
“Masa? Ayah bisa memikirkan hal yang bagi anak berumur tujuh tahun adalah hal rumit itu dengan mudahnya?” Rayhan memijat keningnya, ia tak henti-hentinya terkejut akan kemampuan ayahnya saat masih kecil.
“Mau bagaimana lagi, memang seperti itulah yang terjadi saat itu...” Ryan tersenyum sambil menyandarkan punggungnya.
“Lalu, kapan ayah bertemu dengan ibu dan seperti apa cara yang ayah lakukan agar ibu suka dengan ayah?” tanya Rayhan.
“Kisah itu masih lama, dan jujur saja kalau saat ayah masih kecil ayah sudah pernah menjadi juara ketiga berturut-turut sampai ayah kelas empat SD...”
***
Ryan sang Ahli Strategi dan Anak Tersantai, itulah julukan yang diberikan oleh guru dan teman satu kelasnya.
Kalau ada suatu lomba yang mengandalkan strategi, Ryan akan diminta untuk membuatkan strategi bagi kelasnya.
Saat ulangan, Ryan juga membuat sebuah strategi agar semua teman sekelasnya bisa mendapat nilai yang tinggi atau mendapat nilai yang sama.
Para guru sampai pernah berpikir untuk membuat Ryan lompat kelas, tetapi Ryan tidak mau dan ingin terus bersama teman-temannya. Tawaran ini keluar saat Ryan naik ke kelas empat dan meraih juara ketiga untuk yang ketiga kalinya.
Teman sekelasnya yang mendengar alasan Ryan tetap berada di kelas yang sama dengan mereka menjadi terharu.
Bagaimana tidak, gelar juara pertama dan gelar juara kedua bisa bertahan berkat Ryan yang merencanakan agar mereka berdua mendapat nilai yang lebih tinggi.
“Aku membiarkan kalian menjadi yang pertama dan kedua dalam urusan akademik, tetapi aku tidak akan membiarkan kalian mengambil julukan Ahli Strategi yang sudah kupegang sejak kelas dua itu...” ujar Ryan saat ditanyai alasan kenapa Ryan membiarkan Ray dan Vania tetap berada di angka pertama dan kedua tentang kepintaran.
Dan tak terasa kalau enam tahun telah berlalu sejak Ryan masuk SD dan juga sudah kali keenamnya Ray mendapat juara pertama.
Para guru bahkan sampai bosan mengatakan nama yang sama sejak enam tahun lalu. Meskipun mereka memberikan tawaran pada Ryan untuk mengambil juara pertama, tetap saja Ryan tidak mau.
“Aku hanya akan mengutamakan teman-temanku dulu barulah aku. Tak apa kalau aku selalu menjadi yang ketiga, asalkan teman-temanku bisa berhasil, itu sudah membuatku senang...” ujar Ryan saat ia menolak penawaran dari gurunya.
“Tapi pintarmu itu sebenarnya melebihi Ray ataupun Vania, kenapa kau tetap mengalah pada mereka?”
“Ada saatnya ketika aku akan melampaui mereka berdua dan jika saat itu benar-benar datang, maka Bapak sebaiknya memikirkan kata-kataku tadi...”
Ryan memejamkan matanya. Ia kini sudah berumur 13 tahun dan ia sudah memasuki masa pubertas, masa yang penting bagi seorang manusia.
__ADS_1
Di lehernya telah muncul sesuatu mirip batu dan suaranya kini sedikit memberat. Tingginya juga bertambah, hanya saja ia tak bisa melebihi tinggi Nanda, temannya yang mendapat julukan Tiang Listrik karena tingginya itu.
“Hei Ryan, apakah kau punya strategi untuk ujian hari ini?” tanya Liem. Ia juga telah bertambah tinggi dan ia hanya melebihi Ryan satu senti saja.
“Oh ya, tunggu sebentar...” Ryan berpikir sebentar.
Teman di kelasnya yang memiliki kehebatan mengatur strategi yang bisa mengimbangi Ryan hampir tidak ada, tetapi ada satu orang yang memiliki kepintaran di bawah Ryan yang memiliki kemampuan itu.
Namanya Don dan ia sering bekerjasama dengan Ryan. Bisa dibilang kalau Don ini adalah teman Ryan yang paling sering Ryan ajak bicara, entah itu tentang hal tidak masuk akal ataupun tentang cara mengatur strategi.
Don sendiri mendapat kemampuan itu setelah ia belajar dari Ryan. Jujur saja, Don ini bahkan mendapat rangking 25 dari 30 siswa dan itu cukup membuat Don tersiksa.
Tapi Don tak berencana untuk melampaui Ryan dan ia hanya mengatakan kalau akan menggunakan pelajaran dari Ryan untuk masa depan.
“Perlu bantuan?” tanya Don, “Ini mungkin tambahan dari peserta ruang dua...”
Dari 30 siswa, akan dibagi dua karena dalam ujian ini setiap siswa akan duduk sendiri. Sebab itulah Liem meminta strategi dari Ryan untuk ujian kali ini.
“Boleh...” Ryan mendapat ruang pertama dan di ruang itu orang yang kurang pintar berhamburan. Di ruang satu hanya Ryan, Budi, dan Vania saja yang bisa diandalkan.
Don dan Ryan berdiskusi seru, mereka bahkan mulai mengeluarkan berbagai taktik, strategi, ataupun rencana yang ada di pikiran mereka masing-masing.
“Kalau kita mengoper kertas kecil yang isinya jawaban, bisa saja pengawas akan curiga dan kertas itu akan dibuang...”
“Bagaimana dengan setiap lima belas menit, dua diantara kita akan pergi ke toilet dan disana mereka akan saling bertukar jawaban?”
“Itu boleh saja, tapi kalau yang keluar sama-sama saja, pengawas yang akan curiga. Bukan tidak mungkin kalau guru bisa saja melihat aksi kita...”
“Tapi cara itu boleh juga...”
“Kalau begitu, rencana itu akan kita pakai...”
Ryan dan Don berdiskusi dengan serius. Ray dan Budi yang mendengarnya menaikkan alisnya, “Serius amat...”
Selesai berdiskusi, Ryan langsung menjelaskan rencana mereka. Tentunya mereka telah sepakat di grup kelas kalau mereka harus datang pagi-pagi untuk mendiskusikan hal ini di ruang perpustakaan pertama yang sudah tak terpakai lagi.
__ADS_1
“Meminta dua diantara kita pergi ke toilet untuk bertukar jawaban? Boleh juga...” komentar Yuni. Yuni juga adalah salah satu dari sepuluh orang terpintar di kelas dan ia mendapat nomor enam.
“Tapi siapa?” tanya Hendri. Ia adalah salah satu dari lima orang kurang pintar yang ada di kelas Ryan.
“Begini saja, selama lima belas menit jeda kita, kita harus membuat kertas kecil yang isinya jawaban, dan saat di toilet, kita harus bertukar jawaban. Kita lihat, yang mana yang benar, yang mana salah. Kalau ada yang lubang, kita bisa tukar di toilet...” tambah Don. Ia sudah memikirkan hal ini sejak tadi.
“Tunggu, bagaimana kalau guru mengetahui rencana kita?” tanya Toni sambil melirik ke belakang, memastikan tak ada siapapun yang mendengar diskusi besar mereka.
“Aku dan Ray yang akan memantau pengawas...” ujar Ryan.
“Jangan bawa-bawa namaku! Kalau kita gagal, kita bisa saja tidak lulus, tahu!” rah berkata dengan sedikit kesal.
“Kau ingin lulus bersama atau tidak lulus sendiri? Pilih...” Maya melirik Ray sambil menyeringai. Maya bisa dibilang adalah siswa yang paling mendukung Ryan soal strategi.
Ray terdiam. Mereka telah melewati masa-masa bersama selama enam tahun dan tidak mungkin kalau salah satu dari mereka akan tidak lulus, “Aku tidak mau salah satu dari kalian tidak lulus! Sebab itulah sebenarnya aku tidak ingin menjadi rekan Ryan dalam memantau pengawas.”
“Aku saja, kalaupun aku tidak lulus maka biarkan saja...” Remilio mengangkat tangannya.
“Tidak, aku dan Ray yang akan tetap mengawasi pengawas!” Ryan berseru dengan sedikit keras, akibatnya ruangan sedikit bergema.
“Aku dan Ray adalah yang paling dipercaya oleh guru, jangan ada yang membantah lagi. Kita akan lakukan ujian dengan taktik yang telah kita buat sebelumnya...”
Catatan Penulis:
Cara di atas itu adalah cara kelas saya dulu waktu UN. Saya tulis disini untuk nostalgia dengan masa SD saya dulu.
Tapi, cara itu dilarang ditiru karena tak baik. Meskipun pendidikan hanya mencari nilai, bukan ilmu, tetap saja jangan pernah dipakai saat ujian.
Kejadian yang ada dalam Flashback Ryan ini kebanyakan adalah kejadian masa lalu saya ataupun beberapa kejadian yang sangat ingin saya rasakan.
Sekian saja, nikmati masa lalu Ryan dengan hati senang.
Salam,
Rio.
__ADS_1