
Tsuyoshi mengakui kalau pertempuran ini bukanlah yang pertama ataupun bukan juga yang keduanya, tetapi pertempuran paling besar yang pernah ia ikuti.
Kedua tangannya yang memegang katana bergetar hebat, tak pernah ia sangka akan tiba harinya ia akan bertempur dengan ratusan pemain yang memiliki level tinggi dan berkemampuan hebat.
Tetapi ia mengetahui kalau pertarungannya saat di Kota Hostix yang pertama itu masihlah tergolong kecil jika dibandingkan dengan pertempuran di depannya saat ini.
Tsuyoshi diberi posisi depan bersama dengan para Defender dan Attacker lainnya. Jika dibandingkan dengan Attacker lainnya, kemampuan para Attacker dari Guild Sevens jelas yang paling tinggi.
Kekuatan pasukan aliansi itu amatlah besar, menurut Serioza. Tetapi jika menurut Sean, kekuatan ini masihlah kurang jika ingin menghancurkan Hell Empire sampai ke akar-akarnya.
Jumlah pemain yang ikut pertempuran ini sebanyak 15.000 pemain, sudah termasuk Solo Player yang ikut karena ajakan dari beberapa ketua Guild kecil.
Jika ditambah dengan pasukan Sky Empire, Land Empire, dan Ocean Empire yang berjumlah 10.000 jika digabungkan, maka jumlahnya akan menjadi 25.000 pasukan.
Menurut Luvian dan Sean sebelum mulai bertempur, jumlah pasukan Hell Empire kira-kira sebanyak 50.000 prajurit. Itu belum dihitung dengan pasukan yang mungkin akan menjadi pasukan bantuan Hell Empire.
Tsuyoshi yang mendengar itu menghembuskan napasnya panjang, ia hanya memilih bertempur saja dibanding permainan ini Game Over dan mengulang lagi dari awal.
Tsuyoshi menarik kedua katananya dari pinggang kanannya dan melesat menebas prajurit Hell Empire yang langsung menyerbu saat diberi perintah oleh Leone.
Gerakan katana Tsuyoshi bergerak cepat menebas setiap leher prajurit Hell Empire yang memiliki ras Demon.
Ras Demon jika dilawan dengan skill magic kegelapan, maka ia akan Immune untuk serangan itu dan menguat. Sebab itulah Sean hanya mengajak para pemain yang memiliki elemen selain kegelapan dan yang tidak memiliki elemen.
Tsuyoshi maju bersama dengan Lynx yang membawa pedang serta Clarey yang juga memakai pedang. FastStone maju di depan sebagai Defender sekaligus Attacker dan itu cukup mengejutkan Gorzsha sekalipun.
Tsuyoshi maju dan melawan prajurit Hell Empire sampai batasnya ia mampu memegang katananya.
***
Serioza mendengus saat menatap wajah Sueta yang terlihat tidak kesulitan sedikitpun saat melawannya.
Disebabkan karena Serioza melawannya dengan ayunan palu yang pelan dan Sueta mampu menahannya dengan tiga jarinya.
Serioza memakai mode sederhana Palu Pemecah Langit dan ukurannya bisa dibilang amat kecil.
Tetapi karena kekuatan Serioza yang lumayan besar, ayunan palu pelan itu mampu menerbangkan debu-debu gurun itu dan menutupi pandangan keduanya.
Serioza dan Sueta mengambil jarak jauh kemudian mengatur napas masing-masing. Keduanya sudah bertukar serangan sebanyak puluhan kali dan terlihat kalau Serioza yang paling sering mendominasi pertarungan itu.
Serioza mengangkat palunya dan berseru, “Sky Splitting Technique: War Mode Hammer!”
__ADS_1
Palu kecil Serioza bercahaya terang dan berubah menjadi palu yang berukuran besar.
Serioza mengangkatnya kemudian melesat dengan kecepatan tinggi menuju Sueta sembari mengayunkan palunya dengan sekuat tenaga.
Benar saja, Sueta bahkan sampai bergeser lima meter dari posisinya sebelumnya saat berusaha menahan ayunan palu Serioza yang terasa amat berat.
Serioza menariknya kembali dan mengayunkannya dari kiri ke kanan lalu dari atas ke bawah.
Saat palunya berbenturan dengan tanah, seketika tanah hancur dan menerbangkan keduanya ke atas.
Sueta melihat kesempatan dan mulai menyerang Serioza dengan kukunya yang memanjang.
Serioza menggunakan palunya untuk menahan kuku Sueta dan suara benturan besi terdengar keras.
Pertarungan keduanya terasa sepi karena keduanya sekalipun tidak berbicara, hanya sesekali terdengar suara teknik yang dilepaskan keduanya dan itupun dikeluarkan dengan suara kecil.
Keduanya kembali mengambil jarak kemudian Serioza berseru, “Lemah!”
Sueta yang mendengar itu menjadi emosi, wajahnya berubah menjadi merah dan matanya berubah menjadi hitam pekat.
Demino yang melihat Sueta berubah menjadi seperti itu segera melesat menjauh dan lawannya yang merupakan Zaburo melesat meninggalkan Demino kemudian berdiri di sebelah Serioza.
“Akan kubantu...” Zaburo menghunuskan pedangnya, Serioza mengangguk dan menatap Sueta yang berdiri dengan napas memburu.
***
Pertempuran berlangsung selama hampir lima jam, sudah banyak pemain yang mati di pihak aliansi. Tak sedikit juga pasukan dari tiga kekaisaran yang ikut gugur serta dalam pertempuran ini.
WhiteFang yang masih berada pada posisi aman menebak kalau kemenangan datang pada pihak aliansi, kerugian yang ditimbulkan oleh pertempuran ini tidaklah sedikit.
Butuh waktu agar semuanya kembali normal. Begitulah pikiran WhiteFang saat ini setelah melihat pertempuran yang masih belum menunjukkan kapan akan berakhir.
Secara tiba-tiba, Slitherio, Serioza, Trestio, Sean, Luvian, Qiun, Fei, Whu, Kurei, dan Gorzsha melesat dengan kecepatan tinggi kembali menuju pasukan posisi belakang.
Di belakang mereka terlihat beberapa pemain yang mengikuti dengan cepat juga. Terlihat wajah-wajah tidak asing terlihat di belakang mereka. Sebut saja Tsuyoshi, FastStone, Riana, Atra, JadeRed, Robin, BlackDream, dan lain-lain.
Tetapi beberapa wajah dari pemimpin pasukan aliansi menghilang. Slitherio yang sampai duluan di tempat WhiteFang segera ditanyai oleh WhiteFang, “Mana Alex, Zaburo, Zero, dan Carey?”
“Mereka tewas!” Slitherio menjawab dengan sedikit berteriak, “Kita harus mundur dahulu! Kekuatan kita masih kurang untuk dapat mengalahkan pasukan Hell Empire!”
Ucapan Slitherio membuat semua orang yang tersisa menaikkan alisnya. Kurang? Artinya selama ini mereka berkembang hanya untuk tewas dan gagal menyelesaikan Chapter terakhir yang menjadi penentu masa depan permainan ini.
__ADS_1
“Tidak, kita harus membicarakan ini terlebih dahulu...” Serioza yang terlihat mengalami bekas cakaran yang lebar di dadanya berkata dengan napas tak teratur.
“Kita pasti bisa...” Luvian memegang sabitnya dengan gemetar. Ia seperti tidak mampu lagi memegang sabitnya, apalagi mengangkatnya.
“Kita mundur dulu...” Qiun memegangi cambuknya dengan kuat.
“Tak ada waktu lagi!” seorang prajurit Land Empire yang berdiri di belakang mereka berseru sambil menunjuk ke belakang mereka. Ternyata pasukan Hell Empire mengejar mereka sampai sini.
Sementara ini, beberapa Archer sudah kehabisan anak panahnya dan beberapa Mage juga sudah kehabisan Mananya. Terlihat jelas kalau sepertinya ini adalah akhir dari perjuangan mereka.
“Kita masih bisa, kalian masih punya kami berdua...” FastStone yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. Sekalinya ia berbicara semua orang langsung menatapnya dengan bingung.
“Maksudmu?” Sean menatap FastStone. Slitherio juga ikut menatap FastStone.
“Kalian memiliki empat pemain dengan kekuatan penghancur yang amat hebat...” FastStone mengangkat jari telunjuknya sambil tersenyum lebar. Tentunya saat ini ia membicarakan tentang empat Remaister.
Slitherio mengetahui kalau yang dibicarakan oleh FastStone itu adalah dirinya dan tiga wakil ketua Guild Sevens lainnya, yaitu Atra, Whu, dan Riana.
Alasan FastStone mengatakan hal jtu karena ia pernah mendengar dari Naze tentang duel Slitherio dengan Riana sekitar lebih dari enam bulan lalu.
Naze menceritakannya dengan semangat, seolah duel itu adalah duel terdahsyat yang pernah ia lihat.
“Emm, bisakah kalian lebih cepat? Musuh sudah mendekat.” Tsuyoshi berkata sambil menunjuk ke belakang.
Sean melebarkan matanya dan berseru, “Semua Archer, Mage, Defender, dan Attacker lainnya yang tidak memiliki kemampuan melawan, kembali ke dekat Blood Portal!”
Beberapa sudah kabur duluan, beberapa lagi masih diam di tempat semula. Yang terjadi itu membuat Luvian terbakar emosi.
“Apa kalian tidak sayang kemampuan kalian? Kami sudah mengorbankan teman-teman kalian dan kalian malah ingin mati sia-sia?!” Luvian menunjuk mereka semua.
“Kami takkan mati sia-sia, kami akan memberikan serangan terakhir kami yang paling kuat yang kami miliki...” salah satu Archer yang memiliki sekitar lima anak panah lagi di penyimpanannya berkata.
“Itu benar!” seorang pria muncul dan berdiri di hadapan Sean, “Six Dragon Pillar siap menerima perintah!”
Semua orang yang diam disana melebar matanya, siapa tak mengenal Six Dragon Pillar?
Enam orang yang memiliki level melebihi Sean dan kemampuan yang melebihi Slitherio, merekalah orangnya.
Slitherio pernah mengintip level keenamnya dan terkejut saat melihat level keenamnya, yaitu level 490-510. Mengerikan, batin Slitherio saat melihatnya. Itu level sekitar dua bulan lalu, sekarang Slitherio tidak mengetahui level keenamnya.
Asheuin berjalan dengan santai menuju Slitherio dan menepuk pundaknya, “Aku akan membantu, ketua!” Asheuin menarik pedangnya dan melesat maju menghadapi pasukan Hell Empire dengan senyuman santai.
__ADS_1
Six Dragon Pillar lainnya ikut melesat dan menyerang seluruh pasukan Hell Empire dengan cepat. Stamina keenamnya tak terbatas dan mereka bisa menghabisi lawannya dengan cepat.
Disaat Slitherio sedang melihat pasukan elitnya sedang menghabisi pasukan Hell Empire, pundak Slitherio ditepuk oleh FastStone.