Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
134. Markas Guild Reister II


__ADS_3

Sean sedang melakukan pertemuan kembali dengan sembilan Ketua Guild Profesional lainnya saat seorang pemain anggota Guild Reister secara tiba-tiba datang dan membisikkan sesuatu padanya.


“Hei, apa kau tidak tahu kalau kami sedang melakukan pertemuan penting?” Seorang pria dengan wajah garang sambil membawa kapak yang disandarkan di belakang kursinya menunjuk pemain itu.


“Maaf, tetapi ini adalah urusan...” Pemain itu belum menyelesaikan ucapannya saat Sean secara tiba-tiba menghilang.


“Eh?” Sembilan Ketua Guild Profesional lainnya membuka mulut mereka lebar.


Beberapa saat kemudian, Sean kembali dengan seorang pemuda yang membawa dua pedang di pinggangnya dan memakai gauntlet merah keemasan.


“Salam, nama saya adalah Slitherio, pemain sederhana yang dipanggil Flame Sword Emperor...”


***


Sean menepuk pundak Slitherio lalu berkata, “Maaf bila sambutan yang kau terima tidaklah menyenangkan, mari aku ajak kau ke ruang pertemuan...”


“Oh, tidak perlu merendah begitu...” Slitherio melepaskan tangan Sean dari pundaknya lalu bertanya, “Ada pertemuan apa?”


“Kami sedang membicarakan tentang perburuan ke Gate of Beast Hell...” keduanya berjalan dengan cepat, orang-orang disana mungkin melihat mereka seperti dua orang yang sedang berlari santai.


Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu dan Sean membukanya. Sean menarik tangan Slitherio lalu berkata, “Maaf terlambat...”


“Oh, santai saja. Lagipula, tempat ini adalah tempat kekuasaanmu, kami tak ada hak untuk mengomelimu...” seorang pria yang memakai jirah berwarna biru berkata pada Sean, ia lalu menatap Slitherio, “Dan siapakah dirimu ini?”


“Salam, nama saya adalah Slitherio, pemain sederhana yang dipanggil Flame Sword Emperor...” Slitherio membungkuk dan memberi hormatnya.


Mata semua orang disana segera melebar, kecuali Luvian. Luvian sudah tahu identitas Slitherio hanya dengan melihat dua pedang Slitherio.

__ADS_1


“Mari duduk...” Sean menunjuk ke sebuah kursi yang kosong, sepertinya memang ditujukan untuk Slitherio.


Setelah Slitherio duduk, Sean kembali ke kursinya lalu berkata, “Baik, akan kulanjutkan...”


Slitherio menatap sekelilingnya, ia berusaha mengingat semua wajah yang ada disana.


“Kalau tidak salah, pria dengan topeng yang menutupi mulutnya dipanggil dengan julukan Black Fast Alex.” Slitherio menatap seorang pria yang memakai topeng yang menutupi mulutnya.


“Pria dengan kapak besarnya kira-kira dipanggil dengan nama Kurei, pemain dengan gelar Great Power Axe dan Ketua Guild Xiun.” Slitherio menatap seorang pria yang memasang wajah garangnya sejak tadi.


“Pria berjirah biru mungkin adalah Gorzsha, pemain dengan gelar Blue Defense yang disebut-sebut sebagai pemain dengan pertahanan terkuat di Midvast.” Slitherio menatap pria berjirah biru sambil mengelus dagunya.


“Wanita dengan jubah ungu yang sedikit terbuka mungkin bernama Fei, pemain dengan gelar Violet Scarf dan pemain yang mampu mengimbangi kecepatan Alex.” Slitherio menatap seorang wanita yang selalu memasang wajah bosan selama pertemuan.


“Wanita dengan sebuah pedang tipis di pinggangnya dipanggil Carey, pemain dengan gelar Mad Girl dan pemain dengan catatan pembunuhan pemain yang tertinggi diantara yang lainnya.” Slitherio memandang seorang wanita yang memasang wajah waspada selama pertemuan. 


Menurut Slitherio, Carey dan Alex mungkin adalah pemain yang harus ia waspadai karena memang info tentang mereka masihlah sedikit.


“Pria dengan pedang besar yang tersandar di belakang kursi mungkin bernama Zero, pemain dengan gelar Azure Slash dan pemain yang kekuatannya mengimbangi Gorzsha sekaligus pemain terkuat nomor lima sedunia.” Slitherio menatap seorang pria yang memakai jirah berwarna perak.


Slitherio menatap pemain terakhir yang selalu menundukkan kepalanya, tetapi jika dilihat dari senjatanya yang berupa cambuk merah, kemungkinan dia adalah Qiun, pemain dengan gelar Scarlet Whip dan menyandang julukan pemain terkuat nomor empat.


Menurut Slitherio, jika mereka semua saling melepaskan kekuatannya, mungkin kekuatan Sean berada di posisi pertama. Diikuti oleh Luvian, Gorzsha, Qiun, Zero, WhiteFang, Alex, Kurei, Fei, dan terakhir Carey.


Jika dirinya menjadi pemain terkuat nomor tiga, berarti kekuatannya disetarakan dengan Blue Defense Gorzsha.


“Pasti ada alasan kenapa kau memanggil kami semua kemari...” WhiteFang menatap Sean yang memasang wajah santainya.

__ADS_1


“Kalian pasti tahu tentang Gate of Beast Hell? Jika iya, maka kita akan melakukan perburuan kesana.” Sean berkata sambil tersenyum lebar.


“Kami tahu namanya, tetapi lokasinya tidak...” Zero menepuk meja pelan, ia tahu kalau sampai ia memecahkan meja itu, kemungkinan dirinya akan kembali dengan tenang tidak akan tercapai.


Slitherio menatap semuanya yang saling tatap. Ia akhirnya melakukan sesuatu dan mengeluarkan sebuah buku kemudian menyerahkannya pada Sean yang berada jauh di depannya dengan cara diluncurkan di atas meja.


Sean menangkap buku itu lalu bertanya, “Buku apa ini?”


Slitherio mengangkat bahunya lalu berkata, “Baca saja sendiri...”


Zero, Luvian, Gorzsha, WhiteFang, dan Alex mengangkat alisnya, tidak biasanya Sean mendapat perlakuan seperti ini, batin mereka. Mereka lalu menatap Slitherio yang duduk sambil menyilangkan kedua tangannya.


Sean menyipitkan matanya, menatap Slitherio lalu membuka buku itu. Di halaman pertama buku itu, tertulis tulisan 'Artefact of Hell Empire'.


“Kau?! Kau pasti berasal dari Hell Empire?!” Gorzsha yang berada di sebelah Sean ikut membaca buku itu menatap Slitherio tajam. Luvian sendiri memilih tenang membaca.


Semua orang disana segera meraih senjata mereka, bersiap menariknya kapanpun jika Slitherio sampai bertindak.


“Aku pastikan dia bukanlah dari Hell Empire...” Luvian menatap semuanya dengan tajam dan melepaskan Fighting Aura kemudian memaksa semua orang duduk kembali.


“Darimana kau mendapatkan buku itu?” Gorzsha menenangkan dirinya sebelum bertanya pada Slitherio.


“Aku mendapatkannya setelah menaklukan sebuah Dungeon yang disebut dengan Hell Castle.” Slitherio menjawab, tetapi tatapannya masih waspada. Sepertinya keputusannya mengeluarkan buku itu adalah suatu kesalahan.


“Aku ada satu bukti lagi...” ia lalu mengeluarkan pedang hitam yang didapatkan saat kembali dari Hell Castle lalu menancapkan pedang itu ke atas lantai.


Zero menarik pedangnya yang ada di belakangnya lalu memasang posisi siaga, “Kau pasti bukan Flame Sword Emperor Slitherio...”

__ADS_1


Slitherio menggaruk kepalanya, pasti ada yang salah dengan isi kepala Zero ini. Qiun yang sejak tadi menundukkan kepalanya memilih angkat bicara, “Kurasa Slitherio kali ini benar...” ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Slitherio.


Slitherio mengerutkan dahinya, apa selama ini dia selalu salah dimata Qiun ini?


__ADS_2