Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
126. Di ujung tebing dan makanan gratis


__ADS_3

Slitherio menatap Geisha, “Sekarang kau ingin melakukan apa?”


Geisha berpikir sebentar lalu berkata, “Jika aku mengatakan ingin duduk di ujung tebing ini bersamamu, apa kau percaya?”


Slitherio menggaruk pipinya, “Baiklah...” Slitherio lalu berjalan keluar dari markas utama dan menunggu Geisha di luar.


Geisha keluar dan Slitherio berjalan duluan kemudian baru Geisha berjalan dibelakangnya. 


Suasana kota terasa sepi, bahkan di ujung tebing itu. Hanya sinar bulan saja yang menyinari ujung tebing yang disebut sebagai Tebing Keabadian.


Sinar bulan yang memantul di atas laut membuat suasana menjadi sedikit terang, meskipun di belakang mereka suasananya gelap.


Slitherio duduk di ujung tebing dan menurunkan kakinya, Geisha lalu duduk di sebelahnya.


“Hei, apa kau tau aku tadi bereaksi seperti apa saat kau mati?” Slitherio membuka pembicaraan.


“Bagaimana?” tanya Geisha penasaran. Ia ingin mengetahui, apakah lubang besar di depan istana Sky Empire adalah ulah Slitherio atau yang lain.


“Aku terbang ke atas dan berseru keras, aku lalu mengucapkan God Skillku dan melesat turun ke bawah kemudian Kota Syacht hancur karena ledakan skillnya.” Slitherio tersenyum saat mengatakannya.


“Lalu?” 


“Disaat aku turun ke bawah, aku langsung disambut oleh Luvian dengan pukulannya Luvian. Aku memilih mengepalkan tanganku dan mengadunya dengan pukulan Luvian.” Slitherio melanjutkan sambil meletakkan kedua tangannya di tanah.


“Kami akhirnya saling mengadu Murderous Aura dan kerusakan semakin menjadi. Saat itulah, Luvian menurunkan pukulannya dan mengatakan kalau aku pantas menjadi pemain terkuat Remaist Online.” Slitherio menatap Geisha.


“Yang Mulia Serioza berkata kalau kau berduel dengan Dragon King Sean, apa itu benar?” tanya Geisha.


“Benar, dan hasilnya aku yang menang...” Slitherio menepuk dahinya, “Karena hal itu sepertinya yang menyebabkan diriku dijadikan pemain terkuat nomor tiga dan Guild Sevens dijadikan Guild Profesional.”


Geisha meletakkan kepalanya di pundak Slitherio dan berkata, “Setelah itu, apa kau mengingat sesuatu setelah bertarung dengan Sean?”


“Ya, aku merasa kepalaku dialasi oleh sesuatu yang empuk...” Slitherio mengusap belakang kepalanya, “Dan saat aku menoleh, kau ternyata yang memangku kepalaku...”


“Aku datang tepat setelah Whu dan Asvi mengatakan tentang dua orang yang membawamu dan Sean ke istana Sky Empire.” Geisha berkata dengan posisi yang sama.


“Disaat aku sampai, aku melihat kau, Sean, dan Selena terbaring di atas lantai begitu saja setelah kami diantarkan ke aula istana setelah Whu dengan Atra menyogok seorang penjaga.” Slitherio mengangkat alisnya, “Aku diletakkan di lantai?”


“Benar, dan aku berlari lalu memangku kepalamu sampai semua yang terjadi setelah kau sadar.” Geisha berkata sambil tersenyum tipis.


Malam semakin berlanjut, setidaknya ini sudah menunjukkan pukul setengah sembilan waktu Midvast.


Slitherio menggerakkan tangannya ke belakang punggung Geisha dan merangkulnya dari belakang.

__ADS_1


“Malam yang indah bukan?” tanya Slitherio setelah mereka terdiam beberapa menit.


“Apa kau masih memiliki perasaan yang sama denganku?” tanya Geisha tanpa menjawab pertanyaan Slitherio.


“Entahlah, tetapi kuharap tetap ada secuil rasa yang tersisa di hatiku...” Slitherio menggaruk kepalanya, jelas ia bingung dengan jawaban yang keluar secara tiba-tiba itu.


“Secuil?” tanya Geisha. Ia masih bertahan dengan posisinya.


“Meski secuil, setidaknya itulah yang membuatku menghancurkan Kota Syacht.” Slitherio melepaskan rangkulannya.


Geisha mengangkat kepalanya, ia tidak percaya dengan perkataan Slitherio, “Apa alasan itu yang membuatmu menghancurkan Kota Syacht?”


“Hmm...” Slitherio mengangguk, ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tanah dan menatap ke langit yang penuh bintang.


Geisha ikut berbaring di sebelah Slitherio dan berkata, “Apa kau lelah?”


“Untuk sekarang mungkin iya...” Slitherio lalu berdiri dan menjulurkan tangannya, “Aku akan memutuskan sambungan dan tidur di dunia nyata saja...”


Geisha meraih tangan Slitherio dan secara tiba-tiba, Slitherio menarik tangan Geisha keras dan membuatnya memeluk Geisha.


“Aku takkan meninggalkanmu lagi...” Slitherio memeluk Geisha dan mengusap kepalanya.


Geisha tersenyum lebar, ia akhirnya mendengar perasaan Slitherio setelah sekian lama memendam rasa ini.


Ryan mengedipkan matanya berkali-kali, entah kenapa matanya sudah semakin lelah dari hari ke hari.


Di luar masih siang, sekitar pukul setengah dua belas siang saat Ryan melihat jam. Ia memilih keluar kamar dan mencari makanan di dapur.


Bahan makanan beku yang Ryan simpan untuk persediaan selama ia bermain Remaist Online sudah tidak bisa ia buat lagi, karena bekunya sudah melampaui batas dan tidak mungkin ia menunggu bahan makanan beku itu sampai lunak kembali.


Ia mengambil semua bahan makanan beku itu lalu memasukkannya ke dalam tas dan pergi menuju rumah Rio.


Di rumah Rio, Ryan berniat meminta ibu Rio untuk memasakkan semua bahan makanan beku ini dan ia akan ikut satu untuk makan disana. Dengan istilah lain, Ryan akan menumpang makan di rumah Rio.


“Bukankah biasanya kau masak sendiri? Kenapa kali ini kau minta dimasakkan oleh ibuku?” tanya Rio saat Ryan sampai di rumahnya sambil membawa tas berukuran sedang yang isinya semua bahan makanan beku yang ada di rumahnya.


“Untuk kali ini, biarkan aku makan di rumahmu...” Ryan tersenyum tipis.


“Baiklah...” Rio mempersilahkan Ryan masuk sementara dirinya yang membawakan semua bahan makanan beku itu ke dapur. Kebetulan ibunya sedang membuat makanan ringan untuk dimakan saat malam nanti.


“Aku biasa membuat makanan ringan seperti ini, apa kau mau?” ibu Rio menawarkan makanan ringan yang belum jadi pada Ryan.


“Boleh, tapi yang pertama aku ingin makan yang biasa saja...” Ryan berkata sambil mencari makanan di kulkas.

__ADS_1


“Tidak ada apapun disana kecuali bahan makanan...” Rio berkata sambil duduk di kursi meja makan, “Kalau mau, buat saja telur goreng...”


Ryan mencari telur di kulkas dan mengambilnya lalu menutupnya kembali. Kebetulan, di atas kompor sudah ada wajan yang biasa dipakai ibu Rio untuk memasak, “Aku pakai, ya?”


“Pakai saja, setelah itu ingat untuk dicuci...” ibu Rio membawa makanan ringan yang telah dibentuk ke dalam oven dan mengatur waktu di ovennya.


Ryan memecahkan telur dan memasaknya di atas wajan dengan api kecil. Setidaknya itulah caranya membuat telur tanpa gosong, menurut Ryan.


“Oh, pakai api kecil ya? Akan kucoba nanti malam...” Rio berdiri di belakang Ryan dan menatap telur yang sedang dimasak di atas wajan.


Aroma telur goreng menyebar di dapur, membuat siapapun yang belum makan mengeluarkan liurnya saking laparnya karena mencium aroma itu.


“Selamat makan semuanya!” Ryan mengambil sedikit nasi di tempat nasi dan meletakkan telurnya di atas nasinya lalu makan.


Ayah Rio adalah seorang manajer di sebuah perusahaan besar, karena itulah ia dapat memiliki rumah yang kurang lebih besarnya menyetarai rumah sederhananya Ryan.


Sebagai manajer, ia sering terlihat sibuk dan mengurus pekerjaan selama di rumah. Jika ada waktu, ia akan bersantai dengan keluarga kecilnya di teras rumah lantai dua dan menikmati malam.


Rio menjadi anak pertama dan adiknya adalah perempuan. Adiknya sedang kuliah dan akan menyelesaikan belajarnya sekitar setahun lagi.


Adiknya amat cantik, bahkan Rio sebagai kakaknya sulit untuk tenang karena ditemani oleh adik secantik itu.


Ryan menyelesaikan makannya dan mencuci piringnya lalu mencuci wajan serta sendok masaknya. 


Setelah selesai melakukan semuanya, ia lalu pergi ke ruang santai dan melihat ayah Rio yang sedang bekerja di depan laptopnya.


“Apa kau ada masalah sampai makan di rumah ini?” tanya ayah Rio tanpa memalingkan wajahnya dari laptopnya.


“Tidak ada...” Ryan duduk dan menggaruk kepalanya, “Jika aku menyalakan televisi, apa boleh?”


“Nyalakan saja, lagipula Rio hampir tidak pernah menonton sejak bermain Remaist Online...”  ayah Rio berkata sambil menatap Rio yang sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya.


Ryan meraih remote televis dan menyalakannya. Ia mencari berita sampai ia melihat sebuah saluran televisi yang sepertinya khusus untuk menonton siaran dari permainan Remaist Online.


Ryan juga memiliki saluran televisi ini di rumahnya dan mungkin lebih dari separuh penduduk dunia sudah memiliki saluran ini. Saluran ini memakai sistem Automation Translate sehingga memungkinkan sistem untuk menerjemahkan bahasa yang digunakan ke bahasa yang digunakan di suatu televisi.


“Oh ya, apa Rio sudah tau tentang fitur 'Tukar uang' dari Remaist Online?” tanya Ryan sambil menonton televisi.


“Tentu, dan aku memintanya untuk memasukkan sebagian dari penghasilannya di permainan itu ke rekeningku...” ayah Rio masih menatap layar laptop dengan wajah serius.


Ryan menggaruk kepalanya, ia akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke televisi dan menemukan siaran yang memberitakan tentang dirinya.


“Apa-apaan itu?” Ryan membuka mulutnya, ia tidak percaya dengan berita yang ada di televisi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2