
Setelah berlalu satu jam sejak mereka memasuki ruangan kedua, mereka kini sudah menghadapi kurang lebih tiga gelombang Skull.
Skull disini dibagi menjadi tiga, menurut Geisha. Ada Skull Warrior, Skull Archer, dan Skull Shaman.
Skull Warrior adalah skill yang memakai pedang, tombak, kapak, dan senjata lainnya sebagai senjata. Skull Archer membawa busur dan anak panah yang sedikit untuk membantu Skull Warrior di depannya. Skull Shaman membawa tongkat sihir dan melancarkan berbagai serangan berbau kegelapan.
Meskipun jumlah mereka sangatlah banyak, level mereka amatlah rendah, sekitaran level 50-level 60.
Selama tiga gelombang serangan Skull itu, Bhiosa dan Zeo gugur karena kelengahan mereka sendiri. Atra saja hampir mati jika saja Slitherio tidak datang menghalangi serangan yang dilancarkan Skull Shaman ke arahnya.
Untuk menghadapi gelombang serangan keempat, mereka yang tersisa memilih maju bersamaan. Bisa jadi gelombang serangan keempat menjadi gelombang terakhir.
Mereka tidak tahu berapa sebenarnya ada ruangan seperti ini di Oxyvian Labyrinth, tetapi jika melihat tingkat kesulitan para monster yang berkumpul disana, mungkin saja ruangan seperti ini berjumlah empat atau mungkin lebih.
Slitherio, Naze, Atra, Whu, Geisha, Asheuin, Sen, Adhie, dan Dee bersiaga di tengah ruangan. Mereka menggenggam senjata masing-masing dengan erat. Mereka membentuk formasi lingkaran.
Naze dan Geisha diletakkan di tengah lingkaran, sedangkan Slitherio, Atra, Whu, Asheuin, Sen, Adhie, dan Dee mengelilingi keduanya.
“Mereka datang!” Atra berseru kemudian mengeluarkan cakarnya. Ia melihat segerombolan Skull Warrior berlari keluar dari pintu-pintu di sisi ruangan itu.
Mata Asheuin dan Sen melebar saat melihat para Skull yang mengepung mereka dari segala arah.
Slitherio menoleh ke sekelilingnya sebelum berbisik pada Naze dan Geisha, “Aku akan membawa kalian ke atas...” sambil berbisik, Slitherio menunjuk ke langit-langit ruangan.
Naze dan Geisha tidak mendengarkan. Mereka masih menatap Skull Warrior yang paling terlihat saat mengepung mereka.
“Aih...” Slitherio menggaruk kepalanya, ia mengembangkan sayapnya kemudian meraih Naze dan Geisha bersamaan sebelum melompat ke atas sambil berseru, “Tahan mereka untukku sesaat!”
Seketika para Skull Warrior langsung berlari menyerang Atra dan yang lainnya. Sebagian Skull Archer mulai menembaki mereka dengan anak panah, sebagian lagi menyerang Slitherio yang masih diudara.
“Tidak semudah itu!” Slitherio menarik napas panjang sebelum mengeluarkan satu skill yang hampir tidak pernah dipakainya, “Flame Warmage Technique: Fire Breath!”
Semburan api keluar dari mulutnya dan menyerang para Skull Warrior sekalian dengan Skull Archer dan Skull Shaman.
Dengan cepat, seperempat gelombang itu musnah dan menyisakan tiga perempat lagi gelombang itu.
Dari atas, Slitherio bisa melihat jumlah keseluruhan gelombang Skull ini.
__ADS_1
“A-apa?!” Naze yang berada di tangan kiri Slitherio berteriak dengan keras. Jelas ia tidak menyangka mereka sebenarnya dikepung dari segala arah.
Slitherio mempercepat terbangnya, ia tau kalau teman-temannya takkan mampu bertahan lebih lama lagi. Ia bisa melihat HP Whu yang paling tebal diantara mereka mulai menurun. Atra pun juga mengalami hal yang sama.
Slitherio kemudian menemukan satu celah untuk Naze dan Geisha berlindung. Ia kemudian meletakkan keduanya di celah itu kemudian berkata, “Seranglah mereka dari sini.”
Selesai berkata begitu, Slitherio langsung melompat turun dan mengarahkan telapak tangannya ke bawah, “Flame Warmage Technique: Spirit Boom!”
Slitherio turun dengan cepat dan saat telapak tangannya menyentuh tanah, segel kasat mata tercipta dan membuat ledakan yang amat besar.
Saat itulah, Whu berseru dengan cepat, “Clone Technique: Crittical Strike!”
“Clone Technique: Monkey Power!” Whu juga mengeluarkan skillnya yang berguna untuk meningkatkan kekuatannya sementara.
“Super Remaist: Crazy Monkey King!” tubuh Whu membesar dan bulu berwarna hitam kemerahan mulai tumbuh di tubuhnya.
“Super Remaist: Werewolf!” Atra juga ikut berubah, ia berubah menjadi setengah serigala dan tangannya membesar dan berbulu cukup lebat di kepala, tangan, dan kaki.
“Bloodthirsty Howl!” Atra melolong cukup keras dan tangannya mengeluarkan aura kemerahan.
Gelombang api keluar dari pedang Slitherio dan melesat melewati para Skull yang terbakar setelah terkena gelombang itu.
“Clone Technique: Ten Clones!” Whu berseru kemudian tongkatnya mengeluarkan sepuluh tongkat yang dengan cepat segera meniru wujud Whu.
Dengan Super Remaist digabung dengan Clone Technique, clon yang dibuat Whu dapat memiliki 30% kekuatan Whu yang sebenarnya.
Berkat Whu, perbedaan jumlah diantara mereka tidaklah terlalu terlihat karena Whu selain mengandalkan dirinya sendiri juga mengandalkan para clonnya.
Pertarungan itu terus berlanjut sampai akhirnya salah satu dari empat rekan mereka akhirnya gugur.
“Sampai jumpa...” Adhie tewas kemudian menghilang. Dengan begitu, tujuh penyerang berat mereka berkurang satu.
Sen juga berada dalam kondisi yang amatlah buruk. Sebagai Warmage, dirinya amat membutuhkan Mana dalam jumlah besar untuk menggunakan skill-skillnya. Serangan biasa tanpa skill pun terpaksa ia gunakan.
Karena sudah berlalu satu jam sejak mereka memasuki ruangan itu, Mana Sen berkurang dengan cepat karena sering dipakai dalam pertarungan.
Akhirnya, Sen mengikuti jejak Adhie dan tewas kemudian menghilang. Enam penyerang berat mereka kembali berkurang satu.
__ADS_1
Dee tidak terlalu membutuhkan Mana karena skill miliknya memanglah paling sedikit diantara mereka semua. Tetapi kekuatan serangan biasa Dee cukup untuk menghempaskan tujuh Skull sekaligus dan mengoperkannya pada Asheuin untuk dihabisi.
Lain orang lain juga kondisinya. Slitherio, Atra, dan Whu yang pernah menghadapi situasi seperti inipun bahkan kesulitan untuk bergerak bebas.
Serangan dari Skull Warrior memang lemah, tetapi serangan dari Skull Archer dan Skull Shaman membantu para Skull Warrior melawan mereka.
Situasi sebelumnya bahkan tidaklah separah ini, para Orc tidak pernah memakai senjata jarak jauh. Sebab itulah Sky Empire mampu memenangkan pertempuran itu.
Naze dan Geisha ditugaskan oleh Slitherio untuk menyerang para Skull Archer dengan busur mereka masing-masing.
Geisha tinggal mengambil Grand Job dan selesailah perjalanannya mencari job baru. Ia sudah memiliki rencana tersendiri untuk masa depannya.
Pertarungan terus berjalan sampai pada akhirnya Slitherio menemukan sumber dari pertarungan ini.
Sumbernya adalah sebuah lingkaran sihir yang terus mengeluarkan Skull secara acak di dalam ruangan yang ditutup oleh pintu-pintu itu.
Slitherio melompat mundur mendekati Atra kemudian berbisik, “Lihat itu...” Slitherio menunjuk sebuah lingkaran yang tersembunyi di balik pintu.
“Ya, lalu?” tanya Atra sambil berbisik.
“Musnahkan itu bagaimanapun caranya...” bisik Slitherio kemudian kembali bertarung.
Atr mengangguk kemudian melepas Super Remaistnya dan memakai cakar mekaniknya. Ia kemudian melesat melewati para Skull yang gagal menghentikannya. Sesekali Atra juga membunuh para Skull itu.
Setelah sampai di depan lingkaran sihir yang dimaksud, Atra langsung memakai Armament dan mencakar lingkaran sihir itu bertubi-tubi.
Tentu saja ia melakukannya di sisi yang lain lingkaran itu, jika ia melakukannya di sisi para Skull keluar, mungkin dirinya harus bertarung dulu dengan para Skull itu barulah menghancurkan lingkaran sihir itu.
Tak lama kemudian...
KRAK!
Lingkaran sihir itu pecah kemudian menghilang. Atra tersenyum kemudian melesat melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya tadi di pintu-pintu selanjutnya.
Setelah seluruh lingkaran sihir itu dihancurkan, para Skull mulai berkurang jumlahnya. Disaat itulah, Asheuin melihat kesempatan mencoba skill barunya. Ia pun mengangkat tangannya ke atas kemudian berseru.
“One Heaven Dragon!”
__ADS_1