Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
123. Raja Naga Vs Raja Api


__ADS_3

Slitherio turun ke bawah dengan perlahan lalu berdiri di tengah-tengah lubang besar yang sebelumnya berdiri ibukota Sky Empire, Kota Syacht.


Slitherio terpaksa menghancurkan kota Syacht karena kebanyakan pasukan penyerang Sky Empire berada di Syacht. Beberapa penduduk telah mengungsi sebelumnya, ke Everest Mountain bersama dengan Selena dan beberapa pengawal Serioza yang berjaga di istana.


Serioza menatap lubang besar itu dengan tatapan sendu, kota yang telah dikembangkan oleh para leluhurnya selama ratusan tahun, hancur hanya dalam satu jurus saja.


Di sisi lain, Luvian melihat kalau banyak anggota Pasukan Elit Guild Darkness yang mati terkena skill Slitherio yang hebat. Ia lalu berlari menuju Slitherio yang masih terdiam dengan pukulan yang mengarah pada kepala Slitherio yang terlihat terbuka.


Semua terjadi begitu cepat. Yang terlihat selanjutnya adalah Luvian dan Slitherio yang sedang mengadu pukulan dengan sengitnya.


Sean yang melihatnya masih ragu untuk dapat menahan pukulan Luvian yang terlihat amat cepat itu. Yang menjadi pertanyaannya di benak Sean adalah, bukankah Slitherio sudah kehabisan tenaga saat bertarung di dalam stadium melawan Visidha? Darimana Slitherio mendapatkan kekuatan sebesar itu untuk menahan pukulan Luvian dalam waktu sekejap?


Luvian melepaskan Murderous Aura dan menekan Slitherio yang terlihat berusaha menahan pukulan Luvian. 


Slitherio mendorong sedikit pukulan Luvian dan ikut melepaskan Murderous Aura dengan Phoenix Aura yang amat kuat. Dengan tiga aura yang keluar, area disekitar keduanya mulai hancur dan membentuk lubang yang lebih kecil.


Luvian melepaskan Fighting Aura dan ikut menekan gabungan Murderous Aura dan Phoenix Aura milik Slitherio. Slitherio tidak bergeming setelah terkena dua aura itu.


Luvian lalu menambahkan kekuatan pukulannya dan mendorong pukulan Slitherio dengan kuat. Slitherio ikut menambahkan kekuatan di pukulannya dan mendorong pukulan Luvian yang mulai melemah. Slitherio ikut melemahkan pukulannya dan menahan posisinya saat ini.


“Kau pantas menduduki peringkat pertama pemain terkuat, menggantikan Sean...” Luvian menurunkan pukulannya lalu menepuk pundak Slitherio.


Flame Phoenix Gauntlet terlihat sedikit lecet akibat menahan pukulan pemain yang levelnya jauh diatasnya.


“Tunggu sebentar, Luvian. Apa maksudmu ia pantas mendapatkan peringkat pertama pemain terkuat Remaist Online? Maksudku, apa alasanmu?” Sean berjalan sambil menunjuk Slitherio.


“Alasanku? Karena dia mampu untuk mengerahkan skill sebesar itu setelah hampir lima jam bertarung di Syacht.” Luvian tersenyum tipis, “Apa kau mampu melakukan hal yang sama dengannya?”


Sean terdiam lalu berkata, “Itu hanya masalah skill, aku bahkan dapat mengalahkannya pada kondisi seperti ini.” Sean menarik pedangnya, “Flame King Slitherio, aku menantangmu berduel satu lawan satu!”


Slitherio menggenggam gagang Darkness Fire Sword dan Flame Phoenix Sword kemudian menariknya bersamaan.


[Dari: Sean


Tipe: PvP


Waktu: tak terbatas

__ADS_1


Terima?]


Slitherio merapatkan alisnya dan berpikir keras, “Apa tujuan anda melakukan ini?”


Sean menatap Slitherio tajam, “Aku ingin membuktikan kekuatan Ketua Slitherio yang katanya amat hebat itu...”


Slitherio tersenyum lebar lalu bertanya, “Apa kau tidak malu dengan kondisi kita sekarang? HP yang tersisa sedikit, Mana yang sudah terkuras sampai hampir habis, dan kelelahan, apa kau ingin bertarung dengan kondisi seperti ini?”


“Oleh sebab itulah kita akan bertarung tanpa Mana...” Sean menghunuskan pedangnya.


Slitherio mengerutkan dahinya, ia lalu mendaoat sebuah jendela informasi baru.


[Dari: Sean


Tipe: PvP


Waktu: tak terbatas


Peraturan: tanpa Mana dan skill


Terima?]


Jeda tiga detik dibuat untuk mempersiapkan dua pendekar yang akan bertarung. 


Yang satu membawa pedang putih dengan naga berwarna emas meliuk di bilahnya, yang satu membawa dua pedang yang berwarna merah gelap.


Saat jeda waktu menunjukkan angka 0, keduanya langsung melesat dan beradu pedang.


Sean mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah dan Slitherio menahannya dengan menyilangkan kedua pedangnya di atas kepalanya lalu menghempaskannya. Ia lalu mulai berputar dengan kedua pedangnya.


Karena tanpa skill, seluruh skill mereka diblokir dan tidak akan bisa digunakan. Dalam situasi seperti ini, jelas Sean unggul dalam hal kekuatan dan pertahanan.


Tetapi, Slitherio juga sulit untuk diremehkan. STRnya sudah mendekati 600 dan itu cukup untuk mengalahkan Spider Queen Qirathna tanpa skill.


HP Slitherio terbilang tipis, hanya sebesar 58.750 dan sudah berkurang lebih dari separuhnya. 


Untuk DEX, dapat dikatakan kalau Slitherio yang sekarang dapat menghindari One Heaven Dragon milik Asheuin. Jika sebelumnya ia hanya terpana saat melihat skill itu, sekarang ia mampu untuk menghindarinya.

__ADS_1


Sean menebaskan pedangnya dengan ganas, dari kanan ke kiri lalu ke kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri atas. 


Slitherio hanya menyilangkan kedua pedangnya di depan wajahnya dan mengganti posisinya ke atas kepala dengan berkala. Serangan Sean kebanyakan menyasar kepala, sehingga Slitherio sedikit kesulitan menghadapinya.


Ditambah dengan tebasannya yang tidak terputus, membuat Slitherio semakin terpojok.


“Inikah kekuatan pemain terkuat nomor satu?” gumam Slitherio pelan saat melihat serangan Sean yang tidak terputus.


Sean menggunakan pedang satu tangan, yang artinya pedangnya sama jenisnya dengan kedua pedang Slitherio. 


Tetapi cara Sean menggunakannya terasa berbeda, ia menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam gagang pedangnya dan melancarkan tebasan yang mengerikan.


“Lihat Luvian, aku dapat mengalahkan Flame King yang terkenal tak terkalahkan itu!” Sean berkata sambil tertawa lepas.


Disaat itulah, Slitherio melihat celah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Slitherio menumpukan kedua pedangnya dan menusuknya ke celah itu, yaitu di dada Sean.


Tak sampai sana saja, Slitherio menebaskan kedua pedangnya dari atas kanan ke kiri bawah, ia lalu menebaskan pedangnya dari kiri bawah ke kiri atas, ia lalu berputar sambil mengayunkan Flame Phoenix Sword yang ia genggam di tangan kanannya.


Saat berputar, setelah Flame Phoenix Sword berada di hadapannya dan ia membelakangi Sean, ia kembali berputar dan menebaskan Darkness Fire Sword ke leher Sean. Sean menahannya dengan pedangnya dan terpental ke kiri.


Slitherio lalu berlari dengan cepat dan kembali menebaskan pedangnya dari bawah ke atas, lalu dari atas ke bawah, lalu ia mengangkat pedangnya dan menebaskan kedua pedangnya dari kiri ke kanan secara bergantian, dan ia kembali berputar sambil menebaskan kedua pedangnya dengan tempo tak terputus.


“Tidak, aku masih bisa...” Slitherio mengayunkan pedangnya yang terakhir dari bawah ke atas dan melompat menjauh. Ia lalu mengatur napasnya.


Sean masih berlindung dengan pedangnya, dari wajahnya jelas ia terkejut dengan kekuatan Slitherio.


“A-aku...” belum selesai Sean menyelesaikan ucapannya, Sean menancapkan pedangnya ke tanah dan pingsan.


[Pemenang PvP adalah Slitherio!


Waktu: 02.01 menit]


Disaat jendela informasi itu muncul, Slitherio menancapkan Darkness Fire Sword dan terjatuh.


"Beginilah jadinya jika bertarung setelah pertarungan, Zaburo ayo bantu aku..." Serioza mengangkat bahunya lalu berjalan mendekati Slitherio yang masih menggenggam kedua pedangnya.


"Baik, kak..." Zaburo berlari menuju Sean yang tubuhnya masih berdiri dengan ditopang pedangnya sendiri.

__ADS_1


"Bawa keduanya ke istana, sisanya ikuti aku..." Serioza menyarungkan kedua pedang Slitherio dan membawa Slitherio di punggungnya lalu berjalan kembali ke istana diikuti oleh yang lainnya.


__ADS_2