Remaist Online: Return Of The Legend

Remaist Online: Return Of The Legend
79. Pertemuan N5S II


__ADS_3

“Kapan kita akan membuat Guildnya?” Tanya Fredy dengan cepat.


Sikap seluruh orang yang ada di ruangan itu seketika berubah saat mendengar jumlah 1 Diamond yang setara dengan Rp10.000.000.000.


“Aku tidak akan mau masuk Guild yang kalian bentuk itu...” Ryan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Raut wajah keenamnya berubah saat mendengar hal itu.


“Apa maksudmu?” Tanya Hendra.


“Biarkan aku menyelesaikan ucapanku...” Ryan memajukan badannya, menjadi sedikit membungkuk.


“Tetapi aku akan mengajukan satu syarat saat aku ingin bergabung ke Guild kalian...” Ryan melanjutkan, “Biarkan aku yang menjadi ketua Guild itu dan aku akan mengajak Whu bersama Atra bergabung ke Guild itu.”


Raut wajah enam orang lainnya kembali berubah saat mendengar syarat itu. Yang pertama bereaksi adalah Leo.


“Apapun akan kita lakukan hanya demi kejayaan N5S. Aku tidak ingin diketuai lagi oleh Rio.” Ujar Leo sambil menatap tajam Rio.


Ryan tersenyum kemudian berkata, “Seharusnya Guild kita akan lebih kuat dengan lima anggota kita yang masuk daftar Top Global.”


“Benar...” gumam Rio, Fredy, dan Hendra. Agus mengelus dagunya.


“Ryan...”


Suara seorang wanita membuat tujuh orang yang ada didalam rumah itu terkejut. Ryan meminta mereka diam sebelum berjalan keluar.


Wajah yang tidak asing menyambut Ryan saat ia melongok keluar. Memang gerbang ia tutup sedikit, sehingga menampakkan sedikit wajah. Tetapi si pemilik wajah itu memilih menajati gerbang dan membiarkan wajahnya terlihat sepenuhnya.


“Ra-Raisya?” Ryan memasukkan kembali badannya kemudian menarik kunci pintu utama sebelum keluar dan menutup pintu. 


Agus berniat mengikuti Ryan keluar, tetapi Ryan membuka pintu kembali sebelum berkata, “Diam disana...”


Rio kebingungan dengan reaksi tidak biasa Ryan itu sehingga memilih mengendap-endap menuju sebuah jendela dan melihat dari sana.


Suara pintu dikunci membuat Rio dan teman-temannya mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Hendra menelan ludahnya, tidak pernah ia sangka akan dikurung di dalam rumah temannya.


“Sstt, kemari...” Rio memalingkan wajahnya dan melambaikan tangannya, memanggil yang lainnya untuk ikut melakukan apa yang akan Ryan lakukan. Mereka mengikuti Rio dan ikut mengintip lewat jendela.


“Sedang apa kau sampai pintu gerbangmu terbuka?” tanya Raisya.


Ryan berniat menjawab, tetapi ia merasakan kehadiran beberapa manusia yang menguping. Dengan cepat Ryan menarik tangan Raisya dan mengajaknya keluar dari gerbang.


Rio mundur kemudian kembali duduk di tempatnya tadi. Lima temannya yang lainnya mengikuti Rio.

__ADS_1


“Jadi?” tanya Leo.


“Si wanita itu adalah Brave Ranger Geisha! Bagaimana bisa Ryan menemukan wanita secantik itu di dunia nyata?!” Rio berkata dengan nada penuh kekesalan.


“Iri?” tanya Hendra.


“Tidak!” seru Rio sambil berjalan ke dapurnya Ryan. Ia kemudian mencari sesuatu.


“Ehem, aku juga merasa iri saat melihat kapten yang berhasil mendapatkan wanita secantik itu.” Gumam Agus. Fredy kebetulan mendengar hal itu kemudian mengangguk.


“Kuharap hubungan kapten dengan wanita itu setidaknya lebih baik dibanding dengan hubungan Rio dengan 'temannya'.” Ujar Justin sambil mengelus dagunya.


“Apa?!” Rio datang dengan sebotol air dingin. Ia secara tidak sengaja mendengar apa yang Justin katakan.


“Setidaknya Ryan lebih pandai dalam mencari wanita dibanding dengan dirimu, Rio...” Hendra berkata sambil menunjuk Rio.


Rio tidak menanggapi hal itu dan memilih duduk meminum air yang baru diambilnya itu. 


“Bagaimana kalau kita bermain sekali saja? Jarang-jarang kita bisa bertemu seperti ini dan bermain bersama.” Usul Justin sambil mengeluarkan ponselnya.


“Ide bagus...” sahut Fredy, Hendra, dan Leo bergantian. Agus dan Rio mengangguk saja.


“3 lawan 3 bagaimana?” usul Rio.


“Benar juga...” Rio menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan mengelus dagunya.


“Undi?” usul Fredy.


“Kalau begitu kita tunggu Ryan saja...” Leo menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan meletakkan telapak tangannya di belakang kepala.


“Hei, apa kalian ingin makan? Raisya membawakan aku sedikit makanan tadi...” Ryan mengangkat sebuah tas kecil yang berisi kotak makan.


“Benar, makan dulu...” Fredy bangun kemudian menghampiri Ryan dan membawakan tas kecil itu ke dapur.


“Oh, nama wanita tadi adalah Raisya? Siapanya kau dia?” tanya Justin dengan nada penasaran.


“Teman...” jawab Rio. Ia sudah tahu identitas Raisya setelah melihat sekilas wajahnya dan menemukan banyak kemiripan dengan wajah Geisha.


“Sekedar teman ya...” Agus tertawa kecil.


Ryan salah tingkah saat mendengar itu. Tetapi ia menenangkan dirinya sebelum sebuah teriakan terdengar dari dapur.

__ADS_1


“Ryan! Dirumahmu tidak ada nasi ya?!” seru Fredy dari dapur.


Lima temannya yang lain memandangi dapur sebelum menatap Ryan yang memunculkan wajah tidak bersalah, “Hehe...” Ryan menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.


“Tapi tunggu, aku bisa memasak nasi dan pasti waktunya cukup untuk kita makan.” Lanjut Ryan.


“Baiklah...”


***


Tujuh orang yang ada di dalam rumah itu baru selesai makan setelah Ryan membuatkan nasi untuk mereka.


Nasinya Ryan buat selama lebih dari setengah jam, waktu yang cukup lama bagi mereka untuk menunggu. Karena bosan, mereka memutuskan untuk bermain sebentar sambil menunggu nasinya matang.


Nasi buatan Ryan terbilang enak untuk ukuran seorang pria yang hidup sendirian, begitu menurut teman-temannya.


Makanan yang tadi diberikan Raisya saja sudah habis dalam sekejap. Tentu saja ada satu alasan kenapa makanan itu bisa habis dalam sekejap, mereka lapar.


Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka menunggu Ryan yang membersihkan semua peralatan yang dipakai saat makan.


Waktu yang dibutuhkan Ryan untuk membersihkan semua itu tidaklah lama dan hanya membutuhkan waktu sebentar untuk melakukannya.


Setelah Ryan selesai membersihkan semua peralatan makannya, ia langsung bergabung dengan teman-temannya yang sedang melakukan undi.


“Kita akan melakukan undian, yang mengeluarkan bentuk yang sama akan masuk dalam satu tim.” Ujar Fredy menjelaskan. Yang lainnya mengangguk.


“Batu, gunting, kertas...” ucap mereka bersamaan sebelum mengeluarkan pilihan mereka.


Rio, Fredy, dan Justin mengeluarkan bentuk kertas. Ryan, Hendra, dan Leo mengeluarkan bentuk batu. Yang tersisa hanya Agus yang mengeluarkan bentuk gunting.


“Akhh!” Agus menggaruk kepalanya.


“Maaf, tetapi kau harus menonton saja...” ujar Leo sambil mengeluarkan ponselnya. Ia telah bersiap bermain.


“Ah, wasit! Aku akan menjadi wasit saja.” Usul Agus. Apapun akan ia katakan hanya untuk dapat melihat permainan temannya.


“Okay...” Ryan menyetujuinya. 


Mereka akhirnya memulai dengan memasuki Mode Custom dan memilih Mode Draft Pick. Mode ini memungkinkan dalam satu permainan hanya ada enam Hero saja, jika bermain 3 lawan 3.


Agus menjadi wasit dan ia hanya bisa menonton dan memberi jeda dalam permainan. 

__ADS_1


Permainan dimulai.


__ADS_2