
“Apa kau tahu aku memiliki inti job seperti apa? Attacker jarak jauh!” WhiteFang memukul meja. Bekas telapak tangan tercipta di tempat tadi WhiteFang memukulnya.
“Benar juga...” Sean mengelus dagunya. Ia lalu menatap WhiteFang lagi, “Tetapi kau seharusnya bisa menjaga jarak, bukan?”
“Bisa, hanya saja jika aku melakukan itu maka anggota Guildku bisa menjadi sasaran kawanku, bukan?” WhiteFang memejamkan matanya. Ia sudah memikirkan hal seperti ini setelah tahu kalau hampir seluruh anggita guildnya adalah seorang Attacker jarak jauh.
“Yang penting tidak ada yang kalah. Tentang seri atau hampir kalah, itu urusan belakangan...” Slitherio melirik Sean, memintanya untuk tidak memperbesar masalah WhiteFang. Tiba-tiba, ia teringat akan seseorang.
“Oh ya, apa ada kabar dari Earth apalah itu?” tanya Slitherio yang tiba-tiba teringat dengan lawanya sebelum berangkat menuju Gods Island.
“Oh, EarthSquare si Newbie yang mendapat posisi nomor lima puluh pemain terkuat sedunia? Sang Mad Man?” tanya Zero. Sebagai sesama pengguna pedang besar, tentu saja ia kenal dengan pemain satu itu.
“Kabarnya ia sudah pernah menghadapi lima orang pemain kelas atas. Yaitu Vile Hunter Leon, Blue Dragon Lune, Flame Sword God Slitherio, Sky Dragon JadeRed, dan Black White Witch Riana...” Carey segera terdiam saat menyadari satu nama yang tadi ia sebutkan, “Slitherio, kau pernah menghadapi EarthSquare?”
“Aku bahkan lebih terkejut saat menyadari kalau ada satu rekanku yang ditantangnya...” Slitherio menepuk dahinya.
Kenyataan kalau dua petinggi Guild Sevens pernah ditantang oleh EarthSquare membuat Slitherio menyadari kalau Guildnya benar-benar sudah sulit dipikirkan dengan akal biasa.
“Lalu setelahnya?” tanya Slitherio. Ia penasaran dengan nasib EarthSquare itu setelah ia bunuh dulu.
“Ia menantang JadeRed dan ia kalah oleh kekuatan pedang JadeRed yang amat cepat...” Luvian berkata, “Setelah ia kalah oleh JadeRed, ia mencari Riana yang konon pernah menghadapimu sampai sebuah hutan menghilang di map Midvast...”
“Darimana kau tahu berita itu?” Slitherio mengetahui kalau Riana pernah duel dengannya sampai hutan di dekat Oxyvian Labyrinth hancur oleh kekuatan dahsyat mereka. Ia tidak menyangka kalau berita semacam itu bisa diketahui semua orang setelah lewat lebih dari enam bulan sejak kejadian itu.
“Dari beberapa orang yang mengaku pernah melihat pertarungan itu...” jawab Qiun. Ia juga mengetahui berita ini sekitar kurang dari seminggu sebelumnya.
“Whu sialan!” Slitherio tahu kalau Whu adalah satu-satunya orang yang menyaksikan pertarungan itu yang tersisa di Midvast ketika Slitherio, Atra, Naze, dan Geisha pergi ke Gods Island bersama Li, Clarey, dan Sean.
“Dan juga, EarthSquare ini disebut-sebut sudah membunuh kira-kira 90 pemain level rendah dan merenggut level mereka dengan paksa...” lanjut Qiun sambil melirik Carey. Ia tahu kalau jumlah pembunuhan pemain yang dilakukan Carey kurang dari jumlah itu, tetapi kebanyakan adalah pemain level tinggi yang sering mendapat masalah. Dengan kata lain, Carey ini mencari bangsawan yang ingin balas dendam dengan beberapa orang dan Carey yang melakukan permintaan itu.
Tetapi, saat seseorang sudah membunuh pemain dalam jumlah lebih dari 50 orang, pemain yang membunuh akan mendapat title 'Player Killer' dan bisa saja dimusuhi oleh pemain lain.
Kasus Carey ini berbeda. Karena ia tergabung dalam sebuah guild dan hanya ia saja yang membunuh pemain lain, maka ia tidak akan dimusuhi. Ditambah ia mendapat posisi di 11 Guild Profesional membuatnya disegani serta ditakuti pemain lain.
“Apa jumlah itu benar? Kurasa bisa saja lebih dari itu jika melihat levelnya saat berhadapan denganku...” Slitherio memegangi dagunya.
“Memangnya kau tahu levelnya berapa?” Tanya Zero. Ia penasaran dengan level saingannya itu.
__ADS_1
“Saat aku berlevel 520, ia berkata kalau levelnya masih sedikit di bawahnya dan ia percaya kalau ia pasti akan melampauiku....” ujar Slitherio, “Menurut hasil pertarunganku...”
Slitherio menjelaskan hasil pertarungannya melawan EarthSquare yang terdengar asing di telinga semua orang.
“Membuat EarthSquare ini mendapat EXP yang setara dengan jumlah EXP yang hilang dari korbannya? Ini betul-betul hal yang baru bagiku...” Kurei yang tidak mengenalnya mengelus dagunya.
“Apa kau berpikir ini sama seperti anime yang dulu kau tonton?” Sean yang dulu dikenal sebagai pecinta anime tentu mengingat satu teori yang ada di salah satu anime kesukaannya dulu.
“Siapa tahu sama...” Slitherio teringat akan satu title yang mungkin dimiliki oleh semua pemain, “Kita punya title yang namanya 'Cold Blooded Killer’?”
Title Cold Blooded Killer sudah menjadi title yang umum diantara pemain kelas atas ataupun pemain yang berburu sendiri. Title ini membuat seorang pemain bisa menghilangkan antara lima level sampai sepuluh level jika ia membunuh pemain lain.
Title ini membuat pemain kelas atas dan profesional menjadi ragu untuk membunuh pemain lain, setidaknya sebelum pertempuran Sahara Desert. Tetapi setelahnya, banyak kasusu pembunuhan yang terjadi di Midvast dan beberapa pemain yang mendapat posisi di daftar pemain terkuat sedunia bahkan ada yang turun dari posisinya karena kehilangan level.
Ini membuat Midvast sudah tidak aman lagi bagi pemain baru atau yang disebut Newbie.
“Pedang yang bisa memanjang? Aneh...” Zero semakin mengkerut dahinya mendengar penjelasan Slitherio.
“Menurutmu, pedang itu bisa membuat korbannya kehilangan lebih banyak lagi level? Bukankah EarthSquare ini sudah sama Over Power-nya denganmu, Slitherio?” tanya Luvian. Ia saja baru pertama kali mendengar pedang itu.
“Menghilang?” Slitherio mengerutkan dahinya, “Kemana dia kira-kira?”
“Menurut Alex yang terakhir sempat melihat pedangnya, ia terakhir terlihat di dekat Kota Hostix...” ujar Luvian.
“Dekat Kota Hostix?” Slitherio yang pertama terkejut, setinggi itukah kemampuan bersembunyinya Alex? Sampai tidak bisa dideteksi oleh Six Dragon Pillar.
“Bisa kau jelaskan detail tempat itu, Alex?” tanya Slitherio. Jika pikirannya meleset, maka ia seharusnya tidak khawatir dengan kemunculan EarthSquare tiba-tiba nantinya.
“Jika aku tidak salah ingat, seharusnya di dekat tempat terakhir aku melihat sebuah goa dan EarthSquare berbicara dengan seseorang yang memakai jubah...” Alex segera terdiam setelah mengingat jubah yang dipakai orang yang diajak bicara oleh EarthSquare.
“Tunggu, ada yang salah?” Slitherio kebingungan setelah Alex berhenti berbicara.
“Jika aku tidak salah intip lagi, orang yang diajak bicara oleh EarthSquare kurang lebih adalah sosok dibalik hancurnya beberapa kota kecil...” Alex menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Kenapa aku tidak membunuh orang itu saat itu juga?!”
“Berapa kekuatan Spirit yang kalian miliki sekarang?” tanya Sean. Ia sejak tadi menyimak saja.
“Rata-rata memiliki 25-30 kekuatan Spirit. Memangnya kenapa?” Luvian menjawab mewakili semua orang yang hadir disana.
__ADS_1
“Kalian masihlah kurang untuk bisa menghadapi orang itu...” Slitherio memangku dagunya dengan kedua tangannya.
“Maksudmu? Memangnya berapa kekuatan Spirit yang kalian miliki?” Luvian yang penasaran akhirnya bertanya, “Sampai kau bisa mengatakan kami ini lemah...”
“Slitherio, aku, FastStone, Li, Atra, Naze, Geisha, dan Clarey memiliki 60 kekuatan Spirit setelah kami menyerap kekuatan Spirit yang tiada habisnya di Gods Island.” Jawab Sean dengan santai.
“60 kekuatan Spirit?!” semua orang tentu tidak percaya hal itu, Slitherio dan Sean sudah melebihi mereka 30 kekuatan Spirit.
“Sudahlah, masalah orang berjubah aneh ini, serahkan padaku.” Slitherio mengepalkan tangannya, ia setidaknya yakin dengan kekuatan yang kini ia miliki.
“Baiklah, kita akan memilih orang yang akan pergi ke Gods Island selanjutnya...” Sean menatap semuanya.
Slitherio mengusulkan hal yang sebelumnya ia pakai untuk mencari orang yang akan ikut dengannya, yaitu undian.
“Punggung, telapak tangan...” semua orang kecuali Slitherio dan Sean memulai undiannya.
“Yeay, aku akan pergi!” semua orang membuat punggung karena sesuai kesepakatan, punggung akan pergi ke Gods Island dan telapak tangan akan menjaga Midvast.
“Ulang!” Sean memukul meja dan entah kenapa Slitherio merasa pernah mengalami hal ini.
Mereka lalu mengulang dan hasilnya, Luvian, Alex, WhiteFang, dan Zero memilih punggung tangan dan mereka akan pergi ke Gods Island saat waktu yang telah ditentukan.
Sisanya menjaga Midvast. Slitherio yang melihatnya segera berdiri, “Pertemuan, selesai.”
**Season 3 - Remaist Online - (Journey to Gods Island) - End
Catatan Penulis**:
Season 3 akhirnya selesai dengan jumlah chapter sebanyak 43 Chapter dan jumlah kata sebanyak 49.520 kata.
Untuk season selanjutnya, akan saya skip lagi karena memang pembalasan Hell Empire membutuhkan waktu lama karena si penciptanya membuat seluruh petingginya menjadi level max dan status max.
Jadi, nantikan terus perjalanan Slitherio yang terakhir kalinya di Midvast di season selanjutnya. Meski yang terakhir kalinya perjalanannya, tetapi kisahnya masih lanjut. ;)
Salam,
Rio.
__ADS_1