Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
146. Gate of Beast Hell VI


__ADS_3

Kota Hostix...


Di pusat kota, ada sebuah air mancur yang dikelilingi oleh tujuh cafe yang buka dari jam tujuh pagi sampai jam sepuluh malam.


Disana, di salah satu cafe itu Li bekerja. Li bekerja dengan menghibur para pelanggan cafe itu yang rasnya beraneka ragam.


Tetapi keanekaragaman itu tidak terlihat saat hari menjelang siang. Pada saat itulah Li akan menunjukkan kemampuan bermusiknya yang sering disebut hebat.


Disini, Li berhasil menembus level 210 dan menjadi seorang Top Global nomor tujuh puluh.


Meski hanya duduk dan bermain seruling atau kecapi, Li mendapatkan banyak EXP dari kegiatannya itu.


Li juga berhasil mengetahui cara menjadi dewa dari Reiy, sang Art Goddess. 


Caranya adalah dengan menaikkan kemampuan bermusiknya setinggi mungkin dan mencapai tingkat Master di Skill Masterynya.


Skill Mastery Li sudah setinggi Master level 34, hasil dari jerih payahnya selama lebih dari enam bulan sejak ia tersambung ke Remaist Online.


Selama bergabung ke Guild Sevens, perkembangan Li menjadi amat pesat. Bahkan melebihi kecepatan perkembangan Slitherio yang dikenal memiliki kecepatan berkembang yang amat hebat.


Meski masih level 210, Weapon Masterynya sudah mencapai tingkat Master level 27, setingkat lebih rendah dari Slitherio, ketua Guildnya.


Hari ini, adalah hari penentuan bagi Li, apakah ia pantas menjadi dewa atau tidak, hal itu akan diputuskan pada hari ini.


Li menarik napasnya panjang lalu naik ke panggung dan duduk di atas kursi yang sudah disediakan. Li mengeluarkan serulingnya lalu berkata, “Hai...”


Sekitar sepuluh orang akan menonton pertunjukan Li hari ini, mereka menyapa Li balik sambil bertepuk tangan.


Li tersenyum lebar lalu mulai meniup serulingnya. Alunan musik sederhana dan indah terdengar dari seruling yang dimainkan oleh Li. 


Suasana seketika senyap ketika Li menyentuhkan serulingnya dengan mulutnya dan mulai meniup. 


Para penonton memilih diam dan mendengar musik Li yang bisa dibilang menenangkan.


Zynga, dan Ovyx ikut masuk ke cafe itu dan melihat Li yang sedang bermain seruling di atas panggung.


“Dia hebat, bukan?” Zynga menunjuk Li. Ovyx mengangguk tanda setuju.


“Bisa mencapai puncak dari tingkat Master dengan job Musician, sepertinya hanya Li yang mampu melakukannya...” Ovyx mengelus dagunya, jelas ia iri dengan pencapaian Li yang terbilang tinggi itu, mungkin menyetarai pencapaian Slitherio selama di Remaist Online.


Mau bagaimanapun, kehebatan seorang pemain bergelar sulit untuk dibandingkan dengan pemain biasa seperti mereka.


Tetapi, ada seorang mampu menghancurkan anggapan itu. Ia adalah Li. Seorang pemain biasa yang dianggap sebagai pemain dengan job terlemah yang akan mampu menapaki jalan dewa.


Tak sedikit pemain yang mengimpikan ingin pergi ke Gods Island, tempat portal menuju Gods Realm berada dan akan menerima ajaran dari dewa-dewi disana.


“Sepertinya hanya pemain bergelar dan pemain profesional saja yang dapat menapaki jalan dewa...” Ovyx menggaruk pipinya.


“Jangan menyerah, kita pasti bisa menapaki jalan dewa itu...” Zynga menepuk pundak Ovyx lalu kembali menikmati musik Li.


Li bermain dengan penuh perasaan, sama seperti yang telah diajarkan oleh Reiy padanya.


“Libatkan perasaanmu dalam permainan musikmu... Jadikan perasaan yang ada di dalam dirinya sebagai inspirasi dalam permainan musikmu... Kau juga bisa menggunakan emosi yang sedang kau alami sebelum bermain musik...”

__ADS_1


Li membuka matanya yang sejak tadi terpejam lalu memainkan serulingnya dengan tempo sedikit cepat.


Li bisa melihat levelnya naik perlahan-lahan dan Skill Masterynya meningkat juga, sampai pada akhirnya tersisa 200 EXP lagi agar dapat mencapai tingkat Master level 35.


Li memainkan serulingnya dengan perlahan setelah sedikit mempercepat tempo jarinya. Para penonton sudah memahami makna dari permainan seruling Li.


Li sedang menceritakan kisah hidup seseorang yang berusaha mencapai puncak dunia dengan ssgaal kekurangannya. 


Pada akhirnya, orang itu dipaksa untuk menyadari bahwa jalan yang ia tempuh masihlah panjang, dan puncak yang ia lihat hanyalah persinggahan sebelum melanjutkan menuju puncak yang sesungguhnya.


Dari sana, orang mempelajari bahwa hidup itu harus dilakukan dengan santai, jangan menjalaninya dengan tergesa-gesa.


Makna permainan seruling Li sebenarnya campur aduk, tetapi setidaknya makna ssbenarnya sudah ia ceritakan dengan baik.


Saat Li menekan lubang seruling yang terakhir sebagai penutup lagunya, sebuah jendela informasi muncul di hadapan semua pemain di Midvast.


[Selamat, Li telah berhasil menyelesaikan satu syarat menjadi dewa, yaitu mencapai Skill Mastery tingkat Master level 35!]


Jendela informasi itu muncul juga dihadapan Li. Li melepaskan napas lega, sudah menyelesaikan satu syarat menjadi dewa.


Ovyx, dan Zynga membuka mulut mereka. Dewa? Apa mereka tidak salah lihat?


***


[Selamat, Li telah berhasil menyelesaikan satu syarat menjadi dewa, yaitu mencapai Skill Mastery tingkat Master level 35!]


Slitherio dan semua anggota pasukan penaklukan Gate of Beast Hell mendapat jendela informasi yang sama.


Slitherio adalah yang paling kaget saat melihat nama yang tertulis di jendela informasi itu.


Seorang anggota Guild Sevens yang posisinya berada di posisi terbawah anggota terkuat di Guild Sevens malah menjadi anggota yang jalan dewanya sudah terpenuhi satu syarat.


Sean juga kaget sekaligus bingung, kenapa pemain dengan job Musician bisa menyelesaikan satu syarat menjadi dewa.


Sisanya memilih diam dan mengagumi Li yang terkenal lemahnya itu.


Sean menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan perburuan. Sudah berlalu sekitar lima belas menit sejak mereka mendapatkan satu anggota baru lagi, yaitu Vue.


Vue sendiri memilih bungkam saat ditanyai soal lokasi Hell Empire oleh FastStone. FastStone akhinya mendiamkan Vue karena tidak mendapatkan jawaban setelah lima kali bertanya.


Lynx, Clarey, June, Naze, Asvi, dan Riana adalah anggota Guild Sevens yang merasa tidak dianggap ada.


Bagaimana tidak, kemampuan yang dibutuhkan Sean dan Slitherio hanya Archer serta Support, tidak dengan mereka.


Ingin rasanya berlari keluar dari Dungeon itu dan kabur, tetapi hal itu akan mencoreng nama baik sebelas Guild Profesional.


Meski awalnya ingin melakukan itu, tak mungkin mereka meninggalkan Slitherio seorang diri di tempat ini.


Pulang-pulang, mungkin sudah ditebas oleh Geisha karena ketahuan meninggalkan Slitherio sendirian disini.


Beberapa anggota guild yang lain juga berpikir yang seperti itu. Tetapi mereka masih memiliki rasa setia pada guild masing-masing. Sebab itulah mereka masih di Gate of Beast Hell meskipun kemampuan mereka hampir tak pernah dipakai.


Pada akhirnya, kemampuan mereka dipakai untuk pertarungan ketiga sejak mereka masuk Gate of Beast Hell.

__ADS_1


“Baiklah, kami tahu kalau kalian tidak sabaran ingin bertarung.” Sean berhenti dan menunjuk pasukan besar yang ada di depan mereka, “Jadi bertarunglah dan tetap hidup!”


Para pemain posisi tengah, Defender, para Archer, dan para Support langsung berseru kemudian maju menyerang pasukan yang jumlahnya lebih besar dari jumlah mereka digabungkan sekalipun.


Para pemain posisi tengah maksudnya adalah pemain yang belum sempat bertarung sejak pertarungan melawan Boss Behemoth. Sebut saja Riana, Naze, Asvi, dan lain-lainnya.


Mereka maju dan pasukan kecil mereka langsung berbenturan dengan pasukan monster lawan.


Lawan mereka kali ini adalah monster yang memiliki mata seperti ular tetapi tubuhnya seperti singa. Monster seperti ini disebut dengan Snake Eyed Lion.


Jumlah sudah banyak, kekuatan mereka setara pemain level 200, kombinasi itu sebenarnya lebih dari cukup untuk memojokkan pasukan penakluk Gate of Beast Hell.


Tetapi pasukan elit Guild Profesional tidak bisa diremehkan begitu saja. Meski dikeroyok mereka tetap berhasil membuat pasukan singa bermata ular itu berkjrang lebih dari separuhnya.


Saat mereka merasa di atas angin, kejadian selanjutnya berhasil membuat Sean, Slitherio, Luvian, Zero, Kurei, Gorzsha, FastStone, LoghSeveria, Qiun, Fei, Alex, dan Carey langsung menarik senjata mereka. WhiteFang mengambil busurnya dan mengarahkan anak panahnya ke depan.


Sesosok ular besar muncul dan ukurannya membuat mereka yang melihatnya merinding.


Ukuran kepalanya sudah hampir sebesar pintu masuk Gate of Beast Hell. Tidak diketahui panjang dari ular itu, tetapi jendela informasi yang muncul setelahnya membuat identitas ular itu diketahui.


[King Cobra (Boss Monster) level 520


Atk: 1.000


Def: 2.000-2.010


HP: 700.000]


Sean berdecak sebelum berniat maju, tetapi ditahan oleh Slitherio, “Biar mereka merasakan pertarungan yang sesungguhnya...”


Riana mengatur formasi dan mengarahkan para Defender untuk menahan air yang keluar dari mulut King Cobra.


Menurut Naze, bisa jadi air itu adalah racun atau sejenis air pelumpuh yang mampu membuat HP pemain berkurang cepat. Jadi Naze menyarankan Riana untuk mengatur agar Defender menahan air-air itu agar tidak mengenai para Archer dan para Support.


Naze lalu mengarahkan para pemain posisi tengah untuk maju dan menyerang King Cobra.


Yang terlihat hanyalah kepala King Cobra, tubuhnya tidaklah terlihat karena tertutupi gelap yang disebabkan karena kurangnya pencahayaan di lorong itu.


“Taktik yang bagus, tetapi lawan yang mereka hadapi salah...” Kurei mengelus dagunya, tangannya gatal untuk ikut satu di pertarungan itu. Bisa dibilang, Kurei itu adalah maniak bertarung yang sebenarnya.


Yang lainnya mengangguk, tanda menyetujui taktik itu. Slitherio tersenyum tipis, ia adalah orang yang mengajarkan taktik itu pada Riana dan Naze.


Secara tiba-tiba, para pemain yang bertugas menyerang King Cobra terpental jauh dan hampir saja menewaskan mereka semua. Para Priest langsung mundur dan membantu menyembuhkan para pemain posisi tengah yang terpental.


Untuk sementara, para Defender menahan serangan King Cobra sembadi menunggu para pemain posisi tengah pulih kembali.


Zero bisa melihat situasi di depannya, jelas pasukan mereka sudah hampir kalah jika saja tidak ada Riana dan Naze yang mengatur mereka.


“Tunggu, dimana King Cobra itu?” Carey melihat ke sekelilingnya, ia tidak menemukan ular lagi.


Fei dan Qiun juga ikut mengedarkan pandangannya, sedangkan pandangan Alex langsung jatuh pada seorang pria yang berdiri santai di depan para Defender.


“Hihihi, hai...” pria itu melambaikan tangannya pada para Defender yang menatapnya dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Gorzsha dan Luvian menepuk dahi mereka, mereka tidak menyadari keberadaan pria itu sebelumnya.


“Tidak, yang sebenarnya adalah pria itu yang bernama King Cobra...” WhiteFang menunjuk pria yang melambaikan tangannya pada para Defender.


__ADS_2