
Veny menatap semuanya, “Apa kalian yakin? Kisahku akan berlangsung lama...”
“Aku pernah membaca buku selama empat jam lebih...” Ujar Slitherio. Atra mengangguk.
“Aku juga pernah membaca buku selama lebih dari lima jam...” Ujar Sean. Ia mengatakannya hanya agar Veny itu percaya kalau mereka bisa mendengar kisahnya selama itu.
Veny menghembuskan napasnya lalu berkata, “Baiklah, aku akan mulai bercerita...”
Sepuluh tahun lalu, sebuah rombongan yang beranggotakan sekitar dua puluh orang berangkat dari Benua South untuk menapaki jalan dewa.
Slitherio yang mendengarnya berpikiran kalau setidaknya setiap benua memiliki sejarahnya masing-masing, tetapi kisah dari Era Penciptaan dan Era Kedamaian selalu dimulai dari Benua Midvast yang benua lain anggap sebagai benua utama yang melahirkan para petinggi dunia. Termasuk sebelas dari Twelve First Gods.
Benua Northev juga dianggap sebagai benua utama karena melahirkan salah satu dari tiga dewa terkuat, yaitu Dewa Naga.
Veny lalu melanjutkan kisahnya. Dua puluh orang itu adalah orang-orang pilihan Veny untuk menemaninya pergi menuju Gods Island, pulaunya para dewa.
Jarak antara Benua South dengan Gods Island berjarak sekitar setengah bulan jika melewati Triangle Sea. Tetapi rombongan Veny memilih jalan memutar dan melewati sisi lain dari Gods Island.
Dengan begitu, perjalanan yang seharusnya hanya berjarak setengah bulan diperpanjang menjadi satu bulan lebih.
Tetapi siapa sangka, di perjalanan itu mereka bertemu dengan pusaran air yang amat besar dan arus yang amat kuat.
Mereka mampu melewati pusaran itu, tetapi siapa sangka mereka malah masuk ke Triangle Sea dan bertemu dengan White Shark.
White Shark menghabisi separuh dari rombongan itu dan memaksa Veny dengan yang lainnya untuk mundur dan mencari tempat untuk beristirahat.
Saat itulah, peta mereka yang seharusnya ada di tangan Veny hilang tanpa diketahui sebabnya. Pada akhirnya, mereka terapung-apung di lautan tanpa tujuan yang jelas.
Perlu waktu sekitar satu minggu untuk menemukan White Pearl Island. Veny yang baru sampai dengan sepuluh orang bawahannya langsung menguasai pulau itu sampai pada hari ini.
“Istilah lainnya, kau menjajah pulau ini hanya untuk mencari peta Gods Island dan pergi kesana lagi?” FastStone menyimpulkan cerita Veny yang berlangsung sekitar kurang dari satu jam.
__ADS_1
“Kau bilang akan berlangsung lama, tapi kenapa jika kuhitung kau bercerita selama kurang dari satu jam?” Slitherio mempermasalahkan hal yang sepele lagi.
“Kalau kau ingin mendengar ceritaku sebelum melakukan perjalanan barulah akan berlangsung lama...” ujar Veny sambil mendengus.
“Baiklah, karena peta itu sudah ada di tanganmu, kenapa kau tidak meninggalkan pulau ini segera?” Buu bertanya dengan senyuman lebar, ia melihat kesempatan Veny pergi dari pulau ini.
“Karena satu alasan...” Veny memasang wajah serius, “Aku tidak punya kapal ataupun bekal untuk melakukannya, dan juga...” Veny terdiam.
“Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti sepuluh tahun lalu...” Veny menundukkan kepalanya.
“Aku yakin, semua orang pasti akan berpikir dua kali jika disuruh melakukan sesuatu yang sebelumnya gagal dilakukan, maka hanya ada satu cara...” Sean berkata dengan serius, “Serahkan peta itu pada kami, biar kami yang menyelesaikan perjalananmu itu...”
Sean mengulurkan tangannya, meminta peta pada Veny. Veny terlihat berpikir keras lalu berkata, “Aku tidak akan menyerahkan peta itu dengan mudah...”
“Baiklah, Naze, Atra, FastStone, siapkan alat-alat tadi dan berikan talinya padaku.” Slitherio meregangkan jari-jarinya sambil menatap Veny dengan seringai lebarnya.
“Tidak! Aku tidak ingin merasakan yang tadi itu!” Veny mengangkat tangannya sambil berkata dengan nada tinggi, “Akan kuserahkan pada kalian!” ia lalu kabur kembali ke tengah pulau.
Setelah yakin Veny lari amat jauh, Buu berlutut sambil menghadap Slitherio, “Terima kasih karena telah menyelamatkan pulau ini dari kekejaman Veny itu! Aku tak tahu harus berkata apa lagi!”
“Impas?” tanya Buu.
“Benar, kau sudah membantu kami mencari benda tujuan kami dan kami sudah membantumu membebaskan pulau ini, jadi kuanggap kalau kita sudah impas...” ujar FastStone.
“Dan juga, aku ingin memberikan benda ini...” Slitherio mengeluarkan sebuah pedang dari Inventorynya, “Namanya adalah Black Sword dan kau harus menjaganya...”
“Slitherio, kau...” Atra tentu mengenal pedang itu karena lebih dari setahun lalu, ia memberikan pedang yang sama pada Slitherio sebagai pedang pertamanya.
“Tenang saja, pedang Simple itu selalu kusimpan baik-baik di penyimpanku dan pedang ini hanaya duplikatnya saja...” Slitherio menepuk pundak Atra, “Lagi pula, pedang yang kuberikan itu berkualitas Rare, yang asli berkualitas Simple...” Slitherio tersenyum lebar.
Buu menerima pedang itu, “Apa tidak apa-apa kalau kuterima?”
__ADS_1
“Terima saja, lagipula pedang seperti itu tidak dibutuhkan oleh kami...” uajr Sean sambil mengeluarkan sebuah buku, “Dan juga kau harus mempelajarinya untuk menjaga dirimu sendiri di kemudian hari...”
Sean ternyata memberikan buku yang isinya adalah seluruh skill pemulanya, termasuk Armament. Skill pemula itu adalah Slash, Attack Wave, Cut, dan Puncture.
“Terima kasih, semuanya!” Buu duduk kembali dan membungkukkan sedikit badannya, “Akan kusimpan pedang serta buku ini sebagai pengingat tentang para penyelamat pulau ini...” ujarnya dengan terharu.
“Ini, aku sudah membawanya...” tak lama, Veny datang dan menyerahkan sebuah gulungan yang terlihat sudah kuno, “Silahkan diperiksa...”
Slitherio menerimanya dan ia pun bersorak gembira, “Inilah yang kita cari!”
“Hei, sebelumnya kau mengatakan akan melanjutkan perjalanan ini untukku, apa itu benar?” tanya Veny. Ia masih memikirkan tentang ucapan Sean sebelumnya.
“Begini, kau boleh tidak mempercayai kami, tetapi kami dipercayai oleh seluruh penduduk Midvast sebagai sekelompok orang yang akan menapaki jalan dewa, mencapai apa yang diimpikan oleh semua makhluk hidup di dunia, yaitu Dewa...” Slitherio berdiri dan mengangkat kepalan tangannya.
Sean ikut berdiri, “Meski kau berkata begitu, tidak akan bisa menghentikan kami semua...”
Slitherio masih memegang gulungan peta itu dengan erat laku menyimpannya di balik jubahnya, “Geisha, Li, siapkan Gold dan Night. Kita akan berangkat malam ini...”
“Eh?” Geisha dan Li mendengar ucapan Slitherio menjadi ragu.
“Kita ini mencari bahaya, bukan aman-aman saja...” Slitherio menepuk pundak Li dan Geisha bersamaan, “Lagipula kita semua sudah ditunggu oleh yang lainnya di Midvast, bukan?”
“Benar juga...” Atra berdiri, ia lalu menatap Veny, “Ada baiknya kalau kau meninggalkan Triangle Sea dan memberikan perjalananmu yang belum selesai itu pada kami...”
Veny berdiri dan menatap Buu, “Apa penduduk kalian mau membantuku membuat kapal baru?”
Buu mendengus kencang, “Asal kau tidak menyiksa penduduk, maka kami pasti akan membuatkannya untukmu...”
Veny tertawa kecil lalu mengusap kepala Buu yang botak. Semuanya tertawa melihat hal itu.
“Night dan Gold sudah siap! Tinggal perintah saja!” ujar Li dari ujung tebing. Slitherio menatapnya dan kembali menatap Veny, “Jangan berselisih lagi, ya?”
__ADS_1
Veny dan Buu mengangguk. Slitherio tersenyum lalu berkata, “Atra, Li, dan Sean naik ke Night, sisanya akan naik ke Gold. Aku akan terbang sendirian.”
Setelah selesai mempersiapkan diri, mereka terbang perlahan menuju timur, meninggalkan Purple Pearl Island yang kembali damai setelah sepuluh tahun lamanya dijajah oleh Veny sang Blood Crystal.