
Air terus mengalir sampai pada akhirnya danau buatan itu terisi air sepenuhnya.
Whu mengusap keningnya yang tidak berkeringat lalu menatap semuanya, “Lihat, jadi kan?”
Tsuyoshi, Atra, Dee, dan Sen mengangguk setuju. Li menatap danau itu lalu bertanya, “Akan kau apakan danau ini?”
“Memberinya nama lalu mengalirkannya ke kota.” Jawab Whu sambil menatap kota.
Tiba-tiba, matanya menemukan sesosok pria berjubah merah yang keluar dari gerbang lalu berjalan mendekati mereka semua.
“Hmm, idemu boleh juga, Whu...” Pria itu bukan lain adalah Slitherio. Slitherio mengelus dagunya sambil menatap jalur air dan danau itu bergantian.
Whu hanya tersenyum lebar dan yang lainnya menepuk dahi mereka masing-masing.
“Pertanyaanku adalah, apa kalian mengetahui kondisi danau yang airnya kalian ambil itu?” tanya Slitherio sambil tersenyum lebar.
Senyuman Whu menghilang saat Slitherio menanyakan hal itu, “Itu...”
“Sudahlah, yang penting sekarang kota kita kedatangan tamu...” ujar Slitherio lalu berbalik dan berjalan kembali ke kota.
“Tamu?” Tsuyoshi, Atra, Sen, Whu, Dee, dan Li bertanya bersamaan.
“Kalian lihat nanti...”
***
“Ini...” mulut Tsuyoshi, Atra, dan Li terbuka lebar saat mereka melihat Vue yang tubuhnya kaku.
“Ketua apakan dia?” Dee bertanya pada Slitherio.
Sebelumnya, Slitherio sudah berkata pada Enam Pilar Naga agar memanggilnya dengan sebutan Ketua karena Slitherio merasa sedikit tidak enak saat dipanggil dengan sebutan Tuan.
Karena tak ingin dianggap membantah perintah Slitherio, Enam Pilar Naga akhirnya menyetujui hal itu dan memanggil Slitherio dengan sebutan Ketua.
“Aku beri dia Flame Seal agar dia tidak lari selama berada di Gate of Beast Hell.” Slitherio menepuk kepala Vue pelan sambil tersenyum lebar.
Vue menelan ludahnya, ia bisa merasakan kalau kekuatan orang-orang di hadapannya kini setidaknya menyetarai Slitherio ataupun sedikit di bawahnya.
Vue tidak yakin bisa kabur dari tempat ini karena ia juga merasakan banyak sekali orang yang memiliki kekuatan yang amat besar, terlebih lagi saat ia dan Slitherio berjalan menuju markas Guild.
“Nah, apa kau sudah memikirkan tawaranku tadi?” Slitherio mengangkat tangannya dari atas kepala Vue lalu mengangkat dagu Vue. Sekilas Slitherio terlihat seperti menyiksa orang.
Vue tak ada pilihan selain mengangguk dan sebuah jendela informasi muncul dihadapannya.
[Desamu akan dimasuki oleh 1 Dracula!
Terima?]
“Terima...” Slitherio melepaskan Flame Seal di tubuh Vue dan seketika Vue berlari ke pojok ruangan lalu meringkuk disana.
Slitherio mengangkat alisnya saat melihat Vue meringkuk di pojok ruangan. Yang lainnya menepuk dahi mereka dan bertanya-tanya, apakah Vue mengalami sebuah trauma karena melihat Slitherio.
Suara pintu diketu terdengar kemudian Ovyx, Zynga, Geisha, dan Renne masuk sambil membawa seorang pria yang memiliki tubuh pendek.
“Oh, kau sudah balik?” Geisha melihat Slitherio disana dan mendekat, “Kau menepati kata-katamu lima jam lebih lalu...”
Slitherio menepuk kepala Geisha pelan kemudian menatap pria yang dibawa oleh Geisha, “Siapa dia?”
Geisha lalu bercerita tentang kegiatannya berburu bersama tiga orang itu. “Sambil mengisi waktu...” ujar Geisha.
Saat mereka berburu, mereka melihat sebuah desa yang diserang oleh sekelompok katak yang jumlahnya melebihi dua puluh ekor katak.
Mereka akhirnya memilih menyelamatkan desa itu dan mengusir para katak itu. Tapi sialnya, penduduk desa itu hanya tersisa kurang dari lima puluh orang.
“Satu lagi, aku sempat melihat seseorang yang memakai jubah hitam motif api ungu dengan mata yang berwarna merah sedang berdiri di atas sebuah pohon...” Ovyx ikut menambahkan cerita, “Saat aku melihatnya dengan seksama, dia menghilang...”
__ADS_1
“Mata merah?” Slitherio mengelus dagunya, ia seperti mengenal ras yang memiliki mata berwarna merah.
“Jubah hitam dengan motif api ungu dan mata merah? Aku tahu dia...” Vue berkata dengan tubuh yang masih meringkuk.
“Siapa dia?” Geisha memasang posisi siaga, Ovyx dengan Zynga menatap Vue dalam-dalam.
“Dia adalah anggota baru Guard of Hostix.” Slitherio memperkenalkan Vue dengan tangan yang menunjuk ke Vue.
“Dia anggota Hell Empire?” Tsuyoshi, Atra, Dee, Sen, Whu, Geisha, Renne, Ovyx, dan Zynga menatap Slitherio kebingungan.
“Apa kau yakin membawa musuh ke sarang kita?” Whu menatap Slitherio khawatir, jelas ia khawatir karena menurutnya, Slitherio sudah gila karena membawa anggota Hell Empire ke Kota Hostix.
“Aku membawanya karena ingin menyanderanya untuk kumintai informasi mengenai Hell Empire.” Jawab Slitherio dengan santai.
“Kau bisa santai begitu? Setelah membawa musuh kemari?” Zynga menunjuk Vue yang masih meringkuk, “Atau mungkin ucapanmu tadi itu benar...”
Mereka bisa melihat kalau Vue terlihat ketakutan saat bertatapan dengan mereka semua.
“Dan aku membawanya juga karena ingin membuat satu pasukan yang isinya para Dracula...” Slitherio tersenyum lebar.
“Apa kau juga yakin kalau ia tidak akan merusuh disini nantinya?” Renne menatap Vue dengan penasaran.
“Kalau kalian tidak percaya denganku, biar dia tinggal di kediamanku terlebih dahulu...” Slitherio melipat tangannya.
“Panggil semua wakil ras yang tinggal di Kota Hostix, aku akan melakukan pertemuan dengan mereka...” Slitherio menunjuk Dee yang sejak tadi menyimak. Dee mengangguk kemudian melesat keluar.
Di Kota Hostix, Slitherio berhasil mengumpulkan ras Ilith, Dark Elf, Dark Dwarf, Moon Elf, dan yang baru adalah Dracula dan Dwarf.
Dengan begitu, Kota Hostix berhasil menjadi kota dengan jenis ras terbanyak di Midvast.
Biasanya, para ras akan saling membeda-bedakan ras yang lain, tetapi tidak di Kota Hostix.
Disini, empat ras saling membantu dan tidak ada yang membeda-bedakan diantara mereka. Jikapun ada masalah, mereka akan mengadu pada Asheuin dan ia akan membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Beberapa saat kemudian, wakil dari ras Ilith, Dark Dwarf, Dark Elf, dan Moon Elf datang kemudian memberi hormat mereka dengan menundukkan sedikit tubuh mereka.
“Hari ini aku membawa sebuah rancangan baru untuk pertahanan Kota Hostix...” Slitherio menunjuk Vue yang masih meringkuk, “Dia akan memperkuat Guard of Hostix dan Enam Pilar Naga. Namanya adalah Vue BloodStream.”
Tatapan empat wakil ras itu tidak terlihat membenci Vue, malah mereka sangat ingin berkenalan dengan Vue.
“Lalu aku juga membawa satu ras baru, yaitu Dwarf.” Slitherio memanggil Dwarf yang sejak tadi menyimak pembicaraan Slitherio dan yang lainnya, “Perkenalkan dirimu...”
Dwarf itu memperkenalkan dirinya sebagai Elif Sinsine, kepala desa ras Dwarf yang dihancurkan oleh sekelompok katak.
Ia lalu menatap Slitherio dan bertanya, “Apa kami boleh tinggal disini?”
[Desamu akan dimasuki oleh 50 Dwarf!
Terima?]
“Tentu saja, kami selalu menerima para pendatang dengan tangan terbuka...” perwakilan dari ras Ilith merentangkan tangannya. Slitherio mengangguk.
Slitherio berencana akan membuat satu pasukan yang isinya adalah para Dracula. Karena ras lain sudah memiliki pasukan masing-masing, maka Slitherio akan membuatnya juga untuk ras Dracula.
Slitherio membubarkan mereka lalu berjalan menuju ujung tebing bersama Geisha yang mengikutinya.
Hari sudah semakin sore ketika Slitherio membubarkan pertemuan itu dan duduk di ujung tebing bersama Geisha.
Akhir-akhir ini, mereka berdua memang suka duduk di ujung tebing jika hari sudah sore. Entah apa penyebabnya, mereka suka duduk di ujung tebing yang dibawahnya adalah laut.
“Apa kau memiliki alasan untuk mengangkat pedangmu?” suara berat seorang pria terdengar di belakang keduanya dan keduanya menoleh untuk melihat pemilik suara itu.
Dia adalah Gaburon, sang Sword God yang sekitar setengah bulan lalu berkunjung ke tempat ini untuk mencari Reiy dan juga memberi pelajaran bagi semua anggota Guild Sevens.
“Apa alasanmu mengangkat pedangmu?” Gaburon bertanya lagi kemudian berjalan mendekat dan duduk di sebelah Slitherio.
__ADS_1
“Alasan?” Slitherio bergumam. Geisha menatap Slitherio yang kebingungan.
“Menciptakan kedamaian di Midvast, mungkin?” Slitherio menjentikkan jarinya, ia menatap Gaburon lagi.
“Jika ada kata 'Mungkin' di alasan itu, artinya kau meragukan alasan itu...” Gaburon menepuk pundak Slitherio pelan.
“Sebuah pedang akan terasa lebih kuat jika diisi dengan sebuah alasan, kenapa kau mengangkat pedangmu.” Gaburon menatap laut.
“Sebut saja Asheuin itu. Dia dahulunya memiliki sebuah dendam karena kerajaannya dihancurkan, sebab itulah kenapa pedangnya mampu menebas apapun yang ada yang menghalangi jalannya membalas dendam.” Gaburon menatap Slitherio dan Geisha bersamaan.
“Sama seperti alasanmu tadi, jika kau menghilangkan kata 'Mungkin’ di alasan itu maka percayalah, suatu saat alasan itu akan terkabul dan kau tak perlu lagi mengangkat pedangmu.”
“Ada satu ucapan yang dibuat oleh God Zein, aku berubah menjadi pedang dan menciptakan kedamaian di seluruh dunia.” Gaburon lalu terhenti ketika menyadari ucapan God Zein itu sama dengan alasan Slitherio mengangkat pedangnya, “Aku juga memiliki ucapan God Zein saat ia melatihku dulu...”
“Aku berubah menjadi pedang bukan karena ingin terkenal, tetapi ingin menghancurkan kegelapan dan menciptakan kebenaran di dunia. Aku berubah menjadi pedang dan menciptakan kedamaian sejati di seluruh dunia. Aku berubah menjadi pedang, menemukan dunia dalam diri seseorang dan menjaganya dengan seluruh jiwaku. Aku berubah menjadi pedang dan akan terus menjadi pedang untuk menghentikan kekacauan yang terjadi di seluruh dunia!”
Gaburon mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas. Slitherio masih memikirkan makna dari ucapan God Zein itu.
“Bagaimana? Apa kau sudah paham?” Gaburon menatap Slitherio, “Asal kau tahu saja, pencapaian God Zein pada penguasaan pedang sudah mencapai tahap yang sulit dipikirkan dengan akal sehat.”
God Zein berhasil mencapai penguasaan pedang dengan tahap Menyatu dengan Pedang. Istilahnya pada Remaist Online adalah tingkat Master.
Tahap Menyatu dengan Pedang, membuat pemilik tahapan ini memegang pedang seperti memegang anggota tubuhnya sendiri. Tahapan ini terbilang mengerikan karena membuat pemilik tahapan ini menggunakan anggota tubuhnya sendiri sebagai pedang dan bisa menggunakan berbagai benda di sekitarnya sebagai pedang, entah itu ranting atau bahkan rambutnya sendiri.
Pemilik tahapan ini hanya ada dua belas di seluruh dunia dan itu adalah Twelve First Gods.
Slitherio dan Geisha bergetar saat mendengar ucapan Gaburon itu. Kekuatan para dewa memang sulit dipikirkan dengan akal sehat manusia.
“Tak usah dipikirkan, mungkin nanti kalian berdua bisa memiliki tahapan setinggi itu juga di masa depan...” ujar Gaburon sebelum menghilang dari pandangan keduanya.
Slitherio menghela napas panjang setelah Gaburon menghilang, sulit baginya untuk mempercayai bahwa ada tingkatan seperti itu dalam penguasaan pedang.
“Apa kau tahu kalau penaklukan Gate of Beast Hell mungkin akan menciptakan teror di seluruh Midvast?” Geisha bertanya sambil menatap laut.
“Maksudmu?” Slitherio kebingungan. Teror? Kenapa?
“Seluruh jendral Hell Empire akan keluar dari persembunyian mereka dan saat itu juga, Hell Empire akan menampakkan wujud mereka di dunia lagi, sebagai salah satu dari dua kekaisaran terbesar di masa lalu.” Geisha berkata sambil menatap Slitherio hangat.
“Hmm, kenapa kau menatapku seperti itu?” Slitherio menggaruk kepalanya saat melihat tatapan Geisha.
“Tak apa...” Geisha hanya tersenyum lebar dan kembali menatap laut.
Catatan Penulis:
Mulai chapter ini dan seterusnya, saya akan rilis satu chapter perhari seperti sebelumnya.
Alasannya karena saya sudah numpuk tugas sejak akhir bulan lalu sampai sekarang.
Jadi saya mau rilis satu chapter perhari dan jika ada sedikit waktu maka saya akan rilis lebih dari satu chapter.
Saya yang dulunya sedikit malas malah semakin malas karena menjadi penulis. Saya tidak paham akan hal itu.
Saya juga semakin jenuh karena memang cerita ini sudah melenceng jauh sekali dari rancangan awal cerita ini.
Seharusnya Slitherio tidak bertemu dengan Gaburon ataupun Reiy. Malah di ceritanya mereka bertemu.
Sekitaran Chapter 06 dan Chapter 07 seharusnya Slitherio sudah berlevel 500 dan para pemain profesional berlevel 550.
Slitherio seharusnya tidak membuat Guild, tetapi terus bermain solo sepanjang permainan, bahkan sampai ia menjadi God.
Seharusnya sih seperti itu, saya mau ikutin rancangan awal lagi juga tidak bisa karena saya sudah banyak sekali mengubah alurnya sejak akhir pertempuran di perbatasan itu.
Sebab itulah, kalian pasti menemukan banyak sekali kegabutan yang mungkin dilakukan oleh Slitherio dan yang lainnya. Itu adalah pencerminan dari keseharian penulis yang semakin gabut mencari ide. :(
Sudah sampai disini dulu, sampai jumpa besok.
__ADS_1
Salam,
Rio.