
Jay menatap makanan yang tersaji di hadapannya lalu berkata sambil menangkupkan kedua tangannya, “Selamat makan...”
Jay mengambil sendok yang diletakkan di sebelah piringnya lalu memakan makanannya dengan diam. Delapan Dewa lainnya menangkupkan kedua tangan mereka lalu makan dalam diam.
Slitherio, Sean, FastStone, dan Atra saling tatap, sedangkan Naze dan Li menangkupkan kedua telapak tangannya lalu makan. Geisha dan Clarey menggaruk kepala mereka lalu melakukan apa yang Naze dengan Li sebelumnya lakukan.
Slitherio menghembuskan napasnya lalu makan. Sean, FastStone, dan Atra akhirnya ikut makan dalam diam bersama dengan sembilan dewa.
Slitherio tidak mengetahui trik apa yang dipakai oleh sembilan dewa sampai mereka bisa makan dalam waktu singkat.
Saat Slitherio baru menghabiskan seperempat dari bagian miliknya, sembilan dewa sudah selesai makan dan duduk tenang.
“Sulit?” tanya Jay ketika Slitherio dan yang lainnya sudah selesai makan. Slitherio menaikkan alisnya.
“Apanya sulit?” tanya Sean. Ia menatap Jay.
“Ujiannya, apakah sulit?” tanya Jay lagi.
“Kalau ujiannya mudah, bukan ujian lagi namanya...” FastStone menepuk dahinya. Apakah logika semacam ini terdengar aneh bagi sembilan dewa?
“Kau bertanya pertanyaan yang salah...” Max menyikut Jay lalu menatap Slitherio, “Maksudnya adalah apa kalian ingin kesulitannya ditambah?”
Slitherio, Sean, FastStone, Atra, Clarey, dan Geisha mengangguk sedangkan Naze dan Li menggeleng.
“Tidak usah ditambah...” Naze masih membayangkan dirinya yang dipaksa untuk tetap berlari selama lebih dari dua belas jam disaat kakinya sudah lemas dan lelah oleh Sean.
“Baiklah, aku tambah...” Zein meregangkan jari-jarinya, “Jangan membantah...”
Luna menepuk dahinya sedangkan sisanya hanya mengusap wajah mereka kasar. Eny menatap Zein, “Ujian selanjutnya apa? Kuharap aku bisa ikut...”
“Mudah saja, berdiri di atas laut yang bergelombang selama dua belas jam...” Zein menjentikkan jarinya.
Slitherio dan Sean menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan keras. HP mereka turun ke angka 99%.
__ADS_1
“Bukankah kalian ingin tambah?” tanya kina dengan nada seolah dia tidak mengetahui kesulitan mendaki gunung tanpa batas.
“Tapi jangan sesulit ini juga...” FastStone menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menyesal telah mengatakan ingin menambah kesulitan.
“Kalau begitu kami beri kalian waktu istirahat serta latihan selama dua minggu. Waktu itu juga silahkan dipakai untuk mengembalikan stamina kalian yang hilang selama seminggu itu.” Monte berkata dengan senyum.
“Dua minggu? Bukankah itu terlalu lama?” Tany menatap Monte. Ia mengingat waktu jeda setiap ujian mereka dahulu adalah selama seminggu saja, tidak selama ini.
“Lama, ya?” Monte mengelus dagunya, “Kalau begitu seminggu lebih dua hari saja kalian istirahat, bagaimana?”
“Sudahlah, kalau kita memberi mereka istirahat lebih singkat lagi bisa-bisa mereka stress dan pingsan saat ujian...” Max menaikkan bahunya.
“Sepakat kalau kita akan kembali melanjutkan ujian seminggu lebih dua hari lagi, sampai jumpa Zein...” Jay mengayunkan tangannya dan seketika delapan Dewa menghilang dari pandangan, kecuali Zein.
“Nah, sesuai dengan waktu yang telah diberikan oleh Monte, kalian boleh istirahat selama itu dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya...” ujar Zein lalu berjalan meninggalkan mereka semua.
Slitherio menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan berkata, “Tak kusangka kita bisa sejauh ini dalam waktu singkat...”
Jika dihitung dengan waktu sejak mereka meninggalkan Kota Hostix, mereka sudah melewati sebanyak tiga minggu kurang tiga hari. Waktu yang amat singkat untuk sebuah perjalanan menjadi dewa.
Sebut saja Slitherio, Sean, dan FastStone. Ketiganya mengaku mendapat ingatan baru tenatng ilmu pedang padahal mereka baru memegang pedang selama lebih dari satu tahun.
Entah apa penyebabnya, mereka bisa mempraktikkan semua ilmu senjata mereka ke dunia nyata. Tetapi yang pasti hal seperti ini bukanlah hal yang buruk.
***
Siang hari...
Mereka memutuskan untuk beristirahat di perpustakaan karena tempat itu memang disediakan untuk mereka semua.
Untung saja penjaga perpustakaan yang bergelar Book God mengizinkan mereka tinggal sehingga Slitherio dan mereka yang sebelumnya tinggal di rumah guru masing-masing.
“Apa kalian tidak mendapat tempat istirahat atau kehabisan penginapan?” tanya sang Book God Vin.
__ADS_1
“Bukan begitu, hanya saja mereka ini tidak terlalu suka tinggal di penginapan yang ramai...” ujar Geisha mewakili Slitherio dan yang lainnya.
“Baiklah, tetapi ingat jangan pernah membuat keributan di tempat sunyi ini...” ujar Vin lalu melanjutkan pekerjaannya merapikan buku.
Akhirnya mereka pergi ke tempat Atra, Geisha, dan Clarey biasa belajar ataupun melakukan berbagai kegiatan.
“Bagian kalian bagus, ya?” tanya Sean begitu mereka sampai di tempat mereka diletakkan.
“Bagus dimananya? Tempat ini isinya buku saja, tau?!” Atra menjambak rambutnya sambil menunjuk ke depan, ke tempat biasanya ia duduk membaca buku, “Aku rasanya ingin mati saja karena hanya ditemani oleh tumpukan buku saja!”
“Sstt!” Vin yang berada jauh di depan meminta Atra diam dengan keras.
Ruangan mereka bisa dibilang luas dan hanya dikelilingi oleh rak-rak berisi buku kuno ataupun buku yang ditulis oleh sembilan dewa elemen jika mereka berkunjung ke bumi.
“Aku sudah membaca semuanya dan aku menemukan satu rak yang kurang lebih bisa melengkapi skill kita...” Atra berjalan ke sebuah rak, diikuti oleh Slitherio, FastStone, dan Li. Sean sendiri memilih rebahan saja bersama dengan Naze di kamar Atra.
“Oi, kamarmu bagus juga!” teriak Sean dari kamar Atra yang berada di sebelah ruangan itu.
Atra diam saja, “Nah, inilah rak yang kumaksud...” Atra menunjuk ke sebuah rak yang bukunya semua bersampul berwarna coklat.
“Aku coba ambil ini...” Slitherio meraih satu buku yang terlihat baru dari yang lainnya, “Flame Man Vile?”
“Oh, itu adalah penyempurnaan dari skill milikmu sebelumnya yang kau pakai saat melawan Visidha di stadium itu dan ini adalah versi kuatnya...” ujar Atra, “Aku pernah membaca buku itu sebelumnya dan aku kebingungan dengan tulisannya yang amat rapi...”
“Tulisan rapi begini kau bilang membingungkan?” Li mendekat dan melihat isi buku itu. Tiba-tiba, Li menjauh sambil menutup matanya lalu berteriak keras, “Mataku!”
Slitherio melirik Li dengan datar, “Apa yang kau lakukan?”
Atra ikut melihat Li, “Sepertinya reaksimu terhadap buku itu sama denganku sebelumnya...”
“Ada... Bayangan manusia api diantara tulisan itu...” Li menunjuk buku itu dengan ketakutan, “Dan ia langsung menyergap mataku...”
Slitherio menatap Li dengan datar, “Tidak usah berbohong, jelas-jelas kalau buku ini hanya buku biasa yang mengandung...” Slitherio tidak menyelesaikan kalimatnya saat ia mencoba melihat buku itu lebih dalam lagi.
__ADS_1
“Benar, bayangan api yang amat hebat dan kuat...” Slitherio menutup buku itu lalu berkata, “Aku akan membaca buku ini...” ujarnya sambil memeluk buku itu lalu meninggalkan Atra, FastStone, dan Li.