
“Terima kasih atas jamuannya.” Slitherio tersenyum tipis setelah mendengar serangan datang.
“Baiklah, jangan lupa jadilah kuat seperti yang diinginkan Zon, oke?” FolkChase mengacungkan jari jempolnya.
“Ehem, ini untuk kalian bertiga.” July memberikan tiga topeng yang masing-masing berwarna merah dengan corak Phoenix, berwarna perak dengan cakaran sebagai coraknya, dan berwarna hitam kemerahan dengan corak alis yang panjang.
“Gunakan jika kalian ingin terlihat keren.” Ucap July sambil tersenyum lebar.
“Siap!” mereka menerima topeng itu sambil berterima kasih.
Slitherio, Atra, dan Whu melesat meninggalkan kediaman FolkChase dengan cepat.
“Tak kusangka setiap pertempuran yang kuhadapi sangatlah besar.” Ucap Slitherio di perjalanan setelah mengingat perjalanannya selama kurang lebih sebulan selama di Midvast.
Mereka terus melesat ke arah tenggara untuk mencari sumber serangan tersebut.
Ketika sampai, mereka dikejutkan dengan pemandangan yang sangat indah menurut Whu.
“Indah sekali, aku ingin ikut.” Ucap Whu dengan bodohnya ketika melihat pertempuran itu.
“Kepalamu indah, ini pertempuran, bodoh!” umpat Atra sambil memukul kepala Whu keras.
“Bisakah kalian diam?” tanya Slitherio sebelum kembali menonton pertempuran itu.
Slitherio memakai topengnya dan kembali diam menonton. Aksinya diikuti oleh Atra dan Whu.
***
Seorang pemuda yang terlihat berusia sekitaran lima belasan sedang bertarung melawan seorang pria yang sangat besar tubuhnya.
Di dekatnya sebuah pertempuran sedang terjadi antara pasukan pemuda itu dan pria besar itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Prince John, ia meminta diturunkan langsung di gerbang tenggara. Siapa sangka malah ia bertemu dengan Fadexion, salah satu dari bawahan Zen.
Dengan terpaksa, ia bertarung menghadapi Fadexion dengan seluruh kemampuannya.
“Apa hanya ini saja kemampuan putra dari Blue Hammer Warrior?” tanya Fadexion sambil tersenyum sinis.
“Tidak!” Prince John maju dan sekali lagi bertarung dengan Fadexion.
__ADS_1
Perlahan, pasukan Prince John terpukul mundur oleh pasukan Fadexion.
Pasukan akhirnya terpojokkan setelah mereka memasuki Sky Empire. Dengan Medan yang sempit membuat gerak pasukan Prince John terbatas.
Sebuah anak panah melesat dari tembok pertahanan ke arah punggung Fadexion dan terpantul karena kerasnya Jirah milik Fadexion.
“Kau mencoba bermain curang ya?” seru Fadexion ketika dirinya terkena panah itu.
Seorang pemuda berdiri di atas tembok sambil mempersiapkan serangan berikutnya. Pemuda itu adalah Prince Xaviero, kakak dari Prince John.
Prince Xaviero diberikan sebuah misi oleh ayahnya, ketika ia kembali ke Sky Empire ia disambut oleh pertempuran yang melibatkan adiknya dengan orang asing.
Dengan cepat ia membantu dengan anak panahnya meskipun tidak memberikan serangan berarti.
Prince Xaviero memakai jubah berwarna hitam dimana ia menyukai warna itu dan ia menggunakan dua senjata, busur dan pedang.
Dia melompat turun dan menarik pedangnya dan ikut bertarung melawan Fadexion.
“Aku akan memberikan serangan area pada pasukan lawan, sebaiknya kau membawa mundur pasukan menjauhi area yang akan kuserang.” Prince Xaviero mengatakan rencana yang tadi ia persiapkan.
“Oke kak.” Prince John percaya dengan kemampuan kakaknya sehingga ia membiarkan kakaknya kembali naik ke tembok pertahanan.
Prince Xaviero melompat mundur kemudian melesat dan menggunakan tubuh Fadexion sebagai pijakan lompatannya.
Ia menarik busurnya dan mengucapkan mantra untuk membuat serangan selanjutnya.
Dari mantra tersebut, terbentuklah sebuah panah yang bercahaya biru terang. Prince Xaviero mengarahkan busurnya ke arah atas dan melepaskannya.
Awan menjadi gelap ketika panah Prince Xaviero menembus awan-awan. Tak lama, hujan panah jatuh ke tanah dan membunuh beberapa pasukan lawan.
“Sial!” Fadexion mengumpat melihat kemampuan Prince Xaviero yang membunuh pasukannya hanya dengan satu jurus saja.
“Jangan mengalihkan pandangan...” Prince John mengayunkan pedangnya dan melukai Fadexion di tangannya.
Fadexion tak menghiraukan peringatan Prince John dan memilih melompat ke tembok untuk menghadapi Prince Xaviero.
Prince Xaviero menyadari bahwa dirinya menjadi target selanjutnya menarik pedangnya dan menahan serangan dari Fadexion.
Pertarungan terjadi di atas tembok pertahanan antara Prince Xaviero dengan pedangnya melawan Fadexion dengan pedangnya juga.
__ADS_1
Mereka bertukar serangan selama beberapa menit sebelum akhirnya Prince Xaviero kewalahan menghadapi serangan Fadexion yang berat dan juga cepat.
“Kalian sangat berbeda dengan...” Fadexion terlempar cukup jauh keluar dari tembok pertahanan sebelum menyelesaikan ucapannya.
Seorang pria paruh baya terlihat melempar Fadexion beserta dengan pedangnya menjauhi tembok pertahanan.
“Ayah...” Prince Xaviero memanggil ayahnya, pria itu bukan lain adalah Serioza sang Blue Hammer Warrior.
“Seharusnya kau memberitau ayahmu soal yang terjadi disini.” Serioza tersenyum sambil mengelus kepala Prince Xaviero dengan lembut.
“Begini ayah...” Prince Xaviero menceritakan tentang ia pulang dari misi sampai ia harus bertarung melawan Fadexion.
“Kau beruntung bisa menghadapi Orc itu dan imbang selama beberapa menit...” Serioza menoleh dan menatap di kejauhan.
Dia bisa melihat pasukan dalam jumlah besar mendekat ke Sky Empire yang kemungkinannya adalah dipimpin oleh seseorang yang memiliki kemampuan tidak jauh dari musuh yang dihadapi Prince Xaviero tadi.
“Serioza! Aku datang untuk menantangmu bertarung!” seseorang yang memimpin pasukan itu berseru kepada Serioza.
“Inilah yang kutunggu...” Serioza mengangkat palu kecilnya ke atas dan berseru, “Sky Splitting Technique: War Mode Hammer!”
Palu di tangan Serioza berubah menjadi besar, dipenuhi ukiran naga di seluruh bagiannya. Petir menyambar menyambut turunnya palu legendaris yang membuat Sky Empire ditakuti di seluruh Midvast, Sky Splitting Hammer.
***
Jauh beberapa menit sebelum kejadian itu, Serioza dan kedua jenderalnya berada di dalam ruang tahtanya.
“Sky Empire diserang?” tanya salah satu jenderal Sky Empire yang sedikit kurus. Ia bernama Despian.
“Sulit kupercaya...” sahut salah satu jenderal Sky Empire yang bertubuh sedikit berotot. Ia bernama Lyne.
“Benar, anakku sendiri turun untuk menahan sementara waktu untuk kita mengenakan perlengkapan dari pendahulu kita.” Ujar Serioza sambil berjalan ke belakang tahtanya.
Mereka masuk ke sebuah ruangan rahasia yang berada di belakang tahta dan tertutup oleh beberapa keramik mengkilat yang membuatnya tidak terlihat dari luar sebagai pintu masuk sebuah ruangan.
Di dalam ruangan tersebut tersimpanlah beberapa senjata, seperti palu, pedang, tombak, cambuk, perisai, tongkat, dan pedang besar. Semuanya berwarna biru langit.
Khusus palu, itu diletakkan terpisah dengan senjata lainnya. Palu itu diletakkan paling atas diantara seluruh senjata yang ada.
“Seperti yang kalian lihat, dulunya jumlah jendral Sky Empire berjumlah lima orang. Kini, di bawah kepemimpinanku kita hanya memiliki dua jenderal, itu pun keduanya sangat kuat.” Serioza menatap Despian dan Lyne bergantian.
__ADS_1
“Dan, ruangan ini hanya dapat dibuka dan diketahui oleh sang kaisar bersama jenderalnya. Sejauh Sky Empire berdiri, ruangan ini hanya pernah dibuka sekali saat beberapa tahun pertama Sky Empire berdiri dan hari ini.” Serioza menjelaskan sambil berjalan menuju palu berwarna biru yang diletakkan paling atas.
“Dan, inilah Heirloom of Sky Empire.”