
“Dan begitulah ceritanya saat kita duel di stadium tadi...” Sean menggaruk kepalanya.
“Asal kau tahu saja, ulahmu tadi itu berhasil membuat satu pulau gempar...” Keyn memijat keningnya. Ia tak menyangka kalau dua orang yang salah satunya sedang berdiri dengan wajah bodohnya di atas daun lebar itu bisa menghancurkan sebagian stadium yang bahkan Zein sendiri ragu untuk menghancurkannya.
“Mau bagaimana lagi, kami ingin menyelesaikan duel di Midvast yang belum sempat kami selesaikan...” Sean tertawa kecil, ia lalu menatap Slitherio yang memasang wajah bodohnya.
“Hei, apa kalian ingin melakukannya juga?” Slitherio melambaikan tangannya, ia berhasil menyeimbangkan diri diatas daun itu.
“Kalau melakukannya dengan raut wajah seperti itu, kami tidak mau!” Atra berseru sambil menunjuk Slitherio.
Keyn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, “Tak bisa kupercaya kalau Zein God sampai mengangkat orang seperti itu menjadi muridnya...”
Keyn berjalan menjauh sampai ia keluar Kota Dewa. Saat diluar, ia melihat seseorang yang memakai jubah merah sedang menatap dirinya. Matanya terlihat berwarna merah terang, memancarkan kehangatan bagi siapapun yang melihatnya.
“Apa kau mempertanyakan alasan kenapa aku mengangkat Slitherio menjadi muridku?” orang itu bukan lain adalah Zein, sang Flame God.
“Salam dari Hunter God Keyn...” Keyn membungkuk memberi hormatnya pada Zein, “Benar seperti yang anda katakan tadi itu, saya masih mempertanyakan alasan anda...”
“Seharusnya kau itu memperhatikan orang dari dalamnya, bukan dari luarnya...” Zein mendekat, “Asal kau tahu saja, Slitherio itu jauh lebih kuat darimu saat kalian seusia...”
“Yah, jika anda mengatakan seperti itu maka baiklah...” Keyn tersenyum tipis, “Saya tidak akan mempertanyakannya lagi...”
“Dan juga, berapa kunci yang sudah kau buka?” Zein menatap Keyn dengan senyuman ceria.
“Hanya 7 kunci saja, kenapa? Tidak biasanya anda menanyakan hal itu...” Keyn menaikkan alisnya.
“Slitherio dan teman-temannya sudah membuka Kunci Keabadian, lho...” Zein menutup mulutnya yang tersenyum lebar.
Keyn membuka mulutnya lebar-lebar, “Artinya orang berwajah bodoh itu sudah membuka kunci kedelapan?!”
“Jangan lupa, kau mengatakan itu dihadapan gurunya...” Zein menjentikkan jarinya.
“Eh iya, hehehe...” Keyn menutup mulutnya kaku tersenyum lebar.
Dibalik senyuman Keyn, sebenarnya ia menyimpan keterkejutan serta kekaguman yang amat besar pada Slitherio ini. Dari penampilannya, ia terlihat berusia 25-30 tahun. Tetapi sepertinya ia terlihat lebih muda dari yang terlihat.
“Kalau kau tidak ingin dilewati oleh juniormu, berlatihlah lebih keras...” ujar Zein sambil menepuk pundak Keyn lalu menghilang.
Keyn menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan cepat. Apa yang tadi ia dengar itu benar?
__ADS_1
***
Malam hari...
Seperti biasanya mereka melakukan hal sederhana, yaitu duduk santai. Mereka memilih duduk melingkar di lantai.
Lampu ruangan dimatikan sehingga ruangan itu hanya disinari oleh cahaya bulan dari luar. Atra mengusulkan hal itu agar suasana terasa lebih menyenangkan.
“Gara-gara kau, aku ditanyai oleh Keyn God, tahu?!” Slitherio menunjuk Sean.
“Kau juga!” FastStone menunjuk Slitherio.
“Lagi pula siapa yang mengajukan duel tadi itu?” Geisha menatap Slitherio seolah ia tahu kalau pria itulah yang mengusulkan duel itu.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Slitherio melihat Geisha seolah-olah ia melihatnya dengan tajam.
“Aku duduknya jauh sedikit...” Atra yang duduk di sebelah Slitherio memilih menggeser posisi duduknya, menjauhi Slitherio.
“Tapi, dari duel itu...” Sean menaikkan jari telunjuknya, “Kita tahu kalau kekuatan Slitherio jelas yang tertinggi diantara kita semua...”
“Darimana kau tahu?” Slitherio melirik Sean yang duduk di sebelah Li.
“Tapi berita utama Gods Island siang tadi adalah hancurnya stadium tempat Slitherio dan Sean melakukan duel...” Clarey melirik Naze, “Dan juga berhentilah bersikap seolah kau tidak mendengar berita utama...”
Memang benar kalau berita itu telah menyebar, bahkan sampai ke telinga Gaburon sendiri yang terkenal kurang peduli dengan sekitar.
Akibat hal itu, Slitherio dan Sean dipanggil oleh Jay dan diminta menemuinya di Power Ladder atau tangga kekuatan, tempat ujian terakhir akan dilaksanakan.
Karena Jay menunggu di anak tangga ke-90, mereka dipaksa naik dengan kondisi tubuh yang masih baik.
Nyatanya, kekuatan keduanya bahkan bisa melewati anak tangga ke-90 yang terkenal akan kuatnya aura yang disimpan disana. Jay sendiri bahkan menaikkan alisnya.
“Apa yang kalian berdua bicarakan disana dengan Jay God?” tanya Li.
“Hanya tentang kekuatan, tidak lebih...” Slitherio menatap Sean, “Benar, bukan?”
“Yah...” Sean tersenyum kecil.
“Tapi, aku masih tidak memahami satu hal...” Atra mengangkat tangannya, “Bagaimana caranya Jay God dan Luna Goddes bisa memindahkan kita hanya dalam waktu sekejap? Maksudku, bagaimana bisa mereka bisa memakai skill Teleport hanya dalam waktu singkat?”
__ADS_1
“Ditambah bisa memindahkan kita semua ke satu tempat, itu cukup membuat mereka terlihat seperti Cheater...” tambah Naze. Ia juga masih memikirkan hal itu.
“Apakah kau lupa kalau Neil Young bisa membuat program semacam itu? Bisa dibilang, Neil Young lah Tuhan di Midvast ini...” Sean memejamkan matanya.
“Membuat para dewa bisa memiliki hak otoritas setinggi itu, hanya Neil Young saja yang bisa melakukannya...” ujar Slitherio lalu ia berdiri.
“Mau kemana kau?” Geisha menatap Slitherio.
“Melakukan hal yang Li inginkan tadi siang...” ujar Slitherio lalu berjalan keluar ruangan. Li menaikkan alisnya lalu ia teringat sesuatu.
“Benar, tunggu aku Slitherio!” Li berdiri lalu mengejar Slitherio.
Enam orang sisanya memilih mengikuti Slitherio dan Li daripada mereka hanya diam tidak ada pekerjaan di perpustakaan.
***
Karena skill Wind Step mereka sudah mencapai puncak tingkat Master, mereka bisa melompat setinggi 10 m lebih dan bisa mencapai ujung atap perpustakaan dengan aman.
“Baik, disini adalah tempat santai terbaik yang pernah kupikirkan sebelumnya...” Slitherio lalu duduk di tengah-tengah mereka.
Semuanya lalu duduk dengan tenang dan diam. Mereka begitu sampai pada akhirnya Li berdiri dan menghentikan skill Wind Stepnya. Bisa dibilang kalau Wind Step adalah kunci utama mereka bisa berdiri diatas atap dengan santai.
Terlihatlah kalau Li sulit menjaga keseimbangannya tanpa Wind Step. Slitherio yang melihatnya segera memegangi kaki Li dan Li langsung menyeimbangkan dirinya.
“Sulit!” Li menjambak rambutnya yang berwarna hitam.
“Siapa bilang?” Slitherio berdiri dan terlihatlah kalau ia bisa langsung seimbang tanpa skill Wind Step.
Slitherio mengangkat kaki kanannya dengan perlahan dan kedua tangannya ia rentangkan ke samping.
Mata semua orang melebar, bagaimana mungkin di dalam permainan yang sistemnya mulai tidak masuk akal kita bisa menyeimbangkan tubuh kita sendiri dengan leluasa seolah dunia ini adalah dunia nyata?
“Kalian bingung?” Slitherio tersenyum penuh kemenangan. Semua orang mengangguk.
“Ini disebabkan karena aku yang tadi siang berdiri diatas daun lebar itu...” Slitherio menjentikkan jarinya.
“Memangnya ada hubungannya?” tanya Sean.
“Ada, hanya saja kalian tidak menyadarinya...” Slitherio menurunkan kaki kanannya, “Kalian boleh mencobanya..."
__ADS_1