar tetap mengerikan, yaitu sebesar 40 kekuatan Spirit.


Untuk membentuk tubuh baru bagi Benario, diperlukan 80 kekuatan Spirit jika ingin mengembalikan seluruh kekuatan Benario seperti dulu, dengan perantara Crystal Magic Stone.


Crystal Magic Stone sendiri adalah batu legendaris yang dulu dipakai untuk memanggil pasukan kematian yang disebut Undead. 


Ada altar lain di Benua South. Louse dan semua sekutunya, yaitu Lava Bird, Vuxy, dan Theon berdiri di hadapan altar yang di atasnya berdiri roh Benario. Vuxy adalah kaisar ketiga Hell Empire di Benua Westerie dan Theon adalah kaisar keempat Hell Empire di Benua South


Di depan Benario ada Black Eye, Hell Cat Blood, dan Skull Bone. Benda-benda itu akan menjadi bagian tubuh Benario.


Louse, Lava Bird, Vuxy, dan Theon menyatukan seluruh kekuatan Spirit mereka yang jika dijumlahkan akan menjadi 84 kekuatan Spirit lalu menyalurkannya ke tiga benda bagian tubuh Benario.

__ADS_1


Tiga benda itu bercahaya sebentar lalu bergerak ke roh Benario yang berdiri tegak. Benario tertawa lepas sambil berseru, “Heaven Empire, bersiaplah!”


__ADS_2