
Pedang FastStone yang awalnya berwarna biru berubah warna menjadi hitam pekat ketika FastStone memakai skill itu.
Skill itu adalah skiil yang terbilang umum karena si pemilik pertamanya, yaitu Silver Wolf Atra. Atra memakai skill ini dan ia lalu menyebarkannya di seluruh Midvast untuk para pemain yang tidak memiliki elemen. FastStone salah satunya.
FastStone menghempaskan pedang Veny dan mengayunkan pedangnya dari atas dan Veny menghindarinya dengan mudah.
“Apa begini saja kekuatan War God itu?” Veny mengejek FastStone, tetapi yang diejek diam saja.
FastStone melompat mundur dan menusukkan pedangnya ke arah dada Veny, tetapi Veny menahannya dengan pedangnya. Tetapi kali ini FastStone sudah mengerahkan seluruh kemampuannya pada serangan kali ini karena memang FastStone lebih hebat soal menusuk.
FastStone mendorong pedangnya lebih kuat dan terlihatlah kalau kekuatan Veny berimbang dengan FastStone.
“Apa kau sudah mengeluarkan seluruh kemampuanmu?” tanya Veny dengan nada mengejek.
FastStone menggigit giginya dan menarik pedangnya kembali kemudian berputar. FastStone terlihat mencoba membuat serangan pedang berputar dan Veny sepertinya mengetahui teknik itu.
Skill itu adalah Slash dan itu adalah skill yang umum pemain job Swordman ketahui. FastStone berputar dan melompat mundur lagi.
“Apa kau hobi mundur lalu maju lagi?” tanya Veny, ia tidak bisa memperkirakan gerakan FastStone selanjutnya karena ketika ia memperkirakan FastStone akan menyerang, ternyata FastStone mundur. Ketika ia memperkirakan FastStone akan mundur, FastStone akan maju menyerang.
“Berisik!” FastStone mengerutkan alisnya, “Banyak bicara kau!”
FastStone mengayunkan pedangnya dan bergerak ke belakang Veny kemudian melepaskan tusukan yang berjumlah sekitar lima tusukan.
Tubuh Veny terpental dan tergeletak di dekat Buu berdiri. FastStone menyarungkan pedangnya dan menatap Buu yang berdiri gemetaran.
“Apa-apaan kau itu?” Veny berusaha berdiri dan menghunuskan pedangnya, tetapi FastStone diam dan melesat menjatuhkan pedang Veny.
“Berapa kapasitas Manamu?” tanya Veny sambil memegangi dadanya. Ia tidak mampu memperkirakan kekuatan FastStone.
“Hanya delapan kekuatan Spirit...” FastStone lalu menatap Gold, “Dan manusia berjubah merah itu memiliki 12 kekuatan Spirit...”
FastStone lalu menunjuk pria dengan pedang yang tersarung berwarna putih sambil berkata, “Pria pedang emas putih itu memiliki 11 kekuatan Spirit.”
__ADS_1
FastStone menatap Veny, “Dan jika kalian mengeroyok manusia jubah merah itu, kemungkinan kalian tidak mengalami efek Scorch itu nol persen...”
“Perkenalan yang bagus, War God FastStone...” orang yang dibicarakan oleh FastStone bertepuk tangan. Ia adalah Slitherio.
“Belum lama aku pingsan kau malah bertarung....” Slitherio menatap Veny, “Orang yang bisa membuat FastStone marah, hanya kau orangnya...”
“Dan orang yang bisa membuatmu marah, hanya Hell Empire, dan ketika kita melakukan pertemuan, bukan?” FastStone terdengar seperti ingin menertawakan Slitherio.
“Diam kau!” Slitherio memasang posisi ingin memukul FastStone, “Dan kau...”
“Namaku adalah Veny...” Veny mengenalkan dirinya, tetapi Slitherio mengibaskan tangannya.
“Tidak-tidak, aku tidak menginginkan namamu, yang kuinginkan hanya peta menuju Gods Island...” Slitherio menjulurkan tangannya, meminta yang ia inginkan pada Veny.
“Darimana kau tahu kalau ia menyimpan peta menuju Gods Island?” tanya FastStone kebingungan.
“Hanya orang kuat saja yang akan berada di Triangle Sea dan hanya orang bodoh saja yang diam di tengah-tengah Triangle Sea tanpa ada tujuan apapun...” ujar Slitherio sambil menatap Veny, “Benar begitu, Veny?”
“Kau bilang tidak menginginkan namaku!” Veny menatap Slitherio sambil mendengus.
“Tidak, aku hanya bertanya kan...” Veny menggaruk kepalanya, ia sungguh tidak memahami isi otak dari dua orang ini.
“Lalu?” FastStone dan Slitherio menatap Veny, “Apa yang kau inginkan sampai memintaku kenari?” tanya FastStone.
“Itu...” Veny menggaruk pipinya yang tidak gatal, tidak mungkin ia akan menceritakan niatnya sesungguhnya.
“Ia akan meminta kalian untuk menjadi bawahannya.” Buu dengan lantang mengatakan niatan yang sebelumnya Veny katakan. Ia melihat cahaya kebebasan dari Slitherio.
“Masa?” Slitherio menatap Veny penasaran, “Benar begitu?”
Veny menggeleng. Buu yang mengingat jelas ucapan Veny sebelum menunjuk Veny sambil berteriak keras, “Dia bohong!”
“Mana ada pencuri yang mengaku...” FastStone menaikkan bahunya. Ia merasakan niatan Veny saat duel tadi.
__ADS_1
“Darimana kau mengetahuinya?” tanya Veny. Ia yakin sudah menyembunyikannya sebaik-baiknya.
“Insting...” FastStone tersenyum lebar, “Apa kita bisa menginap disini?”
“Ide bagus...” Slitherio menepuk pundak Gold pelan lalu mengajaknya berjalan melewati Veny, “Siapa tahu tenaga kita bisa kembali setelah pertarungan semalam...”
“Siapa yang mengizinkanmu memasuki wilayahku?!” Veny segera tersadar dan lamunannya dan menatap Slitherio yang sudah berjalan menjauh.
“Hmm, apa aku perlu izinmu untuk memasuki pulau?” tanya Slitherio tanpa berpaling, “Lagipula, pulau ini milik sis-... Ehem, maksudku milik Ocean Goddess...”
“Yang artinya kita harus meminta izin pada Ocean Goddess, baru itu benar...” ujar FastStone lalu mengikuti Slitherio, “Buu, kau boleh ikut dengan kami...”
Buu melompat kegirangan dan berlari mengikuti Slitherio dengan cepat. Veny yang melihat itu semua segera bergumam, “Aku takkan membiarkan kalian hidup tenang di pulau ini...”
***
Slitherio berkeliling pulau dan tidak juga menemukan tempat yang bagus untuk dipakai tinggal sementara.
“Aku tahu satu tempat untuk kalian tinggal untuk sementara...” Buu diminta untuk menuntun mereka mengelilingi pulau jika mengingat identitasnya sebagai penduduk asli pulau ini.
Slitherio mengetahui nama pulau ini adalah Purple Pearl Island dan Veny sudah mendatangi tempat ini sejak sepuluh tahun lalu.
Slitherio lalu berkata pada Buu kalau penduduk pulau itu sebenarnya sudah dijajah oleh Veny dan bawahannya.
Buu yang tidak paham hanya mengangguk saja padahal tidak tahu istilah dijajah. FastStone lalu menjelaskan arti istilah dijajah itu pada Buu dengan perlahan.
“Tak kusangka kau itu pintar juga tentang sejarah...” FastStone menyikut Slitherio pelan.
“Kau meremehkanku rupanya...” Slitherio memukul dadanya keras, “Aku ini adalah siswa terpintar nomor sepuluh saat aku masih SMP!”
Buu yang tidak memahami percakapan Slitherio dan FastStone hanya diam saja sambil menuntun mereka mencari tempat tinggal.
“Tempat apa itu?” tanya FastStone.
__ADS_1
“Sebuah tebing di timur dan tempat itu cocok untuk dijadikan tempat berdiam sementara...” Buu menunjuk ke arah timur.
“Tunggu dulu, aku ingin bertanya sesuatu...” Slitherio menarik tangan Buu dan menatapnya, “Apa kau tahu dimana Purple Pearl Island berada?”