
Jarak antara Kota Verys dengan Kota Hostix sebenarnya adalah satu bulan perjalanan jika ditempuh dengan melesat di daratan dan sekitar kurang dari setengah bulan jika terbang di udara. Itupun jika kemampuan terbang seseorang amat cepat.
Slitherio termasuk salah satunya, Phoenix yang mampu melesat dengan kecepatan tinggi. Dengan skill Fly ditambah dengan Wind Step dan kemampuan dasarnya, sudah pasti dirinya hampir disetarakan dengan Alex si pemilik kecepatan tertinggi di Midvast.
Hari ini sudah menjadi hari ketiga sejak Slitherio meninggalkan Kota Verys dan pulang menuju Kota Hostix. Sudah tiga hari pula dirinya terus tersambung tanpa henti dan ia terus terbang selama tiga hari pula tanpa istirahat.
Memang, jika terbang di udara akan menghabiskan banyak Stamina, Stamina itu dapat dipulihkan menggunakan Stamina Potion. Kebetulan Slitherio memiliki Stamina Potion yang melimpah di Inventorynya.
Masalahnya adalah kondisi tubuh Slitherio di dunia nyata. Mungkin tubuh Slitherio di dunia nyata akan mengalami kelelahan yang amat sangat setelah melewati perjalanan sejauh itu dalam waktu yang singkat.
Mungkin Stamina Potion dapat memulihkan Stamina di dalam permainan, tetapi tidak di dunia nyata.
Dengan kecepatan Slitherio saat ini, kemungkinan Slitherio akan sampai di Kota Hostix pada hari ketujuh.
“Bosan...” gumam Slitherio saat di udara. Hari sudah malam saat Slitherio melintasi perbatasan antara sebuah hutan dan Wilayah Netral selanjutnya, yaitu Wilayah Netral lokasi kota Hostix berada.
Wilayah Netral mungkin semakin berkurang di Midvast, tetapi jumlah dan ukurannya sulit dibayangkan. Sebuah Wilayah yang tidak diakui oleh kerajaan manapun memiliki luas yang melebihi luas King Forest yang menyandang gelar sebagai hutan terluas di Midvast.
Jika luas sedunia, mungkin dimiliki oleh Benua Eastest di sebelah timur bumi.
Benua di dunia dibagi menjadi lima, yaitu Benua Northev, Eastest, South, Westerie, dan Midvast.
Diantara Benua Midvast dan Benua Eastest, ada sebuah kepulauan yang amat luas, yang terdiri dari sebelas pulau yang disebut dengan nama Gods Island.
Tujuan terakhir bagi orang-orang yang ingin menapaki jalan dewa adalah pergi ke Gods Island.
Slitherio setidaknya sudah memperkirakan jarak antara Midvast dengan Gods Island melalui map baru yang sudah ditambahkan sekitar sebulan lalu.
Jaraknya sekitar satu bulan perjalanan dengan mengarungi luasnya samudra yang dipenuhi oleh berbagai macam jenis monster yang mengerikan.
Tetapi dalam Kisah para Dewa, Dragon God Chao bersama dengan sebelas manusia yang berhasil menjadi manusia setengah dewa pergi ke tempat itu selama seminggu.
Jika mereka pergi selama itu, artinya kecepatan Dragon God Chao sulit dibayangkan secara akal sehat.
__ADS_1
Kecepatan Slitherio ini saja sudah susah payah ia capai, apalagi kecepatan Chao yang berada di luar akal sehat.
Slitherio menepuk pipinya, ia menghilangkan pikiran itu Agara dirinya semakin berusaha mencapai semua syarat menjadi dewa.
Slitherio mempercepat terbangnya sambil tersenyum tipis, memang permainan ini sulit karena adanya sebuah misteri tentang keberadaan dua kekaisaran yang kekuasaannya sampai membagi benua Midvast menjadi dua bagian.
Slitherio memejamkan matanya, perjalanannya di dunia ini akan terasa lebih sulit daripada perkiraannya sebelumnya.
***
Hari ketujuh...
Kota Hostix akhirnya dekat dengan posisi Slitherio sekarang. Kecepatan Slitherio semakin merendah ketika ia memasuki Midvast Utara dan semakin melambat saat mendekati hutan yang dekat dengan Kota Hostix.
Slitherio memutuskan untuk mendarat dan beristirahat, sebagai Phoenix seharusnya ia memiliki stamina yang besar, tapi kenapa sekarang ia menjadi cepat lelah.
Slitherio akhirnya duduk dan mencoba memejamkan matanya. Hari memang masih terang, tetapi lelahnya Slitherio tidak bisa dihentikan.
***
Li datang dan mendekati FastStone yang sedang memperhatikan katana milik Tsuyoshi. Tsuyoshi sendiri sedang duduk di ujung Tebing Keabadian bersama FastStone, Naze, dan Lynx.
Sebagai pengguna pedang dan mantan pengguna pedang, tentu Tsuyoshi, Naze, dan Lynx penasaran, bagaimana cara FastStone mengendalikan tujuh pedang yang dimilikinya.
Ditambah dengan beratnya jirah yang ia pakai, kemungkinan dirinya bertarung dengan leluasa dan tenang amatlah sedikit.
“Satu caranya adalah selalu berada di depan sambil membawa perisai dan pedang, biarkan enam pedangmu melaksanakan perintahmu sendiri.” Kata FastStone saat ditanya oleh Tsuyoshi.
“Ada yang ingin ikut denganku?” Li datang dan ikut duduk bersama mereka.
“Kemana?” tanya Naze.
“Mencari Jade Stone dan Heaven Wood.” Li tersenyum lebar.
__ADS_1
“Kau gila, ya? Mencari Heaven Wood itu sama sulitnya seperti mencari 1 Diamond!” Lynx memukul kepala Li dan menjatuhkannya sampai tersungkur.
“Lagipula, untuk apa dua benda itu?” FastStone mengangkat Li, “Apa kau mau Music Instrument yang baru?”
Li mengangguk, “Aku ingin Music Instrument yang lain dari yang lainnya.” Li menunjukkan sebuah kertas, kertas itu berisi gambar sebuah seruling yang diukir dengan gambar naga dan daun.
Tsuyoshi meraih kertas itu dan memperhatikannya, ia merasa seperti mengenal benda itu, “Aku merasa mengenalnya...” Tsuyoshi berpikir keras.
FastStone ikut melihat gambar itu dan menaikkan bahunya tanda ia tidak mengetahui tentang seruling itu. Naze dan Lynx mengangkat bahu mereka.
“Itu adalah Heaven Flute, salah satu dari pusaka Art Goddess Reiy. Dan itu adalah aku...” cahaya terang menyinari Tebing Keabadian yang memang sudah terang dan cahaya itu sangat menyilaukan.
Dari cahaya itu, terbentuk seorang manusia yang memakai jubah putih yang terlihat kebesaran. Ia melayang dan turun dengan perlahan kemudian berdiri dihadapan semua orang yang ada di tebing itu.
Li melebarkan matanya, dia adalah Goddes Reiy, Dewi Seni yang dihormati oleh semua seniman di seluruh Midvast. Dia dianggap sebagai salah satu dewa-dewi yang dibawa oleh salah satu dari Twelve First Gods ke Gods Island dan menerima ajaran suci dari Tuhan.
“Apa kau menginginkan Heaven Flute? Aku memilikinya sekarang...” Reiy mengeluarkan sebuah seruling yang dilapisi oleh emas, dengan ukiran naga dan daun di sekujur tubuh seruling itu.
Li menadahkan tangannya, tanda ia menerima seruling itu. Reiy memberikannya pada Li lalu berkata, “Seruling ini harus kau pakai untuk melawan kejahatan, bukan untuk mendukung kejahatan. Dan bila kau melanggar hal itu, seruling ini akan kembali kepadaku dan kau akan kehilangan hak kepemilikan seruling ini.”
Li mengangguk dan menatap Reiy, “Saya ada satu permintaan lagi, Dewi...”
“Apa itu?” Reiy mengusap dagunya.
“Berikan saya pelajaran penting tentang Seni Musik. Saya yang sekarang tidak memiliki pengetahuan yang lengkap tentang Seni Musik, dan tak ada yang dapat memberikannya ke saya serta hanya anda seorang yang mampu memberikan pelajaran tentang Seni Musik!” Li bersujud dan menyentuhkan kepalanya ke tanah.
Tsuyoshi, FastStone, Naze, dan Lynx membuka mulut mereka lebar-lebar, tak pernah mereka sangka kalau dewa itu benar-benar ada.
“Apa maksud kalian?” Reiy menatap Tsuyoshi, FastStone, Naze, dan Lynx bersamaan.
“Ti-tidak ada...” mereka menundukkan kepala mereka dan menggaruk kepala mereka bersamaan.
Hari itu, akan dikenang sebagai harinya Li berhasil menemukan jalan dewanya yang sebenarnya dan mendapat bimbingan langsung dari Dewi Reiy, sang Art Goddess.
__ADS_1