
Slitherio menarik pedangnya kemudian melesat turun dengan kecepatan tinggi menuju makhluk besar itu.
Ia tak menyangka kalau ada juga makhluk sebesar itu di lautan luas ini. Tetapi ia juga tak perlu heran mengingat luasnya lautan ini.
Sean ikut turun dengan kecepatan tinggi dan bernita membantu, tetapi Slitherio menatap Sean tajam dan berkata, “Jangan kemari!”
Tetapi ucapan Slitherio tak Sean dengarkan dan ia memilih menyerang makhluk itu, “Light Sword Technique: Light Slash!”
Sean memutar dan ia merasakan kalau tubuh besar itu memiliki kulit yang amat tebal serta keras.
“Tak bisa ditebas?” Gumam Slitherio. Ia lalu melesat dengan cepat dan berseru, “Flame Sword Technique: Lone Slash!”
Slitherio memutar dengan pedangnya dan menebas tubuh itu. Tetapi pedangnya bahkan tidak menggores tubuh itu sedikit saja.
“Seven Sword Control!” FastStone melepaskan enam pedangnya dan menyimpan perisainya. Ia llau melesat turun dengan kecepatan tinggi dengan sebilah pedang biru di tangan kanannya.
Naze mengarahkan busurnya ke atas kemudian membidik makhluk besar itu sambil berseru, “Rain Arrow!”
Hujan anak panah terjadi dan menghujani makhluk besar itu dengan anak panah. Sia-sia, usaha mereka tetap tak mampu menggores tubuh besar itu.
Li memainkan musik hancurnya kemudian berusaha membuat pendengaran serta penglihatan makhluk itu tak berfungsi kembali.
Li juga sudah mendapat kekuatan yang amat besar sejak menjadi dewa. Musiknya bisa ia kendalikan sesuka hatinya serta mampu menghancurkan fungsi lima indera musuh. Kekuatan itulah yang Li akan pakai pada pertarungan ini.
Geisha tidak memiliki pilihan lain selain menyerang dengan busurnya. Dengan job Adventurernya, Geisha bisa memakai berbagai senjata serta berbagai skill.
Tetapi Geisha hanya mempelajari Bow Mastery serta Sword Mastery saja karena menurutnya hanya dua senjata inilah yang terkenal serta memiliki berbagai skill dan banyak jumlahnya di Remaist Online.
Clarey menyadari kalau kekuatannya hanya bisa membantu sedikit memilih melompat turun dan ikut menyerang dengan melompat-lompat di atas tubuh besar itu.
Serangan Geisha, Li, dan Naze semakin banyak serta kuat, tetapi tetap saja Slitherio, Sean, FastStone, Atra, dan Clarey tidak mampu membuat goresan melebihi satu meter di tubuh itu.
Slitherio memilih melompat dan melayang di udara kemudian berseru, “Kembali!”
__ADS_1
Hanya Clarey saja yang mendengar panggilan Slitherio, sisanya masih fokus untuk menyerang makhluk aneh itu.
Secara tiba-tiba, langit berubah sedikit cerah serta terdengar samar-samar suara Sean, “One... Hundred Heaven... Dragon...”
Seekor naga transparan turun ke langit dan menabrak makhluk itu, tetapi entah apa yang terjadi naga itu mampu menggores tubuh makhluk besar itu.
Slitherio berniat melesat kemudian teringat akan sesuatu, “Benar, aku masih punya skill itu...”
Slitherio menyimpan Flame Phoenix Sword dan menggenggam gagang Darkness Fire Sword dengan kedua tangannya dengan erat.
“Weapon Skill: Darkness Sword!” pedang yang digenggam oleh Slitherio membesar dan membentuk sebuah pedang besar dengan warna merah gelap yang terlihat menyeramkan.
Slitherio melesat dan berseru, “Sekali lagi kukatakan, kembali ke tempat Geisha!”
Kali ini, semua orang yang turun ke bawah mendengarnya dan menatap Slitherio yang membawa pedang besar.
Sean kemudian teringat akan pedang besar yang tersimpan di Inventorynya. Ia mengeluarkannya dan berseru, “Slitherio, tangkap ini!”
Sean percaya dengan kemampuan Slitherio dan ia mengetahui kalau Slitherio bisa menggunakan empat kombinasi pedang, yaitu satu pedang, dua pedang, satu pedang besar, serta dua pedang besar. Meskipun Sean tidak mempercayai kombinasi terakhir, tetapi Slitherio pernah mengatakan hal itu kemarin siang.
Sean melempar pedang itu kemudian berkata pada FastStone, “Kalian percaya Slitherio, bukan?”
Semua orang mengangguk, kecuali Atra. Sean menyadari kalau Atra tidak mengangguk dan bertanya, “Kenapa kau tidak percaya Slitherio?”
“Dia sudah berpikir kalau dirinya bisa mengatasi makhluk itu sendiri, tetapi nyatanya ia tahu kalau ia tak bisa melakukannya...” ujar Atra kemudian berseru, “Aku percaya denganmu, Slitherio!”
Slitherio menoleh dan menatap Atra. Pedang yang dilemparkan oleh Sean tidak bisa menancap di tubuh makhluk itu dan tergeletak begitu saja.
“Ya, kalian harus tetap hidup!” seru Slitherio kemudian melesat dengan kecepatan tinggi menuju pedang besar yang diberikan oleh Sean.
Sean, Clarey, Atra, dan FastStone menatap Slitherio kemudian melompat tinggi dan berusaha mencapai Gold yang melayang, meninggalkan Slitherio yang menenteng dua pedang besar dengan kesulitan.
Harus ia akui, sensasi memakai dua pedang seperti Flame Phoenix Sword dan Darkness Fire Sword berbeda jauh dengan memakai dua pedang besar. Bedanya, membawa dua pedang besar itu sama saja seperti berusaha mengangkat batu besar dengan satu tangan!
__ADS_1
Slitherio memejamkan matanya dan mengangkat pedang besar yang ada di tangan kanannya dengan susah payah.
Li yang melihat Slitherio mengangkat satu pedangnya dengan susah payah segera bertanya dengan ragu pada Naze yang berdiri di sebelahnya, “Apa Slitherio memiliki kemampuan untuk hal itu?”
“Aku yakin dengan kemampuan Slitherio dan seharusnya semua orang percaya dengan kemampuannya...” ujar Naze kemudian membidik makhluk itu. Ia lalu melepaskan anak panah berjumlah lima anak panah.
Tepat setelah panah Naze patah setelah gagal menusuk makhluk itu, Slitherio melesat turun dan mengayunkan kedua pedang besarnya sambil berseru, “Twin Flame Sword Technique: Lone Slash!”
Slitherio berputar dan ketika kedua pedangnya mengenai tubuh makhluk besar itu, sebuah suara keras terdengar diikuti oleh suara raungan makhluk itu.
Meskipun kedua pedang itu hanya memiliki tingkat Ancient serta Heirloom, kekuatan yang dilepaskan ketika digunakan bersamaan hampir setara dengan Flame Phoenix Sword yang memotong batu besar dengan satu tebasan.
Slitherio bisa merasakan kalau tubuhnya sedikit terbebani oleh kekuatan kedua pedang itu, tetapi ia tidak menyerah.
Slitherio mengayunkan kedua pedangnya bersamaan dari arah bawah dan ia pun jungkir balik di udara. Ia lalu memutar dari kanan ke arah kiri dan Slitherio terlempar ke arah kanan.
Begitulah hal itu terus terjadi. Setiap Slitherio melepaskan satu tebasan dengan dua pedangnya, ia akan terlempar ke arah sebaliknya dari arah permulaan tebasan.
Geisha yang melihat itu menutup mulutnya, tak ia sangka Slitherio akan melakukan itu untuk mencoba mengalahkan makhluk itu.
“Ah, teman macam apa aku ini jika tidak membantu...” Naze menarik busurnya dan kembali melepaskan anak panah dalam jumlah besar serta dalam waktu singkat.
“Benar...” FastStone melemparkan ketujuh pedangnya dan berseru, “Seven Sword Control!”
Tujuh pedang melesat dan menyerang tubuh makhluk itu bersamaan dengan tebasan kesepuluh Slitherio.
Secara tiba-tiba, makhluk itu menghilang dan membuat Slitherio hampir saja tenggelam ke dalam laut.
Slitherio bisa merasakan kalau Mana dan Staminanya sudah terkuras dan ia juga bisa melihat sinar bulan yang datang dari arah barat dan digantikan oleh cahaya fajar dari arah timur.
Slitherio terbang dengan perlahan sambil menyimpan kedua pedangnya di Inventorynya dan terbang perlahan menuju Gold dan yang lainnya.
Setelah tubuhnya mendarat di atas Gold, Geisha menyambutnya dan membaringkannya. Slitherio melihat ke sekelilingnya dan melihat kalau bukan dirinya saja yang terbaring lemas.
__ADS_1
Ada Sean, FastStone, Clarey, dan Naze yang terbaring. Slitherio tersenyum tipis.
“Setidaknya aku memiliki teman yang baik, yang akan ikut denganku pingsan karena kelelahan...” ia lalu memejamkan matanya setelah melihat wajah cantik Geisha di bawah sinar matahari terbit.