
Ryan menatap pesan Sean itu cukup lama sebelum bergumam, “Apa kira-kira yang Sean ingin bicarakan?”
Ryan menutup laptopnya kemudian menyimpannya di laci meja kerjanya lalu meraih V-Gearnya.
Ia memakainya kemudian tersambung lagi ke Midvast.
***
Slitherio membuka matanya, ia berada di dalam kamarnya dan ia sendirian. Slitherio tersenyum lebar sebelum memakai seluruh perlengkapannya.
Selesai memakai perlengkapannya, ia berlari keluar menuju Door Everywhere yang ada di pusat kota.
Whu yang melihatnya berlari segera mengejarnya dan bertanya, “Mau kemana kau?”
“Sean mengirimiku pesan darurat, ia mengatakan ingin membicarakan sesuatu dengan seluruh 11 Ketua Guild Profesional.” Jawab Slitherio sambil berlari.
Ia akhirnya sampai di depan Door Everywhere ditemani oleh Whu. Slitherio mengeluarkan sekeping uang Silver dan menyerahkannya pada penjaga yang menatapnya dengan tatapan bertanya.
“Kota Verys.” Ujar Slitherio setelah mendapat tatapan seperti itu.
Penjaga itu mengeluarkan semacam peta dan mencari di peta itu. Setelah menemukannya, penjaga itu menekannya dan Door Everywhere mulai aktif.
Sekarang ini, pendapatan Kota Hostix sekitar 100 Gold perbulan dan semuanya masuk ke kantong penyimpanan Guild Sevens.
Jika salah satu dari anggota Guild Sevens membayar sesuatu pada penduduk kota, maka uangnya akan kembali ke kantong penyimpanan Guild Sevens.
Slitherio serasa ingin tertawa saat menemukan hal itu. Bagaimana mungkin dirinya yang memberikan uang pada orang lain lalu orang itu membayar pajak menggunakan uang yang ia berikan.
Mengenai pendapatan, pendapatan ini didapatkan dari beberapa penduduk yang membayarkan pajak sebesar 100 Bronze setiap bulannya. 100 Bronze disini amatlah besar jumlahnya di Kota Hostix.
Para penduduk akan membayar pajak pada LoghSeveria yang mengaku menyukai hal-hal seperti ini. Biasanya LoghSeveria akan dibantu oleh Naze atau Atra. Katanya biar ada pekerjaan selain berburu saja, ujar Atra dan Naze saat Slitherio tanyai alasan kenapa membantu LoghSeveria.
Semua penduduk Kota Hostix mengetahui kalau Slitherio adalah Ketua Guild Sevens sekaligus walikota Kota Hostix. Sebab itulah, jika Slitherio lewat maka ia akan mendapatkan penghormatan dari beberapa penduduk.
Slitherio menatap Door Everywhere yang sudah aktif itu kemudian berjalan masuk dan pergi menuju Kota Verys.
Sesampainya disana, Slitherio langsung menarik perhatian penduduk Kota Verys karena perlengkapannya itu yang terlihat mengerikan.
Dengan dua pedang di masing-masing pinggang, jubah berwarna merah gelap, dengan pakaian berwarna merah dengan celana merah gelap, membuatnya terlihat semakin mengerikan.
Slitherio mengabaikan itu semua lalu pergi mencari markas Guild Reister. Tak sulit untuk menemukannya karena markas itu berdiri tegak di pusat kota dan merupakan bangunan terbesar di Kota Verys.
Tak perlu lagi basa-basi dengan penjaga, Slitherio langsung dibiarkan masuk dan langsung mencari ruang pertemuan sambil dituntun oleh salah satu anggota Guild Reister.
__ADS_1
Slitherio membuka pintu ruang pertemuan dan melihat sepuluh wajah yang terlihat suram. Hanya satu yang wajahnya terlihat amat suram, yaitu Zero.
Slitherio berjalan mendekat dan duduk di satu kursi yang kosong kemudian bertanya, “Ada masalah?” Slitherio kemudian teringat sesuatu, “Maaf jika aku terlambat...”
Entah apa yang terjadi, Slitherio malah ikut berwajah suram. Mungkin karena ketularan wajah suram Zero, mungkin.
“Guild Azure Dragon nyaris saja hancur jika saja aku tidak kembali ke markas dalam waktu singkat...” Zero berbicara dengan nada kecil. Terlihat kalau dirinya hampir saja kehilangan Guild kesayangannya itu.
“Siapa yang berani menyerang Guild Azure Dragon?” tanya Slitherio.
“Monyet sialan bernama Maxe...” jawab Zero pelan. Ia lalu mengepalkan tangannya.
Sean menatap semua orang yang ada disana, “Sudah semua ada disini... Baiklah, akan kumulai pertemuannya...”
Sebelum Sena melanjutkan, Slitherio mengangkat tangannya, “Aku memiliki sebuah kisah jika kalian mau mendengarnya...”
“Setelah pertemuan selesai, bagaimana?” Kurei menatap Slitherio dengan suram. Ia terlihat khawatir dengan nasib markas Guildnya yang ia tinggalkan.
“Tidak, ini menyangkut tentang rahasia Hell Empire...” tepat setelah Slitherio menyelesaikan kalimatnya, wajah semua orang berubah menjadi dingin. Aura di ruangan itu langsung berat.
“Apa itu?” Alex menatap Slitherio dengan tajam, setidaknya prioritas utamanya semua orang disini adalah menyelesaikan pertemuan secepatnya kemudian kembali ke guild masing-masing untuk menjaga markasnya.
Slitherio mengeluarkan satu buku yang sampulnya sedikit usang dengan warna ungu, “Judulnya adalah Artefact of Hell Empire...”
Slitherio mendorong buku itu sampai di tempat Sean. Sean menerimanya kemudian membuka buku itu.
“Dunia ini diciptakan oleh Neil Young dan 6 Game Masternya, kenapa bisa ada sejarah di dunia ini?” Fei yang duduk di sebelah Slitherio meraih salah satu buku itu dan membaca sampulnya.
“Book of Secret Midvast?” Fei membaca judulnya di sampulnya.
“Satu lagi adalah Kisah para Dewa...” Slitherio menyodorkan buku itu sampai di tengah meja. Luvian meraih buku itu dan membukanya.
“Darimana kau mendapatkan semua buku ini?” Qiun menatap Slitherio kebingungan, Guildnya yang terkenal akan kepintarannya mencari informasi bahkan tak dapat menemukan informasi tentang ketiga buku itu.
“A-apa?!” secara tiba-tiba, Sean berseru dan mengejutkan semua orang.
“Kenapa?” Gorzsha yang duduk di sebelah Sean menatapnya.
“Hell Empire... Ada di s Midvast selatan, tepatnya Death Valley.” Sean menatap Slitherio, “Apa kau mengetahui hal ini?”
“Sejujurnya tidak, karena aku yak pernah membuka buku itu...” Slitherio meletakkan kedua tangannya di atas meja, “Tapi aku mengetahuinya dari Vue.”
“Vue?” Zero merubah wajahnya menjadi serius.
__ADS_1
“Apa kalian masih ingat dengan makhluk yang menghadang kita saat di Gate of Beast Hell?” Slitherio menatap semuanya. Semua orang mengangguk.
“Dia bernama Vue dan dia adalah salah satu petinggi Hell Empire.” Slitherio tersenyum tipis, “Dia sudah ada di bawah pengawasanku dan aku yakin dia tidak akan merusuh dengan adanya para anggotaku...”
“Hei, kau masih belum menjawab pertanyaanku sebelumnya...” merasa dicueki, Qiun menatap Slitherio tajam.
“Ehem, aku dan wakil ketuaku, Atra, menjadi Highest General di kerajaan kita masing-masing.” Slitherio berdeham sejenak.
“Bohong...” Qiun, Alex, Carey, dan Kurei menyipitkan matanya.
“Lalu apa hubungannya dengan asal ketiga buku ini?” tanya Fei. Ia masih larut dengan buku itu dan kebetulan ia menguping pertanyaan Qiun.
“Atra mendapatkan buku Kisah para Dewa dari perpustakaan BloodThirsty Kingdom dan Artefact of Hell Empire dengan Book of Secret Midvast kita dapatkan saat menyelesaikan Hell Castle.” Jelas Slitherio.
“Sulit kupercaya...” Fei mengusap wajahnya kasar saat membuka pertengahan buku itu. Slitherio menoleh ke samping dan melihat jumlah halaman yang sudah dibaca oleh Fei.
“Kau? Bagaimana kau bisa membaca separuh buku itu hanya dalam waktu singkat?” Slitherio melihat jumlah halaman yang sudah dibaca oleh Fei.
Fei hanya tertawa kecil lalu berkata, “Aku tak menyangka kalau benua ini sudah memiliki sejarah yang panjang...”
Slitherio berdeham lalu berkata, “Aku sudah membaca kedua buku itu sampai habis...”
“Lalu?” Sean, Luvian, Alex, Zero, Kurei, Carey, dan WhiteFang menatap Slitherio.
“Setidaknya ada dua belas orang yang memiliki kemampuan yang amat tinggi di seluruh dunia ini yang terdiri dari 5 benua raksasa...” Slitherio lalu menjelaskan semua yang sudah ia baca sebelumnya.
“Lalu ada dua orang lagi yang memiliki kekuatan diatas dua belas orang ini, mereka disebut Tuhan dan Sky Man.” Fei menutup buku itu, ia sudah membacanya sampai habis.
“Lalu, apa hubungan tiga buku ini dengan masalah yang kita hadapi sekarang ini?” Sean meletakkan buku yang diberikan oleh Slitherio.
“Aku sudah bertemu dengan dua dewa yang disebut dibawa oleh Ocean Goddess...” Slitherio lalu menceritakan kejadian saat Guild Sevens bertemu dengan Gaburon dan Reiy.
Semua yang mendengarnya terpana, tak pernah mereka sangka orang baru diantara mereka bisa bertemu langsung dengan dua dewa.
“Beruntung sekali dirimu itu...” Sean mengangkat jempolnya, ia sekarang memahami alasan kenapa Slitherio bisa terlihat sangat kuat saat di Gate of Beast Hell.
Bisa mendapatkan Soul Remaist dalam waktu kurang dari sebulan ia tersambung, menyelesaikan dua Chapter dalam waktu kurang dari sebulan, menemukan buku sejarah yang ditulis langsung oleh salah satu Twelve First Gods, serta mampu mengimbangi pemain terkuat nomor satu, Sean, hanya Slitherio seorang yang mampu melakukannya.
“Harapan terakhir Benua Midvast berada di pundaknu sekarang...” Kurei yang duduk di sebelah Slitherio menepuk pundak Slitherio pelan. Semua orang mengangguk.
“Dan juga, aku kembali bertarung melawan Visidha...” Slitherio lalu menceritakan tentang Guild Sevens yang bertarung melawan Hell Dragon Visidha.
Sekali lagi semua orang terkejut, kisah itu seperti dibuat-buat. Tetapi wajah Slitherio yang terlihat serius membuat kisah itu seperti kenyataan.
__ADS_1
“Tentu saja Visidha ini bisa dipojokkan, dikeroyok 4 Remaister serta belasan pemain dengan Special Job dan Grand Job, siapa yang mampu bertahan...” Gorzsha memukul meja pelan.
“Ada, itu aku...” suara seorang pria sepuh terdengar di belakang Sean. Semua orang yang melihatnya segera memasang posisi siaga.