Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
68. Tahun baru


__ADS_3

Equipment dibagi menjadi tujuh tingkatan, dari terendah Simple, diikuti Unique, Rare, Epic, Ancient, Heirloom, dan terakhir Legendary.


Equip Legendary disebut sebagai pusaka legenda disebabkan kelangkaannya di permainan lain, tetapi di Remaist Online Ryan merasa mudah mendapatkan Equip Legendary.


Ada Equip Legendary yang dijadikan sebagai pusaka suatu kerajaan, contohnya Heirloom of Sky Empire dan Phoenix Set. Itu yang diketahui Ryan.


Ryan menjual Orc Armor dan Equip dari Soul Knight kemudian menunggu. Ryan memasang Soul Knight Set seharga 1000 Silver dan Orc Armor seharga 50 Silver.


Beberapa orang muncul di toko Ryan dan melihat-lihat isi tokonya.


“Kualitas Equip yang dijualnya setidaknya setara dengan yang dijual Merchant Federation.”


“Soul Knight? Apa Equip ini adalah perlengkapan mereka?”


“Aku tidak peduli entah darimana asal Equip ini, yang pasti aku membelinya agar bisa membantu si pemilik toko ini menghadapi Chapter terakhir Plot of Hell Empire.”


“Benar juga...”


Ryan tersenyum saat membaca komentar tersebut, ada juga orang yang mau membantunya.


Hingga akhirnya, sebuah pesan dari Atra muncul di bilah notifikasi laptopnya.


“Slitherio, aku sudah menemukan rahasia menjadi Dewa!” begitulah isi pesan dari Atra.


Kemudian muncul lagi satu pesan dari Atra, “Dan juga, apa kau tau skill Ring of Fire? Aku juga menemukannya!”


“Astaga, itu adalah bagian dari Flame Warmage Technique yang hilang. Bagaimana mungkin bisa ditemukan oleh Atra?” gumam Ryan. Ia kemudian mengetikkan sesuatu.


“Dimana kau sekarang?” tanya Ryan.


“Aku masih di Midvast. Whu mengirimiku pesan kalau kalian ingin merayakan pergantian tahun di dunia nyata, tetapi jarak dari BloodThirsty Kingdom dan Phoenix Gold Kingdom sekitaran seminggu perjalanan.” Jawab Atra.


Ryan diam sejenak sebelum kembali mengetikkan sesuatu, “Apa kau mengetahui ada berapa jalan Dewa yang dimaksud waktu itu?”


“Aku sempat membaca judulnya dihalaman pertama buku itu, disana tertulis ada lima jalan. Jika kau mau mengetahuinya semua, temui aku di hari pertama tahun depan dan di tengah hutan yang menjadi wilayah Phoenix Gold Kingdom.” Jawab Atra.


“Baik. Tunggu aku empat hari lagi, di hutan wilayah kekuasaan Phoenix Gold Kingdom.”


***


Tiga hari berlalu dengan tenang di dunia nyata. Ryan mendapat banyak Gold saat menjual Soul Knight Set dan Orc Armor. Ia juga mengubah goldnya menjadi uang nyata.


“Yah, setidaknya aku bisa mencoba makanan diluar. Aku bosan juga jika hanya makan di rumah saja.” Ryan meraih jaket yang baru disetrikanya di lemari dan keluar dari rumahnya. Tak lupa, ia mengunci rumahnya untuk menghindari hal yang tidak ia inginkan.


Hari itu, tanggal 31 bulan kedua belas, jam setengah delapan malam, Ryan berjalan menuju tempatnya biasa membeli minuman dingin saat berjalan-jalan dulu.


Ryan berjalan menuju minimarket di dekat rumahnya kemudian berjalan melewati toko elektronik dan menyeberangi jalanan. Setelah menyeberangi jalanan, ia akhirnya sampai di restoran tempatnya biasa membeli minuman dingin.


Saat Ryan memasuki restoran itu, wajah yang tidak asing terlihat di meja dekat jendela. Ryan berjalan mendekati orang itu kemudian duduk di depannya.


“Ryan?” 


“Lama tak pernah berjumpa di dunia nyata, Rio...” sapa Ryan.


Rio tersenyum tipis kemudian pesanannya pun sampai. Si pelayan kemudian menanyai Ryan apa yang ingin dipesannya.


“Lemon Tea ditambah Fried Rice. Itu saja.”


Pelayan itu menuliskan pesanan Ryan kemudian meninggalkan mereka. Ryan melihat Rio yang sedang memakan pesanannya duluan.

__ADS_1


“Bukannya di rumahmu ada ibumu? Kenapa kau malah makan diluar?” tanya Ryan.


Rio menghentikan sendoknya kemudian menjawab, “Ibuku keluar bersama ayahku, jadi ibuku tidak memasak untuk malam.”


Ryan menepuk dahinya, “Apa kau tidak bisa memasak?”


“Bisa, tetapi nanti malah gosong.”


Ryan mengusap wajahnya, Rio memang tidak bisa memasak. Kalaupun memasak, paling ringan mungkin kurang garam atau kelebihan garam, paling parah adalah gosong.


Seorang perempuan datang mendekati meja keduanya dan menyapa Ryan, “Hai...”


Rio menatap perempuan itu, “Sepertinya aku mengenalmu...”


“Ehem, perkenalkan dia adalah Raisya. Raisya di adalah Rio.” Ryan menoleh ke arah Rio dan Raisya bergantian.


Rio menarik Ryan kemudian berbisik, “Apa dia kekasihmu?”


Mata Ryan melotot kemudian berbisik dengan nada kesal, “Tidak, bodoh! Dia itu temanku saat SMP.”


“Tapi kenapa bisa secantik ini?”


“Kau tidak tau siswa perempuan di SMPku dulu.”


Rio melepaskan Ryan kemudian tersenyum, “Halo, aku Rio...”


Ryan ikut tersenyum kemudian mempersilakan Raisya duduk. Pesanan Ryan datang.


Si pelayan yang tadi menanyai Ryan apa pesanannya menanyai Raisya karena mengetahui ada tambahan orang lagi di mejanya Rio.


“Menu yang sama dengan orang ini.” Raisya menunjuk Ryan yang menatapnya dengan tatapan datar.


Setelah si pelayan pergi jauh, Raisya kemudian tersenyum menatap Ryan yang memandanginya dengan tatapan aneh.


“Tak kusangka selera kalian sama sebagai teman.” Rio berkata sambil memegangi dagunya.


“Tidak ada. Kebetulan saja aku menyukai makanan yang sama dengan Ryan.” Bela Raisya.


Ryan diam sambil memakan makanannya. Makanan Rio sudah habis dan ia memilih menunggu dua orang di hadapannya kini.


Canggung tercipta diantara tiga orang itu. Ketiganya bingung ingin berkata apa.


“Ehem...” Ryan berniat memulai, tetapi makanan Raisya sampai.


Raisya menatap Ryan sekilas kemudian memakan makanannya. Ryan juga diam kemudian melanjutkan makanannya.


Rio menatap kedua orang itu kemudian berkata, “Apa yang ingin kau katakan, Ryan?”


Ryan diam lalu melanjutkan makanannya. Raisya juga begitu.


Rio menggaruk kepalanya, bagaimana bisa kedua orang ini bisa bertingkah seperti itu.


“Sepertinya aku terjebak di satu situasi yang rumit...” gumam Rio.


“Nah, soal perjalanan kita di Midvast, temanku telah mendapatkan rahasia menjadi dewa.” Ryan memulai setelah makanannya selesai.


“Oh, yang waktu itu?” Raisya teringat sesuatu saat Ryan mengatakan tentang temannya.


“Benar. Dia berkata ada lima jalan menjadi Dewa dan kita harus melewati itu semua.” Jelas Ryan.

__ADS_1


Rio mengusap dagunya, “Ada lima dan informasi itu dibawa oleh temanmu, begitu?”


“Benar.”


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Raisya menyelesaikan makanannya. Rio membayar pesanannya, begitu juga Ryan dan Raisya.


“Baiklah, sampai jumpa.” Rio melambaikan tangannya saat ia berjalan meninggalkan restoran itu dan berpisah dengan Ryan bersama Raisya.


“Apa kau ingin pulang?” tanya Raisya.


“Hmm, iya. Kenapa?” tanya Ryan balik.


“Temani aku menonton kembang api di taman yang waktu itu.” Pinta Raisya.


“Baiklah...”


Mereka berjalan ditengah malam yang mulai terang karena kembang api yang dinyalakan. Meskipun jam masih pukul sepuluh, antusias orang-orang terhadap pergantian tahun sangatlah meriah.


Mereka sampai di taman tempat Ryan waktu liburan dulu berolahraga. Meskipun jarak taman itu dan rumah Ryan jauh, Ryan memilih menemani Raisya di akhir tahun ini.


“Akhir tahun yang indah bukan?”


Ryan menoleh menatap Raisya yang menatap langit malam yang terang benderang. Warna-warni kembang api menghiasi malam yang sepi dan gelap.


“Sepertinya jika kita melihat dari sini akan kurang terang, bagaimana jika kita menonton kembang api itu di atap apartemenku?” ajak Raisya.


Ryan tersenyum sambil mengangguk, memang benar jika ditonton dari bawah akan kurang meriah.


Keduanya kemudian berjalan meninggalkan taman itu menuju apartemen Raisya. Apartemen Raisya sedikit sepi karena kebanyakan penghuninya pergi ke taman di dekat apartemen itu.


Gedung apartemen itu terdiri dari tujuh lantai, apartemen Raisya terdapat di lantai dua. Keduanya terus berjalan naik dan sampai di puncak gedung apartemen itu.


Suara dan cahaya kembang api memenuhi telinga keduanya saat mereka sampai di ujung atap itu.


Ryan membiarkan Raisya yang terlihat antusias menonton itu semua dan duduk disebelah bawah Raisya.


Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam saat Raisya memilih duduk di sebelah Ryan.


“Masih tersisa satu setengah jam lagi untuk mencapai tahun yang baru.” Ujar Ryan sambil melihat ponselnya.


Raisya bangun kemudian meninggalkan Ryan, “Tunggu, aku akan mengambil sesuatu.”


Ryan membiarkan Raisya turun dan ia sendiri memilih duduk diam, “Yah, setidaknya akhir tahun ini aku tidak sendirian lagi...”


Beberapa saat kemudian, Raisya datang dengan dua bungkus makanan ringan dan memberikan satu untuk Ryan.


Ryan tidak memakannya dan menyimpannya di dalam jaketnya. Apa yang ia lakukan menimbulkan pertanyaan di pikiran Raisya.


“Kenapa kau tidak memakannya?”


Ryan menoleh dan menjawab, “Saat dirumah akan kumakan...”


“Alasanku memberikanmu satu adalah agar aku punya teman saat memakan cemilan ini.” Ujar Raisya.


“Baiklah...” Ryan mengeluarkan bungkusan makanan ringan itu dan memakannya.


Raisya tersenyum kemudian ikut membuka bungkusan itu dan memakannya. Mereka memakannya hingga akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas malam.


Mereka tidak tau, kejadian hari ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi keduanya selamanya hingga mereka menghilang dari dunia.

__ADS_1


__ADS_2