
Slitherio berjalan masuk ke markas Guild Reister. Seperti biasa, Sean memanggil para Ketua Guild Profesional, tetapi yang dipanggil hanya Carey, Zero, Alex, Fei, Slitherio, dan Luvian.
“Ada yang ingin kubicarakan...” Sean memulainya.
“Dengan kekuatan kita sekarang, kita mampu menyerang Hell Empire dengan kekuatan penuh. Tetapi, Hell Empire sudah tidak menunjukkan tanda-tanda...” Sean memejamkan matanya.
“Biar begitu, sepertinya Hell Empire sedang mengumpulkan kekuatan di balik layar...” Carey yang diberi tugas untuk mengawasi Midvast memberikan laporannya. Alex mengangguk.
“Apa kita perlu memberitahu tiga penguasa itu?” tanya Slitherio. Ia diberi tugas untuk menyampaikan segala yang Sean putuskan pada Serioza, Trestio, dan Zaburo.
“Apa kita perlu meminta bantuan Phoenix Gold Kingdom?” tanya Slitherio lagi.
Semua orang disana mengetahui kalau Phoenix Gold Kingdom adalah kerajaan asalnya ras Phoenix, rasnya Slitherio.
“Tidak...” Zero menggaruk kepalanya.
“Apa kekuatan para pemain bisa menahan serangan Hell Empire? Meski dengan bantuan empat dewa biasa sekalipun, kekuatan petinggi Hell Empire dengan kita terlalu jauh...” Sean memijat keningnya.
“Seandainya kekuatan pasukan Hell Empire melebihi kekuatan pasukan aliansi kita, bisa dipastikan permainan akan Game Over dan kita akan memulai lagi dari awal...” Luvian memegang dagunya.
“Baiklah, kita akan meminta bantuan dari Phoenix Gold Kingdom. Tapi sebelumnya, apa mereka sudah setuju dengan keputusan ini?” tanya Sean.
“Sebelum kau bertanya, penguasa Phoenix Gold Kingdom sudah menyetujuinya dan mereka membuat sebuah hubungan dengan BloodThirsty Kingdom.” Ujar Slitherio. Ia mengetahuinya karena ia dan Atra merupakan duta perdamaian bagi dua kerajaan ini.
“Bahkan mereka menjadikanku sebagai dewa mereka, disamakan dengan Flame God...” Slitherio menggaruk kepalanya.
“Baiklah, urusan memberitahu lima penguasa yang kita sebutkan tadi kuserahkan padamu, Slitherio...” Sean menatap Slitherio, “Alex dan Carey, tetaplah untuk mengawasi Midvast...”
Mereka yang diberi perintah oleh Sean mengangguk. Luvian, Fei, dan Zero diberi tugas untuk memperkuat diri mereka masing-masing. Mereka bertiga juga harus memberitahu keputusan hari ini pada ketua guild lainnya.
Sebagai pemain terkuat ketiga sedunia, Luvian memiliki relasi yang amat banyak dengan guild One-Star ataupun Two-Star. Ucapannya pasti akan dipercaya.
Membicarakan tentang tiga pemain terkuat sedunia, posisi pertama tetap dipegang oleh Sean, diikuti oleh Slitherio, dan ketiga adalah Luvian.
“Kalian boleh kembali ke markas kalian masing-masing...” Sean menepuk meja dan pintu langsung terbuka.
Enam orang yang dipanggil oleh Sean akhirnya keluar dan kembali ke markas masing-masing.
***
Tiga hari kemudian...
__ADS_1
Slitherio sudah memberitahu Serioza, Trestio, Zaburo, Chizui, dan Bhesia. Jawaban mereka sama.
“Aku akan menyiapkan pasukanmu dan kami siap kapanpun Sean membutuhkan bantuanku...” itulah jawaban mereka.
Setelah Slitherio memberitahu Sean tentang jawaban mereka, Sean memutuskan untuk menyerang Hell Empire tepat hari ini, tiga hari setelah pertemuan sederhana itu dilaksanakan.
Slitherio diberi tugas untuk memancing Hell Empire mengeluarkan kekuatan penuhnya. Karena diberi tugas seperti itu oleh Sean, Slitherio memilih mengajak Whu dan Li kesana.
Di depan sebuah goa yang diberi hiasan seperti gerbang raksasa, tiga orang itu berdiri dengan berani dihadapan bahaya di depan mereka.
Li menelan ludahnya, sedangkan Whu memasang wajah santai sejak tadi. Slitherio tersenyum sambil memperhatikan Li.
“Santai saja, kami akan melindungimu sekuat tenaga kami...” Slitherio menepuk pundak Li. Whu mengangguk.
Saat ini, kapasitas Mana Slitherio sebanyak hampir 10 kekuatan Spirit, sedangkan Whu memiliki 10 kekuatan Spirit, menjadikan dua orang ini sebagai pemilik Mana terbanyak di Midvast.
Sean yang menempati urutan pertama pemain terkuat sedunia memiliki kapasitas Mana sebesar 9 kekuatan Spirit, sedikit di atas Slitherio. Tetapi skill milik Sean hampir seluruhnya tidak memerlukan Mana dalam jumlah besar, membuatnya menjadi pemain yang mampu mengeluarkan skill terus menerus tanpa henti.
Letak Death Valley berada di selatan Sahara Desert. Dari Sahara Desert, hanya perlu waktu sekitar satu jam berjalan untuk sampai disana. Jalan kesana menurun, itu disebabkan karena setelahnya Death Valley itu ada tebing dan setelahnya adalah lautan luas pemisah Benua Midvast dengan Benua South.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya yang mereka tunggu datang. Seorang pria dengan mata sepenuhnya berwarna hitam berjalan keluar dari gerbang itu bersama dengan enam orang yang memiliki aura yang hampir menyetarai aura July, istri dari FolkChase.
“Apa manusia berjubah merah itu dipanggil Pedang Api Slitherio? Dia tidak terlihat kuat...” pria yang berdiri paling depan berjalan sedikit.
“Namaku adalah Leone, kaisar kedua Hell Empire sekaligus anggota dari Seven Deadly Sins. Apa maumu kemari?” pria yang berdiri paling depan bertanya pada Slitherio.
“Kami ingin menghancurkan niat kalian untuk menguasai Midvast...” jawab Slitherio dengan tegas. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan musuhnya.
“Kalian ingin menghancurkan niat Hell Empire dengan tiga orang saja? Midvast sudah arogan sekali hari ini, meremehkan Hell Empire ini...” pria yang terlihat berusia tiga puluhan tahun menatap Slitherio, Whu, dan Li dengan tajam. Pria itu bukan lain adalah Sueta.
“Bukan kami saja...” Slitherio menepuk pundak Whu dan menghilang. Whu meraih Li kemudian ikut menghilang.
Mereka sudah menyepakati hal ini. Jika pembicaraan sampai menyangkut perang, jika Slitherio menepuk pundak Whu kemudian menghilang, artinya Slitherio mengajak mereka kembali ke Sahara Desert untuk berkumpul dengan pasukan aliansi.
Leone bisa merasakan kalau hawa keberadaan tiga orang itu masih ada di Sahara Desert sehingga ia berkata pada Sueta yang berdiri di belakangnya, “Panggil seluruh pasukan Hell Empire dan ajak mereka ke Sahara Desert. Aku dan yang lainnya akan menyusul tiga orang itu.”
Sueta mengangguk kemudian melesat masuk ke Death Valley dan meninggalkan enam orang rekannya.
Leone mengangkat tangannya kemudian melesat menuju Sahara Desert, tempat pasukan aliansi menunggu pasukan lawan.
***
__ADS_1
10 menit berlalu sejak Slitherio, Whu, dan Li menghampiri Death Valley. Dan seluruh pasukan Hell Empire dan aliansi Midvast telah berkumpul.
Di Sahara Desert itu, dua pasukan besar yang mewakili dua sifat yang berbeda saling berhadapan, bersiap melakukan pembantaian.
Seorang yang berdiri di depan pasukan aliansi bernama Slitherio. Di sebelah kanannya, berdiri Serioza, Trestio, dan Zaburo dengan perlengkapan mereka yang bisa dibilang sedikit rumit.
Di sebelah kiri Slitherio, berdiri sepuluh Ketua Guild Profesional dengan seluruh Fighting Aura mereka yang amat kuat.
Selama enam bulan ini, mereka bersepuluh telah membuktikan bahwa gelar Ketua Guild Profesional itu bukanlah hanya gelar semata. Mereka berkembang dengan amat cepatnya dan berubah menjadi amat kuat. Seluruh kerja keras mereka akan berguna di pertempuran hari ini.
Sean sudah memutuskan, pertempuran ini akan berlangsung hanya sehari saja. Yang artinya pertempuran ini adalah penentu keberhasilan mereka menyelesaikan 8 Chapter selama setahun.
Sean memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Tidak ada kota ataupun desa di sekitar Sahara Desert yang bisa dipakai untuk tempat para pemain yang mati muncul lagi.
Slitherio yang berdiri di posisi paling depan menghembuskan napasnya panjang. Tak pernah ia sangka kalau permainan yang dulu ia mainkan karena penasaran bisa membawanya pada masalah sebesar ini.
“Jadi, apa kita akan bertempur? Aku takut pasukan kecilmu itu akan kalah dihadapan pasukan perkasaku ini...” Leone terdengar seperti menyindir Slitherio, tetapi Slitherio tetap tenang.
“Aku tak peduli...” Slitherio tersenyum lebar lalu menarik kedua pedangnya. Semua orang di belakangnya, termasuk Serioza, Trestio, Zaburo, dan sepuluh Ketua Guild Profesional menarik senjata masing-masing.
“Serang mereka!”
“Serang mereka!”
Sorakan terdengar di seluruh gurun gersang itu, sorakan yang menjadi akhir dari konflik di Midvast.
Catatan Penulis:
Scene pertarungan epik akan saya buat setelah ini. Mungkin akan memerlukan waktu lumayan lama biar menjadi pertarungan yang epik.
Akhir dari Season 2 akan dimulai, jadi jangan lupa untuk selalu mengikuti update RO yang sudah tidak teratur lagi.
Hal ini terjadi karena penulis lagi mencari inspirasi pertarungan yang bagus serta bisa menciptakan sebuah gambaran di pikiran pembaca semua.
Ditambah tugas terus muncul dari hari ke hari, membuat penulis jarang bisa menyentuh aplikasi Mangatoon.
Kemarin itu pas saja tiga pelajaran dimana dua ada tugas dan satu lagi jam bebas.
Entah up malam atau siang, intinya saya tetap menargetkan 60.000 kata dalam sebulan lagi.
Sekian saja, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Salam,
Rio.