
Slitherio menatap tengkorak di hadapannya, tengkorak itu bukan lain adalah Benario sang Death God.
“Apa kau yakin akan melawanku?” Tanya Benario sambil menghunuskan tombaknya, “Tombakku ini bisa berubah menjadi sabit...”
“Kalau senjataku adalah sabit, coba lawan aku...” Seorang pria dengan sabit besar di tangan kanannya berdiri di sebelah Slitherio. Ia adalah Luvian sang Schyte God.
“Luvian? Apa yang kau katakan?” Slitherio menatap Luvian tajam, “Pertarungan ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Dia adalah salah satu Twelve First Gods! Jangkauanku saat ini takkan bisa menjangkau kekuatannya yang besar itu!”
“Apa yang kau katakan? Jangan berkata aneh-aneh. Aku adalah ahli sabit, kalaupun aku mati oleh sabit maka itu akan menjadi kematianku yang terhormat diantara semua kematianku selama di Remaist Online...” Luvian menggenggam sabitnya lebih erat,
“Kalauoun aku mati, biarlah ini menjadi akhir dari perjalanan panjangku...”
Selesai berkata demikian, Luvian melesat dengan kecepatan tinggi menuju Benario sambil mengayunkan sabitnya, “Five Scyhte Cuts!”
Luvian tiba-tiba berada di belakang enario dan seketika, tubuh Benario tertebas sebanyak lima kali.
“Kenapa... Aku tak bisa melihatnya?” Benario berkata pelan, ia tak mampu melihat gerakan Luvian tadi.
“Armament!” sabit Luvian yang awalnya berwarna biru gelap berubah menjadi hitam setelah Luvian berseru seperti itu.
Luvian mengayunkan sabitnya dengan cepat dan Benario sama sekali tak mampu menghentikan serangan Luvian.
Benario terpukul mundur beberapa langkah dan Luvian takkan membiarkan lawannya mendapat napas lagi, setidaknya itulah pendapat Slitherio saat melihat pertarungan Luvian.
“Jangan berpikir kalau kau bisa menghabisimu semudah itu...” Benario tiba-tiba tersenyum, “Darkness Aura... Murderous Aura... Fighting Aura... Demon Aura... God Aura...”
Tekanan di sekitar Benario memberat seiring Benario melepaskan aura. Luvian tentu tertekan, tetapi ia memilih melepaskan seluruh auranya dan pertempuran aura terjadi diantara Luvian dan Benario.
Benario maju dan mengayunkan tombaknya, “Death Puncture!”
Luvian menghindari tusukan-tusukan tombak Benario dan melepaskan skillnya yang bernama Crescent Moon.
Skill ini membuat Luvian melepaskan gelombang datar berbentuk bulan sabit dan menerjang apapun yang ada di depan Luvian, yaitu Benario dan prajurit Hell Empire.
“God Skill: One Thousand Star Destroy The Darkness!” sabit Luvian merupakan senjata tingkat Myhtic dan memiliki kekuatan bintang amat hebat.
Sabit ini bisa memanggil seribu bintang untuk membantunya bertarung, sebab itulah nama sabit ini adalah Star Splitting Scyhte.
Ribuan cahaya terlihat masuk ke sabit Luvian dan saat itulah, Luvian berseru, “Slitherio! Serahkan urusan disini padaku!”
***
__ADS_1
Sean memegangi perutnya yang berlubang, ia baru saja berhasil menghabisi seorang dewa dari pihak lawan yang memiliki gelar Darkness God.
Sean berhasil menghabisi lawannya dengan susah payah karena kekuatan Darkness God ini benar-benar amat hebat.
July sendiri Sean perintahkan untuk membuat ruang baginya untuk bertarung. July mengangguk dan ia menghabisi prajurit lawan yang berniat mengeroyok Sean.
“Inikah... Akhirnya?” gumam Sean sambil melirik July yang jongkok tak jauh darinya.
“Sean, apa kau terluka?” tanya July dengan tampang tak bersalah.
Sean serasa ingin mengumpat, tetapi ia menyadari kalau July sendiri sudah tidak seimbang lagi. July lalu bergumam, “Pandanganku mulai buram...”
“Kita harus berjalan mencari Semipa...” Sean memegangi perutnya dengan tangan kirinya lalu tangan kanannya ia pakai memegang Gold Dragon Sword.
Sean merasa kalau HPnya tak bertambah sedikitpun, ia akhirnya memilih memakai Potion dan HPnya perlahan bertambah.
“Sial! Aku tidak mengira kalau bisa sesulit ini memulihkan HP seorang dewa!” Sean mengumpat sambil menunjuk langit.
July mendekati Sean, “Apa kita akan mati disini?”
“Tidak boleh! Kita tak boleh mati disini! Aku masih punya janji dengan seorang teman!” seru Sean lalu menyarungkan pedangnya, “Ikuti aku. Kau masih bisa berjalan, bukan?”
July mengangguk lalu berjalan mengikuti Sean yang sudah berjalan duluan. Keduanya berjalan tanpa memedulikan gelombang besar di sekitar mereka.
***
Sebelumnya, ia berhasil menghabisi Leone dengan kesulitan karena Leone dengan mudahnya mampu menghabisi clonnya. Tetapi dewa di hadapannya ini bahkan tak ada bedanya dengan para jendral dan para Commander dari pihak lawan
“Curang! Kau curang!” dewa yang dilawannya memiliki gelar Blood Sword God. Ia sendiri memegangi tangan kirinya yang sudah tak berbentuk lagi.
Blood Sword God menebas tangan kirinya dan menatap Whu, “Sampai kapan kau ingin duduk di atas tongkatmu itu?!”
“Sampai clonku mampu menghabisimu...” Whu turun dari tongkatnya, “Tetapi aku tidak bisa main-main terlalu lama, bukan?”
Whu memainkan tongkatnya sebentar lalu mengacungkannya, “Mari kita lanjutkan main-mainnya...”
Tak perlu waktu lama bagi Whu untuk menghabisi Blood Sword God dan Whu bahkan tak kehilangan HPnya satu persenpun.
Whu meletakkan kembali tongkatnya di punggunya lalu menatap ke pertempuran di hadapannya, “Apa kita bisa melewatinya?”
“Aku pasti bisa bertahan...” Wilhelm mendekati Whu sambil dipapah oleh Vius.
__ADS_1
“Whu, gawat! HP Wilhelm turun ke angka 10% dan ia terancam mati!” Seru Vius sambil melirik Wilhelm.
Whu segera mendekati Wilhelm, “Apa kau mau kembali ke Heaven Empire?”
“Aku masih bisa...” Wilhelm menatap Whu, “Aku takkan kalah oleh dewa semacam itu!”
“Vius, bagaimana ceritanya Wilhelm bisa seperti ini?” tanya Whu setelah Wilhelm diam.
Vius menghembuskan napasnya, “Dia melawan sesosok orang yang memiliki tubuh gendut dan Wilhelm terus menerus tertimpa badan besar lawannya...”
“Dia...” Whu segera terdiam, “Aku lupa...”
“Whu!”
***
FolkChase memegangi perutnya dengan susah payah, Visidha berhasil menghancurkan isi perut FolkChase dan itu cukup menyakitkan.
Tetapi nasib Visidha jelas lebih buruk. Ia sudah kehilangan tangan kanannya setelah ia dan FolkChase saling mengadu pukulan mereka, sampai membuat tangan kanan Visidha hancur.
Tangan FolkChase masih utuh dan ia berkata, “Kedua tanganku sudah kuubah strukturnya dan tanganku kini terbuat dari campuran logam Nazcishe dan logam Bukinou...”
“Cih, kau curang...” Visidha mengangkat tangan kirinya yang tersisa lalu berseru, “Darkness Light!”
Cahaya hitam keluar dari tangan kiri Visidha dan menerjang apapun yang ada di hadapannya. FolkChase tersenyum melihat semua itu.
“Kalau kau mengerahkan teknik semacam itu, aku juga bisa!” Visidha mengangkat kedua tangannya, “Lightning Spear!”
Sebuah tombak petir tercipta dari kedua tangan FolkChase dan tombak itu berwarna abu-abu. FolkChase mengacungkan tombak itu dan menghancurkan cahaya hitam itu dengan susah payah.
Setelah menghancurkan cahaya itu, FolkChase segera melesat secepat kilat dan langsung menusuk dada Visidha dengan tombaknya.
“Kita akan mati bersama-sama...” ujar FolkChase lalu berseru lagi, “Lightning Explosion!”
Ledakan besar segera menyapu sebagian medan perang dan itu akan menjadi akhir dari kisah legendaris antara Heaven Dragon FolkChase dan Hell Dragon Visidha.
Ledakan itu juga berhasil membuat sebagian pasukan Hell Empire hancur dan itu cukup membuat semua orang yang sedang bertempur terkejut.
Selama pertempuran, memang banyak sekali ledakan terjadi karena ini adalah pertempuran antara para dewa dan pertempuran semacam ini bisa menciptakan banyak sekali ledakan yang bisa saja menghancurkan bumi.
Tetapi, dari sekian banyaknya ledakan yang terjadi, jelas ledakan saat pertarungan terakhir yang paling besar dan membuat awan-awan emas di sekitarnya berpencar.
__ADS_1
Slitherio yang ada jauh dari tempat FolkChase mendengar suara itu dan ia berharap agar orang yang menerima ledakan itu bukanlah para dewa dari pihak Heaven Empire.