
Kabar tentang seorang pemain yang tidak pernah mati yang bukan lain Slitherio sudah menyebar luas di seluruh Midvast.
Banyak yang tidak mempercayainya, tetapi tidak ada yang bisa menyangkalnya. Kebenaran takkan bisa diubah.
EarthSquare yang sebelumnya dibunuh oleh Slitherio segera tersadar kalau tidak ada gunanya untuk melawan Slitherio. Mau sampai ia berlevel 0, ia tidak akan bisa mengalahkan Slitherio.
Dan satu kejadian muncul di beberapa tempat di Midvast. Kemunculan sosok yang mampu menghancurkan satu kota berukuran sedang ikut menggemparkan dunia bersamaan dengan kabar Slitherio yang tidak pernah mati itu.
Sosok itu hampir saja menampilkan wujudnya ketika seorang pemain yang mencoba melawannya tiba-tiba mati begitu saja ketika melihatnya. Ingatan terakhir pemain itu sebelum mati adalah ia memakai jubah berwarna hitam dengan mata merah menyala. Itulah penampilan sosok itu, katanya.
Beberapa perkiraan adalah sosok itu adalah salah seorang petinggi Hell Empire yang balas dendam dengan menghancurkan beberapa kota di Midvast sebagai bentuk balasannya, tetapi sebelas Ketua Guild Profesional tidak menanggapi masalah itu serius, sampai Endless Staff Whu mengisi posisi Ketua Guild Reister dan mengurus masalah ini.
Ia memerintahkan agar pemain yang bertemu dengan sosok yang memiliki ciri-ciri seperti itu diminta agar kabur saja daripada mati sia-sia.
Beberapa pemain bergelar serta biasa lainnya diminta untuk selalu menaikkan level mereka dengan aman. Alasannya karena pemain yang kira-kira bisa menandingi sosok itu sedang tidak berada di Midvast.
Ditambah dengan hilangnya sinyal milik Slitherio sekitar pertengahan bulan Februari, menambah gawat situasi di Midvast saat ini.
Di sela-sela berita itu, terdapat satu berita yang lumayan mengejutkan. Hampir seperempat pemain generasi awal yang bermain selama hampir setahun akhirnya berhasil mencapai tingkat dewa dengan menyelesaikan antara tiga sampai dua syarat menjadi dewa.
Dan itulah berita yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di dunia, entah itu di dunia Remaist Online ataupun dunia nyata.
***
Lima hari kemudian...
Waktu yang tersisa untuk menyelesaikan ujian ketiga adalah dua hari lagi. Mereka berhasil mendaki gunung tanpa batas lalu turun ke kaki gunung. Mereka baru melakukan separuh ujian dan sisa waktu sudah semakin menipis. Separuh itu maksudnya adalah sudah selesai mendaki gunung lalu menuruninya sebanyak satu kali.
Dengan kondisi seperti itu, Zein akhirnya memberikan keringanan dengan menambahkan waktu menjadi seminggu lebih tiga hari.
Dengan begitu, Slitherio dan teman-temannya bisa menyelesaikan ujian dengan lebih mudah. Sementara Slitherio dan yang lainnya merasa sedikit terbantu, satu orang yang masih memikirkan tentang keringanan dari Zein akhirnya angkat bicara. Ia adalah Sean.
“Apa kalian tidak merasa aneh? Baru kali ini aku merasakan waktu ujian yang ditambahkan...” ujar Sean hari ini, saat malam harinya.
__ADS_1
“Aneh memang, tetapi kita harus memanfaatkannya...” ujar Slitherio lalu meminum air yang ia simpan di dalam Inventorynya.
Sejak berada di dalam Gods Island, mereka tidak bisa memutuskan sambungan. Dengan kata lain, mereka terjebak di dunia itu sampai mereka menyelesaikan ujian ketiga.
Fungsi seperti status dan skill tetap ada, tetapi menu untuk memutuskan sambungan tidak ada. Inventory, map, dan daftar teman masih ada, yang tidak ada hanya menu memutuskan sambungan.
“Yang kutakutkan adalah Zein berbohong pada kita...” FastStone juga merasa aneh dengan keringanan dari Zein, “Siapa tahu kalau sisa waktunya adalah dua hari lagi...”
“Kalau begitu...” Li berdiri, “Kita harus menyelesaikannya dua hari lagi...”
Slitherio menggaruk kepalanya, meski begitu seharusnya jam ini mereka beristirahat. Slitherio berdiri dan berkata, “Kita lanjutkan dan waktu kita istirahat kusingkat menjadi lima belas menit...”
“Aku sih cukup...” Naze dan Atra berdiri bersamaan, “Kita masih memiliki air, bukan?”
Memang, selama ini mereka mengembalikan stamina dengan air kosong dan tidak membuat makanan apapun. Alasannya untuk menghemat waktu.
Karena ini adalah permainan, lapar mereka di dunia ini tidak akan sampai ke dunia nyata. Tetapi lapar mereka di dunia ini bisa menyebabkan kematian karena saat lapar, HP akan berkurang sebagai ganti dari makanan.
Dengan kata lain, Slitherio dan yang lainnya sudah menahan lapar selama lima hari lebih. Ini mungkin adalah rekor Slitherio dan teman-temannya menahan lapar.
Jika mereka memakan sesuatu sebagai makanan, HP akan kembali seperti semula dan rasa lapar akan hilang serta digantikan dengan rasa kenyang. Tubuh karakter akan kembali seperti semula. Tetapi tidak dengan tubuh aslinya.
Sean berdiri, “Kita harus menyelesaikan ujian ini secepatnya...” Sean meminum jatah airnya lalu berlari menaiki gunung. Yang lainnya lalu mengikuti.
***
Dua hari kemudian...
Entah mendapat motivasi apa, Slitherio dan teman-temannya berhasil menyelesaikan ujian ketiga saat hari hampir menjelang pagi.
Zein dan Luna masih berdiri di tempat mereka saat mengantar Slitherio beserta teman-temannya menuju gunung tanpa batas. Tetapi kali ini mereka tidak sendirian.
Tujuh orang dengan aura kuat berdiri di sebelah Zein dan Luna. Mereka memasang ekspresi yang sulit ditebak.
__ADS_1
“Hanya seminggu ya?” tanya seorang pria dengan batu di tangan kanannya. Ia adalah Tany.
Pria yang memiliki tubuh kekar mengangguk. Ia adalah Jay. Jay mendekat dan memperhatikan Slitherio yang napasnya tidak teratur.
“Lelah?” Jay menatap Slitherio dengan senyuman lebar. Slitherio menatap Jay.
“Kita kembali lagi ke Gods Island...” tepat setelah Jay berkata begitu, mereka semua segera berada di tempat sebelumnya mereka masuk ke Gods Realm.
“Ayo kita ke Kota Dewa dan kita akan makan masakan Barry...” Jay mengangkat tangannya dan sekali lagi mereka berpindah ke sebuah restoran.
“Barry, kami pesan sayur rebus dan saus putih telur!” Jay kembali menjentikkan jarinya dan berpindah tempat ke sebuah ruangan yang amat mewah.
“Okey!” sebuah seruan keras terdengar dari balik pintu ruangan itu.
Slitherio, Sean, FastStone, Atra, Naze, Li, Geisha, dan Clarey menutup mulut mereka sambil memejamkan mata mereka. Perpindahan tadi sungguh tiba-tiba.
“Ups, maaf...” Jay menangkupkan kedua tangannya dan seketika cahaya lampu muncul dari atas kepala mereka.
Tak lama kemudian, seorang wanita yang membawa sebuah mangkok besar dan sebuah mangkok yang lebih kecil lagi datang lalu menyajikan semua makanan itu.
“Ini sayur rebus dan saus putih telur untuk dewa sekalian...” ujar wanita itu lalu menghilang lagi, “Aku akan mengambilkan piring untuk kalian dan minuman berupa anggur dicampur gula putih..."
Slitherio menatap sayur rebus yang tersaji dalam mangkok besar di hadapannya lalu bertanya pada Zein, “Apa makanan ini adalah makanan kalian?”
Jay mengangkat alisnya, “Kenapa? Bukankah ini semua enak?”
Sean memijat keningnya, tak ia sangka kalau selera makanan sembilan dewa elemen bisa setinggi ini.
“Tunggulah hidangan selanjutnya, kalian akan terpukau...” wanita tadi datang lagi dengan piring yang ditumpuk di tangan kanannya dan meletakkan semua piring itu di depan Atra.
“Hidangannya sudah jadi!” wanita itu pergi lagi dengan secepat kilat dan kembali ke ruangan itu dengan amat cepat.
Sepiring nasi dengan daging panggang serta siraman saus mirip saus keju terhidang di hadapan masing-masing dewa elemen.
__ADS_1
Wanita itu menaburkan sesuatu mirip garam diatasnya dan berkata dengan lantang, “Nasi dengan lauk daging ikan dengan siraman saus keju serta taburan biji wijen dan telur panggang telah selesai dan siap untuk anda sekalian santap!”