
Slitherio memanggil kembali Asheuin dan Sen kemudian mengembalikannya ke dalam cincin rohnya. Dengan level Asheuin yang tertinggi diantara mereka, yaitu sebesar 192 setidaknya Asheuin dapat melindungi seluruh teman-temannya.
Atra dan Whu memanggil kembali Adhie, Dee, Zeo, dan Bhiosa kemudian mengembalikan mereka kembali ke cinicin roh.
Level Adhie berada di level 191, Dee berlevel 191 juga, Zeo berlevel 189, Bhiosa berlevel 190, dan Sen yang berlevel 188. Dengan level seperti itu, mereka sudah bersiap untuk merubah penampilan mereka sekali lagi.
Mereka kemudian berjalan ke kota itu, tetapi ada satu masalah saat mereka berniat masuk ke kota.
Segerombolan monster berbentuk serigala datang dalam jumlah besar menuju kota Merchania.
Menurut perkiraan Naze yang terlihat lebih sering berurusan dengan serigala seperti ini, mereka kemungkinan bernama Leaf Wolf dan terlihat berjumlah ratusan dengan level yang setara dengan pemain level 20.
Mereka sebenarnya mampu menghadapi seluruh Leaf Wolf dengan sebelah tangan saja, tetapi gerombolan monster yang datang berikutnya membuat perkiraan mereka meleset jauh.
Segerombolan monster yang datang berbentuk belalang sembah yang bernama Jade Crane. Mereka datang dalam jumlah yang kurang lebih sama dengan jumlah gerombolan Leaf Wolf dan level Jade Crane ini kurang lebih setara dengan pemain level 30.
“Baiklah, hadapi mereka untukku...” Slitherio berbalik sambil melambaikan tangan kemudian melompat ke tembok kota.
Atra dan Whu tersenyum lebar, mereka kemudian ikut melompat ke tembok kota dan meninggalkan Geisha bersama dengan Naze yang berdiri mematung menatap gerombolan besar monster itu.
“Tidak ada pilihan...” Naze menarik pedangnya, sedangkan Geisha menarik busurnya.
“Kau harus bertarung di barisan depan dan aku akan menyerang dari belakang.” Ujar Geisha.
“Baiklah...” Naze menarik panjang napasnya kemudian melepaskannya sebelum melesat menuju gerombolan monster penyerang itu dan melawannya.
Slitherio, Atra, dan Whu menonton itu semua dari atas tembok kota.
“Hmm, hal ini akan menjadi latihan sederhana untuk mereka berdua dalam menghadapi sesuatu yang kurang lebih mirip seperti kita.” Atra berkata sambil mengusap dagunya.
Mereka bertiga berdiri diatas pembatas tembok kota dengan seimbang. Ada beberapa penjaga yang menatap mereka sekejap sebelum mengalihkan pandangannya keluar tembok kota.
Mata beberapa penjaga itu melebar saat melihat pertarungan tidak seimbang antara Geisha dan Naze melawan gerombolan monster yang berjumlah besar.
Salah satu penjaga berlari ke sebuah menara yang terdapat lonceng besar dan membunyikannya sembari berteriak, “Serangan!”
__ADS_1
Teriakan itu menyebar dengan cepat di dalam kota. Slitherio yang melihat hal itu tersenyum lebar kemudian melanjutkan menonton pertunjukan di depannya.
“Apa kau yakin kita tidak perlu membantu mereka? Kulihat mereka kesulitan...” Whu bertanya pada Slitherio yang dibalas dengan gelengan kepala.
“Sudah kubilang, biarkan saja mereka merasakan rasanya dikepung dari berbagai arah. Aku ingin melihat seperti apa cara mereka dalam menghadapi masalah seperti ini.” Ujar Slitherio santai.
Whu menghela napasnya, sedangkan mata Atra melebar saat melihat situasi di depannya saat ini.
“Lihat itu...” Atra menunjuk ke gerombolan Leaf Wolf dan Jade Crane yang memecah gerombolan mereka menjadi tiga gerombolan sedang. Dari dalam hutan muncul lagi segerombolan monster berbentuk kalajengking berwarna hitam.
“Black Scorpion!” dibawah, Naze berseru dengan napas tidak beraturan. Dia sangat mengingat monster ini karena monster inilah yang membantunya memiliki Second Jobnya, yaitu Hunter.
Disisi lain, napas Geisha semakin tidak beraturan. Selama kurang lebih setengah jam ia bertarung bersama Naze, mereka hanya mampu mengurangi jumlah gerombolan itu separuh dari jumlah awal.
“Apapun, demi Grand Job!” Naze berseru dengan keras kemudian menarik satu pedang yang ia miliki.
Kini, Naze sudah menggenggam dua pedang di masing-masing tangannya. Ia memang memiliki satu skill yang memungkin dirinya memakai dua pedang sekaligus.
Dengan cepat, Naze bertarung dengan seluruh sisa Mana dan Staminanya. Disaat seperti inilah, kekuatan Hunter akan bertambah sedikit saja.
Atra yang merasa semakin kasihan melihat kondisi Naze dan Geisha, berniat bertanya tetapi Slitherio sudah lebih dahulu berkata, “Atra, kau turun dan bantu mereka...”
Atra yang mendengar itu mengangguk kemudian melompat turun dan mengeluarkan cakarnya. Ia kemudian memainkan cakarnya dengan cepat dan kuat.
Dengan satu bantuan, masalah segera terselesaikan. Tetapi, satu masalah selesai dan sekarang datang lagi satu masalah.
Dua gerombolan sedang monster itu menyebar dan menyerang dua sisi kota, sisi kanan kota dan sisi kiri kota.
Slitherio memejamkan matanya sejenak sebelum berkata, “Whu, kau urus dua masalah baru ini dan tinggalkak aku disini...”
Whu terlihat bingung, tetapi ia mengangguk kemudian melesat menuju sisi kota lainnya.
Slitherio membuka matanya kemudian berkata, “Mau apa kau disini?”
Seorang pria berjalan mendekat sambil membawa sebuah seruling, “Aku ingin membantu...”
__ADS_1
Slitherio menaikkan alisnya, “Membantu dengan seruling itu? Kau pasti bercanda...”
Setelah Slitherio selesai berkata, ia kemudian teringat sesuatu setelah melihat penampilan pria itu.
Jubah besar berwarna putih dengan seruling berwarna hijau giok. Hanya ada satu pria yang memiliki penampilan seperti itu.
“Kau, Street Musician yang tak dianggap itu? Li?” tanya Slitherio kemudian melompat turun mendekati pria itu.
“Ah, sebuah kehormatan dapat dikenali oleh sang Flame King Slitherio.” Pria itu menunduk dengan sopan, “Benar, namaku adalah Li.”
Li tersenyum dengan lebar, wajahnya yang memang dasarnya tampan semakin tampan saat Li tersenyum.
Slitherio kemudian mendekat dan berkata, “Aku sudah menyukaimu sejak lama.”
Li tersenyum kemudian bertanya, “Kau menyukaiku atau permainan musikku?”
“Itu, musiknya saja.” Slitherio tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, “Jadi, apa yang bisa kau bantu dengan Seruling Giok itu?”
“Aku dapat menyerang semua monster itu dengan gelombang suara yang menurutku kuat.” Jawab Li.
“Menyerang dengan gelombang suara?” tanya Slitherio kebingungan.
“Seperti ini...” Li mengangkat serulingnya kemudian meniupnya.
Permainan seruling Li terasa menyejukkan, tetapi lima menit kemudian semua nada menyejukkan seruling Li berubah menjadi nada yang menusuk telinga.
Hanya saja, Slitherio dan yang lainnya merasa mereka mendengar suara seruling yang menyejukkan dan menenangkan. Hanya para monster sajalah yang mendengar nada menusuk telinga itu.
Gerombolan Leaf Wolf, Jade Crane, dan Black Scorpion mulai berteriak dengan keras, membuat Whu, Atra, Naze, dan Geisha kebingungan.
Tetapi mereka segera memanfaatkan semua kebingungan itu dengan menyerang seluruh gerombolan itu dengan cepat.
Slitherio yang melihat itu semua membuka mulutnya lebar, dirinya saja tidak mampu melakukan seperti yang Li lakukan.
“Li, apa kau... Manusia?”
__ADS_1