
Ryan berjalan mengikuti Raisya yang membawanya ke tempat makam kedua orang tuanya. Semakin jauh Ryan semakin mengenali jalan yang dilewatinya ketika berkunjung ke makam kedua orang tuanya.
“Bukankah ini jalan menuju...” Ryan berpikir keras hingga bayangan sebuah tempat terlintas di pikirannya dan bayangan itu menjadi nyata di dunia nyata.
Ryan menundukkan kepalanya, “Tuhan, rencana apa lagi yang sudah kau buat untuk hambamu ini?”
Mereka terus berjalan, melewati makam kedua orang tuanya dan akhirnya sampai di dua makam yang diletakkan bersebelahan.
Letak antara kedua makam itu dengan makam kedua orang tuanya bisa dikatakan terpaut cukup jauh. Yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa ia tidak menyadari kedua makam ini sebelumnya.
“Ryan, ini adalah makam kedua orang tuaku...” ucap Raisya kemudian berlutut di depan kedua makam itu.
“Dan makam kedua orang tuaku ada disana.” Ucap Ryan sambil menoleh ke arah makam yang letaknya terpaut cukup jauh dengan makam yang ada dihadapan mereka saat ini.
Raisya tertawa kecil sambil bergumam, “Kita sepertinya selalu ditakdirkan bersama...”
“Apa kau bilang?” tanya Ryan sambil memegang kedua telinganya.
Pertanyaan Ryan membuat pipi Raisya memerah, tapi ia menyembunyikan perasaan itu, “Tidak ada...”
“Oh...” jawab Ryan kemudian membelakangi Raisya yang memasang wajah kesal.
“Dasar tidak peka...” Raisya melirik Ryan yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya.
Jam menunjukkan pukul empat kurang lima belas saat Raisya bangun dari berlututnya dan menatap Ryan, “Apa kau mau berkunjung ke makam kedua orang tuamu?”
Ryan mengangguk pelan kemudian berjalan meninggalkan Raisya yang masih berdiri di tempatnya. Raisya memilih mengikutinya.
Saat Ryan sampai di makam kedua orang tuanya, ia berlutut di depan makam itu dan bergumam pelan.
Raisya menatap batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tua Ryan. Ia juga sempat melihat tanggal lahir kedua orang tuanya dan juga tanggal meninggal kedua orang tuanya.
“Ini... Tidak mungkin...” ia melihat tanggal meninggal kedua orang tua Ryan sama dengan tanggal meninggal kedua orang tuanya. Raisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking terkejutnya.
Ryan bangkit dari berlututnya kemudian bertanya, “Apa ada masalah?”
Raisya menarik kerah jaket Ryan dan bertanya, “Kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Tentang?”
“Kedua orang tuamu yang satu pesawat dengan kedua orang tuaku?” tanya Raisya semakin mendekatkan kepala Ryan padanya.
__ADS_1
“Ehem, aku lupa... Lagipula kau semangat bercerita tentang kejadian yang terjadi setelah kita tidak bertemu lagi, bukan?” Ryan menatap mata Raisya, “Dan bisakah kau melepaskan genggamanmu pada kerah jaketku? Aku tidak terbiasa berada pada kondisi ini...”
Raisya menyadari tindakannya dan melepaskan genggamannya pada kerah jaket Ryan. Pipinya memerah saking malunya.
Untung saja tidak ada orang di sekitar mereka sehingga tidak menimbulkan keributan yang tidak diinginkan.
Disaat Ryan masih merapikan jaketnya, Raisya memeluk tubuh Ryan, “Biarkan aku seperti ini sejenak...”
Ryan yang tidak tau harus berbuat apa memilih membalas pelukan Raisya padanya. Ia tidak pernah merasakan kejadian seperti ini sehingga melakukan sebagaimana yang pernah ia lihat di salah satu serial televisi yang tidak sengaja ia lihat.
“Sudah lama aku ingin seperti ini denganmu...” bisik Raisya pelan.
Ryan mendiamkan Raisya memeluknya. Lagipula Ryan juga ingin merasakan rasanya dipeluk oleh orang lain selain ibunya sendiri.
Rasa hangat seperti ini sudah hampir dilupakan oleh Ryan, hal yang sama juga terjadi pada Raisya. Mereka sudah lama tidak merasakan kehangatan ini.
Raisya semakin mengeratkan pelukannya, tetapi Ryan melonggarkan pelukannya hingga akhirnya Ryan hanya berdiri diam membiarkan dirinya yang dipeluk.
“Sudah selesai?” tanya Ryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Belum, biarkan aku lebih lama lagi seperti ini...” bisik Raisya.
Untung saja tidak ada orang di pemakaman sehingga Raisya bisa memeluk Ryan lebih lama.
Ryan menatap bingung Raisya, “Dia yang memelukku duluan tetapi ia juga yang mendorongku? Apa maunya sebenarnya?”
Raisya menatap jam tangannya kemudian mendekati Ryan, “Antar aku pulang...”
Ucapan Raisya berhasil membuat Ryan bertambah bingung. Tetapi ia harus mengantarkan Raisya pulang, siapa tau jalan pulang keduanya searah.
Mereka meninggalkan pemakaman dengan beberapa kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.
***
Perjalanan kali ini terasa lama karena ada tambahan satu orang lagi dalam perjalanan Ryan.
Raisya sesekali bertanya bagaimana Ryan hidup hingga saat ini yang menurut Ryan sendiri terasa aneh pertanyaannya.
Namun ia berusaha menjawab sebisanya ia menjawab.
“Ya begitulah, hidupku terasa sepi hingga akhirnya aku menemukan permainan Remaist Online dan memainkannya saat waktuku senggang.” Jawab Ryan kemudian teringat sesuatu.
__ADS_1
“Raisya, kau tadi berkata ada namamu di daftar Top Global. Apa mungkin kau bermain Remaist Online?” tanya Ryan.
“Tentu saja. Bahkan namaku masuk nomor tujuh dari sepuluh besar.” Jawab Raisya dengan senang, ia kemudian bertanya, “Ryan, apa kau masuk daftar Top Global?”
Sebenarnya Raisya hanya ingin memastikan dugaannya benar, ia sempat melihat nama Slitherio berada pada posisi paling atas Top Global karena seingatnya username Ryan dulu adalah SLITHERIO.
Ryan tidak ada pilihan selain menjawab apa adanya, “Tentu aku masuk. Dan sialnya malah ada di posisi paling atas...” Ryan menundukkan kepalanya sambil berjalan.
Raisya yang mendengarnya girang bukan kepalang, “Artinya kita setara?”
Ryan menggaruk kepalanya, “Eh, iya-iya...”Ryan terus berjalan mengikuti Raisya yang berjalan sambil berjingkrak-jingkrak.
Raisya akhirnya berhenti di depan sebuah apartemen sederhana, “Disini rumahku...” Raisya menunjuk ke sebuah jendela yang berada di lantai dua.
Ryan menundukkan kepalanya, “Apa lagi yang ditakdirkan Tuhan padaku?”
Apartemen Raisya berada beberapa rumah dari rumah Ryan. Ryan merasa takdirnya dengan Raisya sudah terencana oleh Tuhan, bukan hanya kebetulan belaka.
Raisya bertanya pada Ryan sebelum masuk ke apartemennya, “Masuk?”
Ryan langsung menolaknya karena ia tidak ingin menciptakan hal yang tidak menyenangkan tentang dirinya dan Raisya.
Raisya mengangguk kemudian melambaikan tangannya sebelum masuk ke apartemennya.
Ryan merasa harinya terlalu melelahkan sehingga ia memilih mencari tempat istirahat. Kebetulan di dekat apartemen itu ada sebuah restoran yang bisa dibilang cukup mewah.
Ryan memilih masuk kesana untuk mengistirahatkan kakinya. Ketika ia masuk pandangan yang ramai langsung menyambutnya.
Seorang pelayan menyambut Ryan dan mengajaknya ke sebuah meja. Ryan berkata ia ingin pemandangan luar sehingga mereka pergi mencari tempat lagi. Mereka berhasil menemukan tempat tepat di sebelah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan teras kecil.
Ryan memesan segelas teh hangat untuk menemani sorenya hari ini. Sambil menunggu pesanannya datang ia memandang ke jalan yang mulai sepi dan langit mulai berwarna kejinggaan, tanda hari sore sudah hampir berakhir dan malam akan tiba.
Ryan merenungkan seluruh perjalanan hidupnya yang dimulai dari nol. Ia bisa mengingat senyum kedua orang tuanya saat melihat dirinya yang bisa membaca.
Ia juga mengingat ekspresi bahagia kedua orang tuanya yang mengetahui dirinya diperintahkan Menteri Olahraga untuk mewakili Indonesia menuju World Tournament dan langsung mengijinkan Ryan pergi ke Jepang.
Ia juga mengingat senyum orang yang tadi ia temui. Ia sempat mengira dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi perasaan yang dulu pernah ada dalam hatinya telah kembali untuk mencintai orang yang dulu pernah ia cintai.
Ryan tersenyum saat mengingat saat-saat itu. Pesanannya telah sampai. Ditemani segelas teh hangat dan angin sejuk sore hari melengkapi akhir hari cerah yang tadi ia jalani yang begitu indah.
Di lain tempat, Raisya duduk memandang jalanan dan sempat melihat wajah Ryan yang duduk di sebuah restoran. Ia tersenyum saat memandang wajah santai Ryan yang selalu ia ingat setiap hari.
__ADS_1
Ia bergumam, “Apakah ia masih memiliki perasaan yang sama denganku?” pikirnya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya, tetapi sebagian dari dirinya mengharapkan hal itu.
Bonus Chapter: 5/10