Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
175. Perjalanan menuju Gods Island


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Seminggu kemudian adalah hari pergantian tahun. Slitherio dan rekan-rekannya akan memulai perjalanan menuju Gods Realm.


Satu orang ikut dalam perjalanan ini, yaitu sang Gold Dragon God Sean. Ia memilih ikut setelah Slitherio menanyai Sean saat pertemuan rutin 11 Ketua Guild Profesional.


Sudah menjadi rutinitas mereka kalau setiap minggu Sean akan mengadakan pertemuan untuk membahas tentang keamanan Midvast.


Memang setelah pertempuran, Midvast terlihat aman. Tetapi Sean mengambil langkah untuk tetap waspada mengingat ia juga menyadari satu Chapter tambahan setelah Chapter 08: Win the War!.


Jadi Sean meminta seluruh ketua Guild untuk tetap waspada mengingat kedamaian seperti ini takkan lama sampai mereka menyelesaikan semuanya sampai akar-akarnya.


“Baik, pertemuan aku bubarkan. Ada pertanyaan?” tanya Sean sekitar tiga hari sebelumnya.


Slitherio mengangkat tangannya, “Siapa yang ingin ikut aku ke Gods Island?” tanyanya.


Semua orang mengangkat tangannya, tentunya mereka sudah mengetahui tentang syarat kelima menjadi dewa.


Diantara mereka, baru Sean, Slitherio, Luvian, dan Zero yang berhasil menyelesaikan tiga sampai empat syarat menjadi dewa, yang artinya Slitherio menanyakan hal itu pada tiga orang ini.


“Ehem...” Slitherio sudah sering menghadapi kejadian seperti ini saat pertemuan Guildnya, sehingga ia memilih sabar.


“Aku saja...” Sean menatap Slitherio dengan tatapan memohon. Ia sudah menyelesaikan empat syarat menjadi dewa dan kesempatan ini tidak akan ia lewatkan.


“Sean saja, bagaimana?” tanya Luvian. Ia tau kesempatan untuk ikut kesana kemungkinan adalah lima puluh persen jika Sean sampai mengajukan diri.


“Aku ikut-ikut saja...” Qiun meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.


“Aku pun...” Fei tersenyum tipis.


Alex memilih mengangguk, Kurei hanya mengelus dagunya sambil mengangguk. Sisanya mengatakan setuju.


Dan begitulah hal yang membuat kelompok yang akan pergi ke Gods Island berjumlah 8 orang. Yaitu Slitherio, Sean, FastStone, Li, Naze, Atra, Geisha, dan Clarey.


Mereka akan pergi dari Ocean Empire. Mereka akan membeli kapal berukuran sedang kemudian pergi dengan itu sampai di Gods Island.


Slitherio pernah mencoba pergi ke Gods Island dengan sayapnya dan hasilnya adalah hampir gagal jika saja Riana tidak ikut dengannya. 


Memang, selain Slitherio hanya Riana saja yang memiliki kemampuan terbang dengan sayap. Mereka menemukan kalau map tetap berjalan lancar, hanya saja sedikit buram dan tidak jelas ketika berada di tengah-tengah Triangle Sea.

__ADS_1


Jika saja Riana dan Slitherio tidak ingat dengan jalan kembali menuju Kota Hostix, mungkin mereka akan tenggelam di Triangle Sea dan muncul kembali di pulau terdekat.


Sebab itulah mereka membeli sebuah peta biasa untuk mengantisipasi kejadian yang sama. Juga, mereka mempersiapkan tubuh asli mereka dengan beberapa pil gizi untuk mengantisipasi jika mereka tidak bisa memutuskan sambungan di Gods Island.


Mereka juga membawa puluhan Potion untuk mempersiapkan kemungkinan jika Mana dan HP mereka habis di laut.


Sean meminta wakil ketuanya untuk menjaga markas Guild Reister dan meminta Whu untuk ikut membantu disana. Whu hanya menerimanya karena Slitherio yang ikut menyuruhnya.


Memang, kekuatan Whu paling tinggi kedua setelahnya Slitherio di Guild Sevens sehingga ia dipercaya untuk membantu Guild Reister.


Setelah semua persiapan selesai, mereka akhirnya pergi menuju Ocean Empire dan meninggalkan kedamaian di Kota Hostix.


***


Dua hari kemudian, di Ocean Empire...


Slitherio membeli sebuah kapal berukuran sedang untuk digunakan pergi menuju Gods Island.


Selama dua hari ini, bisa dibilang perjalanan lancar saja karena kekuatan serta aura mereka yang mampu mengintimidasi monster, bahkan bisa membuat mereka ketakutan berlebihan pada mereka semua.


Sean memberikan beberapa uangnya karena uangnya yang paling banyak diantara semuanya. 


Setelah selesai melakukan kegiatan terakhir mereka di daratan, mereka naik ke atas kapal dan segera menjalankan kapal itu.


Sebelum mereka berangkat, memang ada beberapa orang yang mengenali mereka. Tentunya beberapa orang mengenali mereka sebagai penyelamat Midvast, beberapa juga mengenali mereka sebagai orang-orang sakti yang mampu terbang di angkasa.


“Sampai jumpa, pahlawan!” beberapa nelayan melambaikan tangan mereka kepada Slitherio dan lainnya. 


Tentu mereka tak menyangka akan diucapkan kata-kata itu, tetapi mereka tetap melambaikan tangannya dan berseru, “Sampai jumpa lagi!” meski tak mengenal orang-orang itu.


“Kembalilah dengan selamat!” beberapa nelayan melambaikan tangan mereka lagi.


Mereka lalu berlayar menuju timur, menuju lautan lepas serta menanti petualangan baru mereka.


***


Malam hari...


Perjalanan mereka bisa dibilang tenang saja. Perjalanan baru berlangsung sekitar dua belas jam, tetapi waktu terasa amat lama karena saking bosannya.

__ADS_1


Saat ini, Sean dan Slitherio sedang duduk di tepi kapal sambil menatap laut. Bisa dibilang tak ada yang bisa mereka lakukan selain duduk, makan, berbincang hal yang tidak berguna, menatap laut, dan tiduran.


“Tak kusangka perjalanan ini terasa membosankan...” Sean meregangkan punggungnya, ia merasa amat bosan.


Slitherio hanya menghembuskan napasnya lalu berkata, “Tetapi memang seperti inilah yang tidak kuduga sebelumnya...”


Keduanya lalu berjalan menuju tiang utama layar dan duduk di bawahnya sambil memeluk lutut masing-masing.


“Seandainya kita mati, dimana kita akan hidup kembali?” tanya Sean.


“Mungkin akan hidup di pulau terdekat...” Slitherio mengelus dagunya, “Tetapi hal itu tidak mungkin karena hampir tidak ada pulau di sekitar sini...”


Slitherio mendongakkan kepalanya dan mengedarkan pandangannya, “Benar, tidak ada pulau...”


Sean menghembuskan napasnya, ia lalu membaringkan tubuhnya dan melihat seseorang sedang berdiri di atas kepalanya.


Geisha sedang berjalan menuju keduanya ketika Sean tiba-tiba membaringkan tubuhnya dan melihat Geisha dari bawah.


Sean duduk lagi kemudian berdiri dan berkata, “Nikmati waktu kalian berdua, ya?” ia lalu berjalan kembali menuju kamarnya.


Slitherio menatap Geisha kemudian berkata, “Duduk...” sambil menepuk tempat Sean sebelumnya duduk.


Geisha duduk dan ikut menatap ujung kapal, “Malam yang indah...”


“Kau sudah mengatakan hal yang sama sejak kita masih di Hostix...” Slitherio menggaruk kepalanya.


“Perjalanan kita masih panjang, bukan?” tanya Geisha. Slitherio mengangguk.


Slitherio mencoba membuka mapnya lalu berkata, “Petanya sudah buram...”


“Tapi masih terlihat hal yang penting, bukan?” Geisha mencoba hal yang sama.


“Kita sudah ada di tengah-tengah Triangle Sea...” tiba-tiba Naze muncul dan menjawab pertanyaan Geisha.


“Kembali kau!” Slitherio berseru sambil menatap Naze tajam.


Naze menggaruk kepalanya lalu berbalik. Geisha samar-samar mendengar gumaman Naze, “Apa salahku?”


Geisha menahan tawanya, ia sudah biasa diganggu oleh Naze. Tetapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Slitherio.

__ADS_1


Geisha menyandarkan kepalanya di pundak Slitherio dan tersenyum lebar. Slitherio menghembuskan napasnya kemudian memejamkan matanya.


__ADS_2