Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
176. Langit Triangle Sea


__ADS_3

Pagi...


Slitherio duduk di tengah-tengah kapal sambil menatap piring kecil yang berisi daging panggang. Sean, FastStone, Li, Geisha, Clarey, dan Naze duduk di dekat Slitherio.


“Kita sarapan dulu...” Slitherio mengambil piringnya dan memakan isinya. Yang lainnya lalu memakan isi dari piringnya masing-masing.


Seperti biasa, perjalanan terasa membosankan. Tak ada yang bisa dilakukan selain duduk menatap lautan atau berbaring di kamar masing-masing.


Mereka biasa berburu untuk menaikkan level selama di daratan, tetapi sekarang mereka malah malas-malasan selama di atas laut.


Selesai makan, mereka lalu membersihkan piring dan kembali melakukan rutinitas mereka.


Perjalanan baru berlalu dua hari tetapi kebosanan membuat perjalanan terasa lebih lama dua kali lipat.


“Ada kegiatan lainkah?” tanya Sean. Ia sungguh bosan.


“Kita membawa Gold bukan?” tanya Slitherio. Gold adalah nama dari Gold Winged Lion, kartu as Guild Sevens sekaligus pet milik Geisha.


Geisha mengangguk. Tentu ia membawanya untuk berjaga-jaga jika hal seperti saat bertarung melawan Visidha kembali terjadi.


“Kita akan terbang ke langit dengan Gold...” Slitherio tersenyum tipis, ia tak pernah berpikiran akan melakukan itu sebelumnya.


Yang paling bersemangat menyambut hal itu tentu saja adalah Sean dan FastStone yang terkenal tidak bisa diam selama di Midvast.


Mereka dikenal orang luas berkat kemampuan mereka yang tinggi serta aktifnya mereka selama di Midvast. Mereka juga suka berburu untuk mengisi waktu mereka.


Jika mereka disuruh duduk diam selama dua hari tentunya mereka akan bosannya itu bisa melebihi batasan keduanya.


Slitherio mengusap wajahnya, ia lalu memanggil Geisha kemudian memintanya memanggil Gold.


“Lalu, siapa yang akan menjaga kapal?” tanya Clarey. Ia menebak kalau semua orang akan terbang ke langit dan kemungkinan tidak ada yang menjaga kapal.


“Memangnya kau mau menjaga kapal ini sendirian?” tanya Naze. Clarey menggeleng.


“Ya sudah, kalian semua akan menunggangi Gold sedangkan aku terbang dengan sayapku...” Slitherio menjentikkan jarinya.


Gold muncul dan semua orang kecuali Slitherio naik ke punggung Gold. Slitherio membentangkan sayapnya kemudian terbang duluan. Yang lainnya mengikuti dari belakang.


Tidak ada yang tertinggal di kapal karena memang Slitherio meminta semua orang untuk tidak meninggalkan barang-barang berharga mereka di kapal.

__ADS_1


Kapal juga sudah dipasangi skill Flame Seal untuk mencegah terjadinya pencurian kapal, meskipun hal itu tidak mungkin terjadi karena nyaris tidak ada perompak yang mau tinggal di Triangle Sea.


Mereka lalu terbang ke atas dan menembus awan-awan tebal. Sinar matahari langsung menerpa wajah mereka dan tentu saja pemandangan itu terlihat menakjubkan.


Slitherio menatap ke atas kepalanya dan bertanya dengan nada sedikit keras, “Bagaimana?”


Yang paling terkesan tentu Li. Ia segera mengeluarkan Bamboo Flute dan memainkannya dengan pelan. Ia mendapat inspirasi ketika melihat pemandangan itu.


Ditambah dengan keberadaan tujuh orang yang menemaninya, ia menciptakan lagu yang membuat orang-orang terkagum-kagum.


“Indahnya...” Clarey juga ikut terkagum. Ia tak menyangka bisa melihat pemandangan serta mendengar musik seperti itu ketika bergabung dengan Guild Sevens.


Jika saja ia menolak tawaran dari Geisha, mungkin ia tidak akan bisa menikmati pemandangan itu, apalagi langsung melihatnya dari awan.


Ia juga tak menyangka bisa memiliki teman-teman yang mau membantunya disaat sedang kesulitan ataupun menghibur semuanya dengan candaan mereka yang terdengar basi.


Karena hal itulah yang membuat hidup terasa lebih indah, batin Clarey. Ia bisa memahami maksud dari lagu Li yang menceritakan tentang indahnya pemandangan itu.


Waktu tak terasa karena mereka menikmati pemandangan itu dengan senang dan melupakan seluruh kebosanan mereka.


Mereka akhirnya kembali turun setelah matahari mulai bergerak ke barat dengan perlahan.


“Bagaimana ideku tadi?” tanya Slitherio setelah semua orang mendarat dengan sempurna.


“Tak kusangka kau punya ide seperti itu...” Naze mengacungkan jempolnya.


“Kurang lama...” Clarey menggaruk kepalanya.


“Tenang saja, selama memiliki Phoenix dan Gold, kita bisa ke langit lagi kapanpun kita mau...” Naze menepuk pundak Clarey.


“Kita sudah sejauh ini dan kita tentunya tak bisa kembali lagi jika seandainya kita menginginkannya...” Sean mengelus dagunya.


“Jikapun ada bahaya, kita harus menghadapinya bersama-sama...” Slitherio mengepalkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi.


Mereka lalu berpisah dan kembali melakukan kegiatan masing-masing sambil mengisi waktu sampai malam tiba.


***


Gods Realm...

__ADS_1


Seorang pria dengan tubuh kekar terlihat mondar-mandir di ruang pertemuan. Di dekatnya ada sembilan orang dengan aura kekuatan yang amat dahsyat terpancar dari tubuh masing-masing.


Tentunya aura paling kuat terpancar dari tubuh pria kekar itu, diikuti oleh seorang pria dengan jubah merah menyala, dan seterusnya.


Seorang pria dengan tubuh kekar itu dipanggil Thunder God Jay. Pria jubah merah dipanggil Flame God Zein.


“Situasi dunia semakin tidak teratur sejak Xue dan Benario berselisih serta kepergian Chao ke alam fana...” Jay memulai pembicaraan.


Seorang wanita dengan jubah berwarna biru bermotif gelombang mengangkat tangannya, “Tetapi itu masih dinilai damai oleh Zein, bukan?” tanyanya. Ia dipanggil Ocean Goddess Eny.


“Kau boleh bilang begitu, tetapi yang dirasakan oleh manusia disana amatlah berbeda...” seorang wanita dengan kalung melingkar di lehernya serta jubah berwarna hijau daun menunjuk Eny. Ia dipanggil Nature Goddes Kina.


“Seandainya kita hidup pada masa ini, tak terbayangkan sulitnya kita mencapai tingkatan ini...” seorang wanita dengan aura amat dingin berbicara. Dia dipanggil Ice Goddess Luna.


Seorang pria dengan wajah selalu serius menatap Luna, “Bersyukurlah...” ia dipanggil Earth God Monte.


Seorang wanita dengan rambut berwarna ungu dipanggil Poison Goddess Vesta. Seorang pria dengan jebah berwarna abu-abu serta memiliki tubuh kekar dipanggil Metal God Tany. Dan terakhir seorang pria dengan tubuh melayang yang dipanggil Wind God Max.


“Apa kita perlu turun tangan menangani masalah ini sampai tuntas?” tanya Tany.


Jay memegang dagunya, “Sepertinya perlu...”


Zein memukul meja, “Tidak usah...” semua orang langsung menatap Zein tajam.


“Apa maksudmu?” tanya Max. Luna, Kina, Eny, Tany, Jay, dan Monte menatap Zein.


“Salah satu muridku, Gaburon telah turun ke bumi dan memberikan sedikit pengetahuan tak lengkap pada salah satu keturunanku...” jawab Zein.


“Seharusnya kau tahu kalau satu muridmu juga ikut kesana, bukan?” tanya Zein sambil menatap Kina.


“Masa?” Kina menatap Zein, “Reiy tidak memberitahuku sebelumnya...” ujarnya sambil mengelus dagunya.


“Aku merasakan delapan makhluk sedang mendekat menuju Gods Island...” Max menatap ke bawahnya.


Gods Realm disebut-sebut oleh Manusia Langit berada di atas angkasa, yang artinya di bawahnya itu adalah bumi.


“Satu diantara mereka memiliki aura yang mirip denganmu, Zein...” Max menatap Zein. Yang lainnya ikut menatapnya.


Zein tersenyum lebar, "Kita tidak perlu turun tangan, bukan?"

__ADS_1


__ADS_2