
“Akhirnya selesai juga...” Rio mengganti bajunya terakhir setelah teman-temannya mengganti baju mereka di kamar mandi.
Ryan sendiri sedang mengambil nama peserta serta urutan yang akan bermain. Menurut Ryan sendiri, turnamen babak penyisihan sendiri kira-kira akan dilaksanakan selama seminggu, babak semi final juga seminggu, dan final hanya akan berlangsung selama sehari.
“Aku tak sempat melihat jadwalnya lebih teliti, nanti saat Ryan menunjukkannya kembali kita akan melihatnya lebih teliti...” Ujar Hendra.
Posisi Ryan adalah kapten dan Rio sebagai wakilnya. Hendra sebenarnya diminta untuk menjadi wakil kapten, tetapi karena Hendra menolak, Rio yang menggantikan Hendra.
Banyak yang menyayangkan keputusan Hendra. Banyak yang menilai kalau skill yang dimiliki Hendra jauh lebih baik dari Rio.
“Aku yakin kalian mungkin kecewa karena aku menerima tawaran Ryan, tetapi kupastikan kalau aku aku akan menunjukkan diri sebagai wakil kapten yang pantas.” Ujar Rio saat itu.
Suara ketukan pintu terdengar dan Ryan masuk dengan keringat bercucuran. Padahal sedang musim dingin di Jepang, tetapi Ryan malah berkeringat.
“Hah, hah, untung saja ketemu...” Ryan menyeka keringatnya yang turun dari keningnya.
“Kau kenapa?” tanya Rio. Ia lalu mendekat dan mengambil kertas yang dibawa Ryan.
“Aku tersesat...” Ryan lalu menceritakan kisahnya yang tersesat di hotel itu.
Setelah Ryan mengambil kertas yang berisi jadwal bermain, Ryan bergegas menuju meja resepsionis tempatnya menitipkan kunci.
“Oh, sudah diambil ya?” Ryan menggaruk kepalanya lalu berjalan menaiki tangga. Ia ingin berolahraga agar tidak kedinginan.
Ryan lalu menyusuri koridor dan ia melihat kalau ia berjalan menuju dapur hotel. Ryan menggaruk kepalanya dan ia berbalik.
“Tidak ada... Orang?” Ryan menggaruk kepalanya semakin keras. Ia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan pintu masuk ke dapur dan berjalan menyusuri koridor.
Tak ada satupun orang yang lewat dan Ryan mulai panik kalau dirinya tersesat. Tersesat bersama teman mungkin ia akan tenang, tapi ia sekarang tersesat sendirian!
Ryan berjalan makin cepat dan sesekali ia melihat ke jendela di sebelahnya. Hari semakin malam dan ia bahkan mulai berlari di koridor itu.
Karena ia memakai sepatu olahraga, langkahnya sedikit ringan, tetapi suara langkah kakinya tetap terdengar.
Ia akhirnya turun lagi dan ia mengulang dengan bertanya pada resepsionis, tetapi resepsionis itu hanya berkata kalau tangga sebelah kanan adalah jalan menuju kamar para peserta turnamen.
Ryan mengumpat dalam hati dan ia berjalan dengan kesal menuju tangga sebelah kanan. Ia tadi turun dari tangga sebelah kiri dan ia berpikir kalau jalan itu menuju kamar milik squadnya.
Ryan lalu berjalan cepat dan ia melihat kamar yang bertuliskan N5S khas tulisan miliknya sendiri.
__ADS_1
“Pantas saja kau perginya lama, ternyata tersesat...” Hendra melirik Ryan dengan tatapan ingin tertawa.
***
“Hahaha...” Rayhan, Ria, dan Raisya tak henti-hentinya tertawa, sedangkan Ryan hanya menutup mukanya.
“Diam...”
“Diam...”
Ryan menutup mukanya. Baginya itu adalah kejadian tersial yang pernah ia alami selama bernapas di dunia, apalagi kejadian itu terjadi di negeri orang.
Rayhan menghentikan tawanya lalu bertanya, “Setelah itu?”
“Teman-teman ayah tertawa lepas...” Ryan menutup mukanya. Ria masih tertawa sedangkan Raisya menahan tawanya.
“Besok ayah takkan memberimu sarapan...” Ryan menarik telinga Ria sampai Ria diam.
“Tidak! Aku akan berhenti tertawa!” seru Ria keras. Tarikan tangan Ryan terasa keras, padahal Ryan hanya menariknya sedikit.
“Ayah lanjutkan...” Ryan melepas tangannya dari telinga Ria lalu berkata, “Babak penyisihan...”
***
“Kita akan bermain sekitar dua hari lagi, itu perkiraanku kalau melihat posisi kita ditempatkan...” Ryan melihat nama Indonesia yang dipasangkan dengan negara India.
“Apa-apaan itu?” Justin menggaruk kepalanya, “Kalau aku tidak salah, player dari India rata-rata memiliki Title Hero role Tank...”
“Kalau begitu kita akan memakai Hero dengan julukan Pemecah Tank...” ujar Ryan. Mereka akan mengatur strategi untuk pertandingan mereka.
“Archer atau Warrior?” tanya Hendra.
“Aku sarankan untuk memakai Warrior. Kenapa? Karena rata-rata Warrior akan memiliki damage yang besar dalam war dan kita harus memilih Hero yang memiliki damage besar.” Ujar Rio.
“Kita akan memakai dua Hero Pemecah Tank.” Ryan mengeluarkan ponselnya, “Dan satu Tank untuk menghalau serangan lawan...”
“Untuk Early, aku akan meminta pada kalian untuk tidak terlalu agresif dalam bermain. Karena jika kita mati, lawan akan mendapat gold dalam jumlah besar dan itu bisa membuat Squad kita langsung kalah dalam putaran pertama ini.”
“Kalau kita melihat dua turnamen sebelumnya, sistem yang akan dipakai sepertinya adalah dua ronde.” Ujar Fredy. Ia sering menonton pertandingan semacam ini di MeTube ataupun di televisi.
__ADS_1
“Kalau dua ronde, kita harus memikirkan kombinasi Hero yang akan dipakai dalam ronde kedua...” Ryan melihat ponselnya yang miring.
“Kombinasi pertama kita perlu memakai satu Archer, dua Warrior, satu Mage, dan satu Tank.” Ujar Ryan. Ia lalu memperlihatkan ponselnya.
“Aku ingin kalian memilih salah satu dari lima Hero Archer yang menurutku bisa menghancurkan defense lawan.” Ryan meletakkan ponselnya di atas kertas. Yang lainnya segera melihat.
“Bagaimana dengan Verri? Ia bisa melepaskan banyak sekali anak panah dalam beberapa waktu dan jika dikombinasikan dengan item pedang putih, bisa memberikan damage tambahan.” Ujar Fredy. Rio, Hendra, dan Leo mengangguk.
“Tapi kalau kita memakai Dexter, kita bisa memberikan critical yang besar pada lawan kalau kita memakai item critical sebelumnya...” ujar Justin berpendapat.
“Kalau aku akan memilih Ronald, kenapa? Karena kalau kita memakai Dexter dengan damage critical, itu akan berbentuk physical damage. Lawan pasti memikirkan untuk membuat critical yang diberikan oleh Dexter takkan ada gunanya bagi Tank. Kita akan memakai Ronald yang yang bisa memberikan physical damage yang juga berupa magic damage.” Ujar Agus.
“Ronald sebenarnya ada kekurangannya. Attack speednya yang kecil membuat ia hanya bisa melepaskan sedikit critical pada lawan dalam jangka waktu yang singkat...” ujar Justin. Bisa dibilang kalau Justin ini adalah spesialisnya Hero role Archer.
“Kita memutuskan akan memakai Dexter. Justin, kuserahkan Dexter padamu...” Ryan mengambil kembali ponselnya dan menunjukkan daftar Hero pada semuanya.
“Archer sudah, yang kedua adalah Mage. Yang mana?” tanya Ryan. Semua orang langsung memilih Billie.
“Eh?”
“Billie ini masih ditakuti, bukan?” tanya Hendra, “Alasan ia ditakuti karena kekuatan apinya yang bisa memberikan efek Scorch pada lawan dengan jumlah yang amat besar.”
“Billie akhir-akhir ini sering kena Banned, bukan? Bagaimana kalau Hero ini juga dibanned nantinya?” tanya Rio. Hendra langsung diam.
“Masih ada Tian, bukan?” usul Rio sambil menunjuk seorang Hero yang memiliki rambut biru, berjubah besar, dan dikelilingi petir, “Serahkan Tian untukku...”
“Role Tian ini Warrior Mage, bukan? Kalau begitu kita akan memakai Warrior dua...” belum selesai Ryan menjelaskan, Hendra dan Agus langsung berseru.
“Wukong!”
“Titanios!”
“Dua Hero itu sering dibanned...” Rio berkata dengan datar.
“Masih ada Vius!” seru Hendra. Agus dan Hendra ini ahli dalam menggunakan Hero Warrior.
“Mond bisa kita jadikan Fighter Tank, bukan? Kalau begitu aku akan memakainya!” Agus berseru.
“Kalau begitu aku akan memakai Assassin, yaitu Ross...” Ryan melebarkan mulutnya.
__ADS_1