Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
153. Ocean Empire Vs Whazard dan Kraken


__ADS_3

Trestio menatap Kraken dan Whazard dengan waspada. Ia menyadari kalau hanya dirinya yang maju ada kemungkinan dirinya akan tewas terlebih dahulu.


Trestio lalu berseru setelah berpikir cukup lama, “Serang mereka!”


Sekitar dua ribu pasukan Ocean Empire yang membawa senjata pedang dan sebuah benda yang disebut Poisoned Water Gun terdiam saat mendengar perintah Trestio.


Mereka menelan ludah mereka, bahkan saat kedua makhluk itu menggabungkan kedua energi masing-masing untuk menyerang Trestio.


Tak ada orang bodoh yang mau menyerang makhluk sebegitu besarnya di hadapan mereka saat ini. Tetapi mereka menggelengkan kepalanya ketika berpikir hal itu. Jika mereka berpikir hal itu, maka mereka sama saja seperti menyebut Trestio sebagai orang bodoh.


Para prajurit yang membawa Poisoned Water Gun segera membidik Whazard dan Kraken lalu menembak keduanya.


Senjata mereka dilengkapi dengan kekuatan air beracun. Jika pelatuknya ditekan, maka akan menciptakan sebuah reaksi yang sulit dijelaskan oleh Trestio kemudian menembakkan sebuah air yang mengandung racun.


Racun tersebut adalah racun Asam yang tingkat kekuatannya amatlah tinggi. Racun tersebut tercipta dari reaksi yang sulit dijelaskan itu dan jika racun itu mengenai kulit, maka kulit akan melepuh.


Air-air yang ditembakkan itu terlihat seperti hujan karena jumlah air yang ditembakkan hampir sebanyak air di dalam sumur jika seluruhnya digabungkan.


Whazard mengangkat kaki kanan depannya, sedangkan Kraken mengangkat tentakelnya untuk menahan air beracun itu.


Tak ada pengaruh ketika air itu mengenai kaki kanan depan Whazard dan tentakel Kraken.


“Tidak mungkin...” Trestio menggenggam erat trisulanya, ia tidak menyangka senjata terkuat Ocean Empire ditahan dengan mudahnya oleh dua makhluk raksasa di depannya.


Trestio menggigit bibirnya kemudian maju menghunuskan trisulanya. Para prajuritnya yang membawa pedang segera maju dan membantu Trestio.


Karena memang Atlantean lebih kuat saat di air dan air adalah medan tempur mereka yang lebih baik, maka para Atlantean mampu mengendalikan air di sekitar mereka.


Prajurit yang membawa pedang menggunakan air untuk naik dan menyerang bagian tubuh Whazard dengan cepat.


Atlantean sejak dini sudah dilatih bertarung di atas air dan belajar mengendalikan air sejak masih berumur enam tahun.


Sebab itulah para prajurit berpedang mampu bergerak dengan cepat dengan bantuan air di sekitarnya.


Tetapi kehebatan Whazard dan Kraken sama hebatnya. Whazard mengayunkan kaki depannya dengan santai dan beberapa kali mengenai prajurit Ocean Empire bahkan sampai membunuhnya.


Kraken memiliki cara yang unik, ia memutar tubuhnya dan memisahkan diri dari Whazard kemudian mengangkat air ke atas. Ia membuat semacam tornado kecil dan menghempaskan para prajurit penyerangnya jauh-jauh.


Jelas kalau Whazard dan Kraken ingin bermain-main sejenak dengan Trestio bersama para pasukannya.


Air beracun yang ditembakkan oleh pasukan Ocean Empire tak mampu membuat kedua makhluk itu bergeming.


Trestio semakin cemas dengan situasi di hadapannya kini. Tanpa ada pilihan, ia akhirnya bergerak menyerang Whazard dengan Kraken.

__ADS_1


“Water Control Technique: Sharp Water!” Trestio mengangkat trisulanya kemudian menciptakan air yang berbentuk seperti duri dari dalam air dan menyerang Whazard dengan teknik itu.


Whazard menahannya dengan kaki depannya, tetapi air-air itu seperti memiliki kesadarannya sendiri. 


Air-air itu bergerak cepat menghindari kaki Whazard dan menyerang sisi belakang Whazard. 


Ketika mengenai punggung Whazard, yang dikenai meraung sekeras-kerasnya. Terlihat kalau teknik Trestio itu amat kuat.


“Teknikmu itu bisa dibilang kuat iya, dibilang kurang kuat juga iya...” Whazard tertawa kecil, ia seperti menikmati pertarungannya.


Trestio mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?”


“Tak ada rasanya...” Whazard mengumpulkan energi lalu tulang punggungnya berubah warna menjadi biru, “Yang ini baru ada rasanya, Blue Wave!”


Whazard membuka mulutnya lebar-lebar lalu melepaskan gelombang berwarna biru ke arah Trestio dan Trestio mengangkat trisulanya, “Water Control Technique: Wall of Water!”


Dinding air tercipta dari bawah Trestio dan melindunginya dari gelombang biru Whazard.


Ketika dinding air buatan Trestio menghilang, suara seruan terdengar dari jauh, “Sampai jumpa!”


Trestio mengedarkan pandangannya, mencari dua makhluk yang tadi mencoba menyerang Ocean Empire. Pandangannya berhenti di dekat pelabuhan.


Terlihat dua makhluk raksasa itu mengecil, terus mengecil sampai pada akhirnya berubah menjadi dua manusia yang kemudian berlari menjauhi pelabuhan.


“Sialan...” Trestio menggeram, ia lalu turun dan berdiri di atas air, “Siapapun yang masih hidup, ikut aku kembali ke istana.”


***


Trestio masuk ke ruang kerjanya, di sana hanya ada meja dengan kursinya, beberapa rak buku, dan sebuah bola yang ada diatas meja kerjanya.


Trestio berjalan dan duduk di kursi kerjanya kemudian menyentuh bola yang ada di atas meja kerjanya.


Trestio menggumamkan sesuatu kemudian bila dihadapannya mulai bereaksi. Setelah beberapa saat, bola itu memperlihatkan wajah seorang pria dengan amat jelas. Pria itu adalah Serioza.


“Kenapa kau menghubungiku siang-siang begini?” Serioza bertanya langsung.


“Tampaknya kehancuran Midvast semakin dekat...” Trestio mengusap wajahnya kasar.


“Apa maksudmu?” Serioza memasang wajah serius. Sudah sejak awal ia merasa kalau kekacauan di Midvast ini pasti ada alasan dibaliknya.


Trestio menceritakan tentang Whazard dan Kraken yang ingin menyerang Ocean Empire, pertarungannya melawan keduanya, dan akhir dari pertarungannya.


“Darimana kau tahu kalau kadal dan gurita itu adalah petinggi Hell Empire? Dan juga kenapa kau malah hanya menghubungiku seorang?” Serioza bertanya setelah memahami cerita Trestio.

__ADS_1


“Emm, karena hanya kau seorang yang memiliki kekuatan paling besar diantara kita bertiga...” Trestio menggaruk kepalanya, “Dan juga hanya kau seorang yang kupercaya mau mendengarkan ceritaku.”


“Kita tidak perlu memikirkan hal itu lebih jauh lagi, kita serahkan saja pada Slitherio itu...” Serioza tersenyum tipis.


“Oh ya, bagaimana nasib Kota Syacht?” tanya Trestio mengalihkan pembicaraan, “Aku sudah tak mendengar kabarmu sejak lebih dari setengah bulan lalu...”


Serioza menghela napas panjang, “Sudah lebih baik, aku mulai memerintahkan para pendudukku untuk membangun ulang kota itu...”


“Begitu ya...” Trestio mengelus dagunya, ia lalu bertanya lagi pada Serioza, “Apa kau mau kemari untuk membicarakan tentang masalah ini?”


“Jika saja situasi mengijinkan maka aku akan kesana, tetapi karena sudah dua petinggi Hell Empire muncul, aku tak bisa lagi seenaknya meninggalkan Sky Empire.” Serioza menunduk, “Apa lagi sejak serangan setengah bulan lalu. Aku yakin pasti penyerang memiliki maksud tertentu kenapa menyerang Sky Empire...” 


“Oh ya soal dua makhluk yang kau sebut petinggi Hell Empire. Jika secuil kekuatannya saja sudah sebesar itu, seperti apa kekuatan penuh Hell Empire?” Serioza mengalihkan pembicaraan, terlihat kalau Serioza seperti tidak ingin membahas kotanya itu.


“Entahlah...” Trestio mengangkat bahunya.


“Baiklah, aku tidak akan datang, sampai jumpa...” Serioza melambaikan tangannya lalu memutus pembicaraan.


Trestio memandang bola yang tadi berisi wajah Serioza kemudian bergumam, “Leluhur, beri aku sedikit kekuatanmu untuk menghadapi serangan ini...”


“Apa?” suara seorang wanita membuat Trestio mengangkat kepalanya dan menatap sekelilingnya.


“Siapa?!” Trestio memasang posisi siaga, bersiap jika seandainya musuh menyusup ke istana Ocean Empire yang ada di atas sebuah pulau yang terpisah dari benua utama.


“Aku leluhurmu, siapa lagi?” suara seorang wanita kembali terdengar saat Trestio bertanya dengan nada keras, “Kau tadi memanggil, ya sudah aku kemari...”


“Setidaknya beritahu dulu dimana kau berdiri...” Trestio tetap tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya.


“Di belakangmu...” sebuah tangan menepuk pundak Trestio, membuat Trestio langsung menoleh ke belakang.


Seorang wanita dengan jubah berwarna biru laut berdiri di belakang Trestio sambil tersenyum lebar.


Trestio terlihat berpikir sejenak sebelum berdiri dan berlutut di hadapannya, “Hamba memberi hormat pada Ocean Goddess Eny...”


Eny sendiri menepuk pundak Trestio lagi dan berkata, “Kau tak perlu kekuatanku lagi...”


Memang benar, Ocean Empire sudah dianugerahi dengan Trident of Sea God dan diberikan pada setiap penguasa Ocean Empire.


“Tetapi hamba sungguh tak mampu menghadapi serangan nanti jika dengan kekuatan hamba yang tak seberapa ini...” Trestio masih berlutut.


“Sudah ada satu kelompok yang menerima berkat dari para dewa-dewi...” ucap Eny tenang.


“Siapakah mereka?” Trestio bertanya.

__ADS_1


“Mereka yang tinggal di ujung Utara Midvast menerima berkat dari God Gaburon dan Goddess Reiy.” Eny menjawab pertanyaan Trestio, “Jadi benua ini tak memerlukan berkat dari dewa-dewi lagi...” ujar Eny lalu menghilang, berubah menjadi butiran air.


Trestio mengangkat kepalanya, mereka yang tinggal di Utara Midvast? Dia harus mencarinya!


__ADS_2