Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
220. Heaven Empire


__ADS_3

“Kenapa... Sifat mereka berbeda jauh saat kita di Gods Island?” Semua orang tentu kebingungan saat mendengar sifat asli Twelve First Gods.


“Tapi seperti itulah yang kurasakan selama bersama mereka...” Chao menghembuskan napasnya dengan keras. Wujud naganya bisa membuatnya berbicara dan bersuara dengan keras.


Menurut Chao, sifat Zein, Luna, dan Jay sebenarnya tidaklah serius, melainkan sedikit konyol dan suka bertindak seenaknya saja. Tetapi yang dilihat oleh Slitherio dan yang lainnya adalah sifat super seriusnya.


Tany, Monte, Eny, Vesta, dan Max yang dikenal konyol malah aslinya amatlah serius. Saking seriusnya bisa membuat Sky Man kesulitan untuk membuat mereka tertawa lepas karena senang.


Kina sendiri memiliki sifat pendiam karena memang ia dianggap sebagai dewa terlemah karena ia memiliki elemen terlemah, yaitu Elemen Kayu atau revolusi terbarunya adalah Alam. Tetapi saat Slitherio dan yang lainnya melihatnya, ia amat ceria.


Xue dan Benario sendiri memiliki sifat yang berlawanan. Karena dua sifat itulah Era Kekacauan bisa muncul disebabkan karena sifat keserakahan Benario yang ingin menguasai dunia dan sifat Xue yang ingin menciptakan kedamaian. 


Slitherio dan yang lainnya tak pernah menyangka kalau hanya karena dua sifat berbeda seperti itu bisa membuat dunia berada dalam situasi yang berbahaya selama ratusan tahun.


“Yah, kalian memang tidak bisa mempercayai kisah itu, tetapi itulah yang terjadi ratusan tahun lalu, yang melatarbelakangi berdirinya dua kekaisaran legendaris, yaitu Heaven Empire dan Hell Empire.” Lanjut Chao.


“Benarkah? Aku rasa ayah dan ibu tidak terlihat ingin terlibat dalam perang berkepanjangan ini...” ujar Ware. Ia sendiri sejujurnya juga sulit mempercayai kisah itu, meskipun orang tuanya adalah salah satu dari dua kekaisaran legendaris itu.


“Itulah yang terjadi sejak aku masih hidup dari Era Penciptaan...” Chao berniat bercerita, tetapi terlihat sebuah bangunan yang kurang lebih mirip seperti istana melayang di dekat mereka, “Ah, itu dia...”


Chao dan Ware mempercepat terbang mereka. Tetapi selama hampir satu jam mereka terbang mereka bahkan tak sampai di istana itu.


“Oi, apakah tempat itu benar-benar Heaven Empire?” tanya Ware sambil berdecak, kekuatan Spiritnya sudah berkurang lebih dari separuhnya karena menempuh perjalanan selama hampir lima jam.


“Aku yakin kalau tempat itu adalah Heaven Empire...” Chao menatap ke depan dengan tenang, kekuatan Spiritnya sendiri sudah tersisa 75 kekuatan Spirit karena sejak tadi dipakai terbang, “Jangan bilang...”


“Chao!” suara seorang pria terdengar di belakang Chao dan Ware, “Kenapa kau kemari?”


Chao menoleh ke belakang dan melihat seekor naga berwarna biru terbang ke arahnya dan Ware.

__ADS_1


“Semipa?” Chao bergumam, tetapi suara terdengar sampai tempat Semipa terbang.


“Ah, kau mengenalku juga...” Semipa terbang lebih cepat dan terbang beriringan dengan Chao, “Kami membuat wilayah Heaven Empire terlindungi oleh segel ilusi karena kami mendeteksi adanya pergerakan besar di dekat Benua South...”


Sean menaikkan alisnya, “Pergerakan di Benua South?”


“Kau Gold Dragon God Sean, bukan? Kuucapkan selama karena berhasil melampaui Heaven Dragon FolkChase yang seharusnya memegang gelar semacam itu...” Semipa menatap Sean. Yang diberi ucapan selamat hanya menaikkan alisnya.


“Mari...” Semipa berubah menjadi manusia lalu menaikkan tangannya, “Open Seal! Teleport to Heaven Empire!”


Semua orang diselimuti cahaya berwarna putih sebelum menghilang dan berpindah menuju sebuah istana yang ada di atas awan berwarna emas.


“Selamat datang di Heaven Empire...” Semipa merentangkan kedua tangannya, menyambut semua orang.


Slitherio menatap ke istana besar di hadapannya, “Inikah, Heaven Empire?”


“Kalian benar...” Semipa mengangguk, “Seluruh bagian yang dialasi awan berwarna emas adalah wilayah dari Heaven Empire.”


“Oh, Chao? Kenapa kau kemari?” seorang pria yang terlihat memakai jubah berwarna putih muncul di hadapan Chao. Pria itu bukan lain adalah Xue sang Life God.


“Aku hanya ingin mengunjungi teman lamaku, sekaligus ingin mengantar dewa generasi baru...” Chao menunjuk Ware dan yang lainnya. 


“Ayo masuk, aku akan mengajak kalian mengelilingi Heaven Empire...” Xue berjalan duluan, diikuti oleh yang lainnya.


***


“Hah, akhirnya kita bisa bersantai juga...” Sean meregangkan punggungnya di ujung tebing. 


Heaven Empire berdiri diatas batu raksasa yang tingginya melebihi awan dan berada di dekat Gods Island. Xue sendiri mengatakan kalau nama batu raksasa ini adalah Batu Kebijaksanaan.

__ADS_1


Selain Batu Kebijaksanaan, ada banyak sekali batu sejenis yang memiliki tinggi menyetarai Batu Kebijaksanaan. Batu besar ini dijadikan alas istana serta bangunan lain Heaven Empire yang awalnya berdiri tepat di istana Sky Empire sekarang ini berdiri. Kekuatan Vend amatlah besar, bisa memindahkan bangunan semacam itu ke luar Midvast.


“Penjelasan God Xue benar-benar panjang, membuat kakiku pegal karena berjalan...” Riana berjongkok di belakang Rifa. Rifa sendiri adalah pemain dengan gelar Painter Goddess. Kekuatannya amatlah hebat, ia bisa membuat sebuah lukisan hidup, contohnya hewan dan bangunan besar. Stadium Hostix sendiri dibuat oleh Rifa.


“Sejarah dunia ini panjang juga, bukan?” Lore ikut duduk di sebelah Sean dan Whu, “Aku bahkan sulit mempercayai kisah yang disebarkan oleh Slitherio lebih dari enam tahun lalu...”


Umur rata-rata pemain yang pergi ke Heaven Empire adalah sekitaran 30-35 tahun, membuat mereka bisa mengingat detail kejadian bertahun-tahun lalu.


“Siapa yang mengira kalau dunia yang dipercaya dibuat oleh Neil Young ternyata memiliki sejarah yang amat panjang...” Slitherio duduk jauh dari tebing.


“Sebenarnya, Heaven Empire berada di dunia lain, mirip seperti Gods Realm...” Zero berkata, “Seharusnya kalian menyadarinya kalau kita tak bisa memutuskan sambungan disini...”


Wilayah semacam ini diketahui hanya ada dua di dunia, yaitu Gods Realm dan Heaven Empire. Tidak diketahui apakah ada tempat semacam ini di luar sana lagi.


“Kita bisa mencoba duel disini, bukan?” tanya  FastStone sambil menggenggam gagang pedangnya dengan erat. Terlihat kalau ia tidak sabar ingin bertarung lagi.


“Kau sudah berduel dengan Slitherio dan kau kalah...” Whu menunjuk FastStone, “Aku akan duel dengannya...” Whu meregangkan jari-jarinya sampai mengeluarkan bunyi.


“Tidak, aku akan mengurutkan kalian, dari yang terkuat sampai yang terlemah...” ujar Sean.


“Katakan saja kalau kau ingin langsung berduel melawan Slitherio, bukan?” Whu melirik Sean datar.


“Bukan itu, maksudku agar lebih rapi dan agar lebih mudah untuk menentukan lawan karena ada teman kita yang agak lemah disini...” Sean melirik Rifa. Rifa hanya menghela napasnya.


“Slitherio, Yang Mulia Daishi memanggil anda.” tiba-tiba seorang pria datang dan menghentikan diskusi tak ada gunanya Slitherio dan yang lainnya.


“Untuk?” tanya Zero.


“Ada yang ingin dibicarakan...” ujar pria itu sambil menunduk, “Mari...”

__ADS_1


__ADS_2