
Seorang pria yang terlihat berusia puluhan tahun berjalan mendekati mereka berempat. Anehnya, tubuh pria itu sedikit transparan.
Visidha terkejut saat melihat wajah pria itu, “Chao? Kau masih hidup? Bagaimana kau bisa masih hidup?”
Orang yang dimaksud Chao tersenyum tipis, “Apa sebelumnya aku pernah berkata kalau aku sudah mati?”
Leone mengerutkan dahinya, “Chao, bukankah banyak rumor yang mengatakan kau sudah meninggal dunia?”
Chao yang medengar hal itu menunjuk Leone, “Kau tidak sopan pada leluhurnya temanmu! Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun! Aku tidak akan mati begitu saja!”
Chao menggerutu sambil menunjuk Leone. Sueta menepuk dahinya saat mendengar pernyataan Chao.
Chao menghembuskan napasnya, ia kemudian menatap Visidha, “Asal kau tau, aku ini kesepian sejak kejadian ratusan tahun lalu...”
Visidha menyela Chao, “Bukankah itu salahmu sendiri mengatakan akan menyendiri? Kenapa kau malah menyalahkanku?”
“Aku tidak menyalahkanmu, bodoh!” Chao menunjuk Visidha.
“Aku hanya ingin menegaskan bahwa aku tidak akan mencampuri urusan Heaven Empire dengan Hell Empire. Aku tetap berlaku netral.” Chao merapikan rambutnya.
“Aku tidak bisa berdiam disini lebih lama, ini hanyalah separuh dari separuhnya separuh kekuatanku seluruhnya. Aku tidak bisa merusuh disini untuk waktu lama.” Ucap Chao sebelum menghilang.
Saat Chao menghilang, barulah Visidha, Leone, Sueta, dan Bagune melepaskan napasnya. Bahkan Bagune nyaris tidak bernapas karena saking tegangnya saat mendengar Chao berbicara.
“Setidaknya Chao tidak akan berani mencari gara-gara dengan keberadaan dua Beast Remaist World Ruler rahasia milik kita.” Leone menghela napas panjang.
Sebenarnya, Hell Empire juga dijaga oleh dua Beast Remaist World Ruler. Yaitu Maxe sang Dragon Tailed Ape dan Kraken. Kraken dan Whazard tidak tinggal di Death Valley, tetapi di Triangle Sea.
Kekuatan Chao saat ini masih di peringkat pertama makhluk terkuat di Midvast. Sulit dicari tandinganny jika diajak duel satu lawan satu. Namun lain ceritanya jika Chao dikeroyok bersama, ada kemungkinan dirinya bisa bertahan tetapi dengan bayaran luka parah di sekujur tubuhnya.
Leone menghela napasnya lemah saat memikirkan hal itu. Ia kemudian memerintahkan Bagune untuk mengirimkan selusin Hell Empire ke Lavenia.
__ADS_1
Visidha yang mendengar hal itu mengerutkan dahinya, “Bukannya kota akan mengirimkan pasukan bantuan ke Heaven Mansion? Kenapa sekarang malah mengirimnya ke Lavenia?”
Leone tersenyum saat menjawab, “Perubahan rencana...”
“Kita akan membiarkan HeavenSoul untuk menghancurkan kekuatan Midvast dengan cara perang. Kita akan membutuhkan Lavenia untuk menghasut beberapa pendekar tersembunyi di Midvast untuk bergabung dengan kita. Dengan pengaruh yang Lavenia miliki seharusnya tidak sulit mendapatkan beberapa kekuatan tambahan.” Ujar Leone sambil menyeringai.
“Tambahan, jadikan Slitherio sebagai target sasaran Hell Empire dan habisi dia.” Lanjut Leone.
“Setelah Slitherio berhasil dihabisi, munculkan seluruh penjaga Hell Empire sekaligus dua penjaga rahasia kita. Setelah seluruh kekuatan kita keluar, habislah Midvast dalam waktu sekejap.” Tentu Leone hanya mengetahui Slitherio sebagai ancaman keberhasilan rencana mereka karena sebenarnya ada banyak orang di luar sana yang dapat mengancam keberhasilan rencana mereka.
Visidha, Sueta, dan Bagune menghela napasnya. Pertempuran akan datang dalam waktu yang tidak singkat.
***
Jauh di tengah Midvast, Slitherio dan Geisha sedang duduk mengelilingi sebuah api unggun yang dibuat oleh Slitherio.
Hari sudah gelap saat mereka keluar dari hutan. Mereka memutuskan bermalam di tepi hutan terlebih dahulu sambil menunggu pagi datang.
Saat berada di tepi hutanlah baru ada banyak monster berlevel tinggi berkeliaran di sekitar mereka. Slitherio tidak peduli dan memilih beristirahat di bawah sebuah pohon. Geisha memilih mengikuti Slitherio karena ia sendiri tidak memiliki tujuan selain mengikuti kemanapun Slitherio pergi.
Saat Slitherio duduk di bawah pohon, ada beberapa orang yang mendekati mereka. Slitherio bisa merasakan ancaman dari orang-orang itu sehingga ia memilih menyiapkan senjatanya terlebih dahulu.
Geisha juga mempersiapkan senjatanya yang ternyata adalah busur mekanik dan pisau sedang.
Orang-orang itu menarik pedangnya kemudian melesat menyerang Slitherio dan Geisha tanpa basa-basi dulu.
Orang-orang itu memakai Jirah berwarna hijau keabu-abuan dengan pedang yang terlihat sedikit melengkung di ujungnya yang berwarna abu-abu.
“Kami adalah Soul Knight ditugaskan untuk membunuh seorang manusia api dan kau pasti salh satunya.” Seorang pria yang mengenakan Jirah yang terlihat lebih kuat berbicara di sela pertarungannya.
Dengan dua lawan tujuh membuat Slitherio dan Geisha sedikit kesulitan. Ditambah kekuatan lawan mereka membuat kesulitan mereka bertambah.
__ADS_1
“Jika mereka adalah Soul Knight, pasti mereka memiliki banyak jiwa di kantong mereka. Aku bisa merampasnya.” Batin Slitherio saat bertarung. Ia kemudian tersenyum lebar.
Slitherio semakin bersemangat saat tau pikirannya ternyata benar. Saat ia berhasil membunuh satu Soul Knight ia mendapat kurang lebih seratus jiwa, entah itu jiwa monster atau manusia, Slitherio tidak tau.
Slitherio mempercepat pertarungannya dengan enam Soul Knight yang tersisa. Di sisi lain, Geisha sedikit kesulitan melawan satu Soul Knight saja.
Slitherio melompat mundur setelah berhasil menghabisi dua Soul Knight lainnya, Geisha juga berhasil menghabisi Soul Knight yang tadi ia lawan.
Empat Soul Knight yang tersisa memilih mundur sambil memandangi Slitherio dan Geisha. Salah satu Soul Knight memilih menyalakan sesuatu yang terlihat seperti kembang api kemudian melemparkannya ke langit. Kembang api tadi meledak dan menebarkan bubuk berwarna abu-abu.
Setelah beberapa lama, sekitar puluhan orang yang memakai Jirah yang sama dengan tujuh orang yang tadi muncul dan mengepung Slitherio bersama Geisha.
Slitherio menelan ludahnya. Bukannya ia tidak pernah melihat pemandangan seperti itu, tetapi jumlah dan kekuatan orang-orang itu sedikit dibawah perkiraannya.
“Kenapa mereka mengincar ku?” gumam Slitherio.
“Ternyata kalian mengepung orang tidak tau apa-apa!” suara seruan seseorang terdengar. Tak lama, seorang pria yang memakai Jirah yang Slitherio lihat seperti Jirah Samurai melompat turun dari pohon dan mendarat di sebelah Slitherio. Ia kemudian bersiaga dengan pedangnya yang tersarung di pinggang kanannya.
“Barusan aku lihat segerombol orang menembus hutan dari Utara dengan kecepatan tinggi setelah aku melihat kembang api berwarna abu-abu. Malah mereka disini mengepung orang.” Pria itu menunjuk salah satu dari Soul Knight itu.
Soul Knight yang mendengar itu kesal karena dikatai mengepung orang, tetapi itu tidak salah juga. Mereka akhirnya menyerang Slitherio, Geisha dan pria yang tadi baru datang.
Perbedaan jumlah nyatanya tidak membuat Slitherio bersama Geisha dan 'orang baru' itu kesulitan. Bahkan Slitherio semakin menikmati pembantaian yang dilakukannya.
‘Orang baru’ itu bahkan sempat-sempatnya tersenyum saat menebas kepala para Soul Knight itu. Tindakannya membuat Soul Knights yang tersisa semakin berambisi membunuhnya bersama Slitherio.
Slitherio melihat sepertinya 'Orang baru’ itu lebih menekankan Pointnya di STRnya karena memang kekuatan serangnya sangat tinggi. Belum pernah ia melihat orang itu melepaskan Skillnya. Pertarungan itu berhenti ketika terdengar sebuah seruan.
“Berhenti atau aku bunuh dia!”
Bonus Chapter: 9/10
__ADS_1