Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
60. Blood Dungeon


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Phoenix Gold Kingdom. Kini mereka sudah berada di depan pintu masuk Blood Dungeon.


Tidak ada yang percaya jika pintu masuk Blood Dungeon adalah sebuah goa, kecuali mereka sudah melihatnya sendiri.


Keempatnya menatap goa itu, dua hari mereka lalui dengan berburu dan menaikkan level mereka. Keempat rekan baru mereka juga sudah mencapai level 50 dan sudah memakai Equip mereka yang dulu.


Dengan begitu mereka akan memasuki Dungeon dengan jumlah anggota sebanyak sepuluh orang. Mereka tidak akan membuat party sehingga pasif Geisha dan Naze dapat berfungsi.


Slitherio mengakses Dungeon tersebut dan membukanya untuk teman-temannya. Setelah Dungeon tersebut terbuka, mereka masuk dan bersiap untuk menaklukannya.


***


Semenjak pertemuannya dengan Slitherio, FastStone mulai berpikir bahwa kekuatan adalah segalanya, dapat memberikannya segala yang diinginkan.


Tetapi, FastStone tidak mengetahui bahwa kekuatan bukanlah segalanya. Karena yang terpenting adalah tekad. Tekad untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Sejak perpisahannya dengan Slitherio, FastStone mulai melakukan perburuan untuk meningkatkan levelnya. Dari awalnya level saat bertemu dengan Slitherio adalah level 157, setelah berburu akhirnya ia sampai di level 173.


Dengan Weapon Mastery menjadi tingkatan puncak Intermediate, ia hanya butuh selangkah lagi untuk mencapai tingkatan Advance.


Skill Masterynya juga mencapai puncak Intermediate karena memang skill miliknya bisa dibilang sedikit.


Ia tidak banyak berburu di dekat kota karena monster disana bisa dibilang lemah dihadapannya. Ia memilih mencari Dungeon tingkat Normal karena ia menaklukannya sendiri.


Suatu hari, FastStone duduk di bawah sebuah pohon sambil bergumam, “Apa aku sudah cukup kuat?”


***


NightResha kembali menjalani hari-harinya dengan menempa berbagai senjata dengan palu kesayangannya. Sesekali ia berpetualang untuk mencari bahan kemudian ditempa sebelum dijual di Merchant Federation.


Merchant Federation terkadang menerima barang tempaan NightResha yang biasanya bertingkat Epic sebelum kembali diedarkan melalui para anggotanya.

__ADS_1


NightResha juga sesekali mencari referensi barang yang ingin ditempanya di perpustakaan. Bisa dibilang, perpustakaan adalah tempat favorit kedua NightResha setelah hutan.


Disana, ia akan melahap banyak sekali buku tentang berbagai jenis senjata, sejarah senjata tersebut, dan para penempa terkenal di Midvast.


Ia juga mengetahui tentang Flame Phoenix Sword dari buku-buku ini. Ia juga berencana pergi ke Phoenix Gold Kingdom untuk mencari batu api dari perut bumi karena memang hanya di tempat itulah banyak batu api dari perut bumi ditemukan.


Tidak mudah untuk menempuh perjalanan menuju kerajaan tersebut karena bisa dibilang kerajaan tersebut berada di dalam kawah gunung itu sendiri. Ditambah dengan banyaknya monster kuat yang bersembunyi di kaki gunung tersebut menambah kesulitan perjalanannya.


Suatu hari, saat ia sedang duduk di pinggir danau, ia bergumam, “Sedang apa Slitherio sekarang?”


***


“Hah... Ini sudah lantai keberapa?” keluh Whu sambil menyandarkan dirinya di tembok goa itu.


Saat ini, Slitherio, Whu, Naze, dan Geisha sedang berada di dalam Blood Dungeon. Sudah berlalu kurang lebih setengah jam sejak mereka memasuki Dungeon ini.


Tidak diketahui sudah mencapai lantai berapa, yang pasti mereka terus maju menghadapi segala jenis monster yang muncul.


Kebanyakan monsternya berbentuk laba-laba, kadang-kadang berbentuk gorila. Geisha menyebutnya Treant.


“Aku tidak ingin mendengarnya dari orang yang memilih menonton tiruannya bertarung kemudian memberikan serangan terakhir hanya agar dirinya sendiri yang mendapatkan EXP dan goldnya.” Ujar Slitherio sambil terus berjalan ke depan. Memang, sepertinya hanya Slitheriolah yang berani mengatai Whu seperti itu.


“Jika dilihat dari kondisi, jumlah, dan kekuatan monster yang terakhir kita lawan, sepertinya kita sudah mencapai ruang bossnya.” Ujar Geisha sambil menatap ke pintu terakhir yang bisa dibilang merupakan pintu terbesar yang mereka lihat.


Slitherio berjalan hingga sampai di depan pintu tersebut. Enam rekan baru mereka sudah mendekati level 80 sehingga kekuatan mereka bisa dibilang sangat membantu dalam penaklukan Dungeon ini.


Keenamnya mengikuti Slitherio yang mendorong perlahan pintu itu. Naze, Whu, dan Geisha mengikuti dari belakang.


Situasi di dalam ruangan itu sangat gelap, yang terlihat hanyalah beberapa telur besar yang sering meeka temui sepanjang Dungeon ini. Geisha menyebutnya Egg.


Egg tersebut mengitari sebuah stadium yang ketika mereka menginjakkan kakinya di ruangan itu stadium itu dengan cepat turun hingga setara dengan tanah.

__ADS_1


Setelah stadium itu setara dengan tanah, seekor laba-laba besar muncul di atas stadium itu.


Diatasnya, tertulis 'Spider Queen Qirathna' beserta HPnya. Hpnya bisa dibilang tipis, sekitaran 35.000. Lebih tipis dari Naze yang memiliki HP sebesar 40.000. 


Slitherio menarik pedangnya, Egg yang mengelilingi stadium itu mengeluarkan banyak sekali laba-laba kecil. Kekuatan mereka setara dengan pemain level 20.


Asheuin bersama kelima temannya menghadapi laba-laba itu, sementara Slitherio bersama Naze, Geisha, dan Whu menghadapi Spider Queen Qirathna. Meskipun HP Spider Queen Qirathna tipis, serangannya tidak bisa diremehkan. Laba-laba itu mengeluarkan sejenis jaring yang lengket, terbukti dengan jaring yang dilontarkannya memiliki kecepatan tinggi dan mengenai Naze.


“Sial! Jaring ini lengket sekali!” Naze berusaha melepaskan jaring tersebut, Whu juga membantunya. Sia-sia, jaring itu terlalu lengket. Dengan terpaksa, Naze bertarung sambil membawa jaring tersebut.


Sialnya lagi, Spider Queen Qirathna juga mengeluarkan laba-laba kecil yang muncul tiba-tiba dari perutnya. Laba-laba kecil itu memiliki kekuatan setara pemain level 30.


Whu yang tidak siap langsung mengerahkan skill terkuatnya, Crittical Strike ke arah satu laba-laba kecil dan langsung membunuhnya.


Kondisi mereka bisa dikatakan berbanding terbalik dengan Spider Queen Qirathna. Laba-laba tersebut memiliki HP yang berkurang sampai 95.000. Serangan keempatnya tidak mengurangi HP laba-laba tersebut sampai tiga puluh persen sekalipun. Hal ini membuat Slitherio, Naze, Whu,dan Geisha frustasi. Keempatnya yang ditakuti di dunia Remaist Online tidak berhasil mengalahkan monster tingkat Hard.


“Tunggu, ada yang salah...” gumam Slitherio.


“Benar, ini bukanlah kekuatan seekor monster tingkat Hard. Yang paling mungkin adalah monster ini kemungkinannya sekuat tingkat Insane!” ujar Whu sambil melompat mundur.


Selagi Slitherio, Naze, Whu, dan Geisha mengurus Spider Queen Qirathna, Asheuin bersama kelima temannya masih menghadapi laba-laba kecil yang terus keluar dari Egg tersebut.


“Tuan! Jumlah mereka terlalu banyak!” seru Asheuin sambil berlari mundur. Sen, Adhie, Dee, Zeo, dan Bhiosa mengikuti Asheuin.


“Tidak ada pilihan, kita harus menghadapi laba-laba raksasa ini bersepuluh.” Usul Sen yang Asheuin katakan merupakan ahli strategi.


“Benar...” Slitherio menyarungkan pedangnya, memang diantara seluruh skillnya hanya skill series Flame Warmage Technique yang paling kuat.


“Flame Warmage Technique: Twin Phoenix Claw!” tangan Slitherio berubah menjadi cakar panjang dan ia terbang menuju Spider Queen Qirathna dengan kecepatan tinggi. 


Whu juga berubah menjadi wujud Crazy Monkey King dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Kini, Spider Queen Qirathna harus dihadapkan pada sepuluh orang dengan kemampuan tinggi.

__ADS_1


Tambahan: Spider Queen Qirathna muncul dalam permainan Shadow of Death, semua skillnya saya ambil dari sana, jadi buat yang pernah main pasti ngerasa tidak asing gituu.


Jujur saja, saya paling suka ngebantai laba-laba kecil yang keluar dari badannya itu loh... (Ehe...)


__ADS_2