Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
194. Akhir ujian pertama II


__ADS_3

Zein tersenyum lebar, Luna hanya menepuk dahinya berkali-kali. Mereka sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya dan harus mereka akui, kekuatan Slitherio ini amatlah besar.


Tetapi Slitherio dan kawan-kawannya bisa dikatakan belum bisa melepaskan seluruh kekuatan yang ada di dalam tubuh mereka.


Menurut Tuhan sendiri, kekuatan terpendam makhluk hidup bisa dikeluarkan dengan bantuan dari alam. Misalnya petir menyambar, api dari dalam gunung, dan lain-lain.


Tetapi efek dari petir menyambar itu jauh lebih kuat dibanding yang lainnya. Alasannya karena petir menyambar itu mampu membuka seluruh kunci yang menghambat keluarnya kekuatan yang terpendam dalam tubuh.


Ketika Zein menjelaskan itu pada Slitherio, yang diberi penjelasan membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sungguh tidak paham dengan mekanisme permainan ini.


Ini permainan atau dunia nyata sih? Batin Atra saat mendengar penjelasan itu.


Li yang dulu pernah mempelajari hal sejenis ini di dunia nyata tentunya bisa memahami penjelasan itu, sehingga penjelasan itu tidaklah terdengar asing di telinganya. Yang lainnya berbeda.


Luna berdeham sebelum bertanya, “Ehem, apa kalian paham?”


Slitherio, Sean, FastStone, Geisha, dan Li mengangguk. Atra, Naze, dan Clarey menggeleng. 


“Apa yang kalian pahami?” Zein menatap Slitherio, Sean, FastStone, Geisha, dan Li.


“Intinya, anda ingin meminta kami disambar petir selama beberapa waktu dan diminta membuka kunci-kunci yang ada di dalam tubuh kita, bukan?” Li menunjuk dirinya sendiri, “Aku paham!”


“Ucapanmu seperti bersikeras ingin disambar petir...” Naze menyikut Li. Li hanya menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.


“Baik, ikuti kami ke Kota Abadi...” Zein berkata dan seketika, mereka berada di dalam sebuah kota yang terlihat lebih sepi dibanding kota sebelumnya.


“Ini adalah Kota Abadi dan seperti yang Gaburon atau Sid sebelumnya jelaskan, tempat ini adalah tempat kalian tinggal sementara selama kalian mengikuti ujian dari kami...” Zein menunjuk ke kota, “Disini juga adalah tempat tinggal dari peserta ujian dari pulau ini...”


Sean menatap beberapa orang yang lewat di depan mereka, “Apa mereka adalah peserta ujian?”


“Benar...” Zein mengangguk lalu menunjuk ke sebuah rumah yang dindingnya berwarna biru langit, “Kalian akan tinggal bersama Gaburon saat di kota ini...”


“Tunggu, saya ada pertanyaan...” FastStone mengangkat tangannya, “Bagaimana kita bisa sampai di Kota Abadi hanya dalam waktu sekejap?”

__ADS_1


“Aku menggabungkan masa lalu dan masa depan dengan kekuatanku kemudian memindahkan kita ke masa depan dengan Teleportasi dan yang saat ini kalian lihat adalah yang seharusnya terjadi jika kalian berjalan kaki kesini...” Luna menatap FastStone datar.


Slitherio membuka mulutnya lebar-lebar, sungguh kekuatan sembilan Dewa pertama memang berbeda dari yang lainnya.


“Kita akan kesana...” Zein menunjuk rumah yang disebut-sebut adalah rumahnya Gaburon. Sekali lagi, mereka berpindah ke tempat tujuan dengan cepat.


“Eh, Zein God...” Gaburon tiba-tiba membuka pintu dan menemukan Zein dan yang lainnya berdiri di depan rumahnya.


“Gaburon, mereka kuserahkan padamu selama ujian nanti...” Zein berkata.


“Ujiannya seperti apa?” tanya Gaburon. Ia penasaran, apakah ujiannya sama atau tidak dengan dirinya.


“Ujiannya sama, mereka adalah orang-orang yang berhasil menemukan peninggalan terakhir Twelve First Gods di bumi...” Zein menunjuk Slitherio.


Zein mendekat dan berbisik, “Jaga si Jubah Merah itu untukku. Aku memiliki suatu hal yang ingin kuberikan padanya...”


Gaburon mengangguk dan setelah itu, Zein dan Luna berubah menjadi api-api dan es lalu menghilang.


Slitherio menaikkan alisnya, “Anda kenapa?”


“Hei, apa kalian sudah punya tanda ujian?” seseorang yang membawa tombak di punggungnya berjalan mendekat. Ia adalah Serpent Spear God Sid.


Slitherio meraba tubuhnya sendiri, “Dimana letaknya?”


Sid menaikkan pergelangan tangan kanannya, “Disini...” Sid menunjukkan pergelangan tangannya yang terlihat digambar sebuah segi lima.


“Ini adalah tanda ujian. Semakin banyak sisinya, semakin besar bakat yang kau miliki...” Sid menyikut Gaburon, “Dia memiliki bentuk yang paling banyak sisinya, yaitu segi delapan.”


“Oh, aku masih kalah jika dibandingkan dengan temanmu dulu itu...” Gaburon meraih kepala Sid, “Dia jauh lebih berbakat dibandingkan diriku ini meskipun kita memiliki tanda yang sama...”


“Dan juga, bentuk tanda ujian yang kalian dapatkan akan menentukan seberat apa ujian kalian selanjutnya...” Sid seketika teringat sesuatu, “Oh iya, bagaimana kalian bisa mendapatkan tanda ini?”


“Dengan menerima aura sembilan dewa!” Sean menaikkan jempolnya sambil merangkul FastStone, “Dan Slitherio adalah orang terkuat di kelompok kami.”

__ADS_1


Sid menatap Slitherio, “Terkuat?”


“Aku tidak yakin ini bisa dibilang terkuat atau berbakat, tetapi tanda yang kumiliki berbentuk segi sembilan...” Slitherio menunjukkan pergelangan tangannya yang berisi gambar kecil sebuah bentuk segi sembilan.


“Eh?!”


***


Sid menyajikan beberapa piring yang berisi beberapa makanan. Seperti daging dan sayuran.


“Silahkan dimakan, ini adalah masakanku...” Sid tersenyum bangga, seolah senang dengan masakannya yang terlihat sederhana itu.


“Baik...” Gaburon mengambil piring yang tadi disiapkan oleh Geisha dan Clarey. Mereka memilih membantu Sid menyiapkan makan malam karena tidak memiliki kegiatan lain.


Sementara yang lainnya termasuk Gaburon sedang bersantai di atap rumahnya, Sid dengan Geisha dan Clarey memasak.


Ternyata, dibalik penampilan Sid yang mengerikan dan kejam, sebenarnya ia menyimpan bakat yang menakjubkan tentang memasak.


“Oh, masakanku ini tidak bisa dibandingkan dengan Food Goddess Bary...” Sid terkekeh kecil saat ditanyai oleh Geisha tentang bakatnya.


Mereka makan dengan tenang dan diam. Memang, Slitherio sudah mengatakan itu sebelumnya untuk selalu makan dengan tenang entah itu di Midvast ataupun di luar Midvast. Agar terlihat sopan, alasannya Slitherio saat itu.


Tetapi Slitherio memilih diam karena tahu kalau dua orang dihadapannya yang sedang makan dalam diam ini bisa membunuhnya kapanpun mereka mau.


“Tentang tanda yang ada di pergelangan tanganmu itu, ditentukan dengan jumlah kekuatan Spirit yang kau miliki, lalu kekuatan teknik serta tingkat penguasaan senjata, dan terakhir adalah umurmu saat ini...” Sid menaikkan sendoknya, “Berapa umur kalian semua?”


“Rata-rata kami berumur sekitaran 25-28...” jawab Sean. Sean sendiri berumur 27 tahun dan FastStone berumur 28 tahun. Naze, Slitherio, dan Li berumur 26, serta Geisha dan Clarey berumur 25 tahun.


“Apa?!” Sid memukul meja, alhasil meja menjadi retak karenanya, “Kalian pasti berbohong...”


“Apa kami terlihat berbohong di mata anda?” tanya Sean lalu menunjukkan wajahnya.


Sid menggeleng, ia bisa melihat kalau Sean tidaklah berbohong. Ia lalu bertanya lagi, “Bagaimana cara kalian bisa mendapatkan kekuatan Spirit sebanyak itu hanya dalam waktu singkat?”

__ADS_1


__ADS_2