
Ryan duduk di depan televisi sambil menunggu Rayhan belajar bersama Raisya. Ryan memilih duduk sambil memainkan ponselnya, bermain Physical and Magic.
Karena memang permainan itu sudah berjalan selama lebih dari dua puluh tahun, membuat posisi Top Global semakin sulit dikejar. Tetapi siapa yang tidak kenal dengan Slitherio.
Sosok yang mampu mengejar ketertinggalan Rank di Physical and Magic selama empat tahun dan meraih gelar Top Global. Hanya Ryan seorang mampu seperti itu, sepertinya.
Ryan kembali mengejar posisi Top Global, mau itu nomor dua sudah tidak apa. Kali ini ia hanya bermain untuk menghibur diri.
Santainya itu menghilang ketika sebuah pesan dari temannya yang ada di Midvast masuk ke ponselnya.
“Ryan, gawat! Kota Hostix diserang dan terancam hancur!” begitulah isi dari pesan temannya itu yang bernama Rio atau yang dipanggil Wind Bow God Naze.
Ryan mengerutkan dahinya, “Siapa yang cukup gila menyerang kota tempat tinggal salah satu dari para dewa?”
Jumlah para dewa di Midvast ada lebih dari sepuluh, mungkin lebih dari dua puluh. Karena memang hampir sebagiannya merupakan anggota Guild Sevens. Lore si pemain yang pertama mencapai dewa juga termasuk diantaranya.
“Entahlah, tetapi jika dilihat dari bentuk pedang yang dibawanya, bisa jadi kalau penyerangnya adalah si Mad Man EarthSquare!” jawab Rio. Setelah itu tidak ada lagi jawaban.
Sekarang sudah jam 21.30, sebentar lagi merupakan waktunya Rayhan untuk tidur. Ryan berdiri dan mengelus kepala Rayhan, “Kau tidur ya, sudah malam. Urusan belajarnya biar besok pagi di sekolah saja melanjutkannya.”
“Kalau tidak bisa menjawab, mintalah jawaban dari temanmu.” Lanjut Ryan sambil tersenyum jahil.
“Kau mengajarkan yang tidak benar pada Rayhan, tahu!” Raisya mengangkat tangan Ryan lalu merapikan buku Rayhan.
“Ayo kita tidur.” Ujar Raisya lalu mengajak Rayhan ke kamarnya.
“Caranya yang ayah beritahu tadi sepertinya bagus. Besok akan Rayhan coba.” Ujar Rayhan yang mendapat jeweran di telinganya.
“Jangan ditiru cara ayahmu itu. Dia memang tidak selalu benar dalam mendapatkan jawaban.” Ujar Raisya lalu berjalan naik.
Ryan masih di bawah dengan wajah mengerut. Memang, saat lima tahun lalu, EarthSquare muncul kembali dan menjadi Demon Sword God EarthSquare.
EarthSquare kembali menantang semua dewa pengguna pedang dan ia kalah telak dari mereka semua. Yang ditantang adalah Sean, Slitherio, Zero, FastStone, Lore, dan JadeRed.
Tentu saja EarthSquare kalah karena ia hanya memiliki sekitar 60 kekuatan Spirit, sedangkan lawannya memiliki hampir 75 kekuatan Spirit.
Setelah itu ia kembali menghilang dan muncul enam bulan lagi dan menantang 6 orang ini lalu kembali kalah.
EarthSquare memiliki 70 kekuatan Spirit, sedangkan lawannya memiliki 79 kekuatan Spirit.
Secara level, EarthSquare memang kalah dengan semua orang ditantangnya. Tetapi soal senjata, ia lebih unggul karena memang senjata yang ia pakai, Black Demon Sword adalah senjata tingkat Myhtic. 6 orang yang ditantangnya memilih memakai senjata tingkat Legendary mereka dan mereka menang karena senjata mereka yang bahannya terbuat dari logam terbaik di Midvast.
__ADS_1
Sebut saja Darkness Fire Sword milik Slitherio yang terbuat dari logam Kazezuchi yang terkuat diantara semua logam hitam lainnya. Senjata yang dipakai Sean bernama White Sword dan terbuat dari logam Nazcishe yang terkuat diantara semua logam putih.
Logam di Midvast dibagi menjadi 8 jenis berdasarkan warnanya. Semua senjata Myhtic tidak ada yang dibuat dari 8 jenis logam ini, melainkan diciptakan oleh para dewa.
Sebab itulah senjata tingkat Myhtic memiliki kekuatan yang jauh berbeda dengan senjata tingkat Legendary. Kalau si pengguna senjata Myhtic ini ingin agar senjata lawannya hancur, maka senjata lawan bisa hancur betulan.
“Dia menantangku, mungkin?” Ryan terlihat berpikir keras. Apa EarthSquare ini tidak akan menyerang sampai ia berhasil membunuhnya?
Ryan menggelengkan kepalanya lalu memeriksa semua celah di rumah bagian bawahnya dan menguncinya. Ia akan tersambung lagi ke Midvast.
***
Slitherio melesat dengan kecepatan tinggi menuju gerbang masuk Hostix. Menurut Naze, disanalah EarthSquare menunggunya.
Tetapi terlambat. EarthSquare sudah menghancurkan seperempat dari Hostix, tetapi tidak ada penduduknya yang tewas karena penduduk Hostix sudah mengungsi ke dekat pemukiman anggota Guild Sevens.
Slitherio berdecak lalu mempercepat lajunya. Ia akhirnya menemukan lawannya sedang duel dengan Riana. Sepertinya Riana menahannya untuk Slitherio.
“Akhirnya kau datang...” EarthSquare menurunkan pedangnya yang ditahan oleh Riana dengan kipasnya.
Riana termasuk salah satu dari para dewa dan memegang gelar Fan Goddess Riana. Gelar yang aneh memang, tetapi gelar itu diberikan padanya bukan tanpa alasan yang tidak jelas.
Yang ada di dekat EarthSquare hanya Riana, Whu, dan Naze. Sisanya tidak diketahui. Slitherio mendekat dan bertanya dengan nada dingin, “Mau apa kau kemari?”
“Seharusnya kau tahu, Flame Sword God Slitherio?” tanya EarthSquare balik sambil meletakkan pedang besarnya di belakang punggungnya. Ia menyeringai lebar.
Rasnya sudah berubah dari yang dulunya Human menjadi Demon karena ia memegang Black Demon Sword yang diberikan oleh salah satu petinggi bawah Hell Empire.
“Menantangku duel sampai kau bisa mengalahkanku?” tanya Slitherio sambil tersenyum lebar, “Kembalilah satu tahun lagi...”
“Jangan berkata seperti itu, aku sudah lebih kuat dari empat tahun lalu...” ujar EarthSquare lalu menarik kembali pedangnya, “Bersiaplah...”
Slitherio menarik Heaven Flame Sword dan menghunuskannya, “Sebaiknya kau bersiap juga...”
Tempat mereka akan berduel adalah sebuah bagian di Kota Hostix yang hancur itu.
[Dari: EarthSquare
Tipe: PvP
Waktu: tak terbatas
__ADS_1
Terima?]
“Terima.” Slitherio memejamkan matanya. Saat ia membuka matanya, angka sudah menunjukkan angka 0 dan EarthSquare sudah tidak ada lagi dihadapannya.
Slitherio tidak mengetahui kalau EarthSquare sudah berdiri di belakangnya dan menebas Slitherio. Kepala Slitherio lepas, tetapi kepalanya kembali ke lehernya.
“Apa kau berniat bermain curang?” Slitherio menoleh ke belakang dan yang selanjutnya terjadi membuat EarthSquare terpental jauh.
Entah apa yang terjadi, EarthSquare tidak menyadari kalau memendekkan jarak antara dirinya dan Slitherio adalah sebuah kesalahan besar.
Slitherio menebas perut EarthSquare lalu menusuknya dengan keras sampai perut EarthSquare berlubang. Slitherio lalu menggunakan gagang pedangnya untuk mendorong EarthSquare dengan keras dan EarthSquare terpental. Semua ini terjadi dalam waktu singkat.
Tak perlu waktu lama bagi EarthSquare untuk kembali berdiri. Ia lalu menatap Slitherio tajam, “Lanjutkan!”
Keduanya melesat dan mengadu senjata masing-masing dengan cepat sampai-sampai yang terlihat hanya bayangan mereka.
Riana, Whu, dan Naze yang melihatnya membuka mulut mereka lebar-lebar, mereka tak pernah lagi melihat Slitherio yang bertarung sampai seperti itu sejak duel antara dirinya melawan FastStone.
Duel itu hanya bertujuan untuk menguji kemampuan pedang keduanya sehingga keduanya tidak sampai mengurangi HP lawan.
Slitherio mengambil jarak dan kembali melesat, tetapi kali ini ia memakai dua pedang, yaitu Heaven Flame Sword dan Flame Phoenix Sword.
Gerakan Slitherio semakin cepat setelah memegang dua pedang. Kecepatan EarthSquare juga semakin cepat setelah ia membuat Black Demon Swordnya berwarna hitam.
“Darkness Slash!” EarthSquare berputar dan memberikan serangan yang mampu ditahan oleh Slitherio.
“Twin Flame Sword Technique: Great Flame Wave!” Slitherio melepaskan gelombang berwarna merah dan gelombang itu melesat dengan cepat menuju tempat EarthSquare berdiri.
Saking cepatnya, EarthSquare tidak mampu melihat gerakan gelombang itu sampai gelombang itu menembus dirinya dan memotong dirinya menjadi dua.
Seketika, EarthSquare tewas karena memang gelombang buatan Slitherio bisa menghilangkan setengah dari HP lawan jika ia mau.
Slitherio menyarungkan pedangnya lalu meninggalkan tempat itu bersama Riana, Whu, dan Naze.
“Kemampuanmu tidak bertambah, tetapi reflekmu sepertinya meningkat...” ujar Whu saat mereka berjalan menuju markas.
“Sepertinya itu disebabkan karena insting, mungkin?” Slitherio mengelus dagunya. Kepalanya saat ditebas tadi membuat HPnya berkurang amat banyak, tetapi tidak sampai habis.
“Karena hal itulah aku ingin berpetualang ke Benua Northev yang disebut-sebut sebagai benua terkuat diantara lima benua.” Ujar Naze.
“Baiklah, aku besok akan kesana untuk mengunjungi Sean. Kau mau ikut?” tanya Slitherio yang dijawab dengan anggukan oleh Naze.
__ADS_1