
Lima hari kemudian...
Babak penyisihan grup A berhasil selesai dengan menyisakan 4 tim, termasuk tim Indonesia.
Tim Korea Selatan juga ada dalam grup A dan bisa dibilang kalau permainan dua tim ini paling banyak menarik perhatian banyak orang.
Bagaimana tidak menarik perhatian kalau mereka bermain itu sampai membuat tim lawan mereka terpojok dan tak bisa berkutik, apalagi diberi napas.
Rekor MVP terbanyak dipegang Ryan dengan jumlah MVP sebanyak 7 kali, entah itu Win atau Loss.
Ya, tim Indonesia pernah Loss sekali saat bertanding melawan tim dari Amerika Serikat yang bernama Squad Excello.
Saat itu, tim Amerika Serikat langsung membantai tim Indonesia dan saat di ronde penentuan, tim Indonesia kembali membantai balik tim Amerika Serikat dengan skor terakhir sebesar 12-1.
“Hah, kita sekarang terkenal...” Rio merebahkan dirinya di lantai. Di tangannya masih memegang kertas yang tadi ditulisi sesuatu oleh Ryan.
“Setidaknya Ryan sudah menguasai turnamen ini...” Ujar Hendra sambil meregangkan punggungnya.
“Yang terakhir semifinal saja, bukan?” tanya Ryan, si penguasa arena turnamen.
“Yah, dan menurut kertas ini lawan kita selanjutnya adalah tim Kamboja...” ujar Justin sambil mengangkat tangan Rio yang memegang kertas dan membacanya.
“Apa ini benar kamar tim Indonesia?”
“Coba saja lihat lambang serta bendera yang tertempel di pintunya, kapten...”
“Lambangnya jelek, aku akan membuatkan lambang yang bagus untuk mereka...”
“Tapi ingatlah tujuan utama kita kemari, kapten...”
“Kau benar...”
Suara ketukan lalu terdengar setelah pembicaraan sederhana itu. Leo berdiri dan membuka pintu kamar.
“Aku mencari kapten tim Indonesia...” orang yang berdiri di depan pintu kamar menaikkan tangannya dan melambaikannya sebentar.
Ryan berdiri dan berjalan mendekati pintu kamar, “Aku disini, apa yang kau inginkan?”
“Oh, kau adalah kapten tim Indonesia? Kukira orang yang sedang duduk membaca kertas disana itu...” orang itu menunjuk Hendra yang sedang duduk membaca kertas yang berisi susunan turnamen.
“Aku orangnya, apa kau meremehkanku?” tanya Ryan dengan seram.
“Oh, memangnya kau tahu aku siapa?” tanya orang itu balik dengan sama seramnya.
__ADS_1
“Kalau aku lihat dari lambang bendera yang ada di jaketmu itu, kau sepertinya adalah orang dari Korea. Lalu kalau aku mendengar pembicaraan kalian tadi, sepertinya kau adalah kapten dari tim Korea, GeomJeong.” Ujar Ryan dengan percaya diri. Ia tidak akan salah mendengar pembicaraan orang.
“Hebat juga kau...” GeomJeong langsung menjulurkan tangannya, “Tapi namaku adalah Kim Seong Joon...”
“Namaku adalah Ryan Putra, salam kenal...” Ryan menyambut tangan Seong Joon, “Kita seumuran, bukan?”
“Seumuran? Sepertinya tidak...” Seong Joon menggelengkan kepalanya sambil menarik kembali tangannya, “Aku berumur 18 tahun, jangan harap kita seumuran...”
“Aku lebih muda ternyata...” Ryan menarik kembali tangannya lalu menggaruk kepalanya, “Aku baru saja berumur 17 tahun bulan lalu...”
“Begitu ya...”
“Jadi, ada urusan apa kau kemari, Seong Joon?” tanya Ryan dengan tatapan sedikit tajam.
“Kuperingatkan kalau aku takkan melunak padamu hanya karena kau lebih muda dariku dan merupakan Top Global diatasku...” ujar Seong Joon dengan tatapan lebih tajam lagi.
Leo berani bersumpah kalau ia melihat kilatan di mata Ryan dan Seong Joon saat keduanya saling mengadu tatapan mata tajam.
“Tunggu aku, Ryan Putra...” ujar Seong Joon dengan sinis lalu berbalik dan pergi dari kamar tim Indonesia.
“Ryan, apa kau yakin menerima tantangan dari Seong Joon?” tanya Rio. Ia mendengar pembicaraan Ryan dan Seong Joon dengan jelas.
“Tantangan? Aku tak ingat kalau Seong Joon tadi mengatakan itu...” Ryan menggaruk kepalanya sambil menutup pintu.
“Kurasa aku sepemikiran dengan wakil kapten bodoh ini...” ujar Fredy sambil mengacak-acak rambut Rio.
“Cih, aku tak sebodoh yang kau kira...” Rio berdecak kesal saat menanggapi ucapan Fredy.
“Pertandingan kita selanjutnya adalah melawan tim Kamboja, bukan?” tanya Ryan, “Kita akan mendiskusikan strategi yang akan kita pakai...”
***
“Tak disangka! Tim Indonesia berhasil membantai tim Kamboja sebanyak dua kali dan kemenangan tim Indonesia bisa dipastikan!”
Dengan skor 15-0, tim Indonesia langsung memenangi ronde pertama dan dilanjutkan dengan ronde kedua.
“Tak bisa dipercaya lagi! Tim Indonesia kembali memenangi permainan ini dengan SLITHERIO menjadi MVP!”
Dengan begitu, rekor MVP masih dipegang Ryan dengan jumlah MVP sebanyak 9 kali. Di bawahnya ada GeomJeong dengan jumlah MVP sebanyak 9 kali.
Penonton semakin riuh saat Ryan keluar dan menampilkan wajahnya. Semua peserta yang keluar, baik dari tim Kamboja dan tim Indonesia, langsung menarik perhatian semua penonton.
“Lihat itu! Sang Top Global season ini ternyata masih muda!”
__ADS_1
“Aku masih ragu kalau dia adalah SLITHERIO yang terkenal itu!”
Ryan menutup telinganya, “Ribut!”
Mereka lalu bergerak keluar dari arena dan pergi menuju resepsionis. Saat sampai disana, resepsionis itu tersenyum-senyum sendiri.
“Selamat atas kemenangan anda dan awas untuk pertandingan selanjutnya...” ujar resepsionis itu sambil tersenyum sendiri.
Ryan menaikkan alisnya, “Apa-apaan kata-kata itu?!”
“Awas karena lawan kalian selanjutnya adalah tim Korea yang sama garangnya dengan kalian...” ujar resepsionis itu dengan senyuman lebar yang terlihat jahil.
“Kami akan menang, dengan cara apapun itu!” seru Rio sambil mengepalkan tangannya dan memukul dada kirinya dengan tangan kanannya.
***
“Tunggu, Kim Seong Joon? Aku seperti mengenalnya...” Raisya segera berpikir setelah mendengar nama orang yang dulu pernah menantang Ryan di turnamen.
“Kim Seong Joon? Bukankah dia adalah Silver Wolf God? Beritanya baru beberapa hari lalu ia meninggal karena sakit...” ujar Rayhan.
Ryan segera terdiam, “Meninggal? Apa maksudmu?”
“Sang Silver Wolf God, Atra atau yang dikenal sebagai karyawan biasa sebuah perusahaan, Kim Seong Joon meninggal akibat sakit yang dideritanya sejak lima tahun lalu...” ujar Rayhan meniru pembawa acara sekitar tiga hari lalu.
“Kalian, darimana kalian mendapat berita itu?! Kenapa Seong Joon tak memberitahuku sebelumnya?!” Ryan menjambak rambutnya.
Sore membuat suasana terasa menyedihkan, ditambah angin menerbangkan beberapa daun kering di halaman rumah Ryan.
“Dia sepertinya ingin menyembunyikan sakitnya dari teman-temannya...” ujar Raisya.
“Yah, saat pertandingan ayah melawan tim Korea, bisa dibilang kalau tim Korea tak membiarkan tim Indonesia lolos begitu saja...”
“Ayah, nanti ceritakan tentang teman ayah yang tiga hari lalu itu meninggal, ya?” Ria memotong cerita sambil mengacungkan kelingkingnya.
“Kenapa kau mengacungkan jari kelingkingmu?” tanya Ryan.
“Agar ini menjadi janji, kalau ayah lupa menceritakannya...” ujar Ria polos.
Ryan mengacak-acak rambut Ria, “Kamu ini...”
Raisya menggelengkan kepalanya, ia berharap agar kebahagiaan keluarga kecilnya ini bisa bertahan lama.
Dalam hati ia berdoa, semoga ia dan Ryan bisa hidup sampai bisa melihat kedua anaknya sukses, seperti Ryan.
__ADS_1